Axel Bahng adalah dokter jenius yang percaya bahwa semua racun memiliki penawar — hingga satu kesalahan kecil mengubah cinta dalam hidupnya menjadi mimpi buruk yang tak bisa disembuhkan.
Tunangan yang paling ia cintai, Lusy Kim, tanpa sengaja meminum racikan eksperimen ilegal buatannya. Sejak hari itu, tubuh Lusy tak lagi mengenali rasa lapar seperti manusia. Saat kelaparan menyerang, kesadarannya hilang, digantikan naluri brutal yang hanya bisa diredakan oleh darah.
Demi melindungi Lusy dari dunia — dan dunia dari Lusy — Axel menyekapnya dalam ruang rahasia di bawah rumahnya, mempertaruhkan karier, moral, dan kewarasannya sendiri. Ia mencuri darah dari rumah sakit, membohongi keluarga, dan melawan hukum, yakin bahwa cinta dan sains akan menemukan jalan keluar.
Namun seiring waktu, kebohongan runtuh satu per satu. Ketika kebenaran akhirnya terungkap, tak ada lagi yang bisa diselamatkan — bukan reputasi, bukan keluarga, bukan bahkan cinta itu sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phida Lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Doni berdiri mematung di dekat meja yang penuh dengan peralatan ilmiah, matanya menatap punggung Axel yang masih bersujud di kakinya dengan bahu yang terus terguncang hebat oleh getaran tangisan yang kini sudah mulai mereda menjadi hembusan napas yang terengah-engah.
Kemarahan yang tadi mendidih dengan sangat kuat di dada Doni perlahan-lahan luruh dan sirna tanpa jejak, digantikan oleh rasa perih yang sangat dalam dan menyakitkan yang membuat hatinya merasa seperti sedang hancur berkeping-keping.
Ia melihat dengan jelas bagaimana kehancuran total telah menyelimuti sosok pria muda yang selama ini menjadi kebanggaannya. Setiap tulang punggung Axel yang terlihat dari belakangnya seolah menunjukkan betapa beratnya beban yang ia pikul saat ini.
"Bangunlah, Axel." Ia membungkuk perlahan dengan rasa sakit di dada yang belum hilang, kemudian mencengkeram lengan Axel dengan erat namun tetap lembut, memaksanya untuk berdiri kembali dari lantai. "Tangismu tidak akan bisa menghapus apa pun yang telah terjadi. Segala sesuatu yang telah terjadi tidak bisa diubah lagi. Tatap wajah Ayah."
Axel mendongak dengan sangat lambat, wajahnya yang sembap dan penuh dengan bekas air mata itu kini hanya menunjukkan ekspresi wajah yang sangat lelah dan putus asa. Bibirnya yang kering bergetar dengan sangat jelas saat ia mencoba untuk berbicara. "Yah, aku harus segera membawanya ke rumah sakit terdekat. Aku harus menyerahkan diri ke polisi dan memberitahu mereka semua yang telah kulakukan. Aku tidak bisa lagi menyembunyikan apa yang telah terjadi ini—aku tidak punya hak untuk menyembunyikannya!"
"Tidak!" Doni memotong kalimat anaknya dengan sangat tegas. Mata menatap tajam dan penuh dengan tekad ke arah tangga sempit yang menjadi jalan menuju lantai atas.
"Jika kamu membawanya ke rumah sakit, mereka tidak akan bisa membantu dia dengan benar. Mereka akan menjadikannya sebagai subjek penelitian yang tidak berhak mendapatkan rasa hormat dan perawatan yang layak. Jika kamu melapor ke polisi, kamu akan dipenjara karena kecerobohan yang telah menimbulkan bahaya publik, dan yang lebih mengerikan lagi—Lusy akan berakhir di laboratorium pemerintah dan tidak manusiawi itu sebagai 'kasus anomali' yang hanya akan dijadikan objek eksperimen seumur hidupnya. Apakah kamu mau hal seperti itu terjadi padanya?"
Axel terdiam sepenuhnya. Pikiran tentang Lusy yang terkurung di dalam ruangan kaca dan diperlakukan seperti makhluk asing bukan manusia membuat seluruh darahnya membeku dan kulitnya merinding dengan sangat jelas. Gambar itu jauh lebih mengerikan daripada segala sesuatu yang telah ia alami selama ini—bahkan lebih mengerikan daripada melihat Lusy berubah menjadi makhluk yang menyerang ayahnya sendiri. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana penderitaan yang akan dialami oleh wanita yang ia cintai jika hal itu benar-benar terjadi.
"Kita tidak punya pilihan lain selain ini, nak... Tidak boleh ada polisi yang terlibat dalam hal ini. Tidak boleh ada rumah sakit yang mengetahui tentang apa yang terjadi pada Lusy. Dan yang paling penting dari semua itu... Keluarga Kim tidak boleh tahu bahwa putri mereka yang cantik dan cerdas telah berubah menjadi sesuatu yang seperti monster akibat tanganmu yang ceroboh itu. Jika Tuan Kim mengetahui hal ini, yang akan terjadi bukan lagi sekadar kasus medis yang bisa diselesaikan dengan cara ilmiah—ini akan menjadi perang antara dua keluarga yang telah lama menjalin hubungan baik. Dan kamu tahu betul bahwa perang seperti itu tidak akan ada pemenangnya."
"Tapi bagaimana dengan Lusy sendiri, Yah? Dia sedang menderita sangat parah di atas sana! Aku tidak bisa hanya menyembunyikannya dan membiarkannya terus menderita seperti itu!" Ia tidak bisa membayangkan bagaimana Lusy merasa saat ini—terkurung di dalam tubuhnya sendiri yang telah berubah menjadi sesuatu yang tidak bisa ia kendalikan lagi, tidak bisa berbicara atau menunjukkan perasaannya sama sekali.
"Maka pindahkan dia ke sini." Ujar Doni sambil menunjuk dengan jempolnya yang sudah mulai sedikit bengkak ke arah sebuah ruang isolasi kecil yang terletak di sudut paling jauh dari laboratorium itu—ruang yang dinding-dindingnya terbuat dari kaca tebal yang kuat dan diberi lapisan khusus yang biasanya digunakan oleh Axel untuk menguji reaksi kimia yang sangat berbahaya dan tidak terkontrol.
"Gunakan ruang isolasi rahasiamu ini untuk menjaganya tetap hidup dan aman dari dunia luar sampai kamu menemukan penawarnya yang sebenarnya. Ini adalah rahasia Keluarga Bahng, Axel—suatu rahasia yang harus kita bawa bersama-sama sampai ke liang lahat nanti. Tidak seorang pun boleh tahu tentangnya selain kita berdua."
Axel menelan ludah dengan kesusahan. Keputusan yang akan ia buat ini terasa seperti menandatangani kontrak dengan iblis sendiri. Namun di dalam hatinya yang paling dalam, ia tahu bahwa kata-kata ayahnya benar sekali. Ini adalah satu-satunya cara untuk tetap berada di sisi Lusy dan terus berusaha untuk menyembuhkannya—satu-satunya cara untuk memberikan harapan bahwa suatu hari nanti wanita yang ia cintai bisa kembali menjadi dirinya sendiri seperti sedia kala.
"Aku punya obat bius penenang dengan dosis tinggi di dalam lemari pendingin khusus yang berada di belakang rak itu. Kita harus segera memindahkannya ke sini sekarang juga, sebelum fajar menyingsing dan dunia luar mulai bangun. Jika tetangga-tetangga kita mendengar suara-suara aneh lagi seperti yang terjadi, mereka pasti akan memanggil petugas atau bahkan polisi untuk menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi di rumah kita."
Mereka kembali ke atas dengan langkah yang sangat hati-hati dan penuh dengan waspada, setiap langkah yang mereka ambil di atas tangga sempit itu terasa seperti beratnya seluruh dunia. Di koridor yang gelap dan hanya diterangi oleh lampu darurat yang berwarna merah muda pucat, bau amis yang sangat kuat dan aroma kental dari keringat predator yang sudah mulai mengeluarkan bau tidak sedap tercium dengan jelas dari balik pintu kamar mandi yang masih terkunci rapat.
Udara di sekitar pintu itu terasa sangat panas dan berat, seolah ada sesuatu yang sangat kuat dan penuh dengan energi yang terkandung di dalam ruangan kecil itu. Axel dengan cepat bergerak ke arah lemari obat yang terletak di dekat pintu dapur, kemudian mengambil sebuah spuit besar dan sebuah botol kecil berisi cairan bening yang merupakan obat bius penenang berkekuatan tiga kali lipat dari dosis normal yang diberikan kepada manusia dewasa.
"Ayah, tolong bantu aku mendorong pintu sedikit saat aku memberikan suntikan ke dalamnya. Jangan sampai ayah membuka celah pintu terlalu lebar dan jangan biarkan dia keluar sedikit pun dari dalamnya."
Matanya yang sudah kembali fokus itu menatap pintu kamar mandi dengan sangat cermat, setiap inci kulit di wajahnya menunjukkan betapa seriusnya ia dalam menghadapi situasi yang akan datang. Ia tahu bahwa ini adalah langkah yang sangat berbahaya—bahkan bisa membahayakan nyawa mereka berdua jika ada kesalahan kecil saja dalam pelaksanaannya.
Saat pintu kamar mandi akhirnya terbuka sedikit hanya beberapa sentimeter saja, sebuah tangan yang sangat pucat dengan kulit yang sudah mulai menunjukkan tekstur yang tidak normal dan kuku-kuku yang panjang menghitam serta sangat tajam menyambar dengan sangat cepat melalui celah itu, mencakar udara dengan ganas dan membuat suara seperti pisau yang menyayat logam.
Doni dengan segera menahan pintu dengan seluruh berat tubuhnya yang sudah mulai tidak muda lagi, kaki kirinya menekuk untuk memberikan daya tahan yang lebih kuat saat tubuhnya terdorong mundur oleh kekuatan dorongan dari dalam yang luar biasa besar. Ia mengerang dengan suara yang rendah akibat usaha yang luar biasa dan rasa sakit yang kembali muncul di bagian dada yang memar itu.
Tanpa menghabiskan waktu lebih lama lagi, Axel segera menusukkan jarum yang sudah diisi dengan obat bius itu ke dalam otot bahu Lusy yang terlihat melalui celah pintu yang sangat sempit itu, kemudian dengan cepat menekan plunger hingga habis sambil memastikan bahwa semua cairan obat masuk ke dalam tubuhnya.
Raungan yang sangat keras dan menyakitkan keluar dari dalam kamar mandi, suara itu meninggi dengan cepat hingga mencapai titik tertinggi yang membuat telinga mereka berdering dan kepala mereka terasa sakit.
Namun setelah beberapa saat, suara itu perlahan-lahan melemah dan berubah menjadi erangan panjang yang sangat menyayat hati sebelum akhirnya hilang sama sekali. Setelah itu, suara tubuh yang berat jatuh dengan keras terdengar jelas di atas lantai, membuat getaran kecil merambat ke seluruh bagian lantai rumah.
Axel membuka pintu kamar mandi sepenuhnya dengan hati-hati, tangannya yang sudah mulai berkeringat dingin memegang gagang pintu dengan sangat erat. Air matanya kembali mengalir deras ke pipinya saat melihat Lusy terkapar tak berdaya di lantai kamar mandi yang sudah berantakan; tunangannya yang cantik dan selalu menjaga penampilan dengan rapi kini tampak kurus dan kering dalam sekejap mata, dengan urat-urat berwarna biru gelap yang masih terus berdenyut dengan ritme yang cepat di bagian lehernya yang tipis. Kulitnya yang biasanya putih mulus kini menunjukkan bercak-bercak warna kemerahan dan kebiruan yang menunjukkan bahwa mutasi seluler masih terus berlangsung di dalam tubuhnya.
.
.
.
.
.
.
.
ㅡ Bersambung ㅡ