Kasyaira Lawana (Aira) adalah seorang gadis "Punggelan". Dalam mitos Jawa, dia adalah anak bungsu yang ditakdirkan menjadi saksi kematian seluruh anggota keluarganya. Hidup mandiri di rumah tua yang sunyi, Aira tumbuh menjadi sosok samudera: menampung segala duka, bersikap dingin untuk melindungi diri, dan percaya bahwa mencintai berarti membunuh. Dia yakin dirinya memiliki Ain—sebuah pandangan "hasad" tak sengaja yang sanggup mendahului takdir untuk melenyapkan apa pun yang dia sayangi.
"Namaku Lawana, Kara. Samudera itu luas, tapi dia selalu sendirian di titik terdalamnya. Jangan datang, atau kamu akan kedinginan." — Aira
"Aku Bagaskara, Aira. Tugasku adalah bersinar. Kalaupun aku harus tenggelam di samuderamu, setidaknya aku pernah membuat airmu terasa hangat." — Kara
"Tuhan tidak sedang menghukummu dengan kehilangan. Dia hanya sedang mengosongkan tanganmu, agar kamu punya ruang untuk menggenggam tangan-Nya." — Pesan Sang Kiai
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hayra Masandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akar yang Tersembunyi
Di sebuah rumah bergaya kolonial yang asri di pinggiran kota, Abyasa—atau Kara—duduk bersandar di kursi rotan milik kakeknya. Di atas meja, terdapat segelas teh hangat yang uapnya mengepul tipis, namun fokus Kara tidak pada teh itu. Pandangannya masih sesekali mengabur, seolah ada kabut tipis yang sengaja ditiupkan ke depan matanya.
Kakek Kara, seorang pria tua yang masih tampak gagah dengan rambut putih yang tertata rapi, memperhatikan cucunya dengan saksama. Sang Kakek tahu, cucunya yang terobsesi dengan logika ini tidak akan datang berkunjung hanya untuk menanyakan kabar jika tidak ada sesuatu yang mengusik rasionya.
"Eyang," suara Kara memecah kesunyian. "Apa Eyang pernah dengar tentang istilah Sukerto atau Punggelan?"
Sang Kakek meletakkan koran yang sedang dibacanya. Sorot matanya berubah menjadi lebih dalam. "Kenapa tiba-tiba bertanya soal itu, Le? Itu istilah lama yang jarang disebut anak muda zaman sekarang."
Kara memijat pangkal hidungnya yang terasa berdenyut. "Ada seseorang yang kukenal. Dia percaya bahwa dirinya adalah pembawa sial. Dia bilang, keluarganya habis karena dia. Dia menyebut dirinya... samudera yang menenggelamkan."
Kakeknya menghela napas panjang, lalu menyesap tehnya perlahan. "Dalam kepercayaan Jawa, Sukerto itu artinya orang yang 'kotor' atau membawa beban malapetaka sejak lahir karena kondisi tertentu. Sedangkan Punggelan... itu lebih spesifik. Punggel artinya patah. Seperti pohon yang dahan-dahannya patah satu per satu hingga tersisa batangnya saja yang berdiri sendirian."
Kara tertegun. Deskripsi itu sangat akurat menggambarkan Aira.
"Orang-orang zaman dulu percaya," lanjut Sang Kakek, "bahwa ada jiwa-jiwa tertentu yang memiliki 'pandangan mata' atau energi yang terlalu berat. Apa yang mereka sayangi dengan sangat dalam, justru akan layu. Tapi itu bukan karena mereka jahat, Kara. Itu karena mereka lahir dalam ketidakseimbangan kosmos. Mereka butuh diruwat, atau butuh seseorang yang memiliki 'pagar' yang lebih kuat untuk mendampinginya."
"Pagar?" tanya Kara.
"Iya. Seseorang yang energinya seperti api atau matahari yang kuat, yang tidak akan padam hanya karena terkena air samudera. Tapi..." Kakeknya menggantung kalimatnya, menatap mata Kara yang tampak merah. "Matahari itu sendiri harus siap terbakar lebih panas. Jika tidak, dia justru akan hancur oleh tekanan samudera itu."
Kara terdiam. Logikanya yang selama ini diagung-agungkan mulai berbenturan dengan penjelasan kakeknya. Ia teringat bagaimana pandangannya mulai kabur tak lama setelah ia mulai menaruh perhatian besar pada Aira. Apakah ini yang dimaksud? Apakah "pagarnya" tidak cukup kuat?
"Eyang, apa semua itu bisa dijelaskan dengan logika?" tanya Kara, suaranya sedikit bergetar.
Sang Kakek tersenyum tipis. "Logika itu hanya satu cara manusia memahami dunia, Kara. Tapi dunia ini jauh lebih luas dari sekadar apa yang bisa dihitung dengan angka. Ada hal-hal yang tidak kasat mata tapi nyata pengaruhnya. Seperti angin, kamu tidak melihatnya, tapi kamu merasakan dinginnya."
Kara menggenggam pinggiran kursi rotan itu. "Lalu, apa yang terjadi jika sang matahari tetap memaksa mendekat meski dia mulai redup?"
Kakeknya menatap Kara dengan tatapan peringatan. "Dia akan kehilangan cahayanya, Le. Dia bisa buta, atau bahkan padam selamanya."
Kara terdiam seribu bahasa. Penjelasan kakeknya tidak membuat hatinya tenang, justru memberinya beban baru. Ia menyadari bahwa ketakutan Aira bukan sekadar imajinasi gadis itu. Ada beban sejarah dan mitos yang sangat nyata yang sedang mereka hadapi.
Namun, di balik rasa pening yang menyerang kepalanya, sebuah tekad baru muncul di hati Kara. Jika ia adalah matahari yang ditakdirkan untuk Aira, maka ia tidak boleh padam begitu saja. Ia harus menemukan cara agar cahayanya tetap bersinar tanpa harus menghancurkan dirinya sendiri—atau Aira.
Saat Kara berpamitan untuk pulang, Kakeknya memegang bahunya dengan erat. "Ingat, Le. Jangan lawan samudera dengan kekerasan. Masuklah ke dalamnya dengan tenang, atau kamu akan tenggelam."
Kara mengangguk, namun saat ia memakai helm dan menyalakan motornya, pandangannya kembali mendua. Jalanan di depannya tampak seperti air yang bergelombang. Kara menarik napas panjang, menguatkan dirinya.
"Aku tidak percaya pada kutukan," bisik Kara di balik helmnya. "Tapi aku percaya pada Aira. Dan aku tidak akan membiarkan 'punggelan' itu mematahkan kita."
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰