Setelah menyelamatkan Alam Dewa dan mencapai ranah Dewa Sejati, Shi Hao terpaksa meninggalkan rumah dan orang-orang yang dicintainya demi mencegah kehancuran dimensi akibat kekuatannya yang terlalu besar.
Namun, saat melangkah keluar ke Alam Semesta Luar, Shi Hao menyadari kenyataan yang kejam. Di lautan bintang yang tak bertepi ini, Ranah "Dewa" hanyalah titik awal, dan planet tempat tinggalnya hanyalah butiran debu. Tanpa sekte pelindung, tanpa kekayaan, dan diburu oleh Hukum Langit yang menganggap keberadaannya sebagai "Ancaman", Shi Hao harus bertahan hidup sebagai seorang pengembara tak bernama.
Menggunakan identitas baru sebagai "Feng", Shi Hao memulai perjalanan dari planet sampah. Bersama Nana gadis budak Ras Kucing yang menyimpan rahasia navigasi kuno ia mengikat kontrak dengan Nyonya Zhu, Ratu Dunia Bawah Tanah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 214
Aula Utama Labirin – Jaring Kematian.
SRET. SRET. SRET.
Darah emas terciprat ke udara.
Tubuh Shi Hao terperangkap di tengah badai benang merah. Serangan Xing Tian Seribu Benang Darah begitu rapat dan tak kasat mata.
Setiap kali Shi Hao mencoba bergerak, benang-benang Qi itu memotong kulitnya. Jubah perangnya sudah hancur, memperlihatkan tubuh yang penuh luka sayatan halus namun dalam.
Energi korosif dari benang itu membakar lukanya, mencegah regenerasi Nirwana bekerja dengan cepat.
"Menyerahlah," suara Xing Tian terdengar dari segala arah, bergema di balik jaring benang itu.
"Teknikku memotong meridian. Semakin kau bergerak, semakin cepat kau lumpuh. Kau adalah serangga di jaring laba-laba."
Shi Hao berhenti bergerak. Dia berdiri di tengah hujan benang itu, napasnya memburu.
Dia menyadari satu hal: Xing Tian lebih kuat dalam hal teknik murni. Pengalamannya sebagai pembunuh dan pemangsa membuat Xing Tian memiliki efisiensi yang mengerikan.
Jika aku bertarung sebagai Pedang, aku akan mati pelan-pelan, batin Shi Hao.
Teknikku kalah. Pengalamanku kalah. Cadangan energiku kalah.
Shi Hao menutup matanya.
Hanya ada satu cara untuk mengalahkan monster gila... adalah dengan menjadi monster yang lebih gila.
Di dalam Lautan Jiwa (Dantian)-nya, dua kekuatan besar bersemayam.
Darah Naga Kekacauan Simbol Kehidupan, Kekuatan Fisik Mutlak, dan Yang Murni.
Pedang Asura: Simbol Kematian, Niat Membunuh, dan Yin Dingin.
Biasanya, Shi Hao menggunakan mereka secara bergantian untuk menjaga keseimbangan. Menyatukan mereka adalah Tabu. Air dan Api tidak bisa bersatu tanpa meledakkan wadahnya.
"Tapi siapa peduli dengan wadah?" Shi Hao menyeringai liar, darah menetes dari sudut bibirnya. "Kalau pecah, tinggal disusun lagi."
Shi Hao membuka matanya.
Pupil matanya berubah. Mata Kiri: Emas Vertikal (Naga). Mata Kanan: Merah Pekat (Asura).
"Penyatuan Terlarang: Kunci Gerbang Jiwa... BUKA!"
DUM!
Jantung Shi Hao berdetak satu kali dengan suara yang memecahkan gendang telinga.
Xing Tian, yang sedang bersiap melancarkan serangan terakhir, tiba-tiba berhenti. Bulu kuduknya berdiri.
"Energi apa ini?"
Dari tubuh Shi Hao, ledakan aura dua warna abu-abu dan Merah Darah—meletus ke segala arah.
KRAK! KRAK!
Benang-benang darah Xing Tian yang setajam artefak dewa... putus begitu saja saat menyentuh aura Shi Hao.
Tubuh Shi Hao mulai berubah.
Sisik-sisik naga berwarna ungu-hitam tumbuh menutupi kulitnya, membentuk zirah alami. Tulang punggungnya menonjol, menembus kulit, membentuk duri-duri tajam. Tangan kanannya yang memegang pedang Leviathan Asura melebur, seolah daging dan logam pedang itu menyatu menjadi cakar pedang biologis. Diringi rambut yang memanjang dan berubah warna menjadi putih perak.
Ekor naga yang panjang dan berduri tumbuh, menghempas lantai batu hingga hancur.
Shi Hao bukan lagi manusia. Dia adalah Avatar Naga Asura.
"Xing Tian," suara Shi Hao berat dan ganda—seperti suara naga dan iblis yang bicara serentak.
"Kau bilang kau suka daging yang alot?"
Shi Hao membungkuk, mengambil posisi merangkak seperti binatang buas.
"Coba kunyah ini."
BOOM!
Shi Hao melesat.
Kecepatannya begitu tinggi hingga dia tidak meninggalkan bayangan. Dia hanya... tiba di depan Xing Tian.
Xing Tian terbelalak. "Perisai Darah!"
Dinding darah tebal muncul di depan Xing Tian.
Shi Hao tidak menebasnya. Dia mencabiknya dengan tangan kosong (yang bersisik naga).
KREK.
Perisai itu robek seperti kertas.
Tangan cakar Shi Hao terus melaju, mencengkeram wajah tampan Xing Tian.
"Dapat," geram Shi Hao.
Dia membanting Xing Tian ke lantai.
BLAAAAR!
Lantai aula labirin hancur, menciptakan kawah selebar seratus tombak.
Xing Tian terbatuk darah hitam.
"Binatang!" teriak Xing Tian marah. Kuku-kuku panjangnya menusuk lengan Shi Hao, mencoba menyuntikkan racun pelumpuh.
Tapi Shi Hao tidak peduli. Rasa sakit hanya membuatnya semakin marah.
"Auman Naga Asura!"
Shi Hao membuka mulutnya tepat di depan wajah Xing Tian dan meraung.
ROAAAARRRR!
Auman itu bukan suara biasa. Itu adalah gelombang kejut fisik yang dicampur dengan Niat Membunuh Mental.
Kulit wajah Xing Tian terkelupas oleh gelombang suara itu. Gendang telinganya pecah. Otak Xing Tian bergetar hebat, membuatnya kehilangan fokus sesaat.
Shi Hao memanfaatkan momen itu.
Dia mengangkat Xing Tian, lalu mulai menghajarnya secara brutal.
Tidak ada teknik pedang indah. Tidak ada mantra Tao.
Hanya: Pukulan. Cakaran. Gigitan. Bantingan.
BUK! SRET! KRAK!
Shi Hao menggigit bahu Xing Tian, merobek daging Dewa Sejati itu dengan taring naganya. Dia mematahkan jari-jari Xing Tian satu per satu.
Ini bukan pertarungan antar Dewa. Ini adalah pertarungan dua monster purba di dalam lubang kematian.
"KAU PIKIR AKU AKAN KALAH?!" Xing Tian meraung gila.
Dia meledakkan seluruh Qi cadangannya.
"Ledakan Darah!"
Gelombang energi merah meledak dari tubuh Xing Tian, melemparkan Shi Hao mundur.
Shi Hao mendarat dengan empat kaki, cakarnya mencengkram lantai batu untuk mengerem. Asap mengepul dari tubuhnya yang bersisik.
Xing Tian bangkit berdiri. Tubuhnya hancur-hancuran. Satu tangannya putus, wajahnya hancur separuh. Tapi dia beregenerasi dengan cepat menggunakan cadangan darah yang dia hisap dari peserta lain.
Xing Tian menatap Shi Hao dengan ketakutan yang murni.
Dia melihat Shi Hao yang berdiri di sana—setengah naga, setengah iblis, napasnya mengeluarkan api hitam, matanya menyala liar namun... intinya tetap dingin.
Shi Hao gila, tapi dia mengendalikan kegilaannya. Sedangkan Xing Tian dikendalikan oleh kegilaannya.
"Kau... Kau monster yang lebih buruk dariku," desis Xing Tian.
Shi Hao menegakkan tubuhnya. Cakar pedangnya meneteskan darah Xing Tian.
"Sudah kubilang," suara Shi Hao parau. "Aku tidak memakan apa yang kulindungi. Tapi untuk sampah sepertimu..."
Shi Hao menyeringai mengerikan, memperlihatkan taringnya.
"...Aku tidak keberatan menjadi tukang jagal."
Shi Hao mengangkat tangan kanannya yang menyatu dengan pedang. Aura Nirwana (Abu-abu) dan Asura (Hitam) berpilin di ujung pedang itu, menciptakan bola energi yang tidak stabil dan memusnahkan ruang di sekitarnya.
"Ayo akhiri ini, Pemangsa."
"Lihat siapa yang akan dimakan."
Muantebz 🔝🐉🔥🌟🔛