Dijuluki "Sampah Abadi" dan dicampakkan kekasihnya demi si jenius Ma Yingjie tak membuat si gila kekuatan Ji Zhen menyerah. Di puncak dinginnya Gunung Bingfeng, ia mengikat kontrak darah dengan Zulong sang Dewa Naga Keabadian demi menjadi kultivator terkuat.
"Dunia ingin aku merangkak? Maka aku akan menaklukkannya lebih dulu!"
[Like, vote dan komentar sangat bermanfaat bagi kelanjutan cerita. Selamat membaca]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11: Tantangan Balas Dendam
Malam itu udara terasa menusuk, namun hawa dingin yang paling tajam justru berasal dari dalam tubuhnya sendiri. Setiap tarikan napas memicu rasa perih di sepanjang meridian dada, sisa dari latihan Pemurnian Es Dalam yang baru saja ia jalani di hutan belakang. Meskipun jalur energinya terasa lebih stabil dibandingkan kemarin, retakan-retakan halus itu masih menuntut perhatian besar. Tepat saat tangannya hendak menutup pintu kamarnya, sebuah suara memanggil dari kegelapan sudut koridor luar.
“Masih berani kembali ke sini, Ji Zhen?”
Tang Wei melangkah ke arahnya. Tidak ada lagi sisa-sisa kesombongan yang dulu ia pamerkan di arena terbuka. Wajahnya terlihat tirus, matanya merah karena kurang tidur dan dendam yang sudah membusuk. Pemuda itu tidak sendirian, di belakangnya beberapa murid cecunguk Ma Yingjie berdiri dengan tangan bersedekap, membentuk barisan yang menutup jalan keluar.
“Bukankah seharusnya aku yang bertanya begitu?” Ji Zhen tidak perlu berpikir jauh-jauh, sebuah seringai tipis dengan mudahnya tersungging di wajahnya yang pucat. “Sepertinya kekalahan waktu itu belum cukup untuk membuatmu sadar akan posisi.”
“Tutup mulutmu! Kemarin itu hanya keberuntungan kotor!” raung Tang Wei. Ia melemparkan sebuah sarung tangan ke lantai. “Arena latihan terpencil, sekarang juga. Jika kau menolak, aku akan memastikan ibumu tidak tenang tinggal di kaki gunung itu.”
Mendengar ancaman terhadap ibunya, sorot mata Ji Zhen berubah. Hawa es yang murni mendadak merembes dari pori-pori kulitnya, membekukan embun yang menempel di dinding kayu. “Kau baru saja menandatangani surat kematianmu sendiri, Tang Wei.”
Arena latihan terpencil itu hanya berupa lahan terbuka yang dikelilingi pagar batu tua. Tidak ada obor yang menyala, hanya cahaya bulan yang pucat layaknya nanah yang dipaksa keluar untuk menerangi dataran berbatu. Di tribun atas yang gelap, Ji Zhen bisa merasakan kehadiran beberapa orang tambahan. Yang Huiqing ada di sana, berdiri dengan tangan yang saling meremas, wajahnya menunjukkan kegelisahan yang memuakkan. Dan tepat sebelahnya, ia tahu Ma Yingjie sedang menunggu kegagalannya.
Begitu wasit tidak resmi memberi tanda, Tang Wei tidak membuang waktu. Ia mengeluarkan sebuah botol kecil dan menelan isinya dalam sekali teguk. Seketika, pembuluh darah di lehernya menonjol, wajahnya memerah padam, dan energi qi yang liar meledak dari tubuhnya.
“Pil Ledakan Qi?” Ji Zhen menyipitkan mata. “Kau benar-benar putus asa sampai rela merusak fondasimu sendiri.”
Tang Wei menerjang dengan kecepatan yang tidak wajar. Pukulan-pukulannya membawa tekanan angin yang berat. Ji Zhen mencoba menangkis, namun kondisi meridiannya yang sedang dalam masa pemulihan membuatnya terdesak. Setiap benturan mengirimkan gelombang kejut yang membuat dadanya terasa sesak.
“Bodoh. Berhenti membuang tenaga untuk menahan serangannya,” Zulong berbisik tajam di dalam pikirannya. “Dia memiliki qi berlebih yang tidak bisa ia kendalikan. Gunakan Pemurnian Es Dalam. Jangan hanya bertahan, serap qi yang meluap itu saat ia menyentuhmu.”
Ji Zhen pun langsung mengerti. Saat Tang Wei meluncurkan serangan tinju berikutnya yang dilapisi cahaya putih yang menyilaukan, Ji Zhen tidak menghindar. Ia mengaktifkan Lapisan Embun Beku di telapak tangannya sebagai penyangga, lalu saat kontak terjadi, ia membuka jalur energinya lebar-lebar.
Zzzztt!
Langsung saja Tang Wei terbelalak. Ia merasakan energinya seperti tersedot ke dalam lubang hitam yang membeku. Qi yang seharusnya menghancurkan Ji Zhen justru ditarik masuk, dipaksa melewati meridian Ji Zhen yang dingin.
“Apa yang kau lakukan?! Lepaskan!” Tang Wei panik. Ia mencoba menarik tangannya, namun es yang diciptakan Ji Zhen telah merekatkan kulit mereka.
Ji Zhen tertawa jahat, sebuah suara yang terdengar mengerikan di tengah kesunyian malam. “Terima kasih atas kiriman energinya.”
Dengan satu hentakan, Ji Zhen membalikkan aliran energi tersebut, mengirimkan hawa es penyerap yang langsung mengunci seluruh titik saraf di lengan Tang Wei. Bunyi retakan terdengar jelas saat es mulai merambat masuk ke dalam pori-pori lawan. Sampai-sampai Tang Wei jatuh berlutut, wajahnya membiru, seluruh sistem energinya membeku sementara.
Namun, harga yang harus dibayar Ji Zhen sangat mahal. Teknik penyerapan itu terlalu brutal untuk fisiknya. Ia mulai merasakan sebuah titik meridian baru di dekat jantungnya robek dengan suara yang hanya bisa ia dengar sendiri. Total lima titik meridian kini rusak parah.
Sedangkan di tribun, Yang Huiqing mundur satu langkah, wajahnya pucat. Ini bukan lagi Ji Zhen yang ia kenal, yang penuh semangat dan tawa. Pria di bawah sana bertarung dengan kebengisan yang mematikan, tanpa belas kasihan sedikit pun. Di sampingnya, Ma Yingjie berdiri dengan tangan mengepal kuat, rahangnya menegas. Ia menyaksikan bagaimana Tang Wei, yang seharusnya menghancurkan Ji Zhen dengan bantuan pil, justru merangkak kalah dengan cara yang memalukan. Belum lagi setelah melihat teknik aneh yang digunakan Ji Zhen selalu bisa membuat hatinya terbakar.
“Sialan! Dasar sampah tidak berguna!” umpat Ma Yingjie.
Saat Yang Huiqing mencoba menyentuh lengan Ma Yingjie untuk menenangkannya. “Sayang… tenangkan dirimu. Semua orang melihat—”
Ma Yingjie justru menepis tangan gadis itu dengan kasar. “Jangan sentuh aku! Dia pasti menggunakan cara iblis!”
Yang Huiqing tertegun, menatap Ma Yingjie dengan rasa ragu yang mulai tumbuh. Ia tidak menyangka pria yang selama ini terlihat begitu tenang bisa menjadi begitu beringas saat egonya tersentuh.
Adapun Ji Zhen berdiri gagah di tengah arena, napasnya berat dan uap dingin keluar dari mulutnya. Ia menatap Tang Wei yang tergeletak tidak berdaya. “Kau kalah lagi. Dan kali ini, tidak ada alasan. Besok… giliran Ma Yingjie.”
“Kau terlalu nekat, Bocah,” Zulong memperingatkan saat Ji Zhen berjalan kembali dengan tertatih. “Tubuhmu seperti pedang yang ditempa terlalu cepat. Kuat di permukaan, tapi retak di dalam. Aku akan memberimu wawasan baru: Es Naga Keabadian. Teknik ini bisa membekukan luka internalmu untuk mempercepat regenerasi. Tapi ingat, ini membebani jiwamu. Gunakan ini dengan bijak atau kau akan kehilangan kewarasanmu.”
Saat diperjalanan pulang, tiba-tiba saja, Lian Shu muncul dari balik bayangan pohon, memegang sebuah kantong. “Sejak tadi aku mengikuti kalian. Aku menemukan ini di tempat pedagang gelap tadi. Sebuah bukti pembelian Pil Ledakan Qi oleh Tang Wei.”
Lian Shu menatap Ji Zhen dengan tatapan khawatir yang jarang ia tunjukkan. “Gunakan ini untuk melaporkan Tang Wei ke tetua. Biarkan dia yang kena hukuman, bukan kau karena menggunakan teknik yang… mencurigakan ini.”
Ji Zhen menatap kantong itu sesaat, sebelum mengangguk. “Aku mengerti. Terima kasih, Lian Shu.”
Strategi ini masuk akal untuk mengalihkan perhatian dari kemampuannya yang tidak wajar.
Pagi harinya, laporan itu sampai ke tangan Patriark Fei Wang. Suasana aula besar menjadi sangat tegang saat Ma Yingjie tiba-tiba muncul di tengah pemeriksaan.
“Bagaimana Ji Zhen bisa menang, Patriark?!” tuduh Ma Yingjie dengan suara menggelegar. “Bukankah dia yang seharusnya diselidiki? Tekniknya tidak normal! Tidak mungkin murid luar memiliki kekuatan seperti itu kecuali dia menggunakan cara sesat!”
Patriark Fei Wang menatap keduanya dengan tajam. Aura tingkat Pemahaman Dao miliknya menekan seluruh ruangan. “Cukup. Bukti tentang Tang Wei sudah jelas, dia akan dihukum karena menggunakan pil ilegal. Tapi Ji Zhen… Ma Yingjie ada benarnya. Kekuatanmu berkembang terlalu tidak wajar.”
Patriark mengalihkan pandangannya pada Ji Zhen yang tetap berdiri tenang tanpa rasa takut. “Aku akan meminta Tetua Penyembuhan memeriksa seluruh kultivasimu secara mendalam besok. Jika ada yang tidak wajar, kau tahu konsekuensinya.”
Ji Zhen kembali ke kamarnya, menutup pintu dengan rapat. Lalu duduk di tempat tidurnya sembari menatap tiga pil pengumpul qi pemberian Yun Xia yang tersusun rapi. Tantangan dari Ma Yingjie telah naik ke level yang lebih berbahaya, melibatkan otoritas tertinggi sekte. Namun, alih-alih merasa takut, Ji Zhen justru merasakan api ambisi yang semakin membara di dadanya. Ia akan melewati pemeriksaan ini, ia akan melewati Ma Yingjie, dan ia akan mencapai puncak, apa pun harganya.