Mutiara mengira kalau dikhianati oleh kekasihnya adalah hal yang terburuk di dalam hidupnya, musibah yang akan membuat di hidupnya terpuruk. Namun, ternyata hal itu merupakan berkah di dalam hidupnya.
"Kenapa kamu tega, Fajar? Kenapa aku hanya dijadikan lelucon saja di dalam hubungan kita ini?"
Bagaimana kehidupan Mutiara selanjutnya?
Kuy baca, jangan lupa kasih komen yang baik jika suka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cucu@suliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DMNB 18
Tadi malam Fajar tidak bisa tidur dengan pulas, hal itu menyebabkan ada tanda kehitaman di bawah matanya. Wajahnya terlihat begitu lelah dan sedikit pucat.
Saat pria itu masuk ke ruang makan untuk sarapan, di sana sudah ada Arkan yang sedang meminum segelas susu setelah menyelesaikan sarapannya.
"Pagi, Ayah," sapa Fajar sambil duduk di salah satu bangku yang ada di sana.
"Pagi juga, Nak. Kenapa wajah kamu begitu lesu? Kenapa ada lingkar hitam di bawah matamu?"
Walaupun dia sudah tahu jawabannya, tetapi sengaja dia bertanya. Fajar tersenyum canggung sambil menggaruk pelipisnya.
"Anu, Yah. Tadi malam nonton film sampai hampir pagi," jawab Fajar asal.
"Oh, terus... kenapa kamu masih pake baju tidur? Gak kerja?"
"Aku berangkat siangan, mau ke luar kota."
"Hati-hati kalau gitu, Ayah berangkat dulu."
"Ya," jawab Fajar.
Arkan ingin pergi untuk bekerja, tetapi sebelum itu dia menghampiri Lastri. Wanita itu sedang menyusun buah-buahan yang baru saja dia cuci ke dalam lemari pending.
"Ada apa, Tuan?" tanya Lastri dengan sopan.
"Nanti tolong bawakan obat yang aku pesan untuk Tiara, sekalian bawakan dia sarapan."
"Baik, Tuan. Memangnya nyonya Tiara sakit apa?"
"Tidak sakit, dia hanya kecapean. Jangan lupa antarkan sarapan dan juga obatnya, sebentar lagi juga obatnya akan datang."
"Siap, Tuan." Lastri membungkukkan badannya.
Arkan segera pergi dari sana, selepas kepergian Arkan, Fajar mengedarkan pandangannya. Di ruang makan ternyata memang tidak ada Mutiara dan juga tidak ada nenek Mia.
Fajar memanggil Lastri, lalu dia bertanya kepada wanita itu.
"Nenek Mia ke mana bi Lastri?"
"Lagi di belakang rumah, dia lagi menanam bunga bersama dengan salah satu pelayan yang menemani."
"Memangnya dia sudah sarapan?"
"Katanya nanti saja sarapannya."
"Lalu, Tiara---- ehm! Maksudnya ibu tiri ke mana?"
"Kata tuan dia kecapean, jadinya tidak bisa turun. Sarapan juga minta diantarakan, sekalian diantarkan obat yang sudah dipesan oleh tuan."
"Obat? Obat apa?"
Lastri yang paham tersenyum-senyum, sedangkan Fajar terlihat kebingungan karena memang dia belum berpengalaman.
"Kenapa malah senyum-senyum? Aku bertanya loh Bi?"
"Namanya juga pengantin baru, keseringan lembur ya kecapean. Nanti juga Tuan muda akan mengalaminya."
Fajar sampai terbatuk batuk karena tersedak ludahnya sendiri, bukan hanya tenggorokannya yang terasa panas, tetapi tiba-tiba saja hatinya terasa panas.
Dia teringat kembali bagaimana cara Arkan tadi malam memperlakukan Mutiara saat di dapur, dia tiba-tiba saja merasa tak tenang.
"Minum dulu, Tuan muda. Setelah itu sarapan."
Bi Lastri cepat-cepat mengambilkan minum untuk Fajar, pria itu segera meminum air itu hingga tandas. Di saat keduanya sedang berada di ruang makan, salah satu pelayan datang dan memberikan obat yang dipesan oleh Arkan.
"Biar aku saja Bi, yang mengantarkannya."
"Tapi Tuan muda belum sarapan, tuan Arkan juga meminta saya untuk mengantarkannya."
"Nggak apa-apa, biar saya saja. Biar sekalian saya pendekatan terhadap ibu sambung saya," ujar Fajar.
"Oh, iya. Sebentar, kalau begitu saya siapkan dulu sarapannya."
Bi Lastri mengambil nampan, lalu dia menyiapkan sarapan untuk Mutiara. Setelah selesai, Fajar langsung membawa sarapan itu ke lantai 2. Tiba di lantai 2, dia langsung mengetuk pintu kamar utama.
"Masuk," ujar Mutiara yang menyangka kalau yang mengetuk pintu adalah pelayan. Karena Arkan sudah berpesan kalau pelayan akan datang untuk mengantarkan obat dan juga sarapan untuk dirinya.
Fajar masuk ke dalam kamar utama, kamar itu nampak berantakan. Ada baju tidur yang berserakan di atas lantai, bahkan dia bisa melihat bra milik Mutiara ada di atas sofa.
Hal itu membuat hati Fajar bergejolak. Namun, ada satu pemandangan langka yang membuat Fajar diam terpaku. Dia melihat Mutiara yang saat ini sedang berdiri di depan jendela.
Wanita itu hanya menggunakan baju tidur tipis, rambutnya dikuncir asal, tetapi wanita itu benar-benar terlihat cantik sekali.
'Kenapa aku tidak sadar kalau Mutiara secantik ini? Kenapa aku baru sadar kalau tubuhnya juga begitu indah?' tanya Fajar dalam hati.
"Simpan saja obat dan juga sarapannya di atas meja, Bi."
Mutiara belum sadar kalau yang datang bukanlah pelayan, melainkan Fajar. Dia membuka jendela kamar, lalu menghirup udara segar.
Wangi bunga langsung menyeruak, karena kamar Arkan memang menghadap ke belakang dan langsung bisa melihat taman yang ada di belakang rumah.
Fajar melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam kamar, dia menyimpan nampan tersebut di atas meja. Lalu, pria itu menghampiri Mutiara dan berdiri di belakangnya.
"Tiara, aku baru sadar kalau kamu begitu cantik." Fajar berkata sambil mengusap leher jenjang wanita itu.
Mutiara tentu saja kaget, dia langsung berbalik dan mendorong dada pria itu. Fajar terhuyung dan jatuh terduduk di atas sofa.
"Ngapain kamu di sini?"
Mutiara cepat-cepat mengambil mantel dan memakainya, dia merasa tak pantas Fajar melihat dirinya kalau hanya memakai baju tidur.
"Kata ayah kamu kecapean, makanya aku datang membawa obat dan sarapan untuk kamu."
"Terima kasih, kamu boleh pergi."
"Tiara."
Fajar berusaha untuk mendekat ke arah Mutiara, dia ingin menggenggam tangan wanita itu, tetapi cepat-cepat Mutiara memundurkan langkahnya walaupun dengan tertatih.
"Lebih baik sekarang kamu pergi. Jangan ganggu aku."
Mutiara mengusap pinggangnya yang terasa ingin patah, dia merutuki Arkan di dalam hatinya, karena tadi malam pria itu begitu liar dalam menggauli dirinya.
Wanita itu bahkan meringis, Fajar semakin merasa kesal melihat hal itu, karena dia sadar betul kalau Mutiara seperti itu karena ulah ayahnya.
"Jangan liatin aku kaya gitu, cepat pergi!" usir Mutiara.
"Tapi, Tiara. Aku mau minta maaf, aku sadar kalau aku itu salah. Aku sadar kalau ternyata yang aku cinta itu adalah kamu, bukan Rena. Maafin aku ya, kamu cerai aja sama ayah. Kita balikan ya?"
Mutiara langsung tertawa mendengar apa yang dikatakan oleh Fajar, semudah itu pria itu mengatakan hal tersebut. Awalnya memang dia berpikir untuk menikah secara kontrak dengan Arkan.
Namun, kini dia merasa kalau dirinya tidak boleh mempermainkan pernikahan. Dia ingin selamanya menikah dengan Arkan, apa pun yang terjadi.
"Mohon maaf, putra sambungku. Sekarang aku adalah Ibu tirimu, jadi mohon bersikap dengan sopan. Panggil aku, ibu. Jangan berharap kalau aku bisa kembali lagi kepada kamu. Kamu yang membuang aku dan sekarang aku sudah bahagia dengan ayah kamu, jadi tolong hargai keputusanku."
"Tiara, aku mohon. Berikan aku kesempatan lagi," mohon Fajar.
"No! Cepat pergi sana, atau aku akan teriak!" ancam Mutiara.
"Iya, iya. Aku akan pergi, tapi aku pasti akan kembali untuk membujuk kamu."
Mutiara hanya memutarkan bola matanya dengan malas.