Serangkaian pembunuhan berantai dengan pola nyaris sempurna mengguncang kota. Tidak ada motif jelas, tidak ada jejak berarti—hanya detail yang tersusun terlalu rapi untuk disebut kebetulan.
Karina, penyelidik muda dengan insting tajam, ditugaskan memimpin kasus tersebut. Ketika seorang tersangka berhasil ditangkap dan situasi kembali tenang, semua orang percaya permainan telah berakhir.
Kecuali Karina.
Ada celah kecil dalam pola yang mengganggunya. Sebuah kemungkinan bahwa kebenaran belum sepenuhnya terungkap. Semakin ia menyelidiki, semakin ia menyadari bahwa kasus ini bukan hanya tentang menemukan pelaku—melainkan tentang siapa yang sebenarnya mengendalikan permainan.
Dan dalam permainan yang dibangun dengan presisi seperti ini, kemenangan mungkin hanyalah awal dari sesuatu yang lebih besar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M. A. K, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20 - Kesunyian
Suara televisi memenuhi ruang rapat kepolisian.
“Sudah lebih dari dua minggu sejak tersangka utama kasus pembunuhan berantai berhasil diamankan. Publik kini menunggu proses hukum berjalan dan berharap tidak ada lagi korban berikutnya.”
Cuplikan gambar memperlihatkan Arga dengan rompi tahanan, wajahnya tertunduk saat digiring melewati lorong kantor polisi. Kilatan kamera wartawan menyorot tanpa ampun.
“Apakah kepolisian benar-benar yakin bahwa pelaku sudah tertangkap? Ataukah ada kemungkinan jaringan lain yang belum terungkap?”
Layar mati.
Ruangan kembali hening.
Karina berdiri di depan meja panjang, kedua tangannya bertumpu di permukaan kayu. Di sekelilingnya, beberapa anggota tim menunggu instruksi lanjutan.
“Tidak ada pembunuhan baru,” ujar salah satu penyidik.
Tiga minggu.
Nol korban.
Nol pesan.
Statistik yang seharusnya melegakan.
Karina mengangguk pelan. “Tetap patroli seperti biasa. Jangan turunkan ritme.”
“Bukannya kasusnya sudah—”
“Belum.” Suaranya datar. “Belum sampai saya yakin.”
Tak ada yang membantah.
Ia meninggalkan ruangan dengan langkah terukur, tapi ada sesuatu yang menempel di pikirannya. Sebuah kekosongan yang tidak terasa seperti akhir—melainkan seperti jeda.
Dan jeda itu terlalu rapi.
...----------------...
Ruang tahanan berbau besi dan lembap.
Arga duduk di balik jeruji, kedua tangannya saling menggenggam. Wajahnya pucat, matanya merah bukan karena tangis, melainkan kurang tidur.
Karina berdiri di luar sel, menatapnya tanpa ekspresi.
“Kamu terlihat tenang,” katanya akhirnya.
Arga tertawa pelan. “Tenang?” Ia menggeleng. “Tidak. Saya hanya sadar percuma menjelaskan sesuatu yang tidak ingin Anda dengar.”
“Kamu bilang kamu tidak tahu apa-apa.”
“Karena memang tidak tahu.”
Karina mengamati gerak tubuhnya. Denyut nadi di leher. Kedipan mata. Pola napas.
Semua konsisten.
Tidak ada reaksi defensif berlebihan. Tidak ada mikroekspresi khas seseorang yang sedang membangun kebohongan.
Terlalu bersih.
“Kamu tahu apa yang aneh?” lanjut Arga pelan. “Sejak saya ditahan… semuanya berhenti.”
Karina diam.
“Kalau saya pelakunya, bukankah itu bukti yang bagus untuk Anda?” Arga menatap lurus. “Tapi kalau bukan?”
Hening.
“Pelakunya masih bebas,” bisik Arga. “Dan dia sedang menunggu.”
“Menunggu apa?”
Arga tersenyum tipis—bukan senyum percaya diri, melainkan senyum seseorang yang tak lagi punya apa-apa untuk hilang.
“Menunggu Anda yakin.”
...----------------...
Karina keluar dari ruang tahanan tanpa menjawab.
Di lorong, langkahnya terhenti sesaat.
Menunggu Anda yakin.
Kalimat itu seperti serpihan kaca kecil yang menempel di pikirannya.
...----------------...
Malam itu ia tidak langsung pulang.
Ia kembali membuka berkas lama. Foto-foto korban disusun ulang. Benang merah yang pernah ia tarik perlahan ia longgarkan kembali.
Polanya tetap konsisten.
Urutan waktu.
Pemilihan lokasi.
Jarak antar kejadian.
Semuanya logis.
Terlalu logis.
Karina menatap papan investigasi. Ia mendekat, memiringkan kepala sedikit.
Lalu ia menyadari sesuatu yang selama ini tak ia perhatikan.
Tidak ada improvisasi.
Setiap pembunuhan terasa seperti… demonstrasi.
Seolah pelaku ingin menunjukkan bahwa ia mampu.
Bukan marah.
Bukan impulsif.
Melainkan terkendali.
Dan sejak Arga ditangkap—
Tidak ada lagi yang perlu dibuktikan.
Karina merasakan sesuatu yang lebih mengganggu dari rasa takut.
Rasa dipantau.
...****************...
Di tempat lain, seseorang duduk dalam ruangan redup.
Televisi menampilkan tayangan ulang konferensi pers penangkapan Arga.
Volume dikecilkan.
Tangan pria itu terlipat rapi di atas meja. Wajahnya nyaris tak bergerak saat kilatan kamera wartawan muncul di layar.
Ia mematikan televisi.
Sunyi.
Lalu ia mengambil ponsel, membuka sebuah catatan kecil.
Hanya satu kalimat tertulis di sana:
Tahap pertama selesai.
Senyumnya tipis. Tidak puas. Tidak lega.
Hanya terkonfirmasi.
Keesokan harinya, Karina menghadiri rapat evaluasi dengan pimpinan.
“Tidak ada insiden lanjutan,” ujar atasannya. “Tekanan media mulai menurun. Kita bisa mengalihkan fokus ke kasus lain.”
Karina mengangguk, tapi tidak sepenuhnya setuju.
“Menurut saya,” katanya tenang, “kita belum bisa menutup kemungkinan adanya keterlibatan pihak lain.”
“Bukti mengarah ke satu orang.”
“Bukti bisa diarahkan.”
Ruangan hening.
Atasannya menatapnya lebih lama dari biasanya. “Kamu terdengar ragu.”
Karina terdiam sejenak.
Ia bukan ragu.
Ia hanya… belum selesai.
...****************...
Malam kembali turun.
Karina berdiri di depan jendela rumahnya. Lampu-lampu kota menyala seperti pola acak yang sebenarnya tidak pernah benar-benar acak.
Ia memejamkan mata.
Mencoba merasakan ulang instingnya saat pertama kali membaca kasus ini.
Ada sesuatu yang berbeda sekarang.
Bukan karena bukti berubah.
Tapi karena suasana berubah.
Terlalu tenang.
Dan ketenangan yang muncul setelah kekacauan besar sering kali bukan tanda kemenangan.
Melainkan persiapan.
Karina membuka matanya.
Jika ini permainan, maka fase ini adalah jeda yang disengaja.
Pertanyaannya bukan lagi siapa pelakunya.
Pertanyaannya adalah—
Apa yang sedang ia tunggu?
Di sudut kota yang lain, pria itu kembali menulis satu kalimat baru di bawah catatan sebelumnya.
Subjek mulai meragukan pola. Respons sesuai prediksi.
Ia meletakkan pena.
Permainan belum selesai.
Ia hanya memberi ruang.
Karena dalam keheningan, manusia cenderung membuat keputusan paling berbahaya.
Dan ia ingin melihat keputusan apa yang akan Karina ambil selanjutnya.
Lampu ruangan dipadamkan.
Gelap.
Tapi permainan tetap berjalan.
smg karina selamat. ternyata yg jahat org terdekat. Keren thor semangat y