Han Shuo hanyalah seorang pelayan dapur di Sekte Awan Merah yang sering dihina karena bakat tulang yang buruk. Segalanya berubah ketika ia menemukan "Kitab Rasa Semesta", sebuah warisan kuno yang mengajarkan bahwa energi langit dan bumi paling murni tidak tersimpan dalam pil alkimia yang pahit, melainkan pada sari pati makhluk hidup yang diolah dengan api kuliner. Dengan sebilah pisau berkarat dan kuali tua, ia memulai perjalanan menantang maut demi mencicipi keabadian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 16 duel arang membara dan mie tarik pemutus jiwa
Matahari baru saja naik sepenggalah, namun suasana di depan Paviliun Naga Terbang sudah memanas. Bukan karena terik matahari, melainkan karena kehadiran sesosok pria tua dengan jubah putih bersih yang disulam dengan pola naga perak. Di dadanya tersemat lima lencana emas berbentuk spatula.
Dia adalah Master Yan, Koki Kepala kebanggaan Keluarga Wang, seorang praktisi kuliner tingkat Master Rasa yang juga memiliki kultivasi Inti Emas (Golden Core) Tahap Menengah.
Di hadapannya, Han Shuo masih santai mengasah pisau dapur bututnya di atas batu asahan yang diletakkan di samping selokan.
"Bocah," suara Master Yan menggelegar, bergetar dengan kekuatan Qi yang membuat penonton di sekitar merasa sesak napas. "Kau telah merusak tatanan kuliner ibukota dengan trik murahanmu. Memasukkan obat peningkat Qi ke dalam nasi goreng adalah penghinaan bagi seni memasak."
Han Shuo berhenti mengasah. Ia meniup mata pisaunya. Ting! Suara denting pisau itu memotong tekanan Qi Master Yan dengan presisi yang mengejutkan.
"Trik murahan?" Han Shuo berdiri, menatap Master Yan dengan senyum miring. "Jika kau menyebut masakan yang membuat rakyat jelata kenyang dan sehat sebagai trik, maka masakanmu yang mahal dan hambar itu adalah penipuan terorganisir."
Kerumunan bersorak. Sebagian besar adalah pelanggan kemarin yang sudah merasakan manfaat Nasi Goreng Emas Han Shuo.
"Cukup omong kosong!" Master Yan menghentakkan kakinya. Tanah di bawahnya retak. "Hari ini, di bawah sanksi hukum jalanan, aku menantangmu dalam Duel Hidup Mati Kuliner. Taruhannya adalah tangan kananmu. Jika kau kalah, kau tidak akan pernah memegang pisau lagi seumur hidupmu."
"Dan jika kau kalah?" tanya Han Shuo tenang.
"Jika aku kalah—yang mana mustahil—Paviliun Naga Terbang akan tutup selama satu bulan dan memberikan seluruh stok bahan langkanya padamu!"
Han Shuo melirik ke arah Ying yang berdiri di bayang-bayang tenda. Ying hanya mengangguk kecil, tangannya sudah berada di gagang belati, berjaga-jaga jika ada kecurangan.
"Setuju," kata Han Shuo. "Temanya?"
"Mie," jawab Master Yan dengan kilat kebencian di matanya. "Makanan yang paling menguji kekuatan fisik, kontrol Qi, dan pemahaman tentang tekstur."
Duel Dimulai: Teknik Naga vs Teknik Manusia
Dua meja besar disiapkan di tengah jalan. Master Yan memulai dengan sangat megah. Ia mengeluarkan tepung Gandum Salju Surgawi yang putihnya melebihi awan. Ia menuangkan air dari Mata Air Keabadian yang dingin.
"Lihat!" teriak seseorang di kerumunan. "Master Yan menggunakan teknik Tarian Naga Air!"
Master Yan menggerakkan tangannya dalam lingkaran lambat. Air di dalam mangkuk besar berputar, membentuk naga kecil yang masuk ke dalam gundukan tepung. Ia tidak menyentuh adonan itu dengan tangan secara langsung; ia menggunakan Qi-nya untuk meremas dan membentuk adonan di udara.
Adonan itu berputar-putar, semakin lama semakin kenyal. Dengan satu sentakan kuat, Master Yan menarik adonan itu. Sret! Sret! Sret! Dalam hitungan detik, gumpalan tepung itu berubah menjadi ribuan helai mie yang sangat halus, setipis rambut, namun tidak putus. Ini adalah Mie Rambut Dewa, teknik legendaris yang hanya bisa dilakukan oleh mereka yang memiliki kontrol Qi tingkat tinggi.
Di sisi lain, Han Shuo tampak... sangat biasa.
Ia mengambil sekarung tepung gandum kasar yang biasa dimakan petani. Ia mencampurnya dengan air sumur biasa dan sedikit air abu dari pembakaran kayu jati.
"Apa yang dia lakukan?" bisik penatua dari kerumunan. "Tepung itu terlalu kasar. Tidak mungkin bisa dijadikan mie halus."
Han Shuo tidak peduli. Ia mulai memukul adonan itu. Bukan dengan tangan, tapi dengan teknik Pukulan Seribu Riak. Setiap pukulan Han Shuo mengirimkan getaran frekuensi tinggi ke dalam molekul tepung, menghancurkan serat kasar dan menyatukan protein dengan cara yang tidak bisa dilakukan oleh teknik lembut Master Yan.
DUG! DUG! DUG!
Bunyi pukulannya seperti detak jantung raksasa.
"Ying, bumbunya!"
Ying melempar sebuah kotak kayu. Han Shuo menangkapnya dan mengeluarkan isinya: Cabai Setan Merah, Lada Hitam Neraka, dan sepotong daging sapi tua yang terlihat sangat keras.
Klimaks: Mie Tarik Pemutus Jiwa
Master Yan sudah mulai merebus mienya dalam kaldu yang terbuat dari tulang Phoenix Es. Aroma harum yang elegan menyebar, membuat orang merasa tenang dan damai. Ini adalah masakan yang "Suci".
Sementara itu, Han Shuo mulai merebus daging sapi tuanya. Namun, ia memasukkan rahasia kecil: Sambal Neraka yang ia dapatkan dari hadiah Kitab Rasa kemarin.
Tiba-tiba, dari panci Han Shuo, keluar aroma yang sangat agresif. Bau pedas yang menyengat, aroma daging yang kuat, dan sesuatu yang terasa... emosional.
Han Shuo mulai menarik mienya. Ia tidak membuatnya setipis rambut. Ia membuatnya lebar, tebal, dan tidak beraturan. Tekniknya adalah Tarikan Pemutus Jiwa.
Setiap kali ia menarik mie, ia menyalurkan kenangan tentang perjuangannya, pengkhianatan Keluarga Wang, dan rasa lapar saat ia masih menjadi budak di dapur sekte.
"Makan bukan hanya tentang rasa!" teriak Han Shuo sambil membanting mie itu ke meja. "Makan adalah tentang bertahan hidup!"
Mie itu mengeluarkan suara seperti cambuk yang membelah udara.
Penjurian: Lidah Rakyat vs Lidah Bangsawan
Tiga juri ditunjuk secara acak dari kerumunan: Seorang sarjana tua, seorang tentara bayaran, dan seorang ibu rumah tangga.
Pertama, mereka mencicipi Mie Rambut Dewa milik Master Yan.
"Luar biasa," kata si sarjana. "Rasanya sangat bersih, sangat murni. Aku merasa jiwaku melayang ke langit."
"Teksturnya sangat halus," tambah si tentara bayaran. "Ini adalah mie para dewa."
Master Yan tersenyum kemenangan. Ia menatap Han Shuo dengan jijik. "Sekarang, berikan sampahmu itu pada mereka."
Han Shuo menyajikan tiga mangkuk mie lebar dalam kuah merah kental yang berminyak. Potongan daging sapinya tampak kasar.
"Silakan," kata Han Shuo pendek.
Begitu sendok pertama masuk ke mulut sang tentara bayaran, matanya memerah. Ia berhenti mengunyah sebentar, lalu mulai makan dengan gila-gilaan.
"Ukh... hiks..." Tiba-tiba, si tentara bayaran itu menangis.
"Kenapa kau menangis?" tanya Master Yan kaget. "Apakah itu beracun?"
"Bukan..." si tentara menyeka air matanya. "Rasanya... pedas sekali, membakar lidahku. Tapi di balik rasa pedas itu, ada rasa rindu yang sangat dalam. Aku teringat pada sup buatan ibuku di desa sebelum aku pergi berperang sepuluh tahun lalu. Rasa ini... rasa ini adalah rasa perjuangan hidup!"
Ibu rumah tangga itu juga terisak. "Aku merasa dipeluk. Mie ini kasar dan tidak beraturan, seperti hidup kami yang penuh kesulitan, tapi ia memberi kami kekuatan untuk bangkit besok pagi."
Si sarjana tua menghela napas panjang, keringat bercucuran di dahi karena rasa pedas yang luar biasa. "Mie Master Yan adalah kesempurnaan yang dingin. Tapi mie anak muda ini... mie ini memiliki 'Jiwa'. Dia memasak emosi, bukan sekadar bahan."
Master Yan berteriak tak terima, "Mustahil! Emosi tidak bisa dirasakan lewat lidah kecuali dengan teknik tingkat Transformasi Dewa!"
"Kau salah, Master Yan," kata Han Shuo sambil mendekati pancinya. "Kau terlalu sibuk mengejar kesempurnaan teknik sampai kau lupa bahwa perut manusia lebih dekat ke hati daripada ke otak."
Kehancuran Paviliun Naga Terbang
Hasilnya mutlak. Tiga juri memilih Han Shuo.
"Sesuai perjanjian," Han Shuo menatap Master Yan yang kini pucat pasi dan gemetar. "Tutup restoranmu. Sekarang."
Manajer Zhao yang menonton dari pintu restoran mencoba melarikan diri, namun Ying sudah berdiri di depannya dengan belati di lehernya.
"Mau ke mana, Manajer?" bisik Ying dingin.
Keluarga Wang yang berada di dalam bayang-bayang mulai ketakutan. Kerumunan mulai berteriak, menuntut Paviliun Naga Terbang tutup. Selama bertahun-tahun, mereka telah diperas dengan harga tinggi untuk makanan yang ternyata "dingin" dan tidak punya hati dibandingkan dengan karya Han Shuo.
Master Yan jatuh berlutut. Reputasinya hancur dalam satu pagi.
Han Shuo melangkah maju dan mengambil papan nama emas Paviliun Naga Terbang. Dengan satu tangan, ia mematahkan papan kayu berharga itu menjadi dua.
KRAKK!
"Hari ini," teriak Han Shuo. "Kalian bukan lagi pemilik jalanan ini!"
Malam yang Tenang
Setelah kerumunan bubar dan Paviliun Naga Terbang digembok oleh pengawal kerajaan (atas perintah rahasia Kaisar yang memantau dari jauh), Han Shuo duduk di depan gerobaknya.
Ying membawakannya segelas teh. "Kau benar-benar melakukannya. Kau menghancurkan mereka hanya dengan mie pedas."
"Itu baru permukaan, Ying," Han Shuo menyesap tehnya. "Wang Lin tidak akan diam saja melihat sumber uangnya dihancurkan. Dia akan mengirim pembunuh, atau mungkin dia sendiri yang akan turun tangan."
Han Shuo membuka Kitab Rasa Semesta di dalam pikirannya.
[Misi Selesai: Runtuhkan Benteng Pertama]
[Hadiah: Peningkatan Kultivasi ke Pondasi Dasar Tahap Akhir (Late Foundation Establishment)]
[Teknik Baru: Lidah Penghakiman (Dapat mendeteksi kelemahan dalam teknik bela diri lawan hanya dengan mencicipi energi mereka)]
Tubuh Han Shuo bersinar sesaat. Qi di sekitarnya tersedot masuk ke dalam pori-porinya, memurnikan meridiannya lebih jauh lagi. Ia merasa sepuluh kali lebih kuat dari sebelumnya.
"Biarkan mereka datang," kata Han Shuo sambil menatap langit malam. "Semakin kuat musuhnya, semakin nikmat rasanya saat mereka 'dimasak'."
Tiba-tiba, sebuah anak panah melesat dari kegelapan, membawa sebuah surat yang tertancap di tiang tenda.
Ying dengan cepat mengambilnya dan menyerahkannya pada Han Shuo.
Han Shuo membukanya. Isinya singkat:
"Besok malam. Hutan Bambu Hitam. Jika kau ingin tahu siapa yang membunuh orang tuamu yang sebenarnya di dapur kerajaan 15 tahun lalu, datanglah sendirian. — Wang Lin."
Mata Han Shuo menyipit. Rahasia masa lalu mulai terkuak.
"Ying, siapkan pisaumu," kata Han Shuo pelan. "Besok malam, kita tidak memasak makanan. Kita akan memasak