Perjodohan itu bukan untuknya. Hanya saja, dia terpaksa pergi ke desa untuk menikah dengan pria desa yang sama sekali tidak ia kenali sebelumnya. Semua gara-gara adiknya kabur karena tidak ingin dinikahkan dengan pria desa tersebut. Dan yang paling menyakitkan adalah, sang adik kabur bersama pacar yang seharusnya akan menjadi tunangan Airin dalam waktu dekat.
Akan kah kepergian Rin bisa menciptakan kebahagiaan setelah badai besar itu datang padanya? Lalu, bagaimana dengan sambutan Mbayung atas kehadiran Rin yang datang untuk menikah dengannya? Bagaimana pula kehidupan adik dan mantan pacar yang telah mengkhianati Rin selanjutnya? Ayok! Ikuti kisah mereka di KETIKA KOTA BERTEMU DESA.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KKBD Part *8
Tanpa persiapan panjang lebar. Tanpa pembicaraan yang panjang, malam itu, di balai desa, Rin dan Bayu menikah. Pernikahan sederhana, yang hanya disaksikan oleh orang desa saja. Tidak ada kilau kamera, tidak pula ada lampu-lampu indah yang menerangi jalannya ijab kabul tersebut.
Bahkan, tidak ada gaun indah yang dibalutkan ke tubuh Rin. Yang ada hanya tatapan asing, bisik-bisik asing, yang terasa sangat menganggu hati dan perasaan Rin.
Setelah ijab kabul selesai, makanan manis seadanya dihidangkan. Setelah itu, acara itu berakhir. Pak penghulu pulang, lalu yang lainnya juga ikut meninggalkan tempat di mana mereka berdiri sebelumnya.
Bersamaan dengan yang lainnya meninggalkan balai desa, Rin, Bayu, dan kedua orang tua Rin juga ikut melangkah pergi. Itu benar-benar seperti mimpi bagi Rin. Hidupnya berubah dalam waktu singkat, sangat singkat.
"Paman dan bibi bisa tidur di kamar ini. Saya sudah menyiapkan selimut di sana," ucap Bayu yang sedang berdiri di depan pintu kamar pertama rumah tersebut.
Rumah sederhana itu hanya punya dua kamar. Satu kamar depan, dan satu lagi kamar belakang. Sungguh hal yang tidak pernah Rin bayangkan sebelumnya.
"Lalu, a-- aku?" Rin bertanya dengan nada agak gugup.
"Kamu .... "
"Tentu saja kalian tidur di kamar yang lain," ucap mamanya cepat. "Kamar di rumah ini, dua kan, Bayu?"
"Iy-- iya." Bayu melirik Rin dengan pandangan bersalah.
"Ah, ya sudah. Kami ingin istirahat dulu. Kalian juga istirahat."
Setelah berucap, kedua orang tua Rin langsung masuk ke kamar depan. Sekarang, suasana hening. Rin dan Bayu masih terdiam di tempat mereka sebelumnya.
Suasana hening itu tercipta selama beberapa saat. Hingga akhirnya, Bayu angkat bicara.
"Ah, sekarang, sepertinya, kamu juga harus istirahat. Masuklah."
Rin masih enggan. Tapi, dia melakukan apa yang Bayu katakan. Dia mengikuti Bayu masuk ke dalam kamar dengan langkah yang sangat pelan.
Kamar asing yang baru pertama kali ia masuki membuat perhatiannya teralihkan sesaat. Namun, itu hanya sesaat saja. Detik berikutnya, rasa tidak nyaman kembali menyusup. Rasa takut, cemas, gelisah, dan, entah perasaan aneh apa yang ia rasakan saat ini, dia sendiri tidak cukup yakin untuk memikirkannya.
"B-- Bayu."
Langkah kaki pria tersebut langsung terhenti tepat di samping ranjang. Dia menoleh.
"Iya."
"Aku ... bisa kita bicara sekarang?"
"Silahkan."
"Kau tahu siapa aku?" Untuk pertama kalinya setelah pertemuan tadi siang, Rin mempertanyakan hal yang sebenarnya tidak perlu ia tanyakan. Karena seharusnya, Bayu juga sudah tahu dia siapa.
Namun, Rin ingin memastikan hal itu dengan sangat jelas. Karena dia tidak ingin menjadi bayang-bayang orang lain. Walaupun sesungguhnya, dia sudah melakukan hal itu sekarang. Jadi pengganti dari adik yang kabur bersama dengan pria yang ia cintai. Padahal, seharusnya, yang bahagia adalah dirinya.
Pria itu menatap Rin dengan tatapan lekat karena pertanyaan yang baru saja Rin layangkan. Sesaat kemudian, Bayu memberikan jawaban atas pertanyaan yang Rin tanyakan.
"Tentu saja aku tau. Kamu, Rin. Airin Calista. Putri sulung paman dan bibi."
Rin terdiam dengan mata yang menatap Bayu lekat. Lalu, bibirnya berucap perlahan. "Kau tahu aku siapa?"
"Iya. Aku tahu. Kenapa? Apakah ada masalah."
"Ada. Ah, aku ingin bertanya lagi."
"Tanyakanlah!"
"Apakah, apakah kamu tahu perjodohan pertama bukan aku?"
"Hm. Aku tahu."
"Ma-- maksudnya?"
Pria itu tidak langsung menjawab. Dia berjalan pelan ke arah jendela kayu yang sedang terbuka sedikit, lalu menutupnya dengan pelan.
"Kakek pernah bilang kalau dia telah menuliskan perjanjian untuk menikahkan aku saat anak kedua rekannya lahir. Lalu nenek, sebelum meninggal memperlihatkan fotonya padaku. Jadi ... ya begitulah singkatnya."
"Lalu, adikku kabur, dan aku yang harus kamu nikahi. Apakah kamu keberatan akan hal itu?"
Seketika, Bayu langsung menoleh. "Keberatan? Tidak. Sama sekali tidak."
"Tapi yang akan dinikahkan dengan mu adalah adikku."
"Bagiku, siapa pun yang aku nikahi, itu sama saja. Lagipula, kakek ku juga tidak menyatakan dengan sangat jelas kalau aku harus menikah dengan putri kedua paman dan bibi. Kakek hanya mengatakan telah membuat kesepakatan saat cucu rekannya lahir. Siapa yang harus menikah, tidak ditentukan dengan jelas."
Rin terdiam. Wajahnya terlihat masih tidak merasa lega. Bayu cukup peka akan keadaan tersebut. Dia langsung berucap lagi. "Kamu, keberatan?"
Rin mengangkat wajahnya. "Tidak juga."
"Lalu?"
"Hah. Aku hanya merasa, takut untuk dianggap pengganti. Aku tidak suka hidup dalam bayang orang lain sebenarnya. Aku hanya-- yah ... begitulah."
"Kamu bukan pengganti."
"Ha?"
"Hm. Kamu bukan pengganti. Karena, sejak awal, semua tidak ditentukan dengan jelas, bukan? Lagian, aku juga tidak dekat dengan salah satu dari kalian. Jadi, bagiku, siapa yang akan menikah dengan ku, jatuhnya akan sama saja. Aku harus tetap melakukan pendekatan dengan perlahan."
Rin kehabisan kata-kata sekarang. Dia pun hanya bisa diam tanpa beranjak sedikitpun dari tempat dia berdiri sebelumnya.
Bayu yang sebelumnya berdiri di samping jendela, kini berjalan pelan ke sisi ranjang.
"Aku tahu kamu keberatan dengan pernikahan ini. Kamu tidak perlu menyangkal apa yang aku katakan. Aku bisa merasakan hal itu dengan sangat jelas."
"Ah, kamu tidak perlu berpura-pura baik-baik saja. Karena aku sadar, kondisi ini sangat jauh berbeda dari yang kamu jalani selama ini. Untuk itu, aku juga tidak akan memaksa kamu. Pernikahan ini bukan karena aku yang minta. Ini adalah perjanjian dua keluarga yang telah tiada. Jadi, mau tidak mau, kita harus menjalaninya."
Lalu, Bayu berucap lagi. "Jangan cemas. Aku tidak akan menuntut apapun dari kamu. Jika kamu merasa sudah sangat tidak sanggup untuk tetap bertahan di sini, maka pergilah. Aku tidak akan menahannya. Semua pilihan, ada di tangan kamu."
"Ah, baiklah. Aku minta maaf karena terlalu banyak bicara. Sebaiknya, sekarang kamu beristirahat. Kamu bisa tidur di atas. Sedangkan aku, akan tidur di bawah."
Rin tetap tidak bicara. Sedangkan Bayu, pria itu mengeluarkan tikar yang ada di sudut ruangan. Dia membuka, lalu menata tikar itu dengan rapi di samping lemari kayu yang ada di kamar tersebut.
"Kamu bisa istirahat, aku gak akan bicara lagi," katanya sebelum membaringkan tubuh di atas tikar yang baru saja dia bentang.
Kemudian, seperti yang telah Bayu ucapkan sebelumnya, dia tidak lagi bicara. Dia berbaring dengan tenang dengan posisi tubuh membelakangi Rin. Suasana kamar yang redup itupun langsung terasa sangat hening.
Rin memperhatikan punggung Bayu sesaat. Tidak ada gerakan sedikitpun. Tapi, Rin yakin kalau Bayu masih belum tidur. Hanya saja, pria itu tidak ingin lagi bergerak.
Perlahan, Rin beranjak menuju ranjang. Ranjang kayu dengan kasur sederhana. Tentu saja jauh dari kata empuk. Rin duduk perlahan di atasnya.