NovelToon NovelToon
Lahir Kembali Dari Dendam

Lahir Kembali Dari Dendam

Status: sedang berlangsung
Genre:Bullying dan Balas Dendam / Balas dendam pengganti / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Tamyst G

Elara mengira pernikahannya adalah akhir dari semua penderitaan.
Namun malam itu, ia justru menemui akhir hidupnya—dikhianati, dijebak, lalu dibunuh oleh suaminya sendiri dan wanita yang ia percayai sebagai sahabat.
Saat membuka mata, Elara kembali hidup.
Ia terlahir kembali ke masa sebelum semua pengkhianatan itu terjadi.
Rambut putihnya menjadi saksi kelahirannya yang kedua.
Mata pink-nya menyimpan dendam yang tak lagi bisa dipadamkan.
Kali ini, Elara bukan wanita polos yang mudah diinjak.
Ia mengingat setiap pengkhianatan, setiap rencana keji, dan setiap kebohongan yang pernah merenggut nyawanya.
Bukan untuk memohon keadilan.
Bukan untuk meminta belas kasihan.
Elara kembali…
untuk membalas semuanya, satu per satu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tamyst G, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Simfoni Pedang di Lembah Ratapan

Angin di Lembah Ratapan tidak pernah berhenti menderu. Suaranya melewati celah-celah tebing granit hitam yang menjulang tinggi, menciptakan nada melengking yang terdengar seperti ribuan jiwa sedang merintih dalam keputusasaan yang abadi. Tempat ini adalah jalur tersempit sekaligus paling mematikan menuju perbatasan Barat—sebuah labirin alami yang dikelilingi oleh dinding batu yang seolah memiliki mata, mengawasi setiap langkah para pengembara yang cukup ceroboh untuk melintas. Elara Lane menghentikan kudanya tepat di mulut lembah. Jemarinya mencengkeram kendali kulit dengan kuat, matanya yang berwarna perak menyipit tajam, mencoba menembus kabut kelabu yang mulai merangkak naik dari dasar jurang seperti jemari hantu yang lapar.

Ia bisa merasakan atmosfer yang tidak beres. Udara di sini terasa terlalu berat, bermuatan energi statis yang membuat bulu kuduknya berdiri dan logam pada zirah ringannya terasa bergetar halus. Di sampingnya, Alaric von Ravenhurst sudah melepaskan kaitan pada pedang besarnya. Wajah pria itu mengeras, rahangnya terkatup rapat dengan mata yang memindai puncak-puncak tebing seolah sedang mencari pemangsa yang bersembunyi. Aria berada di tengah-tengah mereka, napasnya terasa pendek dan sesak. Di dalam dadanya, denyut energi waktu terus-menerus memukul dari dalam jantungnya, menciptakan rasa panas yang menjalar hingga ke ujung jari-jarinya.

"Jangan bergerak lebih jauh," perintah Alaric, suaranya rendah dan bergetar karena naluri tempur yang memuncak. "Mereka sudah di sini. Aku bisa mencium bau besi berkarat dan kematian yang melapuk di balik kabut ini."

Sesaat setelah kata-kata itu terucap, sebuah anak panah hitam yang diselimuti api ungu gelap meluncur dari kegelapan tebing tinggi. Anak panah itu bergerak dengan kecepatan yang tidak wajar, mengarah tepat ke arah jantung Aria. Dengan refleks yang lahir dari ratusan medan perang, Alaric mengayunkan pedangnya dalam satu gerakan melingkar yang sempurna. Dentingan logam bertemu logam memecah kesunyian, membelah anak panah itu di udara hingga hancur menjadi percikan api yang langsung padam sebelum menyentuh tanah yang membeku.

Dari balik kabut dan celah bebatuan, sosok-sosok mengerikan mulai bermunculan. Mereka adalah para Pencari Kehampaan—pasukan mayat hidup yang dibangkitkan dari sisa-sisa ksatria kuno Zandaria. Zirah mereka telah berkarat dan keropos, namun api ungu yang menyala di dalam rongga mata mereka menunjukkan bahwa mereka digerakkan oleh kebencian yang murni. Mereka tidak mengeluarkan teriakan perang; hanya suara gesekan logam tua dan derap langkah yang serempak namun tak bernyawa. Elara segera melompat turun dari kudanya, menempelkan telapak tangannya ke tanah sambil merapal mantra alkimia tingkat tinggi.

"Lingkaran Perisai Mawar Perak!" seru Elara. Seketika, sebuah mandala sihir raksasa berwarna perak muncul di bawah kaki mereka, memancarkan kubah transparan yang berkilauan. Para Pencari Kehampaan menghantamkan senjata mereka ke kubah itu, menciptakan bunyi dentuman keras yang menggetarkan seluruh lembah. Namun, Elara menyadari sesuatu yang mengerikan: makhluk-makhluk ini tidak mencoba menghancurkan perisainya, mereka sedang menyerap energinya. Setiap pukulan membuat cahaya perak itu meredup, beralih menjadi ungu gelap.

Aria menatap ibunya yang mulai pucat karena kehabisan mana, lalu menatap ayahnya yang sedang menebas setiap makhluk yang mencoba merayap masuk dari celah tebing. Rasa tidak berdaya mulai membakar hati Aria. Baginya, melihat orang tuanya menderita demi melindunginya adalah siksaan yang lebih berat daripada maut. "Aku tidak bisa hanya diam di sini dan menonton kalian mati!" teriak Aria.

Tanpa peringatan, Aria melompat keluar dari kubah pelindung. Elara mencoba meraih tangannya, namun Aria bergerak terlalu cepat. Belati obsidian di tangan gadis itu kini bukan lagi sekadar senjata; belati itu seolah menjadi perpanjangan dari jiwanya. Saat kaki Aria menyentuh tanah di luar perisai, sebuah gelombang kejut yang transparan terpancar keluar, membuat tanah di sekitarnya retak dan waktu seolah membeku sesaat. Bagi Aria, dunia tiba-tiba berubah. Gerakan para Pencari Kehampaan yang tadinya cepat kini terlihat sangat lambat, seolah mereka sedang bergerak di dalam air yang kental.

Aria melesat di antara barisan musuh. Ia bergerak seperti bayangan perak yang mematikan, belatinya menebas sambungan zirah dengan presisi yang mengerikan. Setiap kali belatinya menghancurkan inti api ungu di dada musuh, energi itu tidak terbuang, melainkan dihisap masuk ke dalam tubuh Aria. Ia merasa kuat, namun di saat yang sama, ia merasa jiwanya mulai retak. "Aria, kembali!" teriak Alaric yang berusaha mengejarnya sambil menebas dua musuh sekaligus.

Dari kegelapan lembah yang paling dalam, muncul seorang sosok yang berbeda. Ia mengenakan jubah pendeta Zandaria yang panjang dan compang-camping, tangannya memegang tongkat dari tulang naga yang memancarkan aura kegelapan yang sangat pekat. Sosok itu tertawa—sebuah suara yang terdengar seperti gesekan batu nisan. "Lihatlah sang Jantung yang sedang mekar dengan darah musuhnya," ucap Pendeta Kehampaan itu. "Kau memberinya makan kekuatan, Empress, namun kau lupa bahwa kekuatan ini akan menelan jiwanya sendiri."

Pendeta itu menghentakkan tongkatnya, dan tiba-tiba tanah di bawah kaki Aria berubah menjadi pusaran lumpur hitam yang lengket. Aria mencoba melompat, namun kakinya terasa seberat timah. Waktu di sekitarnya mulai dimanipulasi oleh sang pendeta, membuatnya terjebak dalam satu detik yang berulang-ulang. Elara, melihat putrinya terancam, melepaskan seluruh sisa energinya. "Alkimia Terlarang: Penghancuran Materi!" Elara melepaskan ledakan cahaya perak yang menghantam lumpur hitam itu, membebaskan Aria sejenak.

Namun, amarah Aria telah mencapai titik puncaknya. Ia menutup matanya, dan di dalam kegelapan pikirannya, ia melihat sebuah jam pasir raksasa yang sedang retak. Ia meraih jam pasir itu dan menghancurkannya. Di dunia nyata, cahaya perak murni yang membutakan memancar dari seluruh tubuh Aria, mendorong mundur semua makhluk di sekitarnya hingga ratusan meter. Waktu benar-benar berhenti. Seluruh lembah membeku. Elara yang sedang melompat di udara, Alaric yang sedang mengayunkan pedang, bahkan debu yang beterbangan—semuanya diam.

Aria berjalan di tengah keheningan yang absolut itu menuju sang pendeta yang juga membeku. Mata Aria kini sepenuhnya berwarna perak tanpa pupil, memancarkan otoritas dewa yang dingin. Ia mengangkat tangannya dan menyentuh dahi pendeta itu. "Kau bicara tentang kehampaan?" bisik Aria dengan suara yang bergema secara ganda. "Maka kembalilah ke tempat di mana waktu belum pernah diciptakan."

Dalam hitungan milidetik, waktu bagi sang pendeta dipercepat jutaan kali lipat. Aria melihat bagaimana daging pria itu membusuk, tulangnya berubah menjadi debu, dan debunya menguap menjadi ketiadaan, semuanya terjadi sementara sisa dunia masih dalam kondisi diam. Namun, harga yang harus dibayar sangatlah mahal. Pembuluh darah di mata Aria pecah, dan ia merasakan setiap saraf di tubuhnya seolah-olah ditarik paksa. Saat ia melepaskan kekuatannya, waktu kembali berjalan dengan ledakan suara yang memekakkan telinga.

Pendeta itu lenyap tanpa jejak. Para Pencari Kehampaan hancur menjadi debu seketika. Namun Aria jatuh berlutut, darah mengalir deras dari hidung dan telinganya. "Aria!" Elara berlari dan menangkap putrinya sebelum kepalanya menghantam batu. Tubuh Aria terasa sangat ringan, hampir seperti ia tidak lagi memiliki massa fisik yang utuh. Elara memeriksa denyut nadi putrinya dan menemukan bahwa jantung Aria berdetak dengan ritme yang sangat lambat dan tidak teratur.

"Dia menggunakan Sihir Penghapusan," bisik Elara dengan air mata yang membasahi wajahnya. "Dia menghapus keberadaan pendeta itu dari garis waktu, Alaric. Dia melakukan sesuatu yang seharusnya hanya bisa dilakukan oleh pencipta dunia ini."

Alaric mengangkat Aria ke dalam pelukannya, wajahnya yang keras kini menunjukkan kerapuhan seorang ayah yang ketakutan. "Kita harus membawanya ke Valtaria sekarang juga. Magnus memiliki teknologi yang bisa menstabilkan energinya. Jika tidak, dia akan menghilang dari dunia ini."

Selama sisa perjalanan, tidak ada lagi kata-kata yang terucap. Mereka memacu kuda melewati hutan-hutan gelap dan sungai-sungai yang membeku dengan kecepatan penuh. Elara terus menggenggam tangan Aria yang dingin, menyalurkan setiap tetes energi kehidupan yang ia miliki untuk menjaga agar jiwa putrinya tidak melayang pergi. Ia merasa sangat bersalah; ia ingin memberikan Aria kehidupan yang damai, namun ia justru memberikan kekuatan yang menjadi racun.

Saat mereka tiba di gerbang Valtaria, kota uap dan alkimia itu menyambut mereka dengan kemegahan fungsionalnya. Pipa-pipa raksasa mengeluarkan asap putih, dan kincir angin perak berputar di atas tebing pantai. Raja Magnus, seorang pria tua dengan mata mekanik yang tajam, langsung menyadari gawatnya situasi tersebut. Aria segera dimasukkan ke dalam "Tabung Stabilisasi Eter", sebuah kapsul kaca raksasa berisi cairan biru yang mampu menyeimbangkan tekanan sihir.

"Kondisinya sangat ganjil, Elara," ucap Magnus sambil menatap layar monitor yang menampilkan grafik energi Aria yang naik turun secara liar. "Dia tidak hanya lelah. Sebagian dari sel tubuhnya telah terlempar ke masa depan, sementara jiwanya tertinggal di masa lalu. Dia sedang ditarik oleh dua garis waktu yang berbeda. Jika kita tidak mendapatkan Inti Kristal Waktu dari reruntuhan Benteng Gading, dia akan hancur dalam waktu tiga hari."

Elara menatap putrinya yang tampak tertidur tenang di dalam cairan biru itu. Ia tahu apa yang harus dilakukan. Benteng Gading adalah tempat di mana Julian dulu merencanakan kehancuran keluarga Lane. Tempat itu kini telah dikuasai oleh sisa-sisa pengikut Zandaria yang lebih kuat. "Aku akan pergi ke sana," tegas Elara.

"Sendirian?" tanya Alaric dengan nada protes. "Itu bunuh diri, Elara!"

"Hanya aku yang tahu seluk-beluk benteng itu, Alaric. Aku pernah tinggal di sana sebagai tawanan di kehidupan pertamaku. Aku tahu di mana Julian menyembunyikan kristal itu. Kau harus tetap di sini. Jika musuh menyerang Valtaria saat aku pergi, hanya kau yang bisa melindungi Aria dan Magnus." Elara menatap suaminya dengan tatapan yang penuh cinta namun tak tergoyahkan. Alaric akhirnya mengangguk, ia mencium kening istrinya dengan berat hati.

Malam itu, Elara berangkat sendirian menuju pesisir Barat. Di bawah cahaya bulan yang mulai kemerahan, ia melihat reruntuhan Benteng Gading di kejauhan. Namun, benteng itu tidak tampak seperti reruntuhan. Di bawah pengaruh energi Kehampaan, benteng itu seolah-olah "tumbuh" kembali, namun dengan arsitektur yang mengerikan—terbuat dari material yang menyerupai tulang dan daging yang membeku.

Elara menghunus pedang pendeknya, merasakan adrenalin yang sudah lama tidak ia rasakan. Ia melangkah masuk ke dalam gerbang utama yang tampak seperti mulut monster raksasa. Di dalam, lorong-lorong benteng itu berdenyut pelan, mengeluarkan suara detak jantung yang bergema di setiap sudut. Elara tahu, di pusat benteng ini, ia tidak hanya akan menemukan kristal itu, tapi ia juga harus menghadapi bayangan Julian yang kini telah menjadi bagian dari Kehampaan tersebut.

"Aku datang untuk mengambil apa yang kau curi dari masa depan putriku, Julian," bisik Elara pada kegelapan. Perjalanan ini bukan lagi tentang dendam pribadi, melainkan tentang seorang ibu yang akan merobek takdir demi menyelamatkan anak yang ia cintai. Dan di dalam labirin tulang Benteng Gading, Elara Lane siap untuk mati sekali lagi jika itu adalah harga yang harus dibayar agar Aria bisa melihat fajar esok hari.

1
Kustri
bagus nih crita'a
beda 💪
awesome moment
cinta yg menembus ruang dan wkt
awesome moment
n tu settingnya abad lama y? agak bingung jg diawal. dgn 2024. mgk mksdnya 1024😄😄😄
awesome moment
spt.nya elara dan alaric dpt hidup ke dua
awesome moment
good
Tamyst G
Semangattt
Kustri
pemuda cantik?
qu membayangkan opa"😂
Kustri
alaric jg terlahir kembali
Kustri
tulisan'a rapi, enak dibaca
lanjuuut
Tamyst G: Terimakasih atas supportnya kak
total 1 replies
Kustri
awal yg menarik
ini 2024 tp msh ada kereta kuda yaa🤔
Tamyst G: ini konsep alternate timeline, jadi 2024 versi dunia yang berbeda🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!