Di dunia tempat kekuatan adalah hukum dan kelemahan adalah dosa, Qiu Liong hanyalah sampah sekte murid buangan dengan akar spiritual retak, bahan ejekan, dan simbol kegagalan.
Ia dihina, dipermalukan, bahkan dikhianati oleh orang yang paling ia percaya.
Namun takdir berputar ketika ia menemukan Inti Kekosongan Tanpa Batas, warisan kuno dari dewa yang telah musnah. Kekuatan itu bukan sekadar energi… melainkan kemampuan untuk menembus hukum langit, menelan takdir, dan menciptakan ulang realitas.
Dari seorang pecundang yang diinjak-injak, Qiu Liong bangkit.
Ia akan merobek langit. Menghancurkan para dewa. Dan memahat namanya sebagai legenda yang tak akan pernah pudar.
Karena ketika dunia menertawakannya…
ia diam-diam sedang belajar menjadi tak terbatas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waseng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Retakan Pertama Kesombongan
Aula Luar perlahan kembali normal setelah duel itu.
Namun sesuatu telah berubah.
Bukan hanya reputasi Qiu Liong
melainkan keseimbangan yang selama ini tak tergoyahkan.
Gu Shen berdiri kaku beberapa detik setelah pedangnya terlempar. Tangannya kosong, dadanya naik turun cepat. Sorot matanya tidak lagi penuh keyakinan mutlak.
Ia menatap pedangnya di lantai.
Seolah benda itu telah mengkhianatinya.
Beberapa murid inti yang biasa berdiri di belakangnya kini tampak ragu untuk mendekat.
Tidak ada yang menertawakan.
Namun tidak ada pula yang segera membelanya.
Keheningan itu
lebih tajam dari ejekan mana pun.
Gu Shen perlahan memungut pedangnya. Tangannya sedikit bergetar, meski ia berusaha menyembunyikannya.
“Ini belum selesai,” katanya pelan, suaranya tertahan.
Namun ancaman itu terdengar berbeda dari biasanya.
Tidak lagi kokoh.
Qiu Liong menatapnya sebentar, lalu berbalik pergi tanpa menjawab.
Dan justru itulah yang paling melukai.
Bukan hinaan.
Bukan balasan kata-kata.
Melainkan sikap seolah duel itu hanyalah satu langkah kecil.
Bukan puncak.
Sore itu, Gu Shen mengurung diri di paviliun latihan murid inti.
Suara tebasan pedang terdengar berulang kali, menghantam tiang kayu dengan kekuatan berlebihan.
Retakan kecil muncul di permukaan kayu keras itu.
Napasnya kasar.
Bayangan duel tadi terus berputar di benaknya.
Bagaimana mungkin?
Qiu Liong yang dulu tidak mampu mengangkat pedang dengan stabil kini berdiri setara dengannya bahkan menekannya.
“Tidak mungkin hanya latihan,” gumamnya.
Ia teringat sensasi aneh saat pedang mereka beradu.
Seperti sesuatu yang menelan.
Bukan menghancurkan
melainkan menyerap.
Perasaan itu membuat bulu kuduknya berdiri.
Untuk pertama kalinya sejak ia memasuki sekte sebagai murid berbakat, Gu Shen merasakan sesuatu yang asing.
Keraguan.
Di luar paviliun, dua murid inti berbisik pelan.
“Menurutmu… siapa yang lebih kuat sekarang?”
“Ssst! Hati-hati.”
Namun pertanyaan itu sudah terlanjur lahir.
Dan begitu pertanyaan itu ada
kesombongan mulai retak.
Di sisi lain sekte, Qiu Liong duduk sendirian di bawah pohon tua.
Kemenangan tadi tidak memberinya euforia.
Tidak juga rasa balas dendam yang manis.
Yang ia rasakan justru keheningan panjang.
Ia memandangi telapak tangannya.
Ia bisa saja melangkah lebih jauh dalam duel tadi.
Bisa saja mempermalukan Gu Shen sepenuhnya.
Namun ia memilih berhenti.
Bukan karena belas kasihan.
Melainkan karena ia tidak ingin menjadi bayangan dari orang yang dulu ia benci.
“Kau berubah,” suara Mei Lanyue terdengar lembut di belakangnya.
Qiu Liong tersenyum tipis tanpa menoleh.
“Semua orang bilang begitu.”
“Aku tidak bicara tentang kekuatanmu,” lanjutnya, melangkah mendekat. “Aku bicara tentang hatimu.”
Ia terdiam.
Angin sore menggerakkan daun-daun kering di tanah.
“Dulu kau ingin menghancurkannya,” kata Mei Lanyue pelan. “Hari ini kau bisa. Tapi kau tidak melakukannya.”
Qiu Liong menatap langit di antara celah daun.
“Aku hanya ingin membuktikan bahwa aku bukan lagi pecundang,” jawabnya. “Bukan menjadi penindas baru.”
Kata-kata itu keluar tanpa paksaan.
Dan saat ia mengucapkannya, ia menyadari sesuatu.
Balas dendam yang ia pikir akan menjadi bahan bakarnya
perlahan berubah menjadi batu loncatan.
Ia tidak lagi ingin sekadar mengalahkan Gu Shen.
Ia ingin melampauinya.
Melampaui batas sekte.
Melampaui label masa lalu.
Namun jauh di dalam hatinya, ia tahu
retakan pada kesombongan Gu Shen hanyalah awal.
Orang yang terbiasa berada di puncak tidak akan menerima jatuh dengan tenang.
Dan retakan pertama sering kali diikuti oleh upaya untuk membalas.
Mei Lanyue menatapnya dengan kekhawatiran tipis.
“Berhati-hatilah,” katanya pelan.
Qiu Liong mengangguk.
Ia tahu ini belum selesai.
Kesombongan yang retak bisa runtuh
atau berubah menjadi kebencian yang lebih dalam.
Dan ketika itu terjadi,
pertarungan berikutnya mungkin tidak akan berlangsung di Aula Luar yang penuh saksi.
Melainkan di tempat yang lebih gelap.
Lebih sunyi.
Dan lebih berbahaya.
jangan bikin kecewa ya🙏💪