Thomas Watson—Presiden Amerika Serikat termuda yang pernah menjabat, dengan approval rating 91% dan dijuluki "The People's President" ia meninggal dalam serangan jantung mendadak di usia 52 tahun. Namun kematiannya bukanlah akhir.
Ia terbangun dalam tubuh Arthurian Vancroft, satu-satunya Archduke di Kekaisaran Valcrest—seorang legenda hidup yang dijuluki "The Crimson Aegis" karena kehebatannya yang mampu memusnahkan pasukan iblis sendirian. Tapi ada masalah besar: tubuh ini sekarat.
Dua bulan lalu, Arthur bertarung melawan Demon god Zarathos dan menang—tetapi dengan harga mengerikan. Dia kehilangan 92% kekuatannya.
Lebih buruk lagi? Apapun yang terjadi tidak ada yang boleh tahu.
Jika musuh-musuh politiknya—para Duke serakah, bangsawan korup, dan faksi-faksi yang iri dengan kekuasaannya yang hampir setara Kaisar—mengetahui kelemahannya, mereka pasti tidak akan tinggal diam.
bagaimana kisah selanjutnya? Ayo kita lihat bersama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BlueFlame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 14. Niat membunuh
Pagi datang bersama kabut tipis yang menyelimuti Fortress of Scarlet Dawn. Udara terasa lembap dan dingin, menyusup melalui celah jendela tinggi yang menghadap ke halaman benteng. Arthur terbangun lebih awal dari biasanya. Tubuhnya masih menyisakan nyeri sisa pemulihan, tetapi tidurnya semalam terasa jauh lebih nyenyak.
Ia duduk perlahan di tepi tempat tidur, menarik napas panjang.
Mungkin karena untuk pertama kalinya sejak aku bertransmigrasi, aku tidak tidur dengan memikul beban sendirian, pikirnya.
Sebuah senyum tipis terukir di wajahnya saat mengingat Valerine. Wajah gadis itu yang memerah, sikapnya yang defensif dan penuh penyangkalan—namun jelas memperlihatkan kepedulian.
Sekarang aku punya sekutu. Meski sekutu yang sangat tsundere, batinnya ringan.
Tok. Tok. Tok.
Ketukan yang familiar terdengar di pintu.
“Masuk.”
Pintu terbuka perlahan, memperlihatkan sosok Sebastian, Grand Advisor yang selalu tampak rapi dan terukur. Di tangannya, setumpuk dokumen—lebih tebal dari biasanya. Ekspresinya serius. Bahkan lebih serius dari hari sebelumnya.
“Selamat pagi, Yang Mulia,” sapanya sambil menundukkan kepala singkat. “Maaf mengganggu sepagi ini, tetapi ada beberapa hal mendesak yang harus segera dibahas.”
Arthur bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju meja kerjanya. Ia mengenakan jubah sutra tipis di atas pakaian tidurnya sebelum duduk dengan tenang.
“Lebih mendesak dari panggilan kekaisaran?” tanyanya dengan nada datar namun tajam.
“Jenisnya berbeda,” jawab Sebastian sambil meletakkan tumpukan dokumen di atas meja. “Ini menyangkut kondisi internal wilayah kita. Dan… surat-surat yang baru tiba tadi malam.”
Arthur menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap dokumen-dokumen itu dengan sorot mata yang lebih serius.
“Mulai dari kondisi internal.”
Sebastian membuka dokumen pertama. Sampulnya tebal, disegel lambang kediaman Vancroft.
“Ini adalah Laporan Komprehensif Estate yang saya susun selama dua minggu terakhir, sejak Yang Mulia sadar pasca-kolaps. Saya menahan laporan ini karena mempertimbangkan kondisi kesehatan Yang Mulia. Namun, mengingat adanya panggilan kekaisaran…”
Ia berhenti sejenak, menatap Arthur dengan tatapan tegas.
“…Yang Mulia perlu mengetahui seluruh kebenarannya.”
Arthur mengambil dokumen itu tanpa ragu. Ia membuka halaman pertama dan mulai membaca
Setiap baris yang Arthur baca membuat ekspresinya perlahan mengeras. Tatapannya tetap tenang, tetapi sorot matanya berubah tajam dan dingin .
Sebastian berdiri tegak di hadapannya, lalu mulai menjelaskan isi perkamen tersebut dengan perlahan.
“Selama dua bulan Yang Mulia beristirahat pasca-pertempuran melawan Dewa Iblis Zarathos, wilayah Archduchy kita mengalami pengabaian yang signifikan akibat ketiadaan kepemimpinan langsung.”
Ia melanjutkan tanpa jeda.
“Duchess Valerine telah melakukan yang terbaik untuk mempertahankan operasi dasar pemerintahan. Namun tanpa otoritas penuh dari Yang Mulia, banyak keputusan strategis tertunda atau bahkan diabaikan.”
Arthur membalik halaman berikutnya.
“Salah satu sektor yang paling terdampak adalah infrastruktur,” lanjut Sebastian. “Tujuh jembatan utama membutuhkan perbaikan mendesak. Jalan raya utama mengalami kerusakan cukup parah hingga para pedagang mengajukan keluhan resmi karena gerobak mereka sulit melintas. Sistem saluran pembuangan di Crimsonvale juga mengalami penyumbatan, menciptakan risiko kesehatan publik.”
Nada suara Sebastian tetap profesional, tetapi ada beban yang tidak dapat disembunyikan.
“Di Distrik Walvis, dua belas keluarga dilaporkan mengalami kelaparan akut. Sementara itu, klinik kesehatan di tiga kota besar kekurangan persediaan obat. Jika tidak segera ditangani, angka mortalitas bisa meningkat.”
Arthur terus membaca sampai halaman terakhir.
“Total estimasi kerugian dalam dua bulan terakhir mencapai 1,8 juta koin emas,” tutup Sebastian.
Ruangan itu hening.
Arthur menutup dokumen tersebut perlahan dan meletakkannya kembali di atas meja. Wajahnya tidak menunjukkan ledakan amarah ataupun kepanikan. Tidak ada gerakan impulsif. Tidak ada kata-kata kasar.
Namun Sebastian, yang telah mengabdi selama puluhan tahun, merasakan sesuatu yang berbeda.
Udara di ruangan itu terasa semakin berat—seperti tekanan sebelum badai besar benar-benar pecah.
Arthur berdiri dari kursinya dan berjalan menuju jendela. Kabut pagi mulai menipis, memperlihatkan bentangan wilayah Archduchy di kejauhan. Ladang, menara pengawas, atap-atap rumah rakyatnya.
Tangannya terlipat di belakang punggung.
“Dua belas keluarga kelaparan,” ucapnya pelan.
“Di wilayahku.”
“Yang Mulia—”
“Dua belas,” ulang Arthur. Nadanya tetap terkendali, tetapi ada ketajaman yang nyaris terasa secara fisik. “Dua belas keluarga—orang-orang yang berada di bawah perlindungan kediaman Vancroft—mengalami kelaparan, sementara dapur istana bahkan membuang makanan yang membusuk.”
Ia berbalik menatap Sebastian.
“Kenapa aku tidak diberitahu lebih awal?”
Sebastian menelan ludah. “Yang Mulia baru saja sadar dari kondisi kritis. Tabib dan saya sepakat untuk tidak memberikan tekanan tambahan sampai—”
“Sampai kondisiku stabil?” potong Arthur tenang.
Langkahnya mendekat, perlahan, tetapi auranya membuat jarak terasa menyempit.
“Sebastian, rakyat kita kelaparan. Itu bukan ‘tekanan tambahan’. Itu prioritas tertinggi. Sejak dulu aku sudah mengatakannya berulang kali—hal paling terlarang yang tidak boleh terjadi di Archduchy adalah rakyat kelaparan.”
Suaranya tidak meninggi. Tidak ada bentakan.
Namun intensitasnya membuat Sebastian secara refleks mengambil setengah langkah mundur.
Arthur menarik napas dalam-dalam.
Ini bukan salah Sebastian. Dia melakukan yang terbaik. Fokus pada solusi, bukan mencari kambing hitam.
Ia menutup mata sesaat, lalu berbicara lebih lembut.
“Maaf. Aku tidak bermaksud menyalahkanmu. Aku tahu kau telah melakukan yang terbaik.”
Sebastian segera membungkuk lebih dalam. “Tidak, Yang Mulia benar. Saya seharusnya—”
“Sudah.” Arthur mengangkat tangan, menghentikannya. “Yang penting sekarang adalah tindakan.”
Ia kembali ke meja, mengambil pena dan selembar perkamen kosong. Tinta bergerak cepat mengikuti pikirannya.
“Pertama—dua belas keluarga yang kelaparan di walvis. Kirim paket bantuan segera, mulai dari gandum, daging awetan, obat-obatan dasar. Jika perlu, gunakan dana dari harta pribadiku.”
Sebastian mencatat secepat mungkin.
“Kedua—infrastruktur. Setujui seluruh dana perbaikan yang tertunda. Tujuh jembatan, jalan raya utama, sistem saluran pembuangan di Crimsonvale. Semua. Gunakan kas Archduchy untuk ini.”
Sebastian hampir tidak mengangkat pena dari kertas.
Arthur meletakkan penanya.
“Wilayah ini adalah tanggung jawabku. Rakyat adalah tanggung jawabku.”
Tatapannya kembali mengeras—bukan karena marah.
“Jadikan ini pelajaran. Tidak peduli seburuk apa pun keadaanku, laporkan hal seperti ini segera. Bahkan jika aku sekarat sekalipun.”
Sebastian menatapnya dengan mata berbinar—campuran kelegaan, kekaguman, dan kebanggaan yang tak disembunyikan.
“Saya akan melaksanakan semua instruksi segera, Yang Mulia.”
“Bagus.” Arthur mengangguk singkat. “Ada lagi yang perlu disampaikan?”
Ekspresi Sebastian berubah. Ia mengambil tiga amplop dari tumpukan dokumen. Masing-masing disegel dengan lilin berbeda: biru gelap, hijau zamrud, dan emas.
“Ini tiba semalam. Melalui kurir resmi.”
Arthur mengambil amplop pertama—segel biru gelap dengan lambang serigala.
Duke Willy Torrhen.
Ia membuka surat itu dan membacanya dalam diam.
Sebastian menjelaskan dengan hati-hati, “Duke Torrhen menawarkan bantuan dalam bentuk apa pun yang Yang Mulia perlukan. Ia menyatakan bahwa jika wilayah Vancroft membutuhkan dukungan militer sementara untuk menjaga perbatasan selama masa pemulihan, pasukannya siap dikerahkan.”
Arthur tidak berkata apa-apa.
“Beliau menekankan bahwa ini murni sebagai gestur itikad baik antar sekutu. Tanpa syarat tersembunyi.”
Hening.
Arthur meletakkan surat itu dan mengambil amplop kedua—segel hijau zamrud milik Marquis Blackwell.
Setelah dibuka, Sebastian kembali berbicara.
“Marquis membahas penurunan ekonomi di wilayah Vancroft pasca-perang. Ia menawarkan kemitraan eksklusif melalui EMC untuk menangani seluruh operasi perdagangan di Pelabuhan Crimsonvale.”
Sebastian menarik napas tipis.
“Skemanya adalah pembagian pendapatan: tujuh puluh persen untuk EMC, tiga puluh persen untuk Archduchy. Kontrak awal sepuluh tahun, dapat diperpanjang. Ia menyatakan ini akan meringankan beban administratif Yang Mulia selama pemulihan, sekaligus menjaga pelabuhan tetap operasional dan menguntungkan.”
Arthur sudah membuka amplop ketiga—segel emas milik Count Ashford, Menteri Dalam Negeri Kekaisaran.
Sebastian melanjutkan dengan nada lebih berat.
“Count Ashford menyatakan bahwa sebagai Menteri Dalam Negeri, ia berkewajiban memastikan seluruh wilayah kekaisaran berfungsi optimal, terutama Archduchy Vancroft yang vital.”
Ia berhenti sejenak.
“Beliau menerima laporan tentang beberapa inefisiensi administratif selama dua bulan terakhir. Ia menyatakan memahami kondisi kesehatan Yang Mulia, namun demi kepentingan rakyat dan stabilitas kekaisaran, ia menawarkan konsultasi administratif.”
“Beberapa staf terbaik dari kantornya dapat ditempatkan sementara di Crimsonvale untuk membantu merapikan operasional.”
Sebastian menambahkan pelan, “Tanpa biaya.”
Arthur meletakkan surat terakhir dengan gerakan yang sangat terkendali.
Ruangan itu tenggelam dalam keheningan.
Sebastian mulai merasa tidak nyaman.
“Mereka bermain dengan ku menggunakan rakyatku,” ucap Arthur akhirnya.
Suaranya rendah.
Udara di ruangan terasa berubah. Lebih berat. Seolah gravitasi meningkat tanpa terlihat.
“Wilayah sedang kesulitan,” lanjutnya, masih membelakangi Sebastian. “Ekonomi menurun. Rakyat kelaparan. Infrastruktur runtuh.”
Ia mengepalkan tangan di belakang punggungnya.
“Dan mereka—dengan kurang ajarnya—melihat itu sebagai peluang.”
Nada suaranya tetap tenang.
Namun ada sesuatu di bawah ketenangan itu. Sesuatu yang dingin dan terasa begitu menakutkan.
“Torrhen menawarkan ‘bantuan militer’ untuk menempatkan pasukannya di perbatasanku.”
“Blackwell menawarkan ‘kemitraan’ untuk menguasai pelabuhanku.”
“Ashford menawarkan ‘konsultasi’ untuk menanam orang-orangnya di jantung administrasiku.”
Arthur mengangkat wajahnya perlahan.
Mata merahnya menyala terang, namun cahaya itu bukan dari sihir. Cahaya itu muncul dari niat membunuh yang begitu pekat, sebuah aura yang merayap dingin dan menekan jiwa siapa pun yang berani menatapnya.
Aura dari seseorang yang telah berdiri di atas tumpukan mayat, yang telah membunuh jutaan nyawa dengan tangan sendiri.
Sebastian merasa napasnya tercekat. Ia ingin melangkah mundur tapi tubuhnya tidak merespons. Seperti seekor kelinci yang ditatap predator buas.
'Ini... ini niat membunuh,' pikir Sebastian, keringat dingin mengalir di pelipis.
Arthur tidak meninggikan suara. Namun setiap kata yang ia ucapkan terdengar seperti vonis kematian.
“Mereka lupa,” katanya pelan, “bahwa Vancroft tidak pernah bertahan karena belas kasihan siapa pun.”
“Mereka pikir karena aku tidak bergerak selama dua bulan terakhir saat mereka mulai memainkan langkah-langkah kecil,” ujar Arthur dengan suara sedingin es, “aku menjadi lemah dan penakut.”
Tiba-tiba ia tertawa terbahak-bahak.
Tawa itu tidak mengandung kegembiraan. Tidak pula kehilangan kendali.
“Sialan, Kurang ajar. Benar-benar mencari kematian.”
Niat membunuh memenuhi ruangan seperti kabut pekat.
Sebastian merasakan lututnya hampir terlipat dan hampir berlutut. Napasnya menjadi pendek.
Ya dewa…
Arthur pernah merasakan kemarahan seperti ini sebelumnya—di kehidupan lamanya, saat ia masih bernama Thomas. Saat sebuah penembakan massal merenggut banyak korban tak bersalah. Saat itu ia hampir kehilangan dirinya sendiri, memburu pelaku dengan kegilaan yang lahir dari amarah dan rasa tidak adil.
Perasaan itu kini kembali.
Arthur memejamkan mata.
Ia menarik napas panjang.
Sekali.
Dua kali.
Dan seperti sakelar yang dipadamkan, aura itu lenyap. Tekanan menghilang. Udara kembali ringan, seolah tidak pernah ada kehadiran mematikan barusan.
Arthur membuka mata perlahan.
Sebastian terengah pelan, tubuhnya masih gemetar tipis. “Y–Yang Mulia…”
Arthur menatapnya. Mata merahnya kembali normal.
“Maaf, Sebastian. Aku tidak bermaksud membiarkan auraku bocor seperti itu. Aku hanya… sangat marah.”
Sebastian menggeleng cepat. “T-Tidak, Yang Mulia. Jangan meminta maaf. Apa… apa instruksi Yang Mulia untuk membalas surat mereka?”
Arthur berjalan kembali ke meja. Gerakannya tenang.
Ia mengambil pena, menarik selembar perkamen baru, dan mulai menulis.
...***...
🤭🤭