Kang Yun-seo, seorang pemuda biasa dari dunia modern yang doyan main game, tiba-tiba terbangun di dunia Murim yang penuh intrik dan seni bela diri. Ia dipanggil oleh Hwang Yehwa, ratu iblis yang sekarat akibat pengkhianatan, dan kini kehilangan kekuatannya, berubah wujud menjadi manusia biasa. Untuk bertahan di wilayah manusia yang memusuhi iblis, Yun-seo harus berpura-pura sebagai suaminya. Dengan pengetahuan modernnya, Yun-seo beradaptasi di akademi pedang, menghadapi turnamen, konspirasi gelap, dan bangkitnya kekuatan iblis, sambil menumbuhkan ikatan tak terduga dengan ratu dingin itu. Sebuah kisah isekai penuh aksi, komedi, dan romansa di antara dua dunia yang bertabrakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10: PERSIAPAN AKADEMI
Dua minggu. Empat belas hari. 336 jam.
Itu waktu yang tersisa sebelum tes masuk Akademi Pedang Iblis Langit. Dan bagi Yun-seo, waktu itu terasa seperti hitungan mundur menuju eksekusi.
"Ayo, sekali lagi!"
Suara Yehwa menggema di halaman belakang toko Hwang Cheol-soo. Matahari baru saja terbit, tapi Yun-seo sudah berkeringat deras, tangannya memegang pedang kayu dengan gemetar.
"Jurus ketiga, Gerakan Naga Terbang. Ayunan dari bawah ke atas, putaran badan, tusukan." Yehwa mendemonstrasikan dengan gerakan anggun. "Coba."
Yun-seo menarik napas dalam-dalam. Ia menutup mata, membayangkan gerakan itu seperti di game. Buka mata. Ayun. Putar. Tusuk.
Byuur! Kakinya tersangkut, ia jatuh tersungkur.
"Aduh!"
Yehwa menghela napas. "Kau terlalu tegang. Rileks."
"Gimana mau rileks? Dua minggu lagi kita harus tes masuk akademi terbaik di Murim, dan aku masih jatuh-jatuh kayak badut!" Yun-seo bangkit, mengusap lumpur dari wajahnya.
"Dulu waktu pertama latihan, kau tidak bisa berdiri dengan benar. Sekarang kau sudah bisa dua jurus. Itu kemajuan."
"Itu karena kau pukul terus."
"Efektif, kan?"
Yun-seo mendengus. Tapi diam-diam ia tahu, Yehwa benar. Pukulan-pukulan kecil itu membuatnya cepat belajar. Rasa sakit adalah guru terbaik.
Hwang Cheol-soo muncul dari dalam toko, membawa nampan berisi teko dan cangkir. "Istirahat dulu. Minum teh."
Mereka duduk di kursi kayu sederhana. Teh hangat terasa nikmat di tenggorokan kering.
"Yang Mulia," panggil Hwang Cheol-soo, "bagaimana perkembangan kekuatanmu?"
Yehwa mengangkat tangan. Api hitam kecil menyala di telapaknya—lebih besar dari sebelumnya, tapi masih kecil. "Mahkota ini memberiku sekitar 5% kekuatan asliku. Cukup untuk satu atau dua serangan, tapi tidak lebih."
"Setiap pusaka akan memulihkan sebagian kekuatanmu. Kalau bisa dapat Pedang Naga Iblis, mungkin naik jadi 15-20%."
Yun-seo bersiul. "Baru 5% udah bisa bikin api. Dulu 100% kayak apa?"
Yehwa meliriknya. "Aku bisa menghancurkan gunung dengan satu jentikan."
Yun-seo membayangkan itu. Yehwa dengan sayap hitam, terbang di langit, menghancurkan gunung. Dan sekarang wanita yang sama duduk di sampingnya, minum teh di halaman belakang toko alat tulis.
"Gila," gumamnya.
"Memang."
Mereka diam sejenak, menikmati teh. Lalu Hwang Cheol-soo berkata, "Aku sudah dapat informasi tentang tes masuk."
Keduanya menegang.
"Tesnya terdiri dari tiga tahap. Pertama, tes bakat ki. Kedua, tes ketangkasan fisik. Ketiga, pertarungan satu lawan satu dengan sesama peserta."
Yun-seo pucat. "Tes ki? Aku nol besar!"
"Untuk itu, aku punya solusi." Hwang Cheol-soo mengeluarkan sebuah gelang kulit sederhana. "Pakai ini. Gelang Penyamaran. Ia akan menciptakan ilusi ki palsu di tubuhmu. Cukup untuk lolos tes dasar."
Yun-seo menerimanya dengan ragu. "Ini... nggak ilegal?"
"Di dunia ini, yang penting hasil, Nak." Hwang Cheol-soo tersenyum licik. "Yang Mulia, kau tidak perlu gelang. Meski tanpa kekuatan, tubuhmu tetap menyimpan sisa-sisa energi iblis. Tes ki akan mendeteksinya sebagai ki manusia tingkat menengah—cukup untuk lulus."
Yehwa mengangguk. "Lalu tes fisik?"
"Kau pasti lulus. Yang perlu dikhawatirkan adalah Yun-seo."
Yun-seo meringis. "Aku tahu."
"Tapi ada satu keuntungan." Hwang Cheol-soo menatapnya tajam. "Di tes terakhir—pertarungan satu lawan satu—peserta dipasangkan secara acak. Mungkin kalian bisa bertemu."
Yehwa mengernyit. "Maksud Kakek?"
"Kau harus memastikan dia lulus. Kalau kalian bertemu di babak pertama, kau bisa... mengalah dengan sopan."
Yun-seo hampir tersedak tehnya. "Maksudnya, Yehwa harus sengaja kalah?"
"Dia ratu iblis. Dia tahu cara bertarung tanpa melukai, lalu pura-pura jatuh. Tidak akan curiga."
Yehwa diam, berpikir. Lalu mengangguk. "Bisa."
"Tapi itu curang!" protes Yun-seo.
"Di dunia ini, yang curang menang, yang jujur mati," jawab Hwang Cheol-soo dingin. "Kau mau mati, Nak?"
Yun-seo membisu. Ia tidak mau mati.
"Baiklah," katanya akhirnya. "Tapi aku tetap harus latihan keras. Kalau sampai ketemu lawan lain sebelum Yehwa, aku harus bisa bertahan."
Yehwa tersenyum tipis. "Itu semangat yang benar."
---
Latihan hari itu berlangsung lebih keras dari sebelumnya.
Yehwa tidak hanya mengajarkan jurus, tapi juga teknik bertahan, cara jatuh yang benar, cara menghindar, dan yang paling penting—cara berpura-pura kesakitan.
"Kalau lawanmu lebih kuat, jangan coba-coba melawan. Jatuh, menggeliat, pura-pura cedera. Wasit akan menghentikan pertarungan."
"Itu pengecut."
"Itu pintar. Kau pikir pendekar sejati tidak pernah mundur? Yang paling pintar adalah yang tahu kapan harus maju dan kapan harus mundur."
Yun-seo mengangguk, mencerna. Yehwa benar. Dalam game, ia juga sering "retreat" kalau HP tinggal sedikit.
Menjelang sore, tubuh Yun-seo terasa seperti habis dihajar truk. Ia jatuh terduduk di bawah pohon, tidak sanggup bergerak.
Yehwa duduk di sampingnya. Napasnya juga sedikit tersengal—latihan keras ini juga mengurasnya.
"Kau kuat," katanya tiba-tiba.
"Hah?"
"Aku bilang kau kuat. Manusia biasa tidak akan bertahan seminggu dengan latihanku. Kau sudah dua minggu." Ia menatap Yun-seo. "Mungkin karena kau memang dipilih cincin."
Yun-seo tersenyum lelah. "Atau mungkin karena aku terlalu bodoh buat nyerah."
"Bodoh yang kuat."
"Itu pujian?"
"Pengakuan."
Yun-seo tertawa kecil. Yehwa ikut tersenyum—senyum yang semakin sering muncul akhir-akhir ini.
"Yehwa," panggilnya pelan.
"Hm?"
"Di akademi nanti... kita harus pura-pura kenal? Atau tetap jadi suami istri?"
Yehwa diam. Pertanyaan itu mengganggu pikirannya juga. Identitas mereka sebagai pasangan suami istri berguna selama ini—memberi alasan kenapa mereka selalu bersama, kenapa Yun-seo melindunginya. Tapi di akademi?
"Mungkin... tetap jadi suami istri," katanya akhirnya. "Tapi versi yang lebih muda. Pasangan muda yang baru menikah, masuk akademi bersama."
Yun-seo mengangguk. "Oke. Aku bisa."
"Kau yakin? Berakting sebagai suamiku di depan banyak orang?"
"Bukannya selama ini juga akting?"
Yehwa menatapnya. Lalu pelan, "Apakah ini masih akting, Yun-seo?"
Pertanyaan itu menggantung di udara. Yun-seo tidak tahu harus jawab apa. Karena sejujurnya, ia sendiri tidak tahu lagi.
---
Malam harinya, Hwang Cheol-soo memanggil mereka untuk briefing terakhir.
Peta akademi dibentangkan di meja. Bangunan utama, asrama, lapangan latihan, perpustakaan, dan—yang paling penting—ruang bawah tanah tempat Pedang Naga Iblis disimpan.
"Ruang bawah tanah ini dijaga ketat," jelas Hwang Cheol-soo. "Hanya kepala sekolah dan beberapa guru tertentu yang bisa masuk. Tapi ada satu celah."
Ia menunjuk sebuah titik di peta. "Di belakang perpustakaan, ada lorong bawah tanah tua. Dulu digunakan untuk evakuasi darurat. Sekarang sudah ditutup, tapi masih bisa dibuka dari dalam."
Yehwa mengamati. "Kita harus masuk dari dalam? Berarti harus jadi murid dulu."
"Tepat. Setelah kalian diterima, cari informasi sebanyak-banyaknya. Jangan terburu-buru mengambil pedang. Perhatikan pola penjagaan, cari tahu siapa saja yang punya akses."
Yun-seo mengangkat tangan. "Aku bingung, kita jadi mata-mata atau murid?"
"Keduanya." Hwang Cheol-soo tersenyum. "Tugas utama kalian adalah bertahan dan belajar. Misi kedua adalah cari informasi. Jangan gegabah."
Yehwa mengangguk. "Aku mengerti."
"Besok kalian daftar. Gunakan nama kalian sendiri—itu lebih aman daripada nama palsu. Surat identitas dari Sancheong sudah cukup."
Yun-seo menghela napas. Besok. Pendaftaran. Dua minggu lagi tes.
Hidupnya berubah total dalam sebulan.
---
Pagi harinya, mereka berdiri di depan gerbang Akademi Pedang Iblis Langit.
Bangunan itu megah—jauh lebih besar dari yang Yun-seo bayangkan. Gerbang besi hitam dengan ukiran naga dan macan. Di belakangnya, kompleks luas dengan puluhan bangunan bergaya tradisional Korea. Di kejauhan, Gunung Banyak Iblis menjulang, puncaknya tertutup awan.
Yun-seo menelan ludah. "Ini... lebih mirip istana daripada sekolah."
"Ini akademi terbaik di Murim," kata Yehwa pelan. "Dulu, pasukan iblis pernah mencoba menyerangnya. Gagal total."
"Karena?"
"Pertahanan mereka luar biasa. Formasi, jebakan, dan para gurunya—semua level master ke atas."
Yun-seo meringis. "Dan kita mau menyusup ke sini?"
"Kita tidak punya pilihan."
Mereka melangkah masuk. Di halaman depan, puluhan calon murid sudah antri. Ada yang datang sendiri, ada yang bersama rombongan sekte. Pakaian mereka bervariasi—dari hanbok sederhana hingga jubah sutra mewah.
Seorang petugas dengan seragam biru memberi mereka nomor antrian: 156 dan 157.
"Siapa nama?" tanya petugas di meja pendaftaran.
"Kang Yun-seo."
"Hwang Yehwa."
Petugas itu menulis, lalu menatap mereka bergantian. "Asal Sancheong? Desa yang dihancurkan iblis?"
"Na," jawab Yun-seo tegas.
Petugas itu mengangguk simpatik. "Selamat sudah selamat. Semoga kalian lulus tes." Ia memberi mereka formulir. "Isi, lalu kembalikan besok. Tes dimulai tiga hari lagi."
Mereka mengisi formulir di bangku taman. Yun-seo menulis dengan hati-hati—pengalaman, tidak ada. Keahlian, sedikit ilmu pedang dasar. Referensi, tidak ada.
Formulirnya terlihat kosong melompong dibanding calon lain yang menulis panjang lebar.
Yehwa menatap formulirnya. Ia menulis dengan lancar—pengalaman bertahun-tahun sebagai ratu iblis memberinya kemampuan memalsukan data dengan sempurna.
Saat mengembalikan formulir, seseorang menabrak Yun-seo dari belakang.
"Maaf, maaf!" Suara itu familiar.
Yun-seo menoleh. Seorang pemuda dengan wajah bulat dan senyum cerah—Jo Cheol-soo, anak tukang pandai besi yang tinggal di Lorong Kegelapan.
"Yun-seo-hyung!" serunya gembira. "Kau daftar juga?"
"Cheol-soo?" Yun-seo terkejut. "Kau juga?"
"Na! Aku mau masuk fakultas menempa. Ayah bilang di akademi ada guru pandai besi terbaik di Murim." Cheol-soo menatap Yehwa, matanya melebar. "Wah, cantik sekali! Ini siapa?"
Yun-seo memperkenalkan, "Ini Yehwa... isteriku."
Cheol-soo membeku. "I-Isteri? Hyung sudah menikah?!"
"Ceritanya panjang."
"Selamat! Selamat!" Cheol-soo membungkuk pada Yehwa. "Aku Jo Cheol-soo, tetangga hyung di Lorong Kegelapan. Senang bertemu!"
Yehwa mengangguk sopan. "Senang bertemu."
Cheol-soo bergumam pada Yun-seo, "Hyung beruntung banget. Istri secantik itu..."
Yun-seo tersenyum kaku. "Iya, beruntung."
Yehwa meliriknya, nyaris tersenyum.
---
Tiga hari menuju tes.
Mereka habiskan dengan latihan intensif. Yehwa mengajarkan jurus keempat—yang paling sulit. Yun-seo jatuh bangun, tapi tidak menyerah.
Hwang Cheol-soo memberi tambahan pelajaran tentang akademi—guru-guru penting, murid-murid terkenal, dan satu nama yang harus diwaspadai: Seo Jung-won, murid terkuat yang pernah mereka lihat saat serangan iblis.
"Dia putra mahkota akademi. Levelnya sudah hampir master. Jangan cari masalah dengannya."
Yun-seo ingat pemuda tampan yang menyelamatkan mereka dulu. "Dia... baik atau jahat?"
"Bukan jahat, tapi arogan. Anak orang kaya, bakat luar biasa, selalu menang. Wajar kalau sombong." Hwang Cheol-soo menghela napas. "Tapi di dalam, dia kesepian. Tekanan sebagai pewaris membuatnya kaku."
Yehwa mengangguk. "Aku kenal tipe seperti itu. Banyak di istana."
Malam terakhir sebelum tes, mereka tidak latihan. Hanya duduk di depan barak, memandangi bintang.
"Gugup?" tanya Yehwa.
Yun-seo mengangguk. "Banget."
"Aku juga."
"Kau? Ratu iblis gugup?"
"Ini pertama kalinya aku jadi murid. Dulu aku langsung jadi ratu, tidak sekolah." Yehwa tersenyum getir. "Ironis, umur 327 tahun baru sekolah."
Yun-seo tertawa. "Kalau aku jadi guru, aku bakal kaget lihat murid secantik itu."
Yehwa memukul lengannya pelan. "Diam."
Mereka tertawa kecil. Lalu diam lagi.
"Hei," panggil Yun-seo.
"Hm?"
"Besok, apapun yang terjadi, kita hadapi bareng-bareng. Oke?"
Yehwa menatapnya. Di bawah sinar bintang, matanya berkilau.
"Oke."
Mereka berjabat tangan. Tapi jabat tangan itu berlangsung lama, dan tidak ada yang menarik duluan.
---