Sejak kuliah, Kanaya sudah mengagumi seorang Narendra Atmaja, namun ia sadar akan statusnya dan mencoba membuang jauh-jauh perasaannya. Hingga suatu hari sahabatnya mendaftarkan Kanaya ke sebuah aplikasi kencan dan ia harus bertemu dengan pria yang menjadi teman kencannya, akhirnya Kanaya menemui pria tersebut dan betapa terkejutnya ia ketika mengetahui jika pria yang menjadi teman kencannya adalah pria yang ia kagumi sejak kuliah.
Bagaimana kelanjutannya? Apa yang akan terjadi pada Kanaya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ayo Angkat, Narendra.
Kanaya menarik napas panjang, meremas jemarinya sendiri sebelum akhirnya menatap Arin dengan tatapan serius dan setelah itu, Kanaya pun menceritakan semua yang terjadi padanya dan Narendra setelah bertemu karena ulah Arin.
"Apa! Jadi, Narendra ngajak kamu ketemu lagi kemarin?" tanya Arin dengan suaranya yang cukup keras hingga Kanaya harus menutup telinganya.
"Kecilin suaramu, Arin!" ucap Kanaya sambil melotot dan wajahnya makin panas mengingat kejadian kemarin.
Arin menutup mulutnya dengan kedua tangan, matanya membelalak lebar hampir keluar. Arin condong ke depan dan menatap sahabatnya dengan tatapan tajam.
"Ke-kenapa?" tanya Kanaya.
"Kalian pacaran?" tanya Arin.
"Pacaran apanya? Nggak, Rin! Aku sama Narendra nggak ada hubungan apa-apa!" bantah Kanaya cepat dan tangannya bergerak panik di udara seolah sedang mengusir nyamuk.
Arin menaikkan satu alisnya, tatapannya penuh selidik. "Nggak ada hubungan apa-apa tapi diantar jemput pakai mobil yang harganya bisa buat beli ginjalku, nggak ada hubungan apa-apa tapi dikasih asupan gizi sampai satu plastik besar begini," sindir Arin.
"Dia itu cuma... mungkin dia cuma lagi butuh teman, Rin," gumam Kanaya dan suaranya melemah.
Kanaya menunduk dan menatap ujung kakinya yang terbungkus kaus kaki tipis, "Mungkin setelah lama di luar negeri, teman-temannya sudah pada sibuk sendiri dan karena kemarin kita ketemu gara-gara aplikasi itu, ya dia pikir aku orang yang paling mudah dihubungi," lanjut Kanaya.
Arin mendengus keras dan hampir saja tersedak udara, "Teman? Kanaya, bangun! Narendra itu Dokter. Jadwalnya pasti padat, dunianya pasti isinya orang-orang hebat, kalau dia cuma butuh teman, dia bisa cari teman sesama Dokter yang lebih nyambung diajak ngomongin anatomi tubuh manusia dan bukannya temenan sama kamu, apalahi dia sampai bela-belain nungguin kamu di depan gang kos yang sempit itu!" ucap Arin.
"Iya, juga sih," jawab Kanaya.
"Aku yakin, kalau Narendra itu tertarik sama kamu," ucap Arin.
"Nggak mungkin, Rin. Kamu jangan ngaco deh, kamu tahu sendiri siapa Narendra, dia pasti punya standar yang tinggi, mungkin sekarang dia cuma ngerasa kasihan liat aku yang masih begini-begini aja," ucap Kanaya.
Arin memutar bola matanya gemas, "Kanaya, dengerin ya. Cowok kayak Narendra itu nggak punya waktu buat sekadar kasihan, kalau dia nggak tertarik, dia nggak bakal buang bensin buat jemput kamu," ucap Arin.
Kanaya hanya terdiam, ia merasa ucapan Arin ada benarnya, tapi ketakutan di dalam dirinya jauh lebih besar. Kanaya merasa dunia mereka sudah terlalu berbeda, Narendra yang sukses dan bersinar, sementara dirinya merasa seperti butiran debu di sudut kota.
"Udahlah, jangan dibahas lagi. Aku mau di sini sampai agak sorean," ucap Kanaya mengalihkan pembicaraan.
"Dibilangin kok malah nggak percaya," ucap Arin.
"Udah jangan bahas lagi," ucap Kanaya.
Mereka pun membahas hal lain yang lebih penting dan tentunya bukan tentang Narendra, di mana Arin yang bercerita tentang kegalauannya yang baru saja diselingkuhi dan mantannya ternyata akan menikah dengan selingkuhannya.
"Jahat banget ya, Chiko. Padahal aku sama dia pacarannya hampir 3 tahun, tapi dia selingkuh bahkan mereka mau nikah, aku dengar dari teman-temannya kalau Chiko sama perempuan itu pancarannya udah dua tahun dan itu artinya Chiko selingkuh sama dia pas masih pacaran sama aku hiks hiks," ucap Arin.
"Jahat banget! Kamu cantik, Rin. Kamu harus balas dendam ke Chiko, kamu harus menunjukkan kalau Chiko itu memang nggak pantas buat kamu," ucap Kanaya.
Bukannya menjawab, Arin justru kembali menangis. "Loh kok nangis lagi? Jangan nangis dong," ucap Kanaya.
"Hiks hiks, aku baru putus terus aku curhat sama kamu yang belum pernah pacaran, mana kamu pakai nasehatin aku lagi," uca Arin yang tertawa disela-sela tangisannya.
"Kurang ajar, setidaknya aku gak pernah ya nangis buat cowok," ucap Kanaya yang tudak terima diejek Arin.
"Gak pernah nangis apanya coba, dulu pas selesai wisuda kamu nangis gara-gara Narendra," ucap Arin.
"Itu dulu ya, sekarang nggak," ucap Kanaya.
"Iyalah nggak nangis, ngapain juga nangis. Orang sekarang udah deket sama Narendra," ucap Arin.
"Apaan sih, udah deh, aku tidur aja. Nanti kalau udah jam 5 bangunin aku ya," ucap Kanaya.
"Cih, gak bisa ngomong lagi dia. Udah tidur sana," ucap Arin.
Beberapa saat kemudian, Arin melirik Kanaya yang sudah terlelap dengan mulut sedikit terbuka di atas sofa. "Dasar kerbau," gumam Arin pelan.
Matanya kemudian tertuju pada ponsel Kanaya yang tergeletak pasrah di atas meja dam niat jahil Arin muncul, Arin meraih ponsel tersebut dengan pelan agar tidak membangunkan Kanaya dan untungnya Kanaya tidak menggunakan kata sandi yang rumit.
Arin segera membuka aplikasi kirim pesan dan mencari nama Narendra, begitu menemukannya Arin tidak mengirim pesan melainkan langsung menekan tombol panggilan video, jantung Arin ikut berdegup kencang.
'Ayo angkat, Narendra,' batin Arin.
Hanya dalam tiga nada sambung, panggilan itu langsung diangkat, Arin yang sudah mengubah menjadi kamera belakang pun tenang.
Ponsel itu kini menampilkan sosok Narendra, ia tidak sedang mengenakan jas putih dokternya, melainkan kaus hitam polos yang santai dan duduk di sebuah sofa yang tampak mewah.
Begitu panggilan tersambung, dahi Narendra sedikit berkerut melihat tampilan kamera yang gelap karena Arin sedang menyesuaikan posisi. Namun, begitu Arin mengarahkan kamera ponsel tepat ke wajah Kanaya yang sedang terlelap, ekspresi Narendra berubah seketika, tatapan matanya yang biasanya tajam dan menakutkan kini mendadak melunak.
Arin menempelkan jari telunjuk di bibirnya, memberi isyarat agar Narendra diam dari arah kamera depan lalu kembali mengarahkan kamera belakang ke arah Kanaya.
Dari seberang panggilan, Narendra terdiam cukup lama. Narendra memandangi wajah Kanaya melalui layar ponsel dengan intensitas yang tidak bisa dibilang biasa, ia memperhatikan bagaimana rambut halus Kanaya menutupi sebagian pipinya, dan bagaimana napas gadis itu terlihat teratur.
Kenapa dia tidur di sana?
Suara Narendra terdengar sangat pelan bahkan nyaris berbisik, namun terdengar begitu berat dan penuh perhatian.
^^^Kecapekan curhat, Pak Dokter. Katanya semalam nggak bisa tidur nyenyak.^^^
Kamera ponsel tersebut tetap menghadap Kanaya, Arin menjawabnya tanpa menunjukkan wajahnya.
Narendra terdiam sejenak, ada kilatan aneh di matanya mendengar kata.
Apa dia sakit?
^^^Nggak kok, cuma manja aja. Oh iya, Narendra, nanti kamu jemput jam 5 ya.^^^
Iya, masih jam 1. Jangan dibangunkan, biarkan dia istirahat.
^^^Siap.^^^
Arin.
^^^Ya?^^^
Pakaikan selimut, jangan biarkan dia kedinginan.
^^^Oke, aku ambilkan.^^^
Beberapa saat kemudian, tubuh Kanaya sudah tertutup oleh selimut.
Biarkan seperti ini, jangan dimatikan.
^^^Oke, kamu jagain Kanaya aja, aku mau santai-santai dulu.^^^
'Aku yakin seratus persen, Narendra suka Kanaya. Emang dasarnya Kanaya yang nggak pernah pacaran, jadi dia nggak tahu kalau Narendra itu suka sama dia,' batin Arin.
.
.
.
Bersambung.....