Ikuti saya di:
FB Lina Zascia Amandia
IG deyulia2022
Setelah hatinya lega dan move on dari mantan kekasih yang bahagia dinikahi abang kandungnya sendiri. Letnan Satu Erlaga Patikelana kembali menyimpan rasa pada seorang gadis berhijab sederhana yang ia temui di sebuah pujasera.
Ramah dan cantik, itu kesan pertama yang Erlaga rasakan saat pertama kali bertemu dengan gadis itu. Namun, ketika hatinya mulai menyimpan rasa, tiba-tiba sang mama membawa kabar kalau Erlaga akan dikenalkan pada seorang gadis anak dari leting sang papa. Sayangnya, Erlaga menolak. Dia hanya ingin mendapatkan jodoh hasil pencariannya.
Apakah Erlaga pada akhirnya menerima perjodohan itu, atau malah justru berjodoh dengan gadis yang ia temui di pujasera?
Yuk, kepoin kisahnya di "Jodoh Sang Letnan"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deyulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 Penantian Malam Pertama
Tujuh hari telah berlalu, namun bagi Erlaga, waktu seolah berjalan sangat lambat. Setiap hari ia harus menahan diri saat melihat istrinya berlalu-lalang di rumah dengan daster rumahan yang sederhana namun tetap memikat.
Namun malam ini, udara di kediaman baru mereka terasa berbeda. Ada getaran antisipasi yang membuat bulu kuduk Erlaga meremang sejak sore tadi.
Erlaga berdiri bersandar di bingkai pintu mushola rumah mereka yang bernuansa kayu hangat. Di sana, Syafina baru saja menyelesaikan salam terakhir dalam salat Isyanya. Syafina melipat mukenanya dengan rapi, lalu ia menyadari keberadaan suaminya yang menatapnya dengan senyum penuh arti.
"Sudah selesai 'tamu'nya, Sayang?" tanya Erlaga dengan suara bariton yang lembut namun sarat akan godaan.
Syafina menunduk malu, wajahnya merona merah. Ia mengangguk pelan. "Sudah, Kak. Tadi sore Fina sudah mandi wajib."
Mendengar itu, rasa bahagia menyeruak di dada Erlaga. Ia merasa seolah baru saja memenangkan pertempuran besar. Ia melangkah mendekat, mengecup kening Syafina lama. "Alhamdulillah. Kalau begitu, ikut Kakak ke atas. Ada sesuatu yang ingin Kakak tunjukkan."
Erlaga menuntun Syafina menuju beranda di lantai atas. Begitu pintu kaca digeser, Syafina terbelalak. Ia menutup mulut dengan kedua tangannya, tak percaya dengan apa yang ia lihat. Beranda yang biasanya sepi itu kini telah disulap menjadi tempat makan malam yang sangat romantis.
Lampu-lampu putih yang hangat dari bohlam kecil sambung-menyambung melilit pagar besi, lilin-lilin aromaterapi menyala di atas meja yang telah ditata apik dengan taplak putih. Di tengah meja, terdapat sebuket mawar merah segar dan hidangan favorit Syafina.
Langit malam itu cerah, memperlihatkan kerlip bintang yang seolah ikut merayakan kebahagiaan mereka.
"Kak... kapan Kakak menyiapkan semua ini?" tanya Syafina haru.
"Sejak siang tadi. Kakak dibantu oleh beberapa ajudan, tapi ide dan detailnya Kakak sendiri yang pilih. Kakak ingin menebus malam pertama kita yang sempat 'tertunda' oleh bendera merah," bisik Erlaga sambil menarik kursi untuk istrinya.
Suasana makan malam itu berlangsung hangat. Mereka bercerita, tertawa, dan saling menyuapi. Namun, setiap kali mata mereka bertemu, ada percik api yang tidak bisa dipadamkan. Erlaga seolah tak ingin melepaskan pandangannya dari wajah cantik Syafina.
Setelah makan malam selesai, Erlaga berdiri dan mengulurkan tangannya. "Syafina Putri Andallas, maukah kamu berdansa dengan suamimu malam ini?"
Syafina mengerutkan dahi, tertawa kecil. "Kak Laga, Fina nggak bisa dansa." Fina belum pernah mencoba untuk dansa. Harus latihan dulu."
"Tidak perlu latihan. Cukup ikuti langkah Kakak, letakkan tanganmu di sini," ujar Erlaga sambil menuntun tangan Syafina ke pundaknya, sementara tangan kekar Erlaga melingkar erat di pinggang ramping Syafina.
Erlaga memutar lagu instrumen lembut dari ponselnya. Mereka bergerak perlahan di bawah teramg cahaya bulan.
Syafina beberapa kali menginjak kaki Erlaga karena canggung, namun Erlaga justru tertawa dan menariknya semakin merapat. Hidung mereka bersentuhan, napas mereka beradu.
"Maaf ya Kak, Fina memang payah kalau berdansa," cicit Syafina.
"Tidak apa-apa, Sayang. Bagi Kakak, ini dansa terindah. Kakak tidak butuh balerina, Kakak cuma butuh kamu," sahut Erlaga sebelum mengecup bibir Syafina dengan lumatan lembut yang membuat lutut Syafina lemas.
Sesi dansa usai. Kini sesi menuju kamar, sesi yang paling menegangkan jantung Syafina. Syafina ingin menunda-nunda. Tapi, ia bingung mau bikin alasan apa lagi untuk menundanya.
Setelah masuk ke dalam kamar, Erlaga menuju lemari dan mengeluarkan sebuah kotak cantik berpita perak. Ia menyerahkannya pada Syafina. "Pakailah. Kakak ingin melihatmu mengenakan ini."
Syafina membuka kotak itu dan seketika wajahnya memanas. Di dalamnya terdapat lingerie sutra tipis berwarna hijau sage dengan detail renda yang sangat minim. "Kak... ini... ini terlalu terbuka. Fina malu kalau pakai ini, minim sekali."
Erlaga tersenyum nakal, ia mengusap pipi Syafina. "Sayang, di rumah ini tidak ada siapa-siapa selain kita berdua. Yang akan melihat keindahanmu hanya suamimu ini, dan tentu saja Allah yang meridhoi hubungan kita. Pakailah untuk menyenangkan suamimu, ya?"
Dengan langkah ragu, Syafina masuk ke kamar mandi. Tak lama kemudian, ia keluar dengan balutan kain hijau sage yang sangat kontras dengan kulit putihnya. Erlaga yang sudah menunggu di atas ranjang merasa tenggorokannya mendadak kering. Istrinya tampak luar biasa cantik, seperti bidadari yang baru turun dari langit.
Erlaga menarik Syafina ke dalam rengkuhannya. Suasana kamar menjadi sangat panas. Erlaga mulai menghujani tubuh Syafina dengan kecupan-kecupan yang menuntut.
Namun, saat Erlaga sudah benar-benar siap untuk "menyerang" dan memberikan nafkah batin pertamanya, Syafina tiba-tiba memegang tangan suaminya.
"Tunggu, Kak... tunggu dulu," ucap Syafina terengah-engah.
Erlaga terkesiap, napasnya memburu. Ia menatap Syafina dengan tatapan kecewa sekaligus bingung. "Ada apa lagi, Sayang? Jangan bilang kamu datang bulan lagi?" tanya Erlaga, ia sungguh takut jika harus gagal lagi malam ini.
Syafina menggeleng cepat. "Bukan, Kak. Tapi... kita belum berdoa. Kak Laga belum pimpin doa sebelum hubungan suami istri. Fina ingin kita dijauhkan dari setan dan jin jahat, supaya apa yang kita lakukan berkah."
Erlaga terdiam, lalu ia mengembuskan napas lega. Ia merasa tertampar sekaligus bangga memiliki istri sesalehah Syafina. Ia memejamkan mata, lalu membacakan doa dengan khusyuk di ubun-ubun Syafina.
Setelah doa terucap, segalanya mengalir seperti air bah yang tak terbendung. Erlaga melakukan tugasnya dengan penuh kelembutan, meski gairahnya meledak-ledak. Namun, saat penyatuan itu terjadi, Syafina tiba-tiba meraung kesakitan.
"Aakhhh! Kak... sakit! Hiks... sakit sekali," rintih Syafina sambil mencengkeram bahu Erlaga hingga kukunya membekas di sana. Air mata Syafina jatuh karena rasa perih yang luar biasa di pengalaman pertamanya.
"Sabar, Sayang... pelan-pelan ya. Maafkan Kakak," bisik Erlaga dengan sabar, ia menahan diri sejenak untuk membiarkan Syafina beradaptasi, sebelum akhirnya mereka mencapai puncak kebahagiaan bersama di bawah saksi malam yang sunyi.
Keesokan paginya, cahaya matahari menyelinap masuk melalui celah gorden. Erlaga terbangun lebih dulu. Ia menatap Syafina yang masih tertidur lelap di pelukannya, tampak sangat lelah namun damai. Erlaga mengecup bahu istrinya dengan rasa syukur yang tidak terhingga.
Saat ia bangkit untuk mengambil handuk, matanya tertuju pada sprei putih yang berantakan. Di sana, terdapat noda merah, bercak darah yang menjadi saksi bisu bahwa semalam ia telah merenggut madu pertama Syafina. Kehormatan istrinya telah ia jaga dengan sah, dan kini mereka telah benar-benar menyatu lahir dan batin.
Erlaga tersenyum puas. Penantiannya, dan kesabarannya selama seminggu ini terbayar lunas. Ia kini bukan lagi sekadar seorang komandan di medan perang, tapi ia adalah pemenang di hati Syafina.
"Terima kasih, Istriku," bisiknya pelan, sebelum kembali menarik selimut untuk mendekap Syafina dalam kehangatan pagi yang baru.
Hehhe... Malam pertamanya sudah ya. Jangan terlalu hot, soalnya yang puasa takut batal.... 🙏🙏