Maxime Brixtone adalah seorang mafia yang sepanjang hidupnya terjebak dalam perselisihan kelam dengan ibu tirinya. Di tengah hidupnya yang penuh duri dan misteri tentang bagaimana konflik itu akan berakhir, Max berada di ambang kematian akibat rencana pembunuhan yang dirancang oleh sang ibu tiri.
Tak disangka, hidupnya di selamatkan oleh seorang wanita yang telah bersuami. Max bersembunyi di kediaman wanita tersebut, hingga mereka tanpa sengaja menyaksikan sang suami melakukan perselingkuhan.
Dari titik itu, batas antara rasa terima kasih, kemarahan, dan obsesi kepada wanita penyelamat hidupnya mulai kabur.
Max pun memiliki sebuah ide gila untuk menjadikan wanita yang telah menyelamatkan nyawanya menjadi seorang janda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Newbee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 19
Udara sore menggantung lembap ketika Max dan Zayna berdiri di depan rumah sakit. Lampu-lampu jalan mulai menyala satu per satu, memantulkan bayangan panjang di aspal yang masih basah sisa hujan siang tadi. Max bersandar pada tongkatnya, wajahnya datar, seolah dunia di sekelilingnya hanyalah latar yang tak penting. Zayna berdiri di sampingnya, memeluk tas kecil berisi obat-obatan dan surat kontrol.
Max bersikeras ingin keluar dari rumah sakit lebih cepat. Setelah perdebatan panjang antara Max, Zayna dan dokter. Akhirnya Max yang menang.
“Taksi biasanya lama di jam segini,” ucap Zayna pelan, lebih seperti gumaman untuk dirinya sendiri.
Max hanya mengangguk singkat.
Beberapa detik berlalu. Lalu, tanpa sengaja, pandangan Zayna menyeberang ke seberang jalan.
Dan tubuhnya langsung menegang.
Di sana, di bawah cahaya lampu butik yang terang. Drake berdiri dengan senyum lebar. Tangannya melingkar mesra di pinggang seorang wanita bergaun mahal. Tawa mereka pecah ringan, terlalu bahagia, terlalu bebas. Beberapa paper bag berlogo brand ternama dijinjing wanita itu, sementara Drake membukakan pintu mobil mewah berwarna merah mengilap, sikapnya penuh perhatian, seolah pria setia yang sempurna.
Zayna merasa dadanya mengempis.
Tangannya gemetar tanpa sadar. Ada rasa dingin menjalar dari ujung jari hingga ke tulang punggungnya. Bukan marah,lebih seperti hampa yang tiba-tiba menganga, mengingatkannya betapa mudah ia tergantikan.
Max menyadarinya.
Ia mengikuti arah tatapan Zayna, lalu melihat apa yang membuat napas gadis itu berubah. Mata Max menyipit tipis. Ia tahu, dan pengenalan yang dingin pada wajah familiar itu.
Senyuman tipis yang sinis tertarik tak tertahankan di wajah Max yang berdiri di samping Zayna. Dengan tinggi tubuh Max yang jauh di atas Zayna, tentu saja Zayna tak melihat wajah kemenangan Max.
Ada kepuasan hati yang sulit di utarakan oleh Max. Namun, tidak ada keterkejutan untuk Max, justru rasa syukur Zayna bisa melihat suaminya bermesraan dengan gadis belia itu.
Zayna menelan ludah, memaksa suaranya tetap stabil.
“Itu… Drake.” Zayna menegang. Dadanya terasa sesak.
Max, sengaja, tanpa rasa bersalah.
”Lucu ya? Betapa bahagianya dia untuk orang yang memiliki banyak hutang dan meninggalkan istrinya di kepung para rentenir.”
Max menoleh ke arah Zayna, matanya tajam, menekan. Tanpa rasa bersalah Max bertanya pada Zayna.
”Apa dia pernah melakukan itu untukmu?”
Zayna terdiam.
Max mendekat sedikit, cukup untuk membuat kehadirannya terasa mengancam.
”Atau mungkin.” Ujarnya rendah.
”Kau memang tak pernah sepenting itu baginya.”
Kalimat itu jatuh seperti api ke bensin. Max puas. Ia tahu, kemarahan dan luka yang bercampur adalah kondisi terbaik untuk membuat seseorang kehilangan kendali.
Max mengangguk kecil, seolah memahami semuanya.
“Ini lah yang aku khawatirkan kau akan melihat hal seperti ini,” katanya lembut.
”Pria itu sepertinya memang tak pandai menyembunyikan kebiasaan lama.”
Max menghela napas, pura-pura menahan emosi. “Aku hanya takut kau akan menyalahkan dirimu sendiri. Padahal jelas ini bukan salahmu.”
Zayna mengepalkan jari. Kedua matanya mulai berair. Kaki Zayna mundur satu langkah.
Max kemudian menahan tubuh Zayna. Max tidak mau Zayna melarikan diri dan kabur.
Max semakin mendekat, suaranya makin rendah dan penuh empati palsu.
”Kau harus melihatnya, lihat baik-baik kelakuan suami yang kau inginkan kembali padamu, yang kau harapkan dia melindungimu dari para rentenir. Jangan lari dan bersembunyi.”
Max berhenti sejenak, memberi waktu agar kata-kata itu meresap.
“Maaf,” tambah Max cepat, seolah menyesal.
“Aku tak bermaksud menyakitimu. Aku hanya tak ingin kau menutup mata lagi.”
Kalimat terakhir itu bukan penghiburan,melainkan korek api. Dan Max tahu persis, api itu kini menyala di dalam diri Zayna.
Tawa palsu dan kemewahan yang menusuk mata Zayna.
Zayna ingin memalingkan wajah, tapi terlambat, pemandangan itu sudah terlanjur tertanam, membekas seperti luka lama yang disobek ulang.
Max mengepalkan rahangnya.
Bukan karena Drake. Bukan karena perselingkuhan murahan itu. Melainkan karena cara Zayna berdiri di sampingnya, diam, tegak, tapi jelas sedang menahan sesuatu yang seharusnya tak perlu ia tanggung sendirian.
Di luar perhitungan Max dan tak di duga oleh Max. Zayna melangkahkan kakinya. Max pikir Zayna akan melarikan diri dan bersembunyi. Namun ternyata tidak. Satu kejutan lagi yang membuat Max semakin bangga pada Zayna.
Zayna menyeberang jalan tanpa menoleh lagi. Suara klakson dan teriakan orang lain tak ia dengar, yang ada hanya darah yang berdesir di telinganya.
Drake membeku saat melihat Zayna sudah berdiri tepat di depan mereka. Senyum di wajahnya runtuh seketika.
“Z-Zayna?”
PLAK!
Suara tamparan itu memecah keramaian. Tas belanjaan jatuh berhamburan, orang-orang di sekitar terdiam.
“Jadi ini yang kau sebut sibuk?” Zayna berteriak, matanya merah, napasnya memburu. “Ini alasanmu menghilang, mematikan ponsel, dan membiarkanku menunggu seperti orang bodoh!”
Wanita di samping Drake mundur setengah langkah, wajahnya pucat.
Drake mencoba meraih tangan Zayna, tapi ditepis keras.
“Jangan sentuh aku!” bentaknya.
”Kau pikir aku tak akan tahu? Atau kau mengira aku cukup bodoh untuk percaya pada kebohonganmu!”
Zayna tertawa getir, suaranya pecah. “Kau berbagi tawa dan pelukan pada dia, sementara aku harus memohon perhatianmu?”
“Kau membagi ranjangku pada wanita ini! Sementara aku menangis di lantai!”
Drake membuka mulut, tapi tak satu pun kata keluar dengan utuh.
“Jawab aku!” Zayna mendorong dada Drake. “Atau kau memang pengecut sejak awal?”
Kerumunan mulai berbisik. Ponsel terangkat, merekam.
Di kejauhan, Max melangkah mendekat, wajahnya tampak tegang, khawatir, peduli, seolah ingin melindungi. Namun di balik tatapan itu, ada kepuasan yang berdenyut pelan.
Zayna tak peduli lagi. Amarahnya sudah terlanjur meluap. Hari itu, ia tak hanya melabrak Drake, ia membakar sisa hubungan yang masih tersisa.
Tangan mungil Zayna maju, dan menarik kemeja Drake hingga kancing-kancingnya terlepas. Tak puas dengan itu. Zayna menjambak rambut suaminya itu dan menendang serta memukuli nya sekuat tenaga.
Tangan kecil itu sangat berusaha untuk ikut memuaskan rasa amarah Zayna. Meski tubuh Drake cukup keras, namun Zayna tetap memukul Drake sekuat tenaga.
“Cukup, Zayna!!” Teriakan Drake menggelegar. Tajam, dan suaranya meninggi agar didengar orang-orang sekitar. “Kau benar-benar mempermalukanku!”
Zayna tertawa pendek, getir. “Aku yang mempermalukanmu?”
Drake mendengus.
”Lihat dirimu.” Ia menatap Zayna dari ujung kepala hingga kaki tanpa rasa iba.
“Aku malu punya istri yang tampil kumal seperti ini. Tak bisa jaga diri, tak bisa jaga sikap.”
Kalimat itu menghantam lebih keras dari tamparan apa pun.
“Aku lelah,” lanjut Drake, kejam tanpa ragu.
”Aku butuh seseorang yang pantas berdiri di sampingku. Bukan wanita yang terus menuntut, menangis, dan membuat keributan di tempat umum.”
Wajah Zayna memucat, lalu memerah. Tangannya gemetar, bukan karena takut, tapi karena amarah yang mendidih.
“Jadi selama ini,” suaranya bergetar namun tajam, “kau mengkhianatiku karena aku tak cukup ‘layak’ untuk egomu?”
Drake mengangkat bahu. “Kenyataannya begitu.”
Kerumunan terdiam.
Bersambung
penguntit suruhan nevari belum tuntas yg kemarin 🤣🤣🤣
hemmm mau ketemu istri orang aja adaaa saja gangguannya😏
ceritanya nggantung lagi dah kayak kates
sombonge ndhisek ajooorrre kari wkwkwk