Yang Chi, seorang mahasiswi sekaligus penulis novel amatir, terbangun di dalam dunia ceritanya sendiri setelah menyelesaikan bab tragis tentang kematian sang Permaisuri, Yang Nan. Namun, bukannya menjadi pahlawan, ia justru terjebak dalam tubuh Xiao Xi Huwan, putri dari kerajaan tetangga sekaligus antagonis utama yang baru saja membunuh Permaisuri tersebut.
Kini, Yang Chi harus berhadapan dengan murka Kaisar Long Wei, pria yang seharusnya menjadi pelindung permaisurinya namun kini bersumpah akan memenggal kepala Xiao Xi dengan tangannya sendiri. Berbekal pengetahuannya sebagai penulis tentang rahasia istana dan plot masa depan, Yang Chi harus memutar otak untuk membersihkan namanya, menghindari hukuman mati, dan mengungkap konspirasi gelap yang ternyata jauh berbeda dari apa yang ia tulis di atas kertas
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Sabrina Rasmah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di kamar yang remang
Long Wei membeku di tempatnya saat seorang wanita dengan pakaian sutra transparan dan aroma parfum bunga yang menyengat mendekat, lalu dengan berani menyentuh pundaknya. Wanita itu tentu tidak tahu bahwa pria di balik topeng naga ini adalah penguasa tertinggi kekaisaran yang bisa menghukumnya dalam satu jentikan jari.
"Tuaaan... ayo bermain denganku," goda wanita itu dengan suara mendayu, jemarinya mulai bergelayut manja di lengan Long Wei. "Sepertinya Tuan sedang lelah, biarkan aku menghiburmu di ruangan atas."
Mata Long Wei berkilat marah di balik topengnya. Rahangnya mengeras dan tubuhnya menjadi kaku seperti batu. Ia belum pernah berada dalam situasi serendah ini—digoda oleh wanita penghibur di depan umum. Tangannya sudah mengepal, siap untuk mendorong wanita itu menjauh dengan kasar.
Yang Chi yang berdiri di samping mereka langsung melotot. Wah, berani banget ini Mbak-mbak! Belum tahu ya kalau yang dipegang itu 'beruang kutub' yang paling galak se-istana? batinnya.
Melihat Long Wei yang mulai kehilangan kesabaran dan mungkin akan membuat keributan yang bisa membongkar penyamaran mereka, Yang Chi langsung bertindak.
"Ehem! Permisi ya, Mbak Cantik!" seru Yang Chi sambil dengan berani memotong di tengah-tengah mereka. Ia melepaskan tangan wanita itu dari lengan Long Wei dan menggantikannya dengan pelukannya sendiri yang jauh lebih erat.
"Maaf ya, Tuan ini sudah 'bookingan' saya seumur hidup!" ucap Yang Chi sambil mendongak menatap Long Wei dengan mata yang dibuat-buat manja. "Iya kan, Sayang? Ayo kita ke sana saja, aku nggak mau kamu main sama orang lain!"
Long Wei tersentak mendengar kata 'Sayang' lagi. Namun, ia menyadari Yang Chi sedang mencoba menyelamatkan situasi agar identitas mereka tidak terbongkar oleh keributan.
"Pergi kau," desis Long Wei pada wanita penghibur itu dengan suara yang sangat dingin dan berwibawa, membuat wanita itu menciut ketakutan dan segera melipir pergi.
Begitu wanita itu hilang dari pandangan, Long Wei langsung menarik Yang Chi ke sudut ruangan yang remang-remang. "Kau... apa-apaan kau ini? Berhenti memanggilku dengan sebutan menjijikkan itu!" bisik Long Wei sambil menahan napasnya yang memburu karena malu.
Yang Chi justru cengengesan di balik topengnya. "Tuan, kalau saya nggak bilang begitu, tadi Tuan pasti sudah mau nebas kepalanya kan? Ingat, kita ini lagi sembunyi! Sekarang diam dan ikuti sandiwaraku," bisik Yang Chi balik sambil matanya terus waspada memperhatikan pintu masuk, mencari tanda-tanda kaki tangan Li Xuan yang mungkin menyusup masuk.
Pintu depan rumah malam itu terbanting keras. Sekelompok pria berpakaian pelayan namun dengan gerak-gerik pendekar tangguh masuk sambil mengamati setiap sudut dengan mata yang tajam. Mereka memegang hulu pedang yang tersembunyi di balik jubah.
Yang Chi yang sedang waspada langsung menangkap gelagat bahaya itu. "Gawat, mereka beneran masuk!" bisiknya panik.
Tanpa menunggu persetujuan, Yang Chi segera menyambar tangan Long Wei. "Ayo Tuan, kita sembunyi di kamar atas! Jangan sampai mereka lihat kita di sini!"
Long Wei sempat ragu. Baginya, masuk ke kamar di tempat seperti ini adalah penghinaan terhadap harga dirinya. Namun, melihat jumlah musuh yang mulai berpencar, ia tidak punya pilihan lain. Ia membiarkan Yang Chi menariknya menaiki tangga kayu yang berderit.
"Xiao Xi, jika kau membawaku ke tempat yang salah, aku benar-benar akan menghukummu," desis Long Wei pelan saat mereka menyusuri lorong atas yang penuh dengan suara tawa dan musik petik dari balik kamar-kamar.
"Duh, Tuan, dalam keadaan begini masih sempat-sempatnya mengancam! Percaya sama penulisnya—eh, maksudku ramalanku!" balas Yang Chi sambil menarik Long Wei masuk ke salah satu kamar yang pintunya tidak terkunci.
Cklek.
Yang Chi menutup pintu rapat-rapat dan langsung menguncinya. Kamar itu remang-remang, hanya diterangi sebatang lilin aromaterapi yang harum. Ada sebuah ranjang besar dengan tirai sutra merah transparan yang menggantung cantik.
"Hah... hah... aman," Yang Chi bersandar di balik pintu sambil mengatur napasnya yang memburu.
Long Wei berdiri di tengah kamar, melepaskan topeng porselennya karena merasa gerah. Di bawah cahaya lilin, wajah tampannya terlihat sangat tegang. Ia menatap Yang Chi dengan tatapan yang sangat intens. "Sekarang kita terjebak di dalam kamar rumah malam. Apa rencana cerdasmu selanjutnya, Juru Ramal?"
Yang Chi menelan ludah. Ia baru sadar, bersembunyi di kamar berdua dengan kaisar paling galak di tempat seperti ini adalah ide yang sangat... canggung.
Tiba-tiba, terdengar langkah kaki berat di depan pintu mereka. Srek... srek... seseorang mencoba memutar gagang pintu dari luar.
"Buka pintunya! Cepat buka kalau tidak kudobrak!" teriak pria itu dari balik pintu dengan suara menggelegar.
Yang Chi panik, otaknya berputar cepat mencari cara agar penyamaran Long Wei tidak terbongkar. Jika musuh melihat wajah asli Sang Kaisar, mereka akan langsung menyerang. Dengan seribu akalnya, Yang Chi segera mendorong tubuh Long Wei hingga jatuh terduduk di tepi kasur yang empuk.
Tanpa permisi, tangan Yang Chi bergerak cepat membuka sedikit ikatan jubah luar Long Wei agar terlihat berantakan. Long Wei kaget bukan main, matanya membelalak menatap kelakuan lancang gadis di depannya ini. Namun, sebelum ia sempat memprotes, Yang Chi sudah mendekatkan wajahnya, menyembunyikannya di dada bidang Long Wei yang hangat untuk menutupi wajah mereka berdua.
BRAKKK!
Pintu kamar itu hancur berantakan ditendang dari luar. Dua pria bersenjata pedang merangsek masuk dengan tatapan beringas. Namun, langkah mereka terhenti seketika melihat pemandangan di depan mereka.
Di bawah remang cahaya lilin, mereka hanya melihat seorang pria yang jubahnya tersingkap sedang dipeluk erat oleh seorang wanita yang tampak sangat manja. Wajah keduanya tidak terlihat jelas
karena posisi mereka yang saling menempel.
"Cih! Hanya pasangan yang sedang bermesraan," gerutu salah satu pria itu dengan nada jijik. Ia meludah ke lantai, merasa salah sasaran. "Hei, apa kalian melihat pria tinggi dengan topeng naga lewat sini?"
Yang Chi tidak berani mendongak, ia justru semakin menenggelamkan wajahnya di dada Long Wei sambil mengeluarkan suara rengekan yang dibuat-buat. "Tuan... suruh mereka pergi! Mereka merusak suasana!"
Long Wei yang merasa sangat malu sekaligus marah, hanya bisa mengepalkan tangannya di balik tubuh Yang Chi. Ia menjawab dengan suara yang sengaja dibuat berat dan serak, "Keluar! Jangan mengganggu kesenanganku jika kalian masih sayang nyawa!"
Mendengar gertakan itu, kedua musuh itu mendengus dan segera keluar untuk memeriksa kamar lain. Begitu pintu ditutup kembali, Yang Chi mengembuskan napas lega yang panjang. Ia masih bisa merasakan detak jantung Long Wei yang sangat kencang di bawah telinganya.
"Mereka sudah pergi, Tuan..." bisik Yang Chi tanpa berani bergerak dari posisinya.
Long Wei terdiam kaku. "Xiao Xi... kau benar-benar berani. Sekarang, lepaskan tanganmu dariku sebelum aku benar-benar kehilangan kesabaran," desis Long Wei dengan nada yang sangat rendah namun mengintimidasi.