Seri ke-satu
Clara Ayudita tak pernah menyangka bahwa perpisahan tiba-tiba akan menjadi awal dari kehilangan terbesar dalam hidupnya. Noel Baskara laki-laki yang selama ini menjadi rumah, sandaran, dan tempat segala rencana masa depan bermuara tiba-tiba menghilang tanpa penjelasan.
Satu pesan singkat dan senyum palsu di hari perpisahan menjadi kenangan terakhir yang ia punya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ms.Una, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebelum namamu di sebut
Papan nama Forrer Pharmaceutical Indonesia terpampang megah di fasad gedung tinggi berlapis kaca di pusat kota Jakarta. Huruf-huruf peraknya memantulkan cahaya matahari sore, seolah ingin menegaskan satu hal: sebuah kekuatan baru telah tiba.
Puluhan papan bunga berjejer rapi di halaman. Ucapan selamat dari kementerian, asosiasi pengusaha, hingga perusahaan multinasional memenuhi sisi kiri dan kanan pintu masuk.
Mobil-mobil mewah datang bergantian, suara pintu tertutup lembut, sepatu hak tinggi dan sepatu kulit mahal berpijak di karpet merah yang digelar panjang, begitu pula mobil Natan ikut memasuki area parkir khusus tamu undangan.
“Banyak banget orangnya,” gumam Clara pelan, matanya menyapu keramaian.
Natan tersenyum tipis. “Iya. Sekalian Grand Opening. Biasanya tamunya dari Pengusaha, pejabat dan relasi luar negeri.”
Clara mengangguk paham, meski jantungnya mulai berdebar lebih cepat. Ini bukan sekadar lomba kampus. Ini dunia yang jauh lebih besar.
Mereka turun dari mobil, Natan berjalan sedikit lebih dulu lalu melambat agar sejajar dengan Clara. Tanpa sadar, langkahnya menyesuaikan ritme Clara, seolah takut ia merasa sendirian di tengah lautan orang asing.
Di pintu masuk, staff event menyambut dengan senyum profesional.
“Mohon maaf, bisa saya periksa undangannya?”
Natan menyerahkan dua kartu undangan elegan berwarna hitam dengan emboss emas. Setelah diperiksa, mereka dipersilakan masuk.
Begitu pintu kaca otomatis terbuka, hawa sejuk dan aroma bunga lili langsung menyambut. Lobby gedung itu luas, langit-langitnya tinggi dengan lampu kristal modern menggantung anggun. Di sisi kanan, layar LED besar menampilkan video profil perusahaan Forrer Group tentang inovasi, laboratorium, penelitian, dan ekspansi global.
Clara terdiam sejenak.
Di dinding utama lobby, terpampang instalasi digital besar yang masih kosong di tengahnya sebuah panel kaca hitam dengan bingkai cahaya putih.
Tak lama kemudian seorang staff perempuan datang dan mengantarkan mereka ke ruangan utama.
“Bu Clara, silakan duduk di sini. Agar lebih dekat saat sesi penyerahan hadiah.”
Clara menelan ludah kecil mendengar itu.
Natan menarik kursi untuknya. Clara tersenyum dan berterima kasih.
Ruangan semakin ramai. Percakapan dua bahasa terdengar bersahutan. Tawa para pengusaha, suara denting gelas, langkah sepatu hak tinggi.
Natan menuangkan air putih ke gelas Clara.
“Minum dulu, Clar.”
“Enggak apa-apa, Kak. Aku nggak haus.”
“Kamu kelihatan gelisah. Demam panggung?”
Clara terkekeh kecil. “Ketahuan banget ya. Aku nggak pernah ke tempat penting kayak gini.”
Ia akhirnya menyesap sedikit air.
Natan tersenyum. Grogi Clara terasa jujur. Polos. Dan entah kenapa, itu selalu membuatnya ingin melindungi.
Clara menarik napas panjang.
Tapi kegelisahannya bukan hanya karena panggung.
Ada sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan, perasaannya tiba-tiba tidak enak.
Pintu ruangan terbuka.
Suara tepuk tangan menggema, semua orang menoleh dan dua sosok berjalan masuk.
Perempuan dengan gaun elegan melingkarkan tangannya pada lengan pria di sampingnya. Senyumnya sempurna, terkendali. Wajahnya memancarkan kelas dan kekuasaan.
Pria di sampingnya berjalan tegak. Dingin. Tanpa ekspresi ramah. Tatapannya lurus ke depan.
Mendengar keramaian dibelakangnya, Clara ingin ikut menoleh.
Natan melihat lebih dulu, rahangnya mengeras.
Tangannya mengepal di bawah meja.
Sial batinnya.
Refleks, sebelum Clara benar-benar memalingkan tubuhnya ke arah pintu, Natan buru-buru berbicara.
“Clara.”
Clara menoleh ke arahnya.
“Kamu cantik banget hari ini.”
Begitu saja. Tanpa filter.
Sedetik setelah kalimat itu keluar, Natan ingin menampar dirinya sendiri.
Bisa-bisanya gue ngomong begitu sekarang. Gerutunya dalam hati
Clara melongo sesaat. Lalu tersenyum malu.
“Bajunya bagus kan, Kak? Dikasih sama Thalia.” jawabnya polos
Natan mengangguk pelan, memaksakan senyum.
MC baru saja bersiap di sisi panggung ketika seorang staff event laki-laki mendekati meja Clara.
“Permisi, Bu Clara?”
Clara menoleh sedikit terkejut. “Iya?”
“Kami ingin menginformasikan bahwa di akhir acara nanti, Anda akan membacakan karya esai Anda secara langsung sebagai bagian dari sesi promosi literasi Forrer Pharmaceutical Indonesia.”
Clara membeku sepersekian detik. “M-membacakan langsung?” suaranya pelan.
“Iya, Bu. Setelah sesi penyerahan hadiah.” Staff itu menyerahkan sebuah map tebal berwarna hitam elegan dengan logo Forrer tercetak timbul emas di sudutnya.
“Di dalamnya ada salinan esai Anda yang sudah melalui proses layout resmi perusahaan. Mohon dipelajari kembali sebelum sesi pembacaan.”
Clara menerima map itu dengan kedua tangan.
Jantungnya berdetak lebih cepat.
“Baik… terima kasih.”
Staff itu tersenyum profesional, menunduk singkat, lalu melangkah pergi meninggalkan meja mereka.
Clara menatap map tebal di tangannya. Logo Forrer tercetak jelas di sudut kanan atas. Di dalamnya, salinan esainya tersusun rapi, kata-kata yang ia tulis dengan harapan yang perlahan tumbuh kembali.
“Clara” panggil nata pelan.
Natan sudah lebih dulu memperhatikannya. Tatapannya lembut, tapi ada kesedihan tipis yang tak bisa ia sembunyikan. Ia tahu hari ini bukan sekadar perayaan. Ada kemungkinan luka lama akan kembali tersibak.
Clara menarik napas panjang, mencoba menguatkan dirinya, lalu menoleh ke arah Natan.
“Kenapa wajah kamu jadi sedih, Kak?” ucapnya, memaksakan nada ceria. “Ayo dong, semangati aku.”
Natan terkekeh kecil, mencoba menormalkan suasana. Tanpa sadar, tangannya terangkat dan mengusap lembut rambut hitam Clara yang tergerai rapi.
“Semangat, Clara,” katanya hangat. “Biar bisa jadi penulis hebat. Nanti kalau sudah terkenal jangan lupain aku.”
Clara tertawa kecil, pipinya sedikit merona.
“Kak Natan ini bisa saja…” sahutnya malu-malu.
Belum sempat percakapan mereka berlanjut, suara MC menggema dari atas panggung, memotong riuh rendah percakapan para tamu.
“Ladies and gentlemen, welcome to the Grand Opening of Forrer Pharmaceutical Indonesia…”
Lampu ruangan meredup perlahan. Sorot cahaya tertuju pada panggung megah di depan.
MC mulai membacakan susunan acara. Diawali dengan pemaparan visi dan misi perusahaan oleh perwakilan asing Forrer Group, tentang inovasi kesehatan, integritas global, dan komitmen terhadap kemajuan sains. Lalu ditampilkan profil singkat perusahaan induk yang berpusat di Swiss, berdiri kokoh puluhan tahun, dengan ekspansi di berbagai negara.
Clara mencoba fokus. Namun jantungnya tetap berdetak tak beraturan.
“Dan selanjutnya,” suara MC kembali menggema, “kami persilakan President of Global Operations Forrer Group, Miss Anna Forrer.”
Tepuk tangan bergema memenuhi ruangan.
Anna Forrer naik ke atas panggung dengan langkah tenang dan terukur. Gaun hitam panjangnya membingkai tubuhnya dengan sempurna. Setiap gerakannya terlatih, elegan, nyaris tanpa cela.
Bibirnya mengukir senyum yang sopan namun matanya tajam, dingin, seperti pisau yang tersembunyi di balik sutra mahal.