Alana bukan sekadar penebus hutang judi pamannya; dia adalah obsesi gelap Dante Volkov. Di tangan sang Ice King, Alana harus memilih: menjadi mawar yang indah di dalam penjara emas, atau hancur saat musuh mulai mengincar nyawanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon your grace, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32
Malam merangkak naik dengan atmosfer yang mencekam di dalam kediaman Volkov. Di dalam kamar utama yang luas, Alana meringkuk di sudut lantai di samping ranjang besar yang kini terasa seperti altar pengorbanan. Pintu kamar telah ia kunci dari dalam, meski ia tahu kunci itu tidak lebih dari sekadar penghalang simbolis bagi pria seperti Dante. Di luar, suara langkah sepatu bot para pengawal yang berpatroli di koridor terdengar ritmis, seperti detak jam menuju eksekusi.
Alana menatap jendela balkon yang besar. Napasnya tersengal setiap kali ia teringat perintah dingin Dante di kamar mandi tadi pagi. Tangannya yang gemetar tak henti-hentinya mengusap perutnya yang masih rata. Di sana, sebuah nyawa kecil yang tak berdosa sedang berjuang untuk ada, namun sang ayah—pria yang menanamnya dengan gairah yang membara—justru telah menjatuhkan vonis mati.
"Aku tidak akan membiarkanmu menyentuhnya, Dante... tidak akan pernah," bisik Alana dengan suara parau yang pecah oleh isak tangis.
Ia bangkit dengan tubuh yang masih lemas, mencoba mendekati jendela. Pikirannya kalut mencari celah untuk melarikan diri. Namun, saat ia menyibak gorden, ia melihat pemandangan yang mematikan harapan. Sejak usaha pelariannya yang gagal beberapa waktu lalu, Dante telah mengubah mansion ini menjadi benteng absolut. Di bawah sana, sorot lampu pencari terus menyapu taman. Anjing-anjing penjaga klan Volkov yang haus darah dilepaskan, dan jumlah pengawal di setiap sudut gerbang berlipat ganda. Bahkan di bingkai jendela, sensor laser inframerah tipis berkilauan merah—tanda bahwa satu gerakan salah akan memicu alarm yang akan membawa seluruh pasukan Dante ke kamarnya dalam hitungan detik.
Mansion ini bukan lagi rumah. Ini adalah rumah jagal yang indah, di mana ia adalah ternak yang sedang menunggu waktu untuk disembelih perasaannya. Alana jatuh terduduk kembali, menyadari bahwa ia terjebak dalam sangkar emas yang kedap udara.
***
Beberapa lantai di bawahnya, di ruang kerja yang gelap dan beraroma tembakau kental, Dante Volkov duduk di balik meja mahagoni besarnya. Satu-satunya sumber cahaya adalah temaram dari lampu meja yang redup dan kilauan es batu di dalam gelas kristalnya. Di sampingnya, sebotol wiski Macallan yang sangat mahal sudah hampir kosong, isinya telah berpindah ke dalam darah Dante, namun alkohol itu gagal mematikan pikirannya yang kacau.
Dante menatap foto hitam putih yang tergeletak di atas meja—foto ayahnya, Viktor Volkov, sang tiran yang telah membentuknya menjadi monster.
Dalam keremangan itu, Dante seolah melihat bayangan Viktor berdiri di sudut ruangan, mengenakan setelan jas militer yang kaku dengan senyum sinis yang menghina. Suara ayahnya yang berat dan kejam seolah bergema di kepalanya, menertawakan dilema yang kini menjeratnya.
"Lihat dirimu, Dante... Anakku yang perkasa kini gemetar hanya karena sebuah benih di rahim seorang wanita rendahan," suara bayangan itu seolah mengejek. "Kau ingin menjadi ayah? Kau ingin mencintai makhluk lemah itu? Kau akan menghancurkannya, sama seperti aku menghancurkanmu. Darah kita adalah racun, Dante. Jika kau membiarkannya lahir, kau hanya menciptakan musuh baru yang akan menusukmu dari belakang demi takhtamu."
Dante mengerang, ia menghantamkan gelas kristalnya ke lantai hingga hancur berkeping-keping. "Diam kau, orang tua sialan!" raungnya pada kegelapan.
Napas Dante memburu. Kepalanya berdenyut hebat. Ia tidak tahu mana yang lebih menyakitkan: kenyataan bahwa Alana mengandung anaknya, atau ketakutan gila bahwa ia akan menjadi replika ayahnya sendiri jika ia membiarkan anak itu lahir. Di matanya, anak itu adalah ancaman—bukan ancaman bagi kekuasaannya, melainkan ancaman bagi kewarasannya. Ia tidak tahu cara mencintai tanpa merusak, ia tidak tahu cara melindungi tanpa merantai.
Pikirannya kembali pada wajah Alana yang pucat dan mata yang menatapnya penuh luka tadi pagi. Ia membenci kenyataan bahwa ia masih menginginkan wanita itu, namun ia juga membenci janin yang kini membagi perhatian Alana darinya. Obsesinya pada Alana kini berbenturan dengan trauma masa lalunya yang kelam.
Dante bangkit berdiri, langkahnya sedikit goyah karena alkohol. Ia berjalan menuju jendela besar yang menghadap ke arah yang sama dengan kamar Alana. Ia tahu istrinya sedang terjaga. Ia tahu istrinya sedang ketakutan.
"Kau memaksaku melakukan ini, Alana," desis Dante dingin, meskipun hatinya terasa seperti diremas oleh tangan besi. "Aku lebih baik kau membenciku selamanya karena membunuh anak itu, daripada aku harus melihat kau mencintai makhluk lain melebihi cintamu padaku... dan melihat darahku melahirkan monster baru di dunia ini."
Ia mengambil ponselnya, jarinya menari di atas layar untuk mengirim pesan singkat kepada Dr. Arisov.
"Besok pagi pukul delapan. Siapkan semuanya. Tidak ada pengecualian."
Setelah mengirim pesan itu, Dante kembali menuangkan wiski langsung dari botolnya. Di dalam kegelapan ruang kerjanya, sang Predator sedang mempersiapkan diri untuk melakukan dosa paling berat dalam hidupnya: membantai garis keturunannya sendiri demi mempertahankan kegelapan yang ia anggap sebagai zona nyaman.
Sama klau bisa request yg dominan cewenyabdongggg
kecewa😔😔😔