Demi menyelamatkan perusahaan ayahnya, Alina menerima pernikahan kontrak dengan pewaris konglomerat yang dingin dan kejam. Di mata semua orang, ia hanyalah wanita murahan yang menikah demi uang.
Tak ada yang tahu, Alina sebenarnya pewaris keluarga finansial terbesar yang sengaja menyembunyikan identitasnya.
Saat kontrak hampir berakhir dan rahasianya terbongkar, sang suami justru jatuh cinta. Kini, ketika kebenaran terungkap siapa yang sebenarnya sedang mempermainkan siapa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laskar Bintang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Retakan yang Terlihat
Tiga hari setelah rapat darurat itu, tekanan mulai terasa nyata.
Berita tentang potensi akuisisi antara Ardhana Capital dan Wijaya Group bocor ke media. Judul-judul sensasional memenuhi portal bisnis: “Pernikahan Strategis atau Langkah Akuisisi Terselubung?” — “Alina Ardhana, Istri Pewaris atau Ratu di Balik Layar?”
Alina membaca salah satu artikel di ruang kerjanya, wajahnya tenang, tetapi jemarinya mencengkeram ponsel lebih erat dari biasanya.
Di luar, dunia melihat ini sebagai drama korporasi.
Di dalam, ini perang keluarga.
Pintu ruang kerja terbuka tanpa ketukan. Arsen masuk dengan langkah tegas.
“Media mulai berspekulasi tentang konflik internal Ardhana,” katanya tanpa basa-basi. “Saham kita turun dua persen pagi ini.”
Alina mengangguk pelan. “Aku sudah menduga itu.”
Arsen berdiri di hadapannya, mempelajari wajahnya.
“Kau tampak lebih tenang dari yang seharusnya.”
“Aku sudah terbiasa,” jawabnya singkat.
Kalimat itu membuat Arsen terdiam sejenak.
“Terbiasa sendirian menghadapi badai?” tanyanya.
Alina tidak langsung menjawab. Ia menutup layar ponsel, lalu berdiri.
“Paman tidak akan berhenti,” katanya pelan. “Ia tahu jika aku gagal menjaga stabilitas hubungan denganmu, posisiku di dewan akan melemah.”
“Jadi dia menyerang dari dua arah,” simpul Arsen.
“Ya.”
Keheningan mengisi ruangan.
“Kau menyesal?” tanya Arsen tiba-tiba.
Alina menatapnya bingung. “Menyesal apa?”
“Menikah denganku. Membawa semua ini ke dalam hidupmu.”
Tatapan mereka bertemu.
“Tidak,” jawab Alina tanpa ragu. “Yang kusesali adalah tidak mempercayaimu lebih cepat.”
Arsen menarik napas panjang, seolah beban kecil terangkat dari dadanya.
Namun masalah tidak berhenti pada berita atau saham.
Sore itu, Alina menerima pesan dari nomor tak dikenal.
Jika kau tidak mundur dari Wijaya, rahasia lama tentang ayahmu akan muncul ke publik.
Jantungnya seketika membeku.
Ia membaca ulang pesan itu berkali-kali.
Rahasia lama tentang ayahnya?
Apa maksudnya?
Pintu kembali terbuka. Kali ini Arsen melihat perubahan wajahnya.
“Ada apa?”
Alina ragu sejenak sebelum menyerahkan ponselnya.
Arsen membaca pesan itu dengan wajah mengeras.
“Ini ancaman langsung.”
“Ayahku sudah cukup menderita,” bisik Alina. “Perusahaannya hampir bangkrut. Ia sakit. Jika ada skandal lama yang diungkit—”
“Kita tidak tahu apakah itu nyata atau hanya gertakan,” potong Arsen tegas.
“Tapi kalau benar?”
Arsen menatapnya dalam-dalam.
“Apapun yang terjadi, kita hadapi bersama.”
Kalimat itu sederhana.
Namun entah mengapa, membuat tenggorokannya terasa perih.
Malamnya, Alina memutuskan mengunjungi ayahnya tanpa memberi tahu siapa pun.
Rumah tua itu terasa lebih kecil dari ingatannya. Ayahnya duduk di teras, memandang taman yang mulai kering.
“Ayah,” panggilnya pelan.
Pria paruh baya itu tersenyum lemah. “Kau jarang pulang akhir-akhir ini.”
“Aku sibuk.”
“Aku tahu.”
Alina duduk di sampingnya.
“Ayah… apakah dulu pernah ada masalah besar di perusahaan yang tidak pernah Ayah ceritakan?”
Wajah pria itu berubah samar.
“Kenapa kau bertanya?”
“Ada yang mengancam akan membuka rahasia lama.”
Keheningan menyelimuti teras.
Akhirnya ayahnya menghela napas panjang.
“Dulu, sebelum perusahaan kita jatuh, ada tuduhan manipulasi laporan keuangan,” katanya pelan. “Tuduhan itu tidak pernah terbukti, tapi reputasi kita hancur.”
Alina membeku.
“Siapa yang memunculkannya?”
Ayahnya menatap jauh ke depan.
“Orang dalam.”
Jantung Alina berdegup lebih cepat.
“Orang dalam keluarga?”
Pria itu tidak langsung menjawab, tapi sorot matanya sudah cukup.
Paman.
Potongan-potongan puzzle mulai tersusun.
“Kenapa Ayah tidak melawan?”
“Aku tidak punya cukup bukti untuk membersihkan nama. Dan aku tidak ingin menyeretmu ke dalam konflik keluarga waktu itu.”
Alina menggenggam tangan ayahnya.
“Konflik itu tidak pernah benar-benar selesai,” katanya pelan.
Saat ia kembali ke rumah, Arsen menunggunya dengan wajah serius.
“Aku sudah melacak nomor pengirim pesan,” katanya. “Terdaftar atas perusahaan cangkang yang terhubung dengan salah satu anak perusahaan Ardhana.”
Alina menutup mata sejenak.
“Jadi benar.”
Arsen mendekat.
“Jika pamannya mencoba menjatuhkan ayahmu lagi untuk memaksamu mundur, itu bukan lagi soal bisnis.”
“Itu pribadi,” sambung Alina.
Untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, amarah murni terlihat di wajahnya.
“Aku sudah cukup sabar,” katanya lirih.
Arsen memegang bahunya.
“Kita tidak bisa bertindak gegabah.”
“Aku tidak akan gegabah,” balasnya. “Tapi aku tidak akan diam.”
Ia berjalan menuju jendela, menatap lampu kota.
“Jika ia ingin membuka rahasia lama, maka aku akan membuka yang lebih besar.”
Arsen mengernyit. “Apa maksudmu?”
“Aku punya akses ke arsip lama Ardhana. Termasuk transaksi-transaksi yang tidak pernah dipublikasikan.”
“Kau ingin mengungkap pamanmu?”
“Jika perlu.”
Arsen terdiam.
Langkah itu berisiko.
Skandal keluarga besar bisa mengguncang pasar.
“Kau siap dengan konsekuensinya?” tanyanya.
Alina berbalik, menatapnya dengan sorot mata yang kini berbeda.
Bukan lagi gadis yang menyembunyikan identitas.
Bukan lagi istri kontrak yang dipandang rendah.
Melainkan seorang pewaris yang siap mempertahankan apa yang menjadi miliknya.
“Aku tidak akan membiarkan siapa pun menghancurkan ayahku lagi,” katanya tegas.
Arsen mendekat, berdiri tepat di hadapannya.
“Kalau begitu kita lakukan dengan cara yang cerdas,” ucapnya. “Bukan dengan emosi.”
Alina mengangguk.
Untuk pertama kalinya, ia merasa tidak sendirian dalam perang yang dulu ia pikul sendiri.
Namun di balik tekad itu, keduanya tahu
Begitu rahasia keluarga dibuka ke publik, tidak ada jalan kembali.
Dan retakan yang selama ini tersembunyi di balik nama besar Ardhana bisa saja berubah menjadi gempa yang mengguncang segalanya.
Termasuk pernikahan yang baru saja mereka pilih untuk pertahankan.
(BERSAMBUNG)