NovelToon NovelToon
Ambisi, Cinta, Dan Ulah Si Kembar

Ambisi, Cinta, Dan Ulah Si Kembar

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Murni / Tamat
Popularitas:856
Nilai: 5
Nama Author: Eireyynezkim

Valentine dan Valerie, si Twins V, telah tumbuh menjadi dua wanita dewasa dengan kepribadian unik yang selalu membuat orang-orang di sekitar mereka geleng-geleng kepala. Kepolosan, keberanian, dan cara berpikir mereka yang di luar nalar kerap menghadirkan tawa sekaligus kekacauan, terutama bagi kedua orang tua mereka.

Di tengah candaan tentang keinginan cepat menikah, mimpi-mimpi aneh, dan celetukan tak terduga, Twins V terus membawa kejutan baru. Lalu, keseruan dan kekacauan apa lagi yang akan mereka ciptakan selanjutnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perintah Raja

Ale dan Valen sudah selesai membersihkan diri mereka begitu juga dengan Dean serta Arlo. Mereke berempat sedang menunggu Altezza dan Zurra di ruang tengah. Mereka menunggu sedikit lebih lama dari pada yang mereka kira.

"Ini mami sama papi ngapain sih kok lama banget?" omel Ale kesal.

Dari tadi dia sudah ingin memejamkan matanya karena Ale sudah sangat mengantuk. Maklum, dia kemarin juga begadang menyelesaikan semua formulanya itu dan sekarang malah di suruh untuk menunggu kedua orang tuanya yang tak kunjung keluar dari kamarnya.

Hoaaammmmm....

Tak hanya Ale yang mengantuk tapi juga Valen ikutan menguap karena mereka berdua sudah bekerja lembur sejak kemarin.

"Kalian tidur aja dulu, mungkin papi sama mami lagi bikin adonan," celetuk Dean asal.

"Hah?"

Valen dan Ale yang awalnya ngantuk langsung membuka matanya dengan lebar. Mereka kemudian saling pandang dan otak mereka tentu saja langsung tahu arah pembicaraan Dean kemana. Sedetik kemudian si kembar sudah lari kembali ke lantai dua menuju ke kamar papi dan maminya.

Arlo yang melihat si kembar berlari ke lantai dua itu megerutkan keningnya heran, karena merasa twins V aneh kali ini.

"Lah, mereka berdua kenapa?" celetuk Arlo.

Dean yang baru saja tersadar jika twins V sudah tidak ada di sana pun bingung.

"Loh, Ar, mereka berdua kemana?" tanya Dean pada Arlo.

Arlo mendengus ke arah Dean, "Ini semua kan gara gara Kak Dean bilang kalau om Altezza sama Tante Zurra lagi bikin adonan, jadi mereka berdua kabur ke atas ke kamarnya tanta Zurra dan om Altezza," sahut Arlo.

Dean yang mendengar itu langsung melongo dan menepuk keningnya pelan.

"Astaga, mereka itu....."

Dan benar saja tak lama dari itu terdengar gedoran pintu dari kamar Altezza dan Zurra, siapa lagi yang jadi tersangka jika bukan Si twins V. Arlo dan Dean saling pandang mendengar teriakan mereka dari bawah, mereka berdua menahan tawanya mendengar apa yang di teriakan Valen serta Ale di depan kamar kedua orang tua mereka.

"Mamiiii, papiii...... Dokkkk dokkkkk.... Buka pintunya....." Teriak Ale yang paling kencang.

Valen hanya melihat apa yang di lakukan sang adik saat ini. Dia membiarkan Ale yang tantrum memanggil kedua orang tua mereka.

Sedangkan Zurra dan Altezza yang baru saja memejamkan matanya sebentar tentu saja terkejut dengan suara gedoran pintu kamarnya.

"Astaga... itu kenapa Ale gedor gedor pintu gitu," dumel Altezza pelan.

Dia bangkit dari ranjangnya dan memunguti semua pakaian mereka berdua yang tercecer di lantai, sedangkan Zurra sudah tahu kenapa Ale bisa seperti itu. Dia memijat keningnya sebentar dan memutuskan untuk pergi ke kamar mandi membersihkan sisa pertempurannya dengan Altezza tadi dan jelas dia harus bersiap menghadapi dua putri kembarnya itu nanti.

Ceklek...

Dukkkk...

"Aw....."

"Eh...."

Altezza dan Ale sama sama bersuara karena Ale yang tak sabaran terus menggedor pintu kamar orang tuanya tanpa tahu jika pintu itu sudah terbuka dan berakhirlah dia yang tak sengaja mengenai kening sang papi.

"Astaga, Ale...." omel Altezza pada Ale.

Ale meringis pelan, "Hehehe, maaaf pi, kan nggak sengaja. Lagian salah sendiri keluar nggak ada suaranya. Kan jadi kayak setan setan yang datang nggak di jemput itu lo," celetuk Ale asal.

Altezza melongo saat Ale menyamakan dirinya dengan setan yang terbuat dari tempurung kelapa itu.

"Ck, kamu itu ada ada aja, lagian ngapain sih kamu gedor gedor pintu papi? Nggak bisa apa lembut dikit ketuknya, anak cewek kok bar bar banget." omel Altezza pada Ale.

Ale yang kena omel sang papi langsung bersedekap dada, dia melihat papinya datar dan dingin.

"Papi lupa ya, kalau yang bikin Ale sama kakak begini kan papi sendiri. Dulu aja selalu bilang kalau nggak bisa bar bar nanti musuh musuhnya nggak bisa tumbang. Terus sekarang papi nyalahin Ale gitu? Papi mau ngajak Ale ribut?" tantang Ale pada Altezza.

Altezza menggaruk kepalanya yang tak gatal, sedangkan Valen sudah terkikik geli melihat ekspresi sang papi yang tak bisa berkutik di depan Ale. Bagaimana tidak, cerewetnya Zurra menurun penuh kepada Ale dari segi bicara dan semua ke absurdannya.

"Astaga, kalian berdua ini seneng banget ribut di depan kamar. Nggak malu apa di dengar banyak orang!"

Tiba tiba dari arah belakang terdengar suara Zurra mengomeli Altezza juga Ale. Zurra keluar dari kamar dengan rambut yang masih basah dan tak peduli dengan pandangan Valen serta Ale padanya.

"Nggak usah lihatin mami kayak gitu, lagian mami udah steril begitu juga dengan papi, jadi nggak mungkin bakal jadi anak bayi lagi kayak yang ada di otak kalian itu,"

Setelah mengatakan itu Zurra melewati ketiga orang yang ada di sana dan menuju lantai bawah. Dia ingi menyiapkan makanan untuk mereka semua. Valen yang melihat sang mami sudah menghilang ke bawah segera menyusulnya, begitu juga dengan Ale, tapi jangan lupakan tatapan permusuhan antara Ale dan juga Altezza.

Altezza menghela napasnya panjang jika sudah melihat anak bungsunya itu merajuk karena akan selalu ada masalah yang lainnya yang akan di ungkit oleh Ale nantinya.

Di dalam dapur, Valen sudah membantu sang mami menyiapkan semua bahan masakan yang akan di masaknya nanti.

"Val, gimana tua bangka Pramono? Tadi kok kalian langsung nyusulin mami?" tanya Zurra setelah ingat jika ada satu orang yang belum di ketahui kabarnya.

Zurra sendiri hanya terpaku pada hukuman untuk Tora tanpa memikirkan yang lainnya lagi.

Valen menghentikan acaranya memotong sayuran yang ada di depannya sambil mengingat apa yang dia lakukan pada Pramono setelah memberi pelajaran pada Meriam.

Valen ingat jika Ale yang melakukan semuanya tadi dan dia hanya jadi penonton.

"Di buang dan di lepasin satu satu mam," sahut Ale yang baru masuk ke dalam dapur.

"Sadis amat kamu Al, " sindir Zurra pada Ale.

Ale yang sedang meminum susunya hanya mencebik kesal ke arah sang mami.

"Mami lupa ya kalau nurunin gilanya ke Ale?

Kenapa nggak ke kak Valen aja sih gilanya? Lagian dulu kita mau jadi anak manis lo, tapi kenapa semua kegilaan kalian nurun ke kami semua sih," omel Ale pada Zurra.

Zurra mengendikkan bahunya acuh tanda tak tahu menahu kenapa bisa kegilaannya langsung menurun kepada kedua anak kembarnya dan tanpa sisa. Tapi dia tak merasa aneh dengan semua kegilaan yang anak anaknya lakukan karena mereka berdua sudah bisa membedakan mana yang baik dan benar.

"Bukan di turunin gilanya, tapi kalian di dalam kandungan udah bikin semua orang kalang kabut,"

Dari arah luar dapur suara Altezza juga menyahut apa yang menjadi pembicaraan Zurra dan kedua putrinya.

Valen dan Ale hanya diam karena memang mereka sudah tahu banyak dengan apa yang mereka perbuat selama mereka masih ada di dalam kandungan sang mami.

"Lagian kalau misal kita nggak gila nanti malah jadi pertanyaan banyak orang kan? Kok bisa kedua orang tuanya gila tapi anak anaknya kalem. Bisa bisa nanti akan ada berita anak anak keluarga Dhanurenda dan Byantara itu tertukar." ceplos Ale asal.

Altezza yang mendengar itu tentu saja langsung menggelengkan kepalanya.

"Kamu tuh, bisa banget nyari pembahasan. Lagian ya kalau kalian kalem pun tetep bakal papi didik keras. Biar nanti nggak ada masalah kalau kalian jauh dari papi dan mami. Dan sebagai hadiah kerja keras kalian kemarin, sesuai kesepakatan bersama mobil sport yang terbaru akan datang nanti malam sesuai dengan ciri khas kalian masing masing, tapi papi punya syarat lain." ucap Altezza memberi teka teki pada kedua putrinya.

Valen dan Ale menaikkan sebelah alisnya dan nampak penasaran dengan apa yang akan di katakan Altezza setelah ini.

"Nanti setelah kalian masuk kuliah, setelah beberapa bulan papi ingin kirim kalian ke beberapa petrusahaan papi dan mami buat memeriksa kondisi perusahaan itu. Papi dengar ada banyak yang terlewat di sana, tapi papi dan mami belum bisa memeriksannya sendiri. Dan mungkin kalian berdua akan bernasib sama dengan Arlo serta Dean yang juga harus terjun langsung ke dunia bisnis."

terang Altezza ada kedua putrinya.

Ale dan Valen saling lirik, mereka tak menyangka jika akan mendapatkan tugas secepat ini dari Altezza.

Valen sudah menghela napasnya panjang dan menatap sang papi datar.

"Mau di tolak juga percuma, dari pada nanti aku sama Ale di coret dari Kartu keluarga lebih baik aku sama Ale tetap berangkat bukan?"

Valen langsung melanjutkan kembali acaranya memotong sayuran itu sementara Ale sudah terkikik geli, selama ini mereka bukan tidak mau membantu kedua orang tuanya hanya saja bagi mereka ilmu mereka belum terlalu mumpuni untuk terjun langsung di dunia bisnis.

"Perintah raja siap di laksanakan!"

to be continued...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!