NovelToon NovelToon
The Wrong Proposal

The Wrong Proposal

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Mengubah Takdir / Bad Boy
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Ketika Adrian Richard memutuskan untuk melamar di atap gedung yang romantis, ia mengira semuanya sudah terencana sempurna.
Namun saat ia berlutut, wanita yang berbalik bukanlah kekasihnya, melainkan orang asing bernama Briana Edmond.
Apa yang dimulai sebagai tawa bersama atas kesalahan konyol berubah menjadi bencana saat kekasih Adrian datang dan menyaksikan apa yang tampak seperti pengkhianatan.

Kini, saat satu hubungan hancur, ikatan tak terduga mulai muncul di antara dua orang asing yang tidak seharusnya bertemu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

Udara malam di koridor apartemen itu terasa sangat mencekik. Audrey melangkah keluar di samping Keenan, masih dengan bahu yang gemetar dan jaket besar Keenan yang menenggelamkan tubuh mungilnya. Namun, tepat ketika pintu lift terbuka di lantai lobi, sosok yang sangat mereka hindari berdiri di sana dengan napas yang masih memburu.

Rafael tidak benar-benar pergi. Ia berdiri di sana, menyandar pada pilar beton dengan wajah yang merah padam. Begitu melihat Audrey keluar bersama Keenan, egonya yang terluka meledak menjadi kemarahan yang beracun. Ia merasa perlu memulihkan harga dirinya yang hancur di depan Keenan, seorang senior yang ia kagumi sekaligus ia takuti.

"Berhenti di situ," suara Rafael terdengar tajam, menggema di lobi yang sepi.

Audrey tersentak, secara refleks ia kembali bersembunyi di balik punggung lebar Keenan. Cengkeramannya pada kain jaket Keenan mengerat. Ia takut, namun lebih dari itu, ia merasa sangat terhina.

Rafael tertawa sinis, matanya menatap Audrey dengan kebencian yang murni. "Kau tahu, Audrey? Aku pikir-pikir, kita putus saja malam ini. Detik ini juga."

Audrey terpaku. Ia tidak menyangka hubungan dua tahun itu akan berakhir dengan cara yang begitu rendah.

"Tidak ada yang bisa kamu berikan padaku," lanjut Rafael dengan suara yang ditinggikan agar Keenan mendengar setiap katanya. "Aku sudah menolak banyak gadis di SMA yang jauh lebih berani dan menarik daripada kamu. Aku bertahan denganmu karena aku pikir kamu spesial. Tapi apa? Diajak ciuman saja kamu menolak seperti aku ini penjahat. Kita ini di New York, Audrey! Bukan di zaman purba!"

Rafael melangkah maju satu tindak, mencoba mengintimidasi Audrey melewati bahu Keenan. "Dengar baik-baik. Nggak akan ada cowok di kota ini yang mau bertahan dengan tingkah kamu yang kuno itu. Kamu itu membosankan. Kamu cantik, tapi jiwamu itu kaku seperti batu!"

Setelah meludahkan kata-kata yang menusuk itu, Rafael berbalik dengan kasar dan melangkah keluar menuju mobilnya. Ia merasa telah menang. Ia merasa telah membuang Audrey sebelum Audrey mencampakan nya. Ia pergi dengan deru mesin yang sengaja dibuat bising, meninggalkan keheningan yang menyakitkan di lobi itu.

Audrey mematung. Kata-kata kuno dan membosankan berputar-putar di kepalanya seperti kaset rusak. Air matanya tidak lagi jatuh karena sedih, melainkan karena syok yang mendalam. Benarkah ia sekuno itu? Benarkah pilihannya untuk menjaga batasan adalah sebuah kesalahan di tengah kota yang bebas ini?

"Ayo," suara Keenan memecah lamunan pahit Audrey. Suaranya tidak lembut, tetap dingin dan datar, namun ada ketegasan yang memberikan rasa aman.

Keenan membimbing Audrey menuju mobil Porsche hitam miliknya yang terparkir di area VIP. Ia membukakan pintu untuk Audrey, memastikan gadis itu duduk dengan nyaman sebelum ia memutar ke kursi pengemudi.

Mesin mobil menderu halus, sangat kontras dengan keributan yang dibuat Rafael tadi. Mereka meluncur membelah jalanan Manhattan yang masih ramai dengan lampu-lampu neon. Sepanjang perjalanan, Audrey hanya menatap ke luar jendela, melihat bayangan dirinya di kaca yang tampak sangat asing. Gadis tanpa jilbab yang dicap kuno oleh kekasihnya sendiri.

Keenan tetap fokus pada kemudi, tangannya yang kokoh mengendalikan mobil dengan sangat tenang. Ia sesekali melirik Audrey yang tampak sangat rapuh di balik jaketnya.

Setelah melewati beberapa blok, Keenan akhirnya bersuara. Suaranya tetap dingin, namun kata-kata yang keluar dari bibirnya membuat jantung Audrey berdegup dengan cara yang berbeda.

"Mencintai tidak perlu menyerahkan diri," ucap Keenan tanpa menoleh, matanya tetap tertuju pada aspal jalanan.

Audrey tersentak, ia menoleh ke arah Keenan yang tampak sangat tenang di balik kemudi.

"Apalagi di zaman sekarang..." Keenan melanjutkan, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang hampir tidak terlihat. "Di New York, di mana semua orang menganggap kebebasan adalah menyerahkan segalanya, kamu yang berdiri teguh dengan prinsipmu itu... kamu luar biasa, Audrey."

Audrey tertegun. Ia terbiasa mendengar pujian tentang kecantikannya, tentang bakatnya, atau pujian dari orang tuanya tentang nilai-nilainya. Namun, mendengar pujian luar biasa dari pria asing yang baru saja melihatnya dalam kondisi paling menyedihkan dan pujian itu ditujukan untuk batasan yang ia jaga membuat sesuatu dalam diri Audrey terasa hangat.

"Kamu tidak menganggap ku kuno?" bisik Audrey pelan.

"Kuno itu relatif," jawab Keenan datar. "Bagi pria yang hanya mengandalkan hormon seperti Rafael, kamu mungkin kuno. Tapi bagi pria yang mengerti arti sebuah nilai, kamu adalah pengecualian. Dan pengecualian di New York itu langka."

Audrey menarik napas panjang. Beban di dadanya perlahan terangkat. Kata-kata Keenan seolah menjadi tameng yang menghancurkan semua hinaan Rafael tadi.

"Kenapa kamu menolongku?" tanya Audrey. "Maksudku, kamu teman Rafael. Kamu seharusnya membela dia, atau setidaknya membiarkan kami menyelesaikan urusan kami sendiri."

Keenan menghentikan mobilnya di lampu merah dekat Central Park. Ia menoleh sepenuhnya ke arah Audrey. Mata tajamnya menatap mata biru Audrey dengan kedalaman yang membuat Audrey sulit bernapas.

"Karena aku membenci pria yang memaksa," jawab Keenan singkat. "Dan karena tadi kamu bersumpah demi Nama yang sangat aku hormati. Di saat kamu melepas identitas fisikmu..." Keenan melirik kepala Audrey yang tidak berhijab, "...ternyata identitas itu masih tersimpan kuat di dalam lisanmu. Itu menarik."

Audrey terpaku. Ia merasa Keenan seolah bisa membaca jiwanya yang sedang memberontak namun tetap memiliki akar yang kuat.

Mobil Keenan berhenti tepat di depan gerbang megah kediaman Richard. Di sana, sudah berdiri Azkara dengan wajah yang sangat cemas, terus-menerus melihat jam tangannya. Begitu melihat mobil asing berhenti, Azkara melangkah maju dengan sikap waspada.

"Terima kasih, Keenan," ucap Audrey pelan. Ia melepas jaket Keenan dan bermaksud mengembalikannya.

"Pakai saja dulu," potong Keenan. "Ayahmu sedang menunggumu di depan. Dia tidak akan suka melihatmu pulang dengan baju seperti itu tanpa pelapis. Kamu bisa mengembalikannya di kampus nanti."

Audrey mengangguk. Ia keluar dari mobil, dan Azkara langsung menghambur memeluk putrinya. Azkara menatap tajam ke arah mobil Keenan, namun saat Keenan menurunkan kaca jendela dan mengangguk hormat, Azkara menyadari bahwa pria di dalam mobil itu bukan Rafael.

"Siapa dia, Audrey?" tanya Azkara tegas.

"Teman, Ayah. Dia yang menolongku," jawab Audrey singkat, matanya masih melirik ke arah mobil Porsche hitam yang perlahan mulai menjauh.

Malam itu, Audrey masuk ke rumahnya dengan perasaan yang campur aduk. Ia baru saja kehilangan seorang kekasih, namun ia merasa telah menemukan sesuatu yang jauh lebih berharga, sebuah validasi atas harga dirinya dari seseorang yang paling tidak ia duga.

Di kamarnya, Audrey memeluk jaket Keenan yang masih menyisakan aroma parfum maskulin yang menenangkan. Ia menatap cermin, menyentuh wajahnya sendiri. Ia sadar, perjalanannya di universitas nanti tidak akan lagi tentang melarikan diri dari aturan orang tuanya, tapi mungkin tentang menemukan siapa dirinya yang sebenarnya, di antara dunia Alana yang suci dan dunia New York yang liar, melalui mata dingin seorang pria bernama Keenan Atharrazka.

🌷🌷🌷

Happy reading dear 🥰

1
irma hidayat
lancar sukses rencananya alana
chika aprilia
harusnya 23 tahun kemudian bukan 23 tahun lalu, othor nya salah
ros 🍂: makasih kak udah ingatin 😍🙏
total 1 replies
Mei Mei
/Kiss/
Mei Mei
suka cerita nya
ros 🍂: Makasih kak😍
total 1 replies
Retno Isusiloningtyas
bagus .. bagus karyamu Thor

tetep sehat
selalu semangat

karyamu jadi relaksasi tersendiri utk ku
ros 🍂: Ma'aciww 😍😍
total 1 replies
Retno Isusiloningtyas
ditunggu upload nya....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!