NovelToon NovelToon
Kinan

Kinan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Dunia Lain / Keluarga
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ddie

Cinta mempertemukan kembali batas antara dua dunia, kehilangan, keajaiban yang terlahir dari luka.

Antara masa lalu dan masa depan, dua wanita, hidup dan mati.

Kinan hanya satu pilihan bertahan di "ruang masa " atau turun untuk cinta terakhirnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ddie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cemburu ?

Laras tidak masuk kantor selama dua hari.

Raka tahu dari anak marketing—demam, katanya, kecapekan mungkin juga stres karena mobil barunya sempat bermasalah atau peristiwa di dalam mobi saat hujan?

Atau mungkin bukan itu.

Raka tidak bertanya, dan itu tidak perlu, tapi setiap kali melewati meja Laras yang kosong, ada rasa ganjil yang menyentuh tengkuknya, seperti tatapan yang menempel di punggungnya, hangat dan bermaya

Bukan dari ruangan ini, dari atas? samping?

Dari tempat yang tak terlihat—tapi terasa

bau mawar samar kadang muncul di lift sekilas lalu hilang, atau suara tawa pelan di lorong kosong saat semua orang sudah turun makan siang.

Awalnya ia merinding, bulu tengkuknya berdiri, tapi saat sekarang ia… sudah terbiasa.

Setiap aroma itu datang, ia akan berhenti menatap udara kosong lalu tersenyum tipis.

Teman-teman kantor mengira ia mulai tidak stabil, bicara sendiri, melamun sendiri atau

apa perlu di bawa ke psikiater supaya tidak gila sendiri. Tidak ada yang tahu mana yang benar, mana salah.

---

Hari Rabu, perempuan cantik itu kembali dengan wajah pucat, lingkar hitam di bawah mata seperti orang yang tidak benar-benar tidur selama dua malam. Tapi ia tetap tersenyum saat melihat Raka di kantin.

Senyum yang dipaksakan tapi tetap senyum.

“Ra.”

Raka mengangguk duduk di meja pojok dengan nasi goreng yang tak disentuh sejak lima menit lalu.

Laras duduk di depannya tanpa diundang seperti dulu, datang dan pergi seenaknya.

“Gue mau minta maaf,” katanya pelan. “Hari itu… gue kelihatan konyol.”

“Nggak apa apa, Ras.”

“Mobil gue bawa ke bengkel, teknisi nggak nemu apa-apa, AC normal, Radio baik semuanya normal.”Ia menatap seolah mencari celah di wajahnya yang tirus. “Tapi gue yakin… ada sesuatu, Ra.”

Raka mengaduk nasi gorengnya pelan, sendok beradu piring, bunyi tipis. “Mungkin lo stres, Ras, kerja baru, tekanan, atau ..."

“Bukan stres, Raka.” Ia memotong cepat, . suaranya turun hampir berbisik. “Lu tahu gak gue lihat tulisan di kaca. ‘Dia punya aku.’ Gue nggak halusinasi.”

Tangan Raka berhenti menyuap untuk pertama kalinya sejak enam tahun lalu, ia benar-benar menatapnya, " Gue gak baca apa apa."

" Beneran Ra, gue gak bohong."

Raka mengernyit tapi hatinya berbisik, ' Kinan memberi tanda.' “Lo percaya hal mistis begituan?”

“Gue nggak tahu harus percaya apa. Tapi gue tahu apa yang gue lihat.” Laras menunduk, jemarinya menggenggam sendok terlalu erat.

“Dan gue tahu siapa yang mungkin nulis itu.”

Dada Raka terasa menyempit.“Maksud lo?”

Laras mengangkat wajahnya perlahan.

“Kinan, Ra.”

Nama itu menggantung di antara mereka.

“Gue rasa… dia masih di sekitar lo. Dan dia nggak suka gue.”

"Laras, " Raka menatapnya tajam, " Lu tahu, semua orang tahu, Kinan sudah meninggal, terus apa yang dapat dilakukan oleh orang yang sudah mati ?"

---

Kipas angin di langit-langit berdengung pelan. Waktu seperti melambat mendengar pembicaraan mereka.

“Gue sempat ke paranormal,” kata Laras tiba-tiba.

Raka mengerutkan dahinya, bibirnya bergetar “Lo?”

“Iya, gue dulu paling nggak percaya hal beginian.”Ia tertawa kecil getir.

" Terus apa yang dia katakan?"

“Dia bilang ada yang mengikuti gue, bukan setan atau roh jahat, cuma… cinta yang terlalu kuat, cinta yang nggak mau lepas.”

Tenggorokan Raka kering, mulutnya terasa pahit.

“Kalau ada yang mati dengan cinta yang belum selesai, mereka bakal stay menunggu untuk melindungi, memberi tanda bahkan bisa mengusir apa saja yang dianggap ancaman.”

" Segitu nya laras? lu percaya ini ? Kinan melakukannya?"

Matanya berkaca-kaca. “Gue ancaman, bagimu, Ra? Gue cuma bersahabat dengan lo, memperbaiki masalah lalu, apakah itu salah?”

Raka tidak punya jawaban sesederhana itu,

dulu ia yang pergi mengucapkan kata-kata tak bisa ditarik kembali, mencela pilihannya sendiri, tapi sekarang duduk di depannya dengan kondisi rapuh, takut, mencari pegangan.

“Ras, gue nggak tahu apa yang Kinan mau, karena lu tahu alamnya sudah berbeda dan

Gue juga nggak tahu apa yang gue mau.”

Ia mengangguk perlahan seolah itu cukup

“Tolong bilang ke dia,” bisiknya, “kalau memang dia ada… bilang gue nggak mau ngambil tempatnya, gue cuma… cuma mau diberi sedikit ruang disamping lu."

---.

Hujan baru saja reda. Aspal masih basah sore itu. Raka mengendarai sepeda motor pulang kantor. Ia berhenti di lampu merah dan secara refleks menoleh ke jok belakang.

Kosong.

Tapi ia tetap berharap.

Di rumah, ia duduk di teras, melihat tanaman-tanaman mengelilinginya—krisan putih, mawar merah muda, melati, lidah buaya, lavender yang dulu ditanam dengan tangan penuh harap.

Semuanya sekarang hidup, tumbuh.

“Nan,” panggilnya pelan. “Kamu di sini?”

Sunyi, tidak ada aroma mawar, hembusan angin aneh.

“Kamu nggak perlu takut,” katanya rintih. “Mas nggak akan melupakan. Kamu nggak perlu usir siapa pun, mas gak mungkin berpaling masih setia menunggumu.”

Daun lavender bergoyang tidak ada angin, seolah menjawab kata katanya.

Raka tersenyum tipis.“Thanks Nan, terimakasih istriku.”

---

Maya datang keesokan harinya membawa brownies—resep dari buku catatan Kinan. Raka menangkap sesuatu di matanya, kekecewaan dengan cepat-cepat disembunyikan.

“Gue kira lo nggak mau gue datang,” katanya canggung.

“Gue bilang gitu?”

“Chat lo. ‘Nggak usah repot.’ Itu kode universal buat pergi, Ra.”

Raka terdiam sesaat lalu, ia berniat mengurangi beban ternyata justru menciptakan jarak.“Maafkan gue May.”

“Gue tahu Lo nggak pernah bermaksud nyakitin orang, tapi Itu masalahnya.”

Mereka duduk berdampingan terlalu dekat untuk teman terlalu jauh untuk lebih.

“Gue ketemu Laras,” kata Raka tiba tiba memecah keheningan.

Maya menegang, alis nya terangkat beberapa senti “Mantan lo?”

“Ia sekantor sekarang.”

“Dan?”

“Sepertinya dia mau deketin gue.”

" Maksudnya?"

" Gue gak tahu, May, tapi hati gue mengatakan ada yang aneh dari caranya bersikap."

Sunyi.

“Terus?”

“Tapi ada peristiwa aneh yang mesti gue ceritain ma lo."

" Apa?"

"Waktu gue naik mobil dia… radio nyala sendiri, AC tiba tiba berubah dingin menusuk. Dan tulisan di kaca.”

Maya menatapnya rasa penasaran“Tulisan ?”

“‘Dia punya aku.’”

Wajah gadis itu seketika pucat.

“May?”

“Kalimat itu…” ia menelan ludah. “Ada di buku catatan Kinan.”

Raka membeku

“Beberapa halaman cuma isi itu. ‘Dia punya aku. Aku punya dia.’ Gue kira puisi. Atau cuma… fase posesif.”

“Buku itu masih ada?”

“Ada di rumah gue.”

---

Malamnya mereka membuka buku itu bersama, resep masakan, sketsa bunga, daftar belanja. Lalu di tengah—halaman-halaman penuh kalimat yang sama, ditulis berulang-ulang dengan tinta biru.

“Dia punya aku, aku punya dia selamanya.”

“Tiga bulan sebelum diagnosis,” kata Maya pelan.

“Dia tahu,” bisiknya. “Dia tahu dia bakal pergi.”

Ia menggeleng pelan.“Mungkin bukan itu, Ra, bisa jadi ia… takut kehilangan Lo.”

Raka menutup buku dengan hati-hati seperti buku sakral. “Gue bingung, May,” katanya lirih. “Laras datang tapi gue juga nggak tahu apa yang gue rasakan, semuanya telah hilang.”

Maya memandang jemarinya sendiri, roman wajahnya terlihat sayu, “Gue boleh pergi, Ra, katanya akhir “Kalau itu yang bisa membuat Lo tenang”

“Lo mau pergi?”

“Gue mau lo bahagia, ujarnya dengan mata berkaca-kaca," setelah kepergian Kinan.".

“Jangan pergi, May suara Raka pecah. “Please.”

Air mata Maya jatuh pelan, laki laki itu belum mampu memeluknya tapi ia meraih tangannya menggenggamnya erat.

“Kinan alasan awal lo di sini,” bisik Maya.

“Iya, tapi sekarang… gue nggak tahu lagi.”

Itu cukup untuk malam ini, cukup.

---

Di Ruang Tunggu, Kinan melihat semuanya jiwa nya seperti ditusuk tapi tidak tahu apa penyebabnya

“Mereka dekat,” ucap Wanita tua itu pelan.

“Terlalu dekat,” .

“Itu yang lo mau?"

Ia terdiam. “Aku mau dia bahagia,” bisiknya. “Tapi aku takut dia melupakan.”

“Cinta sejati nggak akan hilang, Nak. Tapi cinta sejati juga nggak menahan.”

Ia melihat suaminya tertawa kecil—tawa pertama setelah sekian lama kepergiannya,

hatinya bergetar.

" Kamu cemburu ?"

" Apa kah masih boleh entitas cahaya merasakan cemburu?"

Perempuan tua itu mungkin tersenyum dengan berjuta makna

“Aku mau dia menjalani hidup dengan bahagia, tapi ....aku ingin sedikit waktu bersamanya lagi, sedikit saja, apakah itu tidak boleh ?"

“Itu akan mengikis energimu, Intervensi di mobil Laras kemarin sudah terlalu jauh.”

“Biarlah, kalau aku habis karena cinta… mungkin itu sudah takdirku.”

1
☠ᵏᵋᶜᶟ Қiᷠnꙷaͣŋͥ❁︎⃞⃟ʂ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔
kok AQ serem sih baca nya 😌
☠ᵏᵋᶜᶟ Қiᷠnꙷaͣŋͥ❁︎⃞⃟ʂ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔: aq gak berbakat nulis ..enak baca aja 🤣
total 4 replies
☠ᵏᵋᶜᶟ Қiᷠnꙷaͣŋͥ❁︎⃞⃟ʂ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔
Raka yang terpuruk dan Maya yang simpati karena ada maksud 🤭...
☠ᵏᵋᶜᶟ Қiᷠnꙷaͣŋͥ❁︎⃞⃟ʂ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔: idih 🤣🤣
total 2 replies
☠ᵏᵋᶜᶟ Қiᷠnꙷaͣŋͥ❁︎⃞⃟ʂ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔
seperti nya maya mencintai Raka ...dan yang dia lakukan untuk mencari simpati ke Raka ...aah kebanyakan sahabat seperti itu sih 🤭
☠ᵏᵋᶜᶟ Қiᷠnꙷaͣŋͥ❁︎⃞⃟ʂ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔: nama pasaran malah wkwk
total 6 replies
Soraya
mampir thor
Ddie: terimakasih banyak ya dk
total 1 replies
falea sezi
nyesek bgt baru jg baca/Shame/
Ddie: cinta sejati itu selalu ada dimana pun dk ..walau hidup dalam dimensi lain, kematian
total 1 replies
☠ᵏᵋᶜᶟ Қiᷠnꙷaͣŋͥ❁︎⃞⃟ʂ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔
aku masih di sini dekap hampa di hati....
mampir 🤭
☠ᵏᵋᶜᶟ Қiᷠnꙷaͣŋͥ❁︎⃞⃟ʂ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔: yups betul sekali 🤣
total 2 replies
Ddie
mengapa engkau pergi membawa cinta jika membuatku kehilangan? Kematian bukanlah takdir tapi mimpi panjang menghadap Tuhan. Disini aku melihatmu tanpa bisa menyentuh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!