Liora merasa dunianya runtuh dalam semalam. Baginya, Raka adalah pelabuhan terakhir, dan Salsa adalah rumah tempatnya bercerita. Namun kini, kenyataan pahit menghantamnya tanpa ampun; dua orang yang paling ia percayai justru menusuknya dari belakang dengan cara yang paling hina. Kepercayaan yang ia jaga setinggi langit, kini hancur berkeping-keping di bawah kaki tunangan dan sahabatnya sendiri.
Liora tidak pernah menyangka bahwa prinsip yang ia pegang teguh untuk menjaga kehormatan di depan Raka, justru menjadi celah bagi Salsa untuk masuk dan mengambil alih segalanya. Bagai sebuah ironi, Liora memberikan kasih sayang yang tulus, namun dibalas dengan perselingkuhan yang dilakukan tepat di belakang punggungnya.
Apakah Liora akan tetap diam dan pura-pura tidak tau atau ia akan membalaskan dendamnya kepada kedua manusia yang telah mengkhianatinya...
Penasaran ayok ikuti kisah selanjutnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 Kebenaran yang menyakitkan
Kini Almaira memegang sebuah benda kecil yang ada di tangannya. Ia menelisik benda tersebut.
"Apa ini?" gumam Almaira, keningnya berkerut kebingungan."Bukankah ini sebuah alat penyadap, untuk apa alat ini ada di sini." lanjutnya, perlahan Almaira menghidupkan alat tersebut. Ia mendengar percakapan dan desahan dalam alat penyadap tersebut.
"Ah... Raka..." desah Salsa.
"Raka... pelan-pelan..." suara parau Salsa di tengah kabut gairahnya.
Deg! jantung Almaira seakan ingin terlepas dari tempatnya, saat ia mendengar suara yang sangat ia kenali. "Suara ini..." lirih Almaira, tanganya gemetar saat ia mendengar percakapan tersebut. Ia melanjutkan mendengar isi dari alat tersebut.
"Tenang saja, Sa. Liora dan Kevandra tidak akan pernah tahu."
"Nama... ini..." gumam Almaira, ia mengingat nama seseorang dan perlahan air matanya menetes tanpa bisa ia cegah. "Aku pikir dia istri yang baik, ternyata dia menyakiti putraku." isaknya.
"Aku harus cepat kembali, Rak! Sebelum Kevandra bangun dan menyadari aku tidak ada." suara Salsa.
"Baiklah, terima kasih untuk malam yang indah ini, Sayang." suara Raka.
"Menjijikkan..." marah Almaira, perlahan ia meremas alat penyadap tersebut, dengan tangannya yang gemetar. "Awas saja kamu Salsa."
Tiba-tiba suara ketukan pintu mengalihkan perhatian Almaira, ia segera menghapus air matanya dengan kasar.
Ceklek! suara pintu terbuka, dan menampilkan Salsa yang kini berdiri di ambang pintu.
"Ma, aku bawakan selimut untuk Mama." panggil Salsa, dengan lembut, perlahan ia melangkah masuk kedalam kamar, dan menyimpan selimut itu di tempat tidur.
Sementara Almaira dengan mata memerah ia menatap tajam Salsa, tanpa menjawab atau menyapa Salsa. Ia menghampiri Salsa dengan langkah tegas.
Plak! suara tamparan menggema di dalam kamar tersebut, mengakibatkan Salsa tertoleh ke samping, Salsa menatap Ibu mertuanya tidak percaya dengan apa yang barusan dia lakukan.
"Ma-a, ada apa? Kenapa tiba-tiba Mama menamparku?" tanya Salsa, dengan memasang mimik wajah sedih seolah ia terluka akan sikap tiba-tiba Almaira yang menamparnya.
Tanpa menjawab, Almaira kembali melayangkan tamparan di sisi pipi, Salsa, yang lain.
Plak! lagi-lagi suara tamparan menggema di dalam kamar tersebut.
Kini Salsa sudah di ambang batas kesabarannya. Ia menatap tajam balik Almaira. "Sebenarnya apa yang terjadi dengan, Mama?" teriak Salsa, di depan Almaira, kini ia membuang topeng wajah yang biasa ia tampilkan seorang wanita lemah lembut.
"Perempuan tidak tau diri." sarkas Almaira, dengan menatap tajam Salsa. "Berani-beraninya kamu selingkuh dibelakang putra saya." lanjut Almaira, dengan suara dingin dan datar.
Deg! jantung Salsa berdegup dengan kencang seakan ingin terlepas dari tempatnya, dari mana ibu mertuanya mengetahui perselingkuhannya. Pikir Salsa.
"Mama, jangan asal bicara dari mana Mama tau aku selingkuh, aku tidak pernah menyelingkuhi Mas Kevan." kilah Salsa, ia berusaha menyangkal tuduhan itu dengan memasang kembali mimik wajah terluka, bahwa apa yang di tuduhkan ibu mertuanya tidak benar.
"Ular memang selalu pintar berkilah." desis Almaira. "Kamu pikir saya bodoh hah! semua buktinya sudah ada di sini." lanjut Almaira, dengan menunjukkan alat penyadap tersebut pada Salsa. ia memutar ulang isi rekaman dalam penyadap itu.
Sayup-sayup suara itu memenuhi indra pendengaran Salsa, seketika matanya melotot saat mendengar isi yang ada dalam alat tersebut. "Kenapa ada alat itu di sini?" batin Salsa, dengan nada panik.
"Apa kurangnya anak saya hah!" tanya Almaira, dengan suara meninggi, meluapkan segala kekecewaannya pada wanita yang ia jodohkan dengan putranya. "Saya akan memberitahu semua ini pada Kevandra, agar ia menceraikan istri yang tidak tau diri seperti kamu." ancam Almaira, seketika ia melangkah menuju pintu keluar untuk menghampiri Kevandra.
Di sisi lain Salsa semakin dibuat ketakutan, bagaimana jika Kevandra tau apa yang akan terjadi dengan nasibnya nanti, seketika pikiran jahat memasuki otaknya. "Tidak, aku tidak akan membiarkan itu terjadi." bisik Salsa, dengan langkah cepat ia, berlari ke arah pintu dan menguncinya. Klik! suara pintu terkunci dan Salsa membalikan badannya menghadap Almaira.
"Apa yang kamu, lakukan wanita murahan?" geram Almaira, dengan wajah yang dipenuhi amarah.
"Tentu, saja aku tidak akan membiarkan Ibu mertuaku ini memberitahukan semuanya pada suamiku." jawab Salsa, sambil tersenyum smirk yang kini terukir di wajahnya. Ia memutar-mutar kunci kamar tersebut di tangannya lalu menghampiri Almaira.
"Wanita jahat! saya pastikan kamu akan menerima balasannya." ancam Almaira, dengan menatap tajam Salsa.
Salsa terkekeh kecil, kekehan yang terdengar mengerikan. "Sebelum, Ibu mertuaku ini melakukannya, maka aku yang akan lebih dulu menghilangkan mu."
Seketika Almaira semakin diliputi amarah dan kekecewaan yang mendalam, ia menghampiri Salsa dan merebut kunci yang berada di tangan Salsa, namun dengan cepat Salsa menghindar.
"Berikan kunci itu, wanita sialan!" teriak Almaira, dengan kilatan mata yang tajam.
"Tidak! akan." balas Salsa, namun dengan cepat Almaira merebutnya kembali. Kini terjadi keributan antara Salsa dan Almaira, beruntung Almaira mendapatkan kunci tersebut dari tangan Salsa.
"Akhirnya aku mendapatkan kunci ini, aku harus mencari Kevandra untuk membongkar wanita ular ini." gumam Almaira. Ia tidak ingin membuang waktu lagi untuk memberitahukan semuanya pada putranya tentang kelakuan Salsa. Ia melangkah menuju pintu dengan tergesa-gesa.
"Sial! aku tidak akan membiarkan semuanya terbongkar. " desis Salsa, dengan cepat Salsa menghampiri Almaira dan mencekal salah satu tangan Almaira, namun Almaira terus berontak dan membuat Salsa kewalahan.
Tiba-tiba Klik! suara kunci sudah terbuka, Salsa semakin ketakutan. "Tidak! ini tidak boleh terjadi." gumam Salsa, di tengah keributannya bersama Almaira. Tiba-tiba karena terpojok dan ketakutan tanpa pikir panjang Salsa meraih vas bunga yang ada di atas nakas. Tepat pas bunga itu berada di dekatnya.
Tanpa pikir panjang Salsa melayangkan vas bunga tersebut. Prang! Suara pukulan itu menggema di dalam kamar yang kedap suara. Salsa memukul tengkuk Almaira dengan pas bunga tersebut.
Seketika seolah dunia berhenti untuk sesaat, Almaira menatap wanita yang menjadi istri putranya sendiri dengan tatapan tidak percaya. "Kam-uu... benar-benar wanita iblis." bisiknya sebelum kehilangan kesadaran dan ambruk di hadapan Salsa.
Seketika Salsa semakin panik dengan semua yang terjadi. "Tenang! Salsa, cepat pikirkan apa yang harus kamu lakukan dengan wanita tua ini." gumam Salsa, pada dirinya sendiri, berusaha menenangkan dirinya agar tidak panik dan secepatnya memikirkan apa yang harus ia lakukan.
Tiba-tiba matanya tertuju pada alat penyadap itu, dengan langkah cepat ia merebutnya dari tangan Almaira. Ia menatap alat itu dengan kilatan mata penuh dendam, tiba-tiba seseorang terlintas dalam pikirannya. "Liora!"
"Ternyata, kamu sudah sejauh ini merencanakan semuanya." bisik Salsa, dengan menatap tajam benda itu.
kentang banget ini 😭
cepet banget dia bersimpati dan ada tanda peduli lebih
kalau posisinya dibalik dia pun berpotensi selingkuh juga kaya Raka hadehhh...
ku tak jadi kibarkan bendera hijau
padahal sempet simpati sama dia ni 😏
bahaya ga jadi green flag