NovelToon NovelToon
Istri Sementara Di Bawah Hujan Luka

Istri Sementara Di Bawah Hujan Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Balas Dendam
Popularitas:8.4k
Nilai: 5
Nama Author: Eireyynezkim

Di malam ketika hujan mengguyur tanpa ampun, Raya diusir dari rumah yang dulu ia sebut surga. Suaminya menolak kehadirannya hanya karena ia tak mampu memenuhi harapan keluarga—seorang anak laki-laki. Dengan hati hancur dan tubuh gemetar, Raya berjalan tanpa tujuan hingga akhirnya tersungkur di trotoar. Di ambang putus asa, sebuah mobil berhenti di depannya. Pria asing bernama Arya menawarkan sesuatu yang terdengar tak masuk akal: sebuah pernikahan pura-pura sebagai solusi bagi masalah mereka masing-masing.
Arya membutuhkan seorang istri untuk meredam tekanan keluarganya, sementara Raya membutuhkan tempat berlindung dari dunia yang telah menolaknya. Tanpa cinta, tanpa janji manis, hanya sebuah kesepakatan dingin yang mengikat dua jiwa terluka. Namun di balik perjanjian tanpa perasaan itu, perlahan mereka mulai menemukan kehangatan yang tak direncanakan. Dari hubungan yang semula sekadar sandiwara, tumbuh benih perasaan yang menguji batas antara kewajiban dan cinta sejati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

26

Di lantai dasar rumah sakit, Arya menyerahkan resep ke apoteker sambil sesekali menoleh memastikan Raya tetap duduk tenang.

Sementara itu, Raya duduk sambil menghela napas lega, tangannya mengelus lembut perutnya yang sudah besar. Senyum kecil terlukis di bibirnya, membayangkan sebentar lagi ia akan memeluk bayi kecilnya. Bulan depan... sesuai kata dokter, "launching"-nya tak lama lagi.

Tanpa dia sadari, dari kejauhan sepasang mata memandanginya tajam. Lestari.

Gadis itu berdiri terpaku melihat sosok Raya keluar dari lift bersama pria tampan, lalu sekarang duduk menunggu dengan raut tenang dan... bahagia. Hatinya mendidih. Iri. Kesal. "Kenapa dia bisa sebahagia itu? Kenapa semua terlihat baik-baik saja buat dia?" batinnya memberontak.

Padahal, dulu ia sempat merasa menyesal pernah memperlakukan Raya dengan buruk. Tapi sekarang... melihat Raya seperti ini, membuat semua penyesalan itu kembali berubah menjadi rasa tak terima.

Senyum miring muncul di bibir Lestari.

Pandangannya menusuk tajam ke arah perut besar Raya. "Itu pasti... laki-laki itu... papa dari anaknya." pikirnya.

Ia melangkah maju, berniat menghampiri Raya sambil sudah menyiapkan kalimat sadis di lidahnya.

Namun tiba-tiba sebuah tangan kuat menahan lengannya.

"Lestari!" suara ibunya, Bu Rina, menahan langkah itu.

Lestari menoleh, terkejut.

"Mama?"

Bu Rina menariknya lebih dekat, lalu bertanya pelan, "Kamu mau kemana? Laras ada di sebelah sana." ujarnya sambil menunjuk ke arah ruang UGD di belakang mereka.

Lestari mendengus kesal. "Aku mau ke situ... mau nyadarin Raya! Liat tuh, Ma! Dia... jalan sama laki-laki! Hamil... malah santai kaya gitu! Aku mau kasih tau dia betapa murahannya dia!"

Bu Rina mengernyit, melihat ke arah yang ditunjuk Lestari. Matanya membulat, mengenali sosok Raya dan pria yang tadi bersama dari kejauhan.

Setelah beberapa detik menatap, senyum dingin muncul di bibir Bu Rina. "Hmmm... benar juga. Laki-laki itu... bukan Daffa, bukan? Lebih tampan...dan kelihatan punya uang."

Matanya kembali menajam, memandangi Raya yang masih duduk santai menunggu.

"Baiklah... kalau begitu, ayo. Kita temui dia."

ucap Bu Rina dengan nada penuh siasat.

Keduanya pun melangkah bersama, mendekati Raya yang sama sekali belum menyadari kehadiran mereka.

Dari jarak beberapa langkah, Bu Rina bersuara dengan nada manis tapi menusuk. "Eh, Raya... kamu kok di sini, Nak? Sama siapa tadi itu?"

Raya menoleh pelan. Wajahnya langsung berubah malas melihat siapa yang mendatanginya.

Senyuman miring Lestari makin melebar.

"Wah, wah... cepat juga ya kamu dapat pengganti Kak Daffa. Hebat... hebat...."

Ucapan itu seperti panah yang langsung menancap ke dada Raya.

Arya yang baru keluar dari apoteker, mendekat sambil membawa kantong plastik berisi obat. Begitu melihat dua wanita itu berdiri di depan istrinya, alis Arya langsung mengernyit. Tatapannya tajam.

"Ada apa ini?" tanyanya dengan nada datar tapi tegas.

Bu Rina dan Lestari serempak menoleh, terpaku beberapa detik melihat sosok Arya dari dekat.

Lestari nyaris tercekat. "Kamu... kamu suaminya Raya?"

Arya menatap mereka dengan dingin. Lalu pelan menaruh tangannya di bahu Raya, menarik kursi duduknya lebih dekat.

"Saya suaminya. Dan kalau ada yang mau bicara, bicaralah baik-baik. Istri saya sedang hamil besar, jangan bikin dia stres." jawabnya tenang namun tajam.

Raya tersenyum anggun pada mereka dia berusaha untuk tetap terlihat tenang, meskipun dalam hati dia begitu bergejolak.

Bu Rina saling pandang dengan Lestari.

Keduanya mulai merasa salah langkah. Tapi lidah Lestari masih enggan menyerah.

Lestari mendekat sambil menyeringai sinis.

"Wah, cepat juga ya kamu, Raya... baru ditinggal Kak Daffa udah dapet pengganti? Hebat... hebat..." ucapnya sambil menatap tajam.

Raya menoleh pelan, menatap Lestari. Senyum tipis mengembang di bibirnya, tenang namun penuh makna.

"Cepat atau lambat, Lestari... semua itu sudah diatur sama Allah," ucapnya lantang. Suaranya tegas, tanpa ragu. "Yang penting, aku nggak mencari pengganti saat masih jadi istri seseorang. Setelah nggak bersama pasangan, aku berhak menentukan jalanku sendiri. Kenapa? Salah?"

Lestari terbelalak, tak menyangka.

Raya melanjutkan, suaranya makin kuat.

"Kenapa aku harus terpuruk buat orang yang nggak berguna kayak Daffa? Sepenting apa sih dia, sampai aku harus meratapi dia berhari-hari? Kalau mau jujur, aku malah bersyukur Daffa buang aku. Karena sekarang... aku dipertemukan sama orang yang tahu caranya memuliakan perempuan. Nggak kayak Daffa yang cuma tahu caranya manfaatin perempuan."

Seketika wajah Lestari memucat.

"Apa? Maksud kamu-"

Raya menatap tajam, nadanya menikam. "Iya, Daffa manfaatin kamu juga kan, Lestari? Demi egonya. Benar begitu?"

Suasana mendadak hening. Bu Rina menatap kaget ke arah Lestari. Arya berdiri di belakang Raya, memasang ekspresi serius.

Lestari mengepalkan tangan, wajahnya merah padam. "Kamu... kamu keterlaluan, Raya!" teriaknya sambil melangkah maju, hendak menyerang.

Namun sebelum sempat mendekat, Arya sudah berdiri tegap di depan Raya, tubuhnya menjadi tameng pelindung. Tatapannya menusuk Lestari tajam.

"Berani sentuh istri saya, urusan sama saya dulu." suara Arya tenang tapi penuh ancaman.

Lestari terhenti. Nafasnya memburu, tangannya gemetar. Bu Rina cepat-cepat menarik lengannya.

"Sudah, Tar... jangan bikin ribut di sini. Ayo!"

bisik Bu Rina, meski wajahnya sendiri masih mendongkol.

Dengan enggan, Lestari mundur. Pandangannya masih menusuk Raya, sementara Bu Rina menggiringnya menjauh.

Arya menoleh pelan ke arah Raya, lalu tersenyum kecil. "Kamu hebat tadi." katanya pelan.

Raya menarik napas panjang, lalu menatap Arya. "Terima kasih udah berdiri buat aku."

Arya mengangguk. "Selalu."

Raya tersenyum, dadanya terasa lapang. Hari ini, dia benar-benar merasa dimenangkan.

Lestari terus berjalan cepat, lengan kirinya ditarik erat oleh Bu Rina. Sesampainya di depan ruang persalinan, ia menghentak tangannya, melepaskan genggaman ibunya dengan kasar.

"Sialan! Sombong banget dia tadi! Berani-beraninya ngomong kayak gitu ke aku!" umpat Lestari, wajahnya masih merah padam.

Bu Rina mendesah panjang, menatap putrinya dengan campuran kesal dan cemas. "Kamu sendiri sih, siapa suruh nyamperin dia? Kalau nggak dideketin, nggak bakal kayak tadi jadinya..."

Lestari mendelik. "Lho, tapi kan Mama juga tadi mau ikut! Mama juga dukung aku buat nyamperin dia, kan?" serangnya, suaranya penuh protes.

Bu Rina sempat terdiam. Menyadari bahwa Lestari adalah satu-satunya "penopang" finansial mereka saat ini, dia buru-buru menghela napas dan meredakan ketegangan. "Iya, iya... maaf. Mama salah. Tapi udahlah, Tar... nggak usah dipikirin si Raya itu." katanya, mencoba membujuk.

"Cepat atau lambat orang juga bakal tahu kok, siapa dia sebenarnya. Murahan." tambah Bu Rina dengan suara meremehkan. "Lelaki tadi? Huh, paling juga nggak bakal lama. Nanti juga bakal ninggalin dia kalau udah tahu aslinya."

Lestari tersenyum miring. "Kalau sampai itu terjadi... aku bakal jadi orang pertama yang ketawa puas lihat penderitaannya." bisiknya, suaranya dingin penuh dendam.

Bu Rina menatap putrinya, lalu mengangguk pelan. "Iya, Tar... kita tunggu aja. Nggak usah capek-capek ngeladenin dia. Nanti juga jatuh sendiri."

Mereka duduk di bangku panjang dekat ruang persalinan. Suasana sekitar masih riuh oleh suster-suster yang berlalu lalang, tapi dalam hati Lestari hanya ada satu pikiran dia tidak akan pernah membiarkan Raya merasa menang.

Tiba-tiba Bu Rina mengeluh, menunduk sambil memegangi punggungnya.

"Aduh, Mama capek banget, Tar... di rumah tuh rasanya kayak pembantu. Laras nyuruh ini-itu, ngomel terus. Mama disuruh ini, disuruh itu. Capek banget..." keluhnya, suaranya dibuat lemah sambil menatap Lestari penuh harap.

Lestari hanya tersenyum miring. Ia menatap ibunya dengan sorot mata tajam, "Dulu waktu aku masih di rumah, Mama juga gitu ke aku. Sekarang ngerasain kan? Jadi ya... nikmatin aja." balasnya dingin.

Bu Rina terdiam sejenak, menelan ludah.

Namun dia tak menyerah. "Tapi kamu tetep anak Mama yang paling cantik, Tar... Sekarang tuh kamu makin kelihatan glowing, terawat banget. Untung kamu ikut sama Pak Yandris... Dia tuh bener-bener menyayangi kamu ya?" ujarnya, mencoba meluluhkan hati Lestari.

Lestari mengangguk santai, senyum puas terulas di bibirnya.

"Iya lah. Hidupku sekarang enak, Ma. Semua aku dapetin. Apa yang aku minta, langsung dikasih. Pak Yandris tuh manjain aku banget. Nih liat..." ucapnya sambil mengangkat tangannya, memamerkan gelang berlian berkilau yang melingkar di pergelangan tangannya.

"Oleh-oleh dari luar negeri, Ma. Baru kemarin dikasih."

Mata Bu Rina langsung berbinar. Ia mendekat, menatap kagum perhiasan di tangan putrinya.

"Aduh, bagus banget, Tar... Mama juga pengen dong, sekali-sekali dikasih perhiasan..." rayunya dengan suara manja.

"Kan Mama juga pengen ngerasain punya yang berkilau gitu... masa iya anak Mama kaya raya, Mamanya tetep gini-gini aja..."

Lestari mendesah pelan, tampak malas mendengar rengekan itu.

Namun Bu Rina tak berhenti membujuk.

"Udah lama Mama ngidam punya cincin cantik... masa sih nggak dikasih?" katanya lagi, wajahnya memelas.

Akhirnya Lestari menghela napas panjang, menatap ibunya lalu tersenyum tipis.

Dengan santai ia melepas cincin berlian yang melingkar di jari manisnya, lalu menyerahkannya ke Bu Rina.

"Nih... Tapi janji ya, jangan dijual. Jaga baik-baik." ucapnya, nada suaranya tenang namun tegas.

Bu Rina langsung bersorak kecil, memeluk Lestari erat.

"Makasih banyak, Tar! Aduh Mama seneng banget... Akhirnya punya juga..." katanya, matanya berbinar saat menatap cincin itu kini melingkar di jari manisnya.

Ia menatap tangannya berkali-kali, seolah tak percaya.

"Mama janji, nggak akan jual. Mama jaga, Mama rawat... Aduh cantiknya... Mama bahagia banget, Tar..." bisiknya pelan, wajahnya berbinar penuh kepuasan.

Sementara itu Lestari hanya menyandarkan tubuhnya ke kursi, tersenyum puas, menatap ibunya dengan perasaan campur aduk antara lega, menang, dan sedikit geli.

Saat Bu Rina sedang tersenyum lebar, matanya berbinar menatap cincin berlian yang kini melingkar di jarinya, tiba-tiba terdengar suara pintu ruang persalinan terbuka. Seorang dokter perempuan melangkah keluar, wajahnya serius.

"Keluarga Bu Laras?" tanya dokter itu sambil menatap ke arah mereka.

Bu Rina dan Lestari refleks berdiri, mendekat.

"Iya, kami keluarganya, Dok..." jawab Bu Rina buru-buru.

Dokter itu menghela napas, suaranya tenang namun tegas.

"Kondisi Bu Laras... janinnya sungsang, posisi kepala bayi belum turun, tekanan darahnya juga naik... Jadi kami memutuskan untuk melakukan operasi caesar. Tapi... kami butuh persetujuan suaminya. Harus ada tanda tangan izin operasi." jelasnya, sambil menyerahkan selembar berkas.

Bu Rina dan Lestari saling pandang, wajah mereka berubah cemas.

"Baik, Dok... nanti kami hubungi suaminya." kata Bu Rina.

Dokter mengangguk, kemudian masuk kembali ke ruang persalinan.

Begitu pintu tertutup, Lestari buru-buru mengeluarkan ponselnya, menekan nomor Daffa.

Nada sambung terdengar... lama... tidak ada jawaban.

"Aduh... Kak Daffa nggak diangkat..." gumam Lestari, mulai kesal.

Bu Rina cemas, melirik ke arah pintu.

"Terus gimana, Tar? Siapa yang tanda tangan? Masa kita nunggu Kak Daffa lama... kalau kenapa-kenapa, gimana?" tanyanya panik.

Lestari terlihat lebih tenang, matanya menatap tajam ke arah ibunya.

"Ya udah... Mama aja yang tanda tangan. Cepet sebelum telat." ucapnya ringan, namun terdengar memaksa.

Bu Rina menggeleng kuat.

"Eh... nggak mau ah! Kalau terjadi apa-apa, Mama nanti disalahin. Mama takut, Tar..."

Lestari mendesah keras, mendekat sambil menatap tajam.

"Mama mau nunggu Kak Daffa? Kalau kelamaan terus ada apa-apa sama Laras sama bayinya, Mama siap tanggung jawab?" sindirnya dingin.

Bu Rina terdiam, menelan ludah, wajahnya mulai bimbang.

"Tapi, Tar... Mama takut..." suaranya mulai lemah.

"Mama takut anak orang mati di tangan Mama? Mau liat Laras kenapa-kenapa gara-gara Mama nggak berani tanda tangan?" ucap Lestari makin menekan.

Bu Rina memejamkan mata, menghela napas berat.

Akhirnya, perlahan dia mengangguk pasrah.

"Ya udah... Mama tanda tangan..." katanya pelan.

Lestari tersenyum tipis, langsung menarik ibunya mendekat ke perawat yang menunggu di depan pintu.

"Ini, Sus... Mama saya yang tanda tangan." ujar Lestari sambil menyerahkan berkas.

Perawat mengangguk, menyerahkan pena.

Dengan tangan gemetar, Bu Rina menandatangani lembar persetujuan operasi.

"Semoga nggak terjadi apa-apa..." gumam Bu Rina pelan setelah selesai.

Lestari menepuk bahu ibunya.

"Udah... tenang aja, Ma. Semua bakal baik-baik aja." katanya, namun di balik suaranya ada nada puas, seolah senang bisa memaksa ibunya mengambil keputusan itu.

Dari jauh, suara alat-alat medis terdengar samar, semakin menambah ketegangan saat itu.

1
Ariany Sudjana
Arya ini bodoh sekali, baru juga kalang kabut kehilangan raya, sekarang sudah buka celah untuk jalang murahan masuk dan menghancurkan rumah tangga kamu dengan raya. kamu ga bisa jujur dengan raya, berarti kamu masih berharap rujuk lagi dengan Herlin, dasar ga tegas kamu Arya
Yeni Yeni: waoowwww.... 🤣🤣🤣kita lihat nanti😄
total 1 replies
Ariany Sudjana
ini ada pelacur murahan, Herlin, waspada terus yah Arya
Yeni Yeni
😄😄😄😄😄😄cerita nya luar biasa, cara penyampaian nya seperti obrolan sehari hari, beda author, beda cara penyampaian nya☺🤭
Iry: hehehe gitu deh😁🤗
total 1 replies
Yeni Yeni
iyalah raya menikah setelah akte cerai telah keluar... kalau tidak, mana mungkin bisa sah secara hukum negara
Yeni Yeni
bener ya author 10 bab Tiap-tiap hari sampai tamat... janjiiii😄
Yeni Yeni: 😍😍😍😍😍😍😍😍😍
total 2 replies
Yeni Yeni
author numpukin bab nih, sekian lama menunggu akhirnya.... 😄
Yeni Yeni
km ngumpulin bab author? saya jd geregetan nunggu nya. sekali muncul langsung 8bab🤭☺☺
Yeni Yeni: ☺☺☺☺☺☺☺☺☺☺☺
total 2 replies
Aviciena
ikutan dulu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!