NovelToon NovelToon
The Wrong Proposal

The Wrong Proposal

Status: tamat
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Mengubah Takdir / Bad Boy / Tamat
Popularitas:6.9k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Ketika Adrian Richard memutuskan untuk melamar di atap gedung yang romantis, ia mengira semuanya sudah terencana sempurna.
Namun saat ia berlutut, wanita yang berbalik bukanlah kekasihnya, melainkan orang asing bernama Briana Edmond.
Apa yang dimulai sebagai tawa bersama atas kesalahan konyol berubah menjadi bencana saat kekasih Adrian datang dan menyaksikan apa yang tampak seperti pengkhianatan.

Kini, saat satu hubungan hancur, ikatan tak terduga mulai muncul di antara dua orang asing yang tidak seharusnya bertemu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30

Minggu pertama di New York University (NYU) selalu terasa seperti badai yang menghantam indra. Bagi Audrey, masa orientasi yang penuh dengan teriakan yel-yel, pengenalan kampus yang luas, dan jadwal yang padat benar-benar menguras energinya. Sebagai mahasiswi baru di jurusan Design, hari pertamanya diisi dengan membawa tabung gambar yang besar dan tumpukan buku referensi yang berat.

Siang itu, matahari Manhattan menyengat melalui celah-celah gedung tinggi. Audrey berjalan dengan langkah gontai menuju kantin pusat. Rambutnya yang biasanya tertata rapi kini sedikit berantakan karena angin kencang di Washington Square Park. Ia merasa asing, lelah, dan sejujurnya, sedikit kesepian. Teman-teman SMA-nya mengambil jurusan yang berbeda, dan di kelas tadi, ia belum sempat berkenalan dengan siapa pun yang benar-benar "nyambung".

Mata biru Audrey menyapu seluruh area kantin yang penuh sesak. Suara denting sendok dan riuh percakapan ribuan mahasiswa membuatnya pusing. Saat ia hampir menyerah dan berniat mencari makan di luar kampus, matanya menangkap sosok yang sangat ia kenali di meja pojok dekat jendela besar.

Keenan Atharrazka.

Pria itu duduk bersama empat orang temannya—beberapa pria dari klub mobil balap dan dua mahasiswi senior yang tampak sangat modis. Keenan mengenakan kaos hitam polos dengan jam tangan sporty yang mahal, tampak sangat dominan meski hanya diam mendengarkan temannya bicara.

Audrey ragu. Ia teringat bahwa Keenan tidak mem-follow back akun Instagram-nya, yang ia artikan sebagai sinyal bahwa pria itu ingin menjaga jarak. Audrey berniat memutar arah, namun terlambat. Mata tajam Keenan sudah menangkap sosoknya di tengah kerumunan.

Bukannya memalingkan muka dengan dingin seperti reputasi yang melekat padanya, Keenan justru melakukan sesuatu yang membuat seluruh meja itu terdiam.

Keenan mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi, menatap langsung ke arah Audrey, lalu memberikan isyarat dengan telapak tangannya untuk mendekat. Ia kemudian menggeser tas punggungnya dari kursi kosong di sebelahnya.

"Danisha, di sini!" suara Keenan tidak keras, namun memiliki otoritas yang membuat beberapa orang di sekitar mereka menoleh.

Audrey membeku sejenak, lalu dengan langkah ragu ia berjalan mendekati meja para senior tersebut. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena jatuh cinta, tapi karena tekanan mental berada di bawah tatapan selusin mata yang menyelidiki.

Mark, teman Keenan yang kemarin sempat bergosip tentang Rafael, hampir tersedak kopinya. "Nan? Serius?" bisiknya tak percaya.

Dua mahasiswi senior di meja itu, yang biasanya mendapatkan perhatian eksklusif dari Keenan (meskipun hanya sekadar urusan organisasi), kini saling berpandangan dengan alis terangkat. Salah satu dari mereka, seorang gadis berambut pirang bernama Elena, menatap Audrey dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan tatapan menilai yang tajam.

"Siapa ini, Nan? Mahasiswi baru?" tanya Elena dengan nada yang sengaja dibuat manis namun terasa menusuk.

Keenan tidak menjawab pertanyaan Elena. Ia justru menatap Audrey yang baru saja sampai di depan meja mereka. Ia melihat kelelahan yang nyata di wajah gadis itu—lingkaran hitam tipis di bawah matanya dan cara Audrey memegang tas gambarnya yang berat.

"Duduklah," ucap Keenan datar, namun ada nada kepedulian yang tersirat. "Wajahmu pucat. Kau belum makan sejak pagi?"

Audrey duduk dengan kaku di sebelah Keenan. "Baru selesai kelas History of Art. Melelahkan sekali," jawab Audrey pelan, mencoba mengabaikan tatapan teman-teman Keenan.

"Guys, ini Danisha. Dia anak baru di jurusan Design," ucap Keenan memperkenalkan Audrey secara singkat kepada teman-temannya. Ia tidak menyebutkan bahwa Audrey adalah mantan Rafael, atau tentang kejadian di apartemennya. Keenan menjaga privasi Audrey dengan sangat rapat.

Keenan merasa ia harus bersikap baik. Dalam pikirannya, Audrey adalah "anak hilang" di kampus sebesar ini. Ia tahu bagaimana rasanya menjadi pusat perhatian karena nama besar orang tua, dan ia tahu Audrey sedang dalam masa transisi yang sulit setelah putus dari Rafael yang toksik.

"Mau makan apa? Aku pesankan sekalian," tawar Keenan.

Meja itu kembali hening. Mark sampai harus menjatuhkan pulpennya karena terkejut. "Woah, Keenan Atharrazka menawarkan diri jadi kurir makanan? Ini rekor baru sejarah NYU," celetuk Mark sambil tertawa canggung.

Keenan hanya menatap Mark dengan dingin hingga pria itu bungkam. "Aku hanya tidak ingin ada mahasiswi baru yang pingsan di meja ini hanya karena terlalu malas mengantre," jawab Keenan logis, meski semua orang tahu itu hanya alasannya saja.

"Tidak usah, Keenan. Aku bisa sendiri," tolak Audrey merasa tidak enak hati.

"Antreannya tiga puluh menit, Audrey. Duduk saja di sini, jaga tempatmu. Aku ingin mengambil kopi lagi di depan," ucap Keenan sambil berdiri tanpa menunggu jawaban.

Begitu Keenan menjauh, suasana di meja itu terasa semakin intens bagi Audrey.

"Jadi, kamu kenal Keenan dari mana, Danisha?" tanya Elena sambil menopang dagu, matanya terus menyelidiki wajah Audrey. "Dia bukan tipe orang yang suka mengajak sembarang orang duduk di mejanya. Biasanya, orang harus membuat janji hanya untuk bicara padanya selama lima menit."

Audrey menarik napas panjang. Ia teringat pesan ayahnya, Azkara, tentang cara menghadapi orang yang mencoba mengintimidasi. "Kami hanya kenal dari lingkaran pertemanan yang sama," jawab Audrey tenang, tidak memberikan celah bagi Elena untuk menggali lebih dalam.

"Dia pria yang sulit," timpal teman pria Keenan yang lain. "Tapi sepertinya dia sangat menghormatimu. Itu langka."

Audrey terdiam. Ia menatap punggung Keenan yang berdiri di depan stan makanan. Pria itu tampak sangat berwibawa. Audrey menyadari bahwa bantuan Keenan semalam dan keramahannya hari ini bukan karena pria itu tertarik padanya secara romantis—seperti yang dipikirkan teman-temannya—tapi karena Keenan memiliki kode etik yang kuat.

Keenan kembali membawa sebuah nampan berisi sandwich kalkun dan sebuah jus jeruk dingin, lalu meletakkannya di depan Audrey.

"Makan," perintahnya singkat.

Sambil makan, Audrey merasa perlahan energinya kembali. Keenan tidak banyak bicara lagi, ia kembali sibuk dengan laptopnya, namun kehadirannya di samping Audrey seolah menjadi perisai dari gangguan orang lain.

Teman-teman Keenan yang tadinya ingin menginterogasi Audrey lebih jauh, akhirnya mengurungkan niat karena melihat Keenan yang seolah memberikan tanda "jangan ganggu" melalui sikap tubuhnya yang protektif.

Bagi Keenan, Audrey adalah tanggung jawab moral yang ia pilih. Ia ingat bagaimana Rafael merendahkan prinsip gadis ini. Di kantin ini, ia ingin menunjukkan pada siapa pun, termasuk Rafael yang mungkin sedang melihat dari kejauhan—bahwa Audrey tidak kuno atau "sendirian".

Keenan melirik Audrey yang sedang makan dengan tenang. Ia menyadari satu hal: Audrey memang tidak berhijab seperti ibunya, Alana, namun ada sebuah ketenangan yang sangat mirip di antara mereka berdua. Dan bagi Keenan, membantu Audrey adalah cara ia menghargai nilai-nama Tuhan yang sempat diucapkan gadis itu di malam kelam kemarin.

"Terima kasih, Keenan," bisik Audrey saat ia selesai makan.

Keenan hanya mengangguk tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptopnya. "Jangan biarkan dirimu kelaparan lagi. Kampus ini kejam bagi mereka yang lemah."

Audrey tersenyum tipis. Untuk pertama kalinya di hari pertamanya yang melelahkan, ia merasa New York tidak lagi terlalu menakutkan, selama ada seseorang yang mengerti arti sebuah batasan dan penghormatan berdiri di sampingnya.

🌷🌷🌷🌷

Happy reading dear 🥰

1
Retno Isusiloningtyas
Masya Allah...
Retno Isusiloningtyas
😭
falea sezi
uda end kah
Retno Isusiloningtyas
oh.wow.ternyata Kenan ayahnya Muslim
Retno Isusiloningtyas
semangat,Thor
Retno Isusiloningtyas
semangat Alana....
Retno Isusiloningtyas
wow....
siap2....
Mei Mei
suka sama semuaa ceritamu Thor. semangat buat nulisnya
ros 🍂: ma'aciww kak🥰
total 1 replies
irma hidayat
lancar sukses rencananya alana
chika aprilia
harusnya 23 tahun kemudian bukan 23 tahun lalu, othor nya salah
ros 🍂: makasih kak udah ingatin 😍🙏
total 1 replies
Mei Mei
/Kiss/
Mei Mei
suka cerita nya
ros 🍂: Makasih kak😍
total 1 replies
Retno Isusiloningtyas
bagus .. bagus karyamu Thor

tetep sehat
selalu semangat

karyamu jadi relaksasi tersendiri utk ku
ros 🍂: Ma'aciww 😍😍
total 1 replies
Retno Isusiloningtyas
ditunggu upload nya....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!