NovelToon NovelToon
Glitz And Glamour

Glitz And Glamour

Status: tamat
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Duniahiburan / Percintaan Konglomerat / Fantasi Wanita / Berondong / Playboy / Tamat
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Di jagat hiburan, nama Leonard Abelano bukan sekadar aktor, dia adalah jaminan rating. Setiap drama yang dibintanginya pasti menyentuh angka dua digit. Leo, begitu publik memanggilnya, punya segalanya: struktur wajah yang dipahat sempurna, status pewaris takhta bisnis Abelano Group, dan sebuah reputasi yang membuatnya dijuluki "Duta Kokop Nasional."

Bagi penonton, cara Leo mencium lawan mainnya adalah seni. Namun bagi Claire Odette Aimo, itu adalah ancaman kesehatan masyarakat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Teguran Sang mommy

Mansion keluarga Abelano-Aimo malam itu terasa sangat sunyi, namun atmosfer di ruang makan mewah itu terasa menekan.

Sean duduk di kursi kebesarannya, memainkan garpu tanpa menyentuh steak wagyu di depannya. Pikirannya masih tertinggal di kelas tadi pagi—pada kancing kemeja yang terbuka dan kata-kata "mual" dari bibir Eleanor.

Claire, yang duduk di ujung meja, memperhatikan putranya dengan tatapan tajam seorang ibu. Meskipun dia adalah wanita karir yang sibuk, tidak ada satu pun berita di Manhattan terutama soal Sean yang luput dari telinganya.

"Sean," panggil Claire lembut, namun penuh wibawa.

Sean mendongak pelan. "Ya, Mommy?"

"Mommy dengar rumor lagi hari ini. Katanya putraku yang tampan ini menghabiskan malam panjang dengan model Victoria's Secret?" Claire menyesap anggurnya perlahan, matanya mengunci mata Sean.

"Daddy-mu dulu memang idola, tapi dia tahu cara menjaga nama baik keluarga. Jadi, Mommy mau tanya... sudah berapa lubang yang kamu coba minggu ini sampai beritanya seheboh itu?"

Mendengar kata "lubang" keluar dari mulut Mommy-nya, Sean hampir tersedak. Kata itu mengingatkannya tepat pada hinaan Eleanor tadi siang.

"Itu cuma sampah, Mom. Mommy tahu sendiri gimana media sosial sekarang," jawab Sean dingin, berusaha menjaga ekspresi datarnya.

"Mommy tahu media sosial itu sampah," Claire meletakkan gelasnya, "Tapi Mommy juga tahu putra Mommy. Kamu sengaja membiarkan rumor itu menyebar, kan? Untuk apa? Untuk terlihat seperti pria dewasa yang sudah berpengalaman?"

Claire bangkit dari kursinya, berjalan mendekat dan mengusap bahu Sean. "Ingat satu hal, Sean. Seorang Abelano tidak pernah butuh validasi dengan cara tidur sembarangan. Dan seorang Aimo tidak pernah membiarkan wanita yang benar-benar dia cintai merasa jijik padanya karena reputasi murahan."

Sean terdiam seribu bahasa. Kalimat terakhir Claire menghujam tepat di jantungnya. Jijik. Itu kata yang sama yang digunakan Eleanor.

"Kalau ada cewek yang kamu taksir, dan dia percaya rumor itu... kamu baru saja membunuh kesempatanmu sendiri, Sean Manuel," bisik Claire dengan senyum penuh arti sebelum meninggalkan ruang makan.

Sean termenung sendirian di bawah lampu kristal yang megah. Dia meraih ponselnya, melihat foto Eleanor lagi. Rasa sesak itu kembali muncul.

Dia menyesal telah menciptakan image "bad boy" yang justru membuatnya terlihat menjijikkan di mata satu-satunya gadis yang berhasil membuatnya berdebar.

"Gue harus jelasin ke dia," gumam Sean pada dirinya sendiri. "Gue nggak bisa biarin dia mikir gue sekotor itu."

Malam itu juga, Sean tidak bisa tenang. Perkataan Mommy-nya dan tatapan jijik Eleanor terus menghantuinya.

Ia menyambar kunci mobil Koenigsegg-nya dan membelah jalanan Manhattan menuju mansion keluarga Riccardo.

Sean berdiri di depan pintu besar mansion Riccardo, mengabaikan protokol sopan santun yang biasa diajarkan kakeknya. Ia menekan bel berkali-kali sampai seorang pelayan membukakan pintu, dan tak lama kemudian, Eleanor muncul dengan piyama sutra tertutup dan wajah yang sangat tidak bersahabat.

"Mau ngapain lagi ke sini, Pria Mulut Beracun?" tanya Eleanor dingin, menyilangkan tangan di depan dada. "Belum puas pamer soal model-model Lo?"

"Gue perlu bicara. Penting," ucap Sean dengan suara rendah namun menuntut.

Eleanor menghela napas, namun ia membiarkan Sean masuk ke ruang tamu depan.

Begitu pintu tertutup, Sean langsung berbalik menghadap Eleanor.

"Soal rumor semalam... dan semua rumor selama ini. Itu semua bohong, Eleanor," ucap Sean tanpa basa-basi.

Eleanor tertawa sinis, tawa yang penuh dengan ketidaksukaan. "Bohong? Sean, semua orang di NYIS liat mobil Lo, liat gimana model-model itu nempel sama Lo. Lo ke sini mau cuci tangan? Mau bilang kalau Lo itu sebenernya cowok baik-baik setelah Lo sendiri yang pamerin ke gue?"

"Gue sengaja biarin rumor itu ada supaya orang nggak berani deket-deket gue! Supaya cewek-cewek haus harta itu nggak ngerasa punya kesempatan!" Sean maju satu langkah, matanya menatap Eleanor dengan intensitas yang jujur.

"Semalam gue nggak tidur sama siapa pun. Gue di kamar, sendirian, cuma liatin... sesuatu. Nggak ada malam panjang, nggak ada model, dan nggak ada satu pun lubang yang pernah gue coba."

Eleanor menatap Sean dari atas ke bawah, bibirnya melengkung membentuk senyuman meremehkan. "Detail banget ya akting Lo. Lo pikir gue sebodoh itu? Cowok kayak Lo, dengan tampang kayak gitu, punya akses ke segalanya, dan Lo mau gue percaya kalau Lo masih... bersih?"

"Gue nggak pernah bohong soal ini, Eleanor!" suara Sean naik satu oktaf karena frustrasi.

"Setop, Sean. Lo ke sini cuma karena ego Lo terluka gara-gara gue bilang mual, kan?" Eleanor mendekat, menunjuk dada Sean dengan jarinya.

"Lo mau gue percaya kalau Sean Manuel yang tak tersentuh ini ternyata masih perjaka di umur 17 tahun sementara reputasinya setinggi langit? Nice joke. Gue rasa Lo cuma takut reputasi Lo rusak di depan keluarga gue."

Sean mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras sampai terlihat urat-urat di lehernya. "Lo bener-bener nggak percaya sama gue?"

"Sedikit pun enggak," jawab Eleanor mantap. "Pria yang beneran jaga kehormatan nggak akan pernah dapet kepuasan dari rumor kotor kayak gitu. Keluar dari rumah gue, Sean. Bau model-model itu seolah masih nempel di baju Lo."

Sean terdiam, harga dirinya serasa diinjak-injak di bawah kaki Eleanor. Ia merasa sesak karena kebenaran yang ia tawarkan justru dianggap sampah.

"Oke, kalau Lo nggak percaya lewat omongan," bisik Sean, suaranya kembali mendingin namun penuh dengan janji yang berbahaya.

"Gue bakal cari cara buat buktiin ke Lo. Dan saat hari itu tiba, gue pastiin mulut tajam Lo itu bakal narik semua kata-kata kasar yang udah Lo lempar ke muka gue malam ini."

🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷

Happy reading 🥰

1
Retno Isusiloningtyas
happy ever after
Retno Isusiloningtyas
aku kok blm nerima undangannya yaaa🤭
ros 🍂: Ntar dikirimin ya kak undangannya 🤣
total 1 replies
Retno Isusiloningtyas
wow...
keren....
Retno Isusiloningtyas
seruuuuuu👍
Retno Isusiloningtyas
😍
Sweet Girl
Buktikan. Claire... dr pada mati penasaran.
Sweet Girl
Bwahahaha dibilang Duta Kokop.🤣
sasip
ngeri loh kalimat pernyataan leo: "satu²nya skenario yg ingin dipelajari sampe mati".. mantab jiwa.. 👍🏻🫣😉🤭😅
sasip
enggak nyangka ei.. novel sebagus ini masih sepi pembaca.. sy yg awalnya cuma iseng mampir gegara liat cover yg provokatif pun terhipnotis & kepengen baca terus, tapi sempetin mampir deh buat memberi semangat othor keren.. 👍🏻 TOP pake banged.. lanjut ya thor.. 🫶🏻💪🏻🫰🏻
ros 🍂: Ma'aciww sudah mampirr😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!