NovelToon NovelToon
Putri Palsu Sang Antagonis

Putri Palsu Sang Antagonis

Status: tamat
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Putri asli/palsu / Time Travel / Fantasi Wanita / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:3M
Nilai: 5
Nama Author: Yulianti Azis

Zoe Aldenia, seorang siswi berprestasi dan populer dengan sikap dingin dan acuh tak acuh, tiba-tiba terjebak ke dalam sebuah novel romantis yang sedang populer. Dalam novel ini, Zoe menemukan dirinya menjadi peran antagonis dengan nama yang sama, yaitu Zoe Aldenia, seorang putri palsu yang tidak tahu diri dan sering mencelakai protagonis wanita yang lemah lembut, sang putri asli.

Dalam cerita asli, Zoe adalah seorang gadis yang dibesarkan dalam kemewahan oleh keluarga kaya, tetapi ternyata bukan anak kandung mereka. Zoe asli sering melakukan tindakan jahat dan kejam terhadap putri asli, membuat hidupnya menjadi menderita.

Karena tak ingin berakhir tragis, Zoe memilih mengubah alur ceritanya dan mencari orang tua kandungnya.

Yuk simak kisahnya!
Yang gak suka silahkan skip! Dosa ditanggung masing-masing, yang kasih rate buruk 👊👊

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kontrakan Baru

Langit sore tampak berwarna jingga lembut ketika mobil hitam milik Om Zero berhenti di depan sebuah rumah kontrakan kecil dua lantai di pinggiran kota.

Letaknya berada di gang semi-ramai, tidak terlalu jauh dari sekolah, tapi cukup jauh dari hiruk-pikuk pusat kota.

Zoe turun lebih dulu, tas kecilnya digendong di bahu. Ia menatap bangunan itu, sederhana, berdinding krem dengan jendela kaca lebar di depan. Ada pekarangan mungil yang dipenuhi tanaman lidah mertua, dan tangga besi menuju lantai dua.

"Ini kontrakannya?" tanya Om Zero sambil memeriksa ponselnya.

Zoe mengangguk pelan.

"Iya. Pemiliknya tadi sudah kasih izin buat lihat-lihat. Kuncinya dititipkan ke tetangga sebelah."

Mereka bertiga pun masuk. Zoe membuka pintu utama dengan kunci cadangan dari ibu kontrakan.

Ruangan dalamnya bersih, sederhana.

Lantai keramik putih mengilap, dapur mungil di sudut ruangan, jendela besar menghadap ke halaman belakang yang penuh cahaya. Kamar tidur di lantai atas cukup luas, dengan loteng kecil yang bisa dijadikan ruang baca.

Zoe berjalan pelan menyusuri setiap sudut, menyentuh tembok, membuka lemari tua, bahkan mengecek ventilasi. Senyumnya muncul samar tapi tulus.

"Kontrakan ini cocok." ucapnya pelan.

Tante Nayla yang sedari tadi berdiri di ambang pintu masuk, memandang Zoe dengan ekspresi khawatir.

"Zoe sayang. Apa kau yakin ingin tinggal di sini?"

Zoe menoleh. Tatapannya tenang, yakin. "Aku yakin, Tante."

"Tempat ini cukup. Nggak terlalu besar, tapi nyaman. Cukup buat aku belajar dan mulai dari nol," lanjut Zoe dengan tatapan yakin.

Nayla tampak masih bimbang. Matanya menelisik plafon, dapur, dan ruang depan yang kosong.

"Tapi tempat ini jauh dari nyaman menurutku. Tidak ada AC, tidak ada sofa empuk, bahkan kulkasnya model lama. Sayang kenapa nggak tinggal sama Tante saja dulu, hm?"

Zoe tersenyum tipis.

"Justru karena di sini aku bisa belajar hidup. Mulai sendiri, tanpa bergantung pada siapa pun."

Nayla ingin menjawab lagi, tapi tiba-tiba Om Zero, yang sedari tadi diam, meletakkan tangannya lembut di pundak sang istri. Memberi kode halus, sebuah isyarat untuk membiarkan Zoe mengambil keputusannya sendiri.

Nayla menatap suaminya sebentar, lalu menunduk kecil dan menghela napas.

"Baiklah," ucapnya akhirnya. "Tapi kalau ada apa-apa, sekecil apa pun itu janji akan kabari Tante, ya?"

Zoe mengangguk. "Aku janji."

Om Zero tersenyum kecil dan ikut menambahkan. "Kami akan bantu bayar uang sewa bulan pertama. Anggap saja hadiah. Setelah itu, kau bisa lanjut sendiri."

Zoe sempat ingin menolak, tapi Nayla langsung menyela, "Anggap ini bentuk rasa sayang, bukan bantuan."

Zoe akhirnya menerima, dengan ucapan pelan dan tulus, "Terima kasih, Om. Terima kasih, Tante."

Mereka bertiga lalu duduk sebentar di lantai ruang tengah yang kosong. Tak ada sofa. Hanya lantai dingin dan sinar matahari sore yang masuk lewat jendela.

***

Lampu utama menyala redup, menyoroti lantai keramik yang masih setengah basah oleh air pel.

Zoe mengenakan kaos longgar dan celana pendek kain, rambutnya diikat asal, tangan sibuk menyeka debu dari jendela dengan kain lap. Rumah itu memang bersih secara umum, tapi tetap terasa seperti rumah lama yang sudah lama tak ditinggali.

Keringat menetes dari pelipisnya.

Meski lelah, Zoe terlihat tenang. Fokus.

Hingga bunyi pintu pagar kecil di luar terdengar. Zoe langsung waspada, meraih sapu dan berjalan ke arah pintu.

Tok!

Tok!

Tok!

Ketukan terdengar dari pintu kayu depan.

Zoe membuka sedikit dengan curiga. Matanya langsung menyipit begitu melihat sosok berdiri di ambang pintu sambil membawa kantong plastik besar dan satu dus kardus.

"Ryder?"

Cowok itu tersenyum santai. "Yo."

Zoe langsung membuka pintu lebih lebar dan melotot. "Apa yang lo lakuin di sini?"

Ryder mengangkat kantong plastik di tangan kirinya dan ember di tangan kanan.

"Bawa logistik. Pakeanku nggak muat di kardus satunya."

"Ryder, jawab serius."

Cowok itu menatap Zoe sambil nyengir, lalu masuk begitu saja seolah-olah itu rumahnya.

"Gue cuma mau bantu tunangan gue beres-beres rumah barunya."

Zoe menghela napas dalam. "Gue udah bilang, lo bukan tunangan gue. Itu cuma omongan gila dari keluarga lo, ngerti?"

Ryder meletakkan barang-barangnya di lantai, lalu mulai melepas jaketnya.

"Terserah lo ngomong apa. Yang jelas statusnya masih sama, gue calon suami lo. Keluarga lo mungkin buang lo, tapi keluarga gue enggak.

Zoe mendengus tajam. "Gue gak butuh bantuan lo."

Ryder membalikkan badan setelah meletakkan jaketnya di kursi kayu tua. Kini ia hanya mengenakan kaos hitam pas badan, dan untuk ukuran anak SMA, tubuhnya sangat atletis. Otot lengan dan dada yang terlihat jelas membuat Zoe terdiam sejenak—hanya sejenak ya. Gak boleh lama-lama 😁

"Ya udah, anggap aja gue bantu secara sukarela. Gratis. Gak usah bayar," ujar Ryder. "Dan FYI, gue bawa makan juga. Lo pasti belum makan."

Zoe melirik kantong plastik yang kini terbuka, ada dua bungkus nasi padang dan botol air mineral.

"Ryder, gue serius. Gue bisa urus semuanya sendiri."

Ryder mendekat sedikit, matanya menatap dalam tapi tidak menekan.

"Gue tahu lo bisa. Tapi bukannya lo juga capek? Sesekali gak apa-apa lho, nerima bantuan."

Zoe menatap cowok itu. Dalam hatinya, ada bagian yang ingin menolak mentah-mentah. Tapi bagian lainnya lelah.

Akhirnya, dia menghela napas dan membalikkan badan. "Terserah lo, deh. Tapi abis ini, lo pulang."

Ryder tersenyum, kakinya langsung bergerak menuju sapu cadangan dan mulai membantu membersihkan bagian dapur.

"Aye, kapten."

Zoe dan Ryder kini sibuk membersihkan sisa-sisa debu di sudut ruangan. Ryder dengan sapu di tangan, Zoe mengelap kaca jendela yang terbuka sebagian agar angin malam bisa masuk.

Aroma nasi padang yang diletakkan di meja mulai memenuhi ruangan, tapi mereka masih asyik menyelesaikan tugas masing-masing.

Zoe lalu berjalan ke pintu depan dan membukanya lebar-lebar.

"Biar gak ada tetangga yang curiga atau salah paham. Rumah baru, cowok tiba-tiba masuk ribet kalau sampe jadi gosip," gumamnya.

Ryder hanya tersenyum kecil dari arah dapur.

Beberapa menit berlalu dalam hening, hanya terdengar suara kain lap dan sapu bergesek dengan lantai. Sampai tiba-tiba, Zoe mengernyit, berhenti sejenak, dan menatap Ryder yang sedang menyapu.

"Gue baru sadar."

Ryder menoleh, menaikkan satu alis. "Hah? Sadar apaan?"

Zoe menatapnya tajam. "Dari mana lo tahu alamat kontrakan gue?"

Ryder berhenti menyapu sejenak, lalu meringis. "Akhirnya nanya juga. Gue udah tungguin dari tadi, kapan lo sadar."

Zoe mendengus. Wajahnya mendadak memerah, antara malu dan jengkel karena kecolongan.

"Yaudah! Jawab aja! Atau ... jangan-jangan lo nguntit gue ya? Ngikutin dari belakang kayak stalker? Iya kan?!"

Ryder tertawa pelan, lalu bersandar santai di gagang sapu, menatap Zoe sambil melipat lengan. "Nguntit? Gak perlu. Gue tahu semuanya ... Zoe."

Zoe terdiam. Kata terakhir itu meluncur dari bibir Ryder dengan suara yang dalam dan berbeda dari nada santainya sebelumnya.

Mata Zoe menyipit, lalu perlahan langkahnya mundur sedikit. Ada getaran aneh merambat di tengkuknya. Bukan karena udara malam, tapi karena cara Ryder memandangnya dalam, seolah tahu sesuatu yang tak seharusnya ia tahu.

"Apa maksud lo?" tanya Zoe pelan, nadanya lebih waspada.

Ryder menatapnya beberapa detik, lalu hanya tersenyum samar, senyum yang tak sepenuhnya bisa dibaca. "Gue tahu apa yang mereka lakuin ke lo. Gue tahu lo bukan Zoe yang dulu apalagi sejak Lo tolong gue."

Jantung Zoe berdetak lebih cepat.

Suasana di ruangan itu berubah seketika. Angin dari luar menerobos lewat jendela, membuat tirai tipis berkibar pelan.

"Gue gak ngerti maksud lo," ucap Zoe, tapi suaranya bergetar.

Ryder mendekat satu langkah. Tak mengancam, tapi cukup untuk membuat Zoe reflek menegang. "Tenang. Gue gak bakal nyakitin lo. Gue cuma bilang."

Ia berhenti sebentar, lalu menatap lurus ke mata Zoe. "Gue tahu lebih banyak dari yang lo kira."

Zoe menatapnya lekat-lekat, berusaha membaca niat di balik mata tajam cowok itu. Tapi yang ia lihat hanya misteri. Gelap. Dalam. Penuh rahasia.

Dan dalam hati kecilnya, Zoe bergidik.

"Pantas aja di cerita asli, Ryder bisa dengan mudah membunuh Zoe Aldenia. Cowok ini, pasti punya sesuatu. Sesuatu yang kuat. Eh, inikan bukan dunia novel melainkan dunia asli juga."

1
miow 🐈🐈🐈
ini valen nanti ama paman william atau ama keenan nih
hahahaha kan seru tuh jdi keluargaan ama zoe
Arya Al-Qomari@AJK
menurutku karina bukan hanya sekedar anak panti asuhan yang diadopsi oleh Stella dan William, lebih tepatnya dugaanku bahwa Karina adalah anak kandung Stella dengan pria lain alias selingkuhannya
Arya Al-Qomari@AJK
walah walah ternyata Karina keturunan sundal si stella. berarti saat ketemu Zoe pertama kali sikap Stella itu bohongan dong. padahal namanya bagus yaitu Stella (pengharum ruangan) yg artinya bagus baik tapi ternyata kelakuannya kayak demit
Arya Al-Qomari@AJK
Karina angkatkah? atau William yg anak angkat makanya Karina tdk termasuk ke dlm itungan keluarga inti
Arya Al-Qomari@AJK
joy + Tina beserta keturunannya otaknya bodoh bin tolol.
Arya Al-Qomari@AJK
tebakanku, Alicia adalah anak dari musuh (perempuan yg ada di bab sebelumnya walaupun TDK disebutkan namanya). dugaanku perempuan itu suka /ada dendam dengan papa zero / ada dendam dg keluarga Dallen
Arya Al-Qomari@AJK
jadi curiga, kalau bu tina bukan kembarannya Bu Nayla (yg katanya mereka kembar tapi tidak identik). bisa saja Bu Tina hanya sepupunya Bu Nayla (anak dari saudara nenek Layla yg udah meninggal kmdn Bu Tina diasuh oleh nenek Layla).
Lesmana
wkwkwkwk mafia gak waspada si ryder ini mah , masa bs kena gebukan sapu emaknya😄😄
Lesmana
jgn blng candy dah 🤨🤨
Lesmana
wow.. berarti stella bukan wanita misterius yg ada di eps 36 yah.. krn wanita misterius itu anak kandungnya sdh meninggal
Lesmana
pribahasa senjata makan tuan udah biasa.. author nya anti mainstream ini , tp jd antik dibulak tuan makan senjata 😁😁
Setiawan
kalo stella wanita misterius itu , berarti anak kandung stella udah mati deh , entah gara2 kel nayla atau kel tina..
Jamilah Hidirmanto
asikkk eyyy
el kaha
bagus, ceritanya gak menye2
el kaha
senjata makan tuan Thor. 🤣
Siti Nurjanah
Luar biasa
RamYeon
Agak aneh ceritanya, maksain bgt tokoh perempuan biar terlihat keren bisa segalanya, terkesan lebay dan ga nyambung.
Hashirama Sanju
alur cerita yang menarik. untuk menemani Anda yang banyak waktu.
Hashirama Sanju
God ending
.. 😄😃😃🤭 like this novel 😍
Qillah julyan
teman gak ada otak ,ngutuk bgtu amat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!