Karya Orisinal.
Genre: Fantasi Timur, Kultivasi, Xianxia.
Sub-Genre: Filosofi, Romance, Adventure, Action.
Desa kecil yang dipenuhi buai kenangan, Jinglan namanya. Di sebalik kabus fajar di ladang, hiduplah Aku—Ling Feng—berdiri ragu, mencoba merabit kata Pak Tua Chen, menyulamnya dengan tanya yang berbalut sunyi. Dalam pengembaraan, Aku menenun apa yang kubawa.
“Untuk Apa Kehidupan Dijalani?”
Jawab mungkin tak pernah kudapatkan. Namun, akankah Jawab sudi menyapaku kelak dan menanti?
Kupastikan langkahku setia pada arah, walau kelak degup jiwa tak lagi tegak menopang raga, kan kusulam tanya dalam bahasa sunyi dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MagnumKapalApi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 13 : Jejak Bara.
[PoV Ling Feng]
Xiao Lu duduk di atas batu, peta terhampar di pahanya. Arang di tangannya bergerak pelan, meninggalkan garis-garis hitam yang tegas. Angin mengangkat sudut kertas; ia menahannya dengan dua jari tanpa mengalihkan pandangan.
Aku duduk di seberangnya. Kubuka kantong perbekalan, kuhitung ulang isinya, kusentuh botol air yang sudah kusentuh tadi. Tali kuikat, kulepas lagi. Tanganku sibuk. Mataku tidak pernah benar-benar terangkat.
Abu berlutut di tepi sungai, menangkupkan tangan dan minum. Airnya jernih. Dasar batu terlihat jelas, arusnya tampak jinak. Di Jinglan, air sejernih itu pernah menyeret orang dewasa tanpa suara.
“Ayahmu,” kata Xiao Lu tiba-tiba. Arangnya berhenti. “Apa yang sebenarnya terjadi padanya?”
Tali kantong terlepas dari jemariku. Tanganku menggantung di udara.
“Xue Gou bilang dia mati,” kataku. “Itu yang kutahu.”
“Tapi kau tidak percaya?”
“Aku tidak tahu yang Xue Gou maksud Orang Tua-ku atau bukan.”
Sungai terus mengalir. Abu berdiri, mengusap mulutnya dengan punggung tangan. Aku menatap permukaan air, mencari sesuatu di bawahnya.
“Aku juga tidak tahu apa yang kupercaya,” kataku akhirnya. “Dia pergi. Tidak kembali. Orang desa bilang dia menemui sesuatu di luar sana. Pak Tua Chen bilang dia mencari.” Napasku tertahan sesaat. “Tapi tidak pernah bilang mencari apa.”
Xiao Lu mengangkat wajah. Tatapannya lurus.
“Kau mirip dengannya,” katanya. “Kau juga pergi mencari sesuatu yang tidak kau ketahui namanya.”
Malam turun tanpa warna. Api unggun kecil menjadi satu-satunya penerang. Kayu berderak pelan; bara naik lalu hilang di udara.
Kami duduk berhadapan. Abu meringkuk di antara kami, punggungnya membentuk garis tipis di tanah, pemisah yang hangat.
“Shifu bilang kau punya bakat alami,” kata Xiao Lu. Suaranya rendah, hampir tenggelam oleh desir api. “Tapi bakat saja tidak cukup. Di dunia ini, yang tidak dilatih akan dirampas.”
Aku menggeser kayu dengan ranting. Bara meloncat, mati sebelum menyentuh tanah.
“Kau bicara tentang kultivasi?”
“Tentang bertahan hidup.”
Tangannya masuk ke balik bajunya. Ia mengeluarkan botol kecil dari tanah liat. Sumbatnya dilapisi lilin merah yang retak halus. Diletakkannya di antara kami. Cahaya api memantul di permukaannya yang kusam.
“Apa itu?”
“Ramuan. Untuk mempercepat pembukaan meridian.” Pandangannya turun ke botol itu. “Shifu memberikannya. Katanya, berikan pada Ling Feng jika ia mulai menunjukkan kelemahan.”
Ranting di tanganku patah. Suaranya kering.
“Kau memberikannya sekarang?”
“Tidak.”
Ia mengambil kembali botol itu. Kilau merah menghilang di balik lipatan bajunya.
“Karena kau tidak lemah.” Ia berdiri. Bayangannya memanjang, menutup separuh tubuhku. “Kau hanya … belum siap.”
Angin malam menyentuh bara. Api condong, lalu tegak kembali.
“Besok kita akan sampai di lokasi terakhir Xue Gou,” katanya tanpa menoleh. “Tidurlah.”
Abu bergeser, mengisi ruang kosong yang ditinggalkan bayangannya.
Aku berbaring menatap langit yang tertutup cabang-cabang gelap.
Api tinggal bara. Cahayanya naik turun seperti napas yang menahan diri.
Tanah di bawah punggungku keras. Udara malam tipis dan dingin. Tubuhku tetap diam.
Botol kecil itu muncul lagi di benak, tanah liat kusam, lilin merah retak. Cara ia meletakkannya di antara kami. Cara ia menyebutkannya, tanpa ragu, tanpa sembunyi.
Abu mendengkur pelan di sampingku. Tubuhnya hangat menempel di lenganku. Telinganya bergerak sekali, lalu diam.
Di seberang bara, Xiao Lu tidur dalam posisi duduk. Punggungnya bersandar pada batang pohon. Tangan terlipat di pangkuan. Wajahnya tenang dalam sisa cahaya merah.
Atau setenang yang ia izinkan untuk terlihat.
Angin menggeser ujung rambutnya. Ia tidak bergerak.
Aku memejamkan mata.
Napas kutarik perlahan. Kutahan. Kulepas.
Di bawah tulang rusuk, di tempat tetesan energi pertama kali bergetar, ada riak kecil yang tidak ikut tenang. Seperti air jernih dengan arus di bawahnya.
Di antara tarikan dan hembusan, terdengar bisikan.
Bukan dari dedaunan.
Bukan dari tanah.
Dari dalam.
Ia takut.
Bukan padamu.
Tapi pada dirinya sendiri.
***
[PoV Xiao Lu]
Api sudah mereda ketika suara napasnya berubah dalam.
Aku membuka mata.
Ling Feng tertidur di seberang bara, tubuh meringkuk di samping serigalanya. Satu tangannya terlipat di bawah kepala, yang lain jatuh lemas di atas bulu kelabu. Napasnya lambat. Dalam. Tanpa topeng.
Aku memandanginya.
Di bawah cahaya merah yang tersisa, wajah itu tampak lebih muda. Lebih kosong. Seperti kanvas yang belum disentuh kuas, masih putih, masih mungkin jadi apa saja.
Petani. Benar-benar petani.
Tak ada kepalsuan dalam caranya tidur. Tak ada siasat dalam caranya menatap. Saat aku bilang aku dulu punya kucing, ia tidak menggali, tidak bertanya lebih. Hanya diam, memberi ruang.
Orang seperti itu ... berbahaya.
Bukan karena bisa menyakiti.
Tapi karena bisa membuatmu lupa siapa dirimu.
Tanganku meraba botol kecil di balik jubah. Lilin merah terasa hangat di ujung jari. Ramuan itu nyata. Perintah Shifu nyata. Tapi saat kutawarkan tadi, saat kulihat ia hanya menatap botol itu dengan mata polos dan bertanya "Apa itu?" ... untuk sesaat, sesuatu di dadaku bergeser.
Bukan melemah.
Tapi berubah bentuk.
"Karena kau tidak lemah. Kau hanya ... belum siap."
Aku tidak merencanakan kalimat itu. Ia keluar begitu saja, seperti bocoran dari tempat yang selama ini kukunci rapat.
Bodoh.
Aku mengalihkan pandangan ke arah hutan. Gelap. Sunyi. Tapi di sana, di antara batang-batang pohon yang tak kelihatan, jejak Xue Gou menunggu. Dan di belakangnya, bayangan Shifu Sheng yang tak pernah benar-benar pergi.
Jangan sampai kau betulan jatuh cinta.
Tawa kecil keluar dari tenggorokanku. Kering. Pahit.
Cinta?
Aku bahkan tak ingat bagaimana rasanya memercayai seseorang tanpa menghitung risikonya terlebih dahulu. Lelaki ini, dengan segala kepolosannya, hanya langkah dalam rencana. Tidak lebih.
Tapi kenapa botol itu masih ada di tanganku?
Kenapa aku tidak menuangkannya ke minumannya saat ia lengah?
Di kejauhan, serigala itu bergerak. Telinganya menegak sesaat, lalu kembali lunglai. Menjaganya. Bahkan dalam tidur.
Aku memandangi Ling Feng lagi.
Di lehernya, manik batu biru berkilau samar. Sekarang, di sisa cahaya bara, aku bisa melihatnya lebih jelas. Retakan halus di permukaannya. Ukiran yang hampir aus. Tapi pola itu ... kukenal.
Awan melingkari puncak. Simbol dari legenda yang ibu ceritakan dulu. Tentang suku di pegunungan utara yang bisa berbicara dengan bumi.
Suku ibu.
Darahku.
Jantungku berhenti satu detak.
Tidak mungkin.
Tapi pola itu tidak berbohong. Aku tahu karena ibuku menghabiskan malam-malam panjang mengajarkannya padaku, sebelum ia pergi dan tak pernah kembali.
Tanganku gemetar. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, sesuatu yang nyata menusukku, bukan dari luar, tapi dari dalam. Dari tempat yang sama di mana aku mengubur semua dongeng dan semua kepercayaan.
Ling Feng.
Ayahnya.
Jinglan.
Semuanya tiba-tiba terhubung seperti jaring laba-laba yang selama ini tak kulihat.
Dia bukan petani biasa.
Dan mungkin ... bukan kebetulan juga bahwa aku yang ditugaskan mengawasinya.
Angin dingin menyapu pipiku. Aku menarik napas, memaksa diri tenang. Tangan masih menggenggam botol ramuan itu. Sekarang, beban di dalamnya terasa berbeda.
Rencana nomor 1 sampai 4 tiba-tiba terasa konyol. Kekanak-kanakan.
Ini bukan lagi tentang perintah Shifu. Bukan juga tentang kabur dari sekte.
Ini tentang sesuatu yang lebih tua.
Tentang utang darah.
Tentang jawaban yang selama ini tak pernah berani kucari.
Api hampir padam. Sisa bara merah berkedip lemah.
Aku memandang lelaki yang tidur di seberang sana, napasnya tenang, tanpa curiga, tanpa tahu bahwa dunia di sekelilingnya baru saja berputar ke poros yang berbeda.
“Ling Feng,” bisikku, terlalu pelan untuk didengar siapa pun. “Siapa sebenarnya kau?”
Tak ada jawaban. Hanya desir angin yang membawa dingin dan bau tanah.
Tapi dari dalam dadaku, suara ibu bergema samar.
Suatu hari kau akan bertemu seseorang yang membawa tanda yang sama, Lu'er. Dan saat itu tiba ... jangan lari.
Aku memejamkan mata.
Botol ramuan itu kuselipkan kembali ke balik jubah. Kutunggu hingga fajar datang, dengan seribu pertanyaan baru yang lahir di antara bara dan kegelapan.
Dan untuk pertama kalinya, aku tidak tahu harus percaya pada siapa.