Arvella terlahir kembali sebagai bayi dengan kesadaran dari kehidupan sebelumnya. Dengan ingatan masa lalunya, ia mampu melihat bahaya dan mencegah masalah sebelum terjadi. Sebagai anak tunggal dalam keluarga kerajaan, Arvella belajar menghadapi dunia yang penuh intrik, rahasia istana, dan tanggung jawab besar meski tubuhnya masih kecil.
Seiring tumbuhnya Arvella, ia menemukan lorong rahasia, ramalan kuno, dan misteri yang mengancam kerajaan. Ia belajar memecahkan masalah sosial, menghindari bencana, dan menghadapi intrik politik dengan kecerdasannya yang luar biasa.
Di tengah semua itu, sosok laki-laki misteriusKsatria Anjing kerajaan yang kelak menjadi bagian penting hidupnya muncul secara samar, membangkitkan rasa penasaran dan ikatan takdir yang halus. Bersama ingatan masa lalu dan insting alaminya, Arvella perlahan menemukan kekuatannya, belajar tentang kepercayaan, cinta, dan akhirnya menentukan jalannya sendiri dalam menghadapi takdir yang telah menunggunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tamyst G, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 : Kolam Ikan Misterius
Setelah malam yang tenang di kamar, Arvella terbangun dengan rasa penasaran yang sama seperti sebelumnya.
Matanya yang merah menyala menatap jendela kamar, melihat kabut tipis pagi menyelimuti halaman istana.
Aku sudah bisa merasakan setiap detik yang akan datang; bayi ini tahu bahwa dunia ini tidak selalu aman, bahkan untuk seorang bayi yang tampak lemah.
Liora sudah menunggu di samping buaian, wajahnya tersenyum hangat.
“Kau siap, Arvella? Hari ini kita akan ke kolam ikan selatan. Aku ingin kau melihat sesuatu yang sangat indah,” katanya lembut.
Aku menggeliat, tangan mungilku menyentuh kain halus yang menutupi buaian, seakan mengiyakan.
Bayi ini tahu bahwa kolam itu menyimpan rahasia, dan aku ingin memahami semuanya sebelum terjadi masalah.
Lorong istana masih sepi, hanya terdengar langkah ringan pelayan yang lalu-lalang.
Aku menatap setiap detail: patung-patung kecil di dinding, karpet ungu yang lembut di lantai, bahkan cahaya matahari yang menembus jendela.
Setiap benda, setiap gerakan, bisa menjadi potensi bahaya jika tidak diperhatikan.
Bayi ini sudah belajar dari pengalaman masa lalu: mencegah lebih baik daripada menunggu.
Saat kami tiba di halaman selatan, kolam ikan itu tampak memantulkan cahaya pagi yang hangat.
Ikan koi berenang dengan anggun, warna merah dan emas mereka berkilau di permukaan air.
Namun Arvella merasakan sesuatu yang tidak biasa.
Di tepi kolam, seekor kucing liar terlihat mengintai dari semak.
Bayi ini mengingat sebuah kejadian sebelumnya: hewan liar pernah menakuti ikan, menyebabkan beberapa terluka.
Aku menggeliat, tangan kecilku bergerak, membuat permukaan air beriak lembut agar ikan tetap tenang dan kucing itu ragu untuk mendekat.
Liora menatapku heran.
“Arvella… kau tahu akan ada masalah sebelum terjadi?” katanya pelan.
Aku tersenyum kecil, bayi ini tahu, setiap gerakan sekecil apa pun bisa menyelamatkan banyak nyawa.
Tiba-tiba terdengar suara riuh dari arah taman.
Seorang pelayan muda hampir menumpahkan nampan berisi makanan ke lantai marmer.
Aku menggeliat, tangan kecilku menahan nampan itu sebentar sehingga tidak jatuh.
Pelayan itu menatapku terkejut, sementara Liora menghela napas lega.
“Kau… bayi ini luar biasa,” katanya.
Aku mulai mengamati kolam lebih dekat.
Ada sebuah batu besar di tengah yang terlihat rapuh.
Jika seseorang tergelincir di sana, mungkin bisa terjatuh dan melukai diri.
Bayi ini menyalurkan energi halusnya, membuat permukaan batu lebih stabil, seakan memberikan peringatan kepada siapa pun yang mendekat.
Seorang anak pelayan yang bermain di tepi kolam hampir menyentuh batu itu.
Aku menggeliat, menahan tangannya dengan lembut, lalu mengarahkan anak itu ke tempat yang aman.
Liora tersenyum kagum.
“Arvella… kau bahkan bisa melindungi mereka yang lebih besar darimu,” katanya.
Aku tersenyum kecil, bayi ini tahu, tanggung jawab bukan soal ukuran atau usia, tapi kesadaran dan ketelitian.
Siang itu, angin bertiup lembut, menggerakkan daun pepohonan di sekitar kolam.
Aku melihat bayangan samar melintas di semak-semak.
Rambut hitam, mata biru yang samar menatapku dari kejauhan.
Bayi ini merasakan energi yang familiar namun belum sepenuhnya dimengerti.
Aku tahu, sosok itu suatu hari akan menjadi penting, tapi hari ini aku masih harus fokus pada tugas yang ada.
Sementara itu, seekor anak kucing yang penasaran melompat terlalu dekat ke kolam.
Aku menggeliat lagi, tangan kecilku bergerak cepat, menahan anak kucing sebelum jatuh ke air.
Pelayan yang melihatnya hampir jatuh tersedak kaget, sementara Liora tertawa pelan.
“Kau… sungguh ajaib, Arvella. Bahkan anak-anak dan hewan pun kau jaga,” katanya.
Di sore hari, Liora membawa aku ke bangku taman di dekat kolam.
Ia mulai bercerita tentang sejarah kolam dan ikan koi yang ada di sana.
“Konon, kolam ini sudah ada sejak kakek buyut Raja. Ikan-ikannya dianggap membawa keberuntungan dan kebijaksanaan,” katanya sambil menatapku.
Aku mendengarkan dengan seksama.
Bayi ini tahu bahwa setiap informasi kecil bisa sangat berarti di masa depan.
Beberapa pelayan lain datang membawa peralatan untuk membersihkan kolam.
Seorang pelayan hampir menumpahkan ember berisi air ke kolam.
Aku menggeliat, tangan kecilku menahan ember itu sebentar sehingga air tidak tumpah.
Liora menatapku kagum.
“Arvella… kau benar-benar memahami bahaya sebelum terjadi,” katanya sambil tersenyum.
Ketika matahari mulai condong ke barat, aku dibawa kembali ke buaian.
Namun mataku tetap menatap kolam dari jendela kamar, memeriksa setiap gerakan dan bayangan.
Aku merasakan ketenangan, tapi bayi ini juga sadar bahwa dunia ini penuh potensi bahaya dan peluang.
Malam itu, sebelum tertidur, aku tersenyum kecil.
Tangan mungilku menyentuh kain halus selimut.
Bayi ini memahami satu hal: memiliki penglihatan, intuisi, dan teman setia seperti Liora membuat hidup lebih aman dan terarah.
Setiap langkah hari ini, setiap tindakan yang aku lakukan, membangun fondasi untuk masa depan yang panjang dan penuh misteri.
Dan kolam ikan selatan bukan hanya tempat indah untuk melihat ikan berenang, tapi juga menjadi pengingat bagi bayi ini bahwa kewaspadaan dan kecerdikan adalah senjata terkuat, bahkan untuk seorang bayi yang tampak lemah.