Aruna dan Genta adalah definisi air dan minyak. Di kantor penerbitan tempat mereka bekerja, tidak ada hari tanpa adu mulut. Namun di balik layar ponsel, mereka adalah dua penulis anonim yang saling mengagumi karya satu sama lain melalui DM NovelToon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaka's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Kemeja Mahal dan Gayung Somplak
Gue menarik napas panjang, mencoba mengisi paru-paru gue dengan udara yang nggak lagi berbau AC kantor, tapi bau knalpot dan gorengan dari gang sebelah. Di depan gue, sebuah pintu kayu yang catnya sudah mengelupas berdiri dengan pasrah.
"Masuk, Pak, eh, Genta. Selamat datang di istana baru kita," ucap gue sambil nyengir lebar, meski sebenarnya hati gue mencelos melihat kontrakan petak ini.
Genta berdiri mematung di belakang gue. Kemeja putih mahalnya yang harganya mungkin setara gaji gue tiga bulan itu sudah lecek dan terkena noda oli. Dia menatap ruangan berukuran 3x4 meter itu dengan ekspresi yang sulit dijelaskan. Antara mau pingsan atau mau nangis.
"Aruna... secara logika, ruangan ini tidak mencukupi untuk dua orang dewasa dengan mobilitas tinggi," ucapnya dengan nada datar yang dipaksakan. Matanya menatap kasur lantai motif macan tutul yang ada di pojok ruangan.
"Duh, lupakan soal mobilitas! Yang penting kita aman dari orang-orang jas hitam itu. Udah, buruan masuk!" Gue tarik lengannya paksa.
Genta melangkah ragu. Dia meletakkan tas laptopnya di atas satu-satunya meja plastik yang ada di sana seolah itu adalah benda paling suci. "Dan di mana fasilitas pembersih tubuhnya?"
Gue menunjuk ke arah pintu kecil di pojok yang bahkan nggak bisa tertutup rapat. "Kamar mandi ada di sana. Tapi jangan berharap ada jacuzzi ya."
Genta menghilang ke balik pintu itu. Gue duduk di kasur macan tutul, mencoba menata detak jantung yang masih balapan gara-gara aksi kejar-kejaran tadi. Tiba-tiba...
BRAKK!
"ADUH!"
Gue langsung loncat. "Genta?! Lo kenapa?!"
Gue buru-buru lari ke depan pintu kamar mandi. Dari celah pintu, gue bisa melihat Genta lagi duduk di lantai semen yang licin. Wajahnya merah. Di sampingnya, sebuah ember plastik biru dan gayung warna pink yang pinggirannya sudah somplak meluncur jauh ke sudut.
"Aruna... lantai ini punya koefisien gesek yang sangat rendah," gerutunya sambil memegang dahinya yang merah. "Dan gayung ini... kenapa bentuknya tidak simetris?"
Gue nyaris meledak ketawa kalau nggak ingat situasi lagi gawat. Gue bantu dia berdiri dan menuntunnya keluar. Ternyata dahi pria kaku ini lecet karena terbentur pinggiran ember.
Gue ambil kotak P3K kecil dari tas, lalu menyuruhnya duduk di pinggir kasur. Genta menurut, dia diam seribu bahasa, matanya menatap lantai dengan tatapan kosong. Mungkin dia lagi nyesel kenapa milih pelarian bareng cewek ceroboh kayak gue daripada pasrah ditangkap tadi.
"Sini, gue obatin," kata gue pelan.
Gue berlutut di depannya, mulai membersihkan luka di dahinya pakai kapas. Jarak kami dekat banget. Dekat sampai gue bisa mencium sisa parfumnya yang bercampur dengan bau keringatnya. Gue bisa ngerasain napas Genta yang pendek menyapu wajah gue.
Mata Genta perlahan naik, menatap mata gue lurus. Tatapan dingin yang biasanya bikin gue keder, sekarang berubah jadi sesuatu yang lembut.
"Sakit ya?" bisik gue tanpa sadar.
Genta nggak menjawab. Tangannya yang besar tiba-tiba bergerak pelan, menyelipkan anak rambut gue ke belakang telinga. Jarinya yang dingin bikin gue merinding.
"Aruna," suaranya rendah, serak, dan sangat dalam. "Ini adalah revisi hidup paling ekstrem yang pernah saya jalani. Nggak ada dalam draf, nggak ada dalam rencana."
..."Ini adalah revisi hidup paling ekstrem yang pernah saya jalani. Nggak ada dalam draf, nggak ada dalam rencana."...
Gue tertegun. Gue mau membalas, tapi lidah gue mendadak kaku.
"Tapi," lanjutnya sambil menatap luka di dahi gue sendiri yang kena debu, "kalau naskah pelarian ini harus ditulis sama kamu, saya rasa saya nggak butuh banyak revisi lagi. Saya... saya cuma butuh kamu tetap di sini."
Jantung gue kayak mau copot. Di dalam kontrakan sempit yang pengap ini, di atas kasur macan tutul yang norak, gue sadar satu hal. Pak Genta yang biasanya robot itu, sekarang benar-benar sedang menunjukkan "kesalahan" paling indah dalam hidupnya, Dia jatuh cinta seberantakan itu sama gue.
"Genta," gue berbisik pelan, "gayung pink itu boleh somplak, tapi hati lo nggak boleh ikut pecah ya?"
Genta tersenyum tipis senyum nyata yang bikin dahi lecetnya nggak lagi kelihatan menyedihkan. "Selama penulisnya tetap kamu, saya rasa saya akan baik-baik saja."
genta sama aruna biar sambil joget 🤭
Mungkin bisa ditambah kata-kata seperti “seolah-olah”, “kayaknya”, atau “gue merasa” biar tetap konsisten.
Overall adegannya sudah tegang banget kok, ini cuma detail kecil aja 🤍 Maaf ya kak🫣🙏🏻🙏🏻