Aku menikah dengannya karena cinta.
Kupikir itu cukup.
Nyatanya, setelah akad terucap, aku baru tahu—
cinta itu bukan hanya milikku.
Saat hati dipaksa berbagi dan kebenaran menyakitkan terungkap, aku harus memilih:
mempertahankan pernikahan yang dibangun atas cinta,
atau pergi demi harga diri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Ingin rasanya aku mencabik-cabik wajah Monika yang berdiri dengan senyum kemenangan itu. Tangannya melingkar manja di lengan Mas Bram, seolah-olah akulah orang asing di antara mereka.
“Jaga bayi kita. Nanti kalau sudah lahir biar aku dan Monika yang urus,” serunya enteng, tanpa rasa bersalah sedikit pun.
Dadaku terasa sesak. Bukan karena lelah, bukan karena kontraksi yang sesekali datang… tapi karena pria yang pernah kuanggap rumah, kini berbicara seolah aku hanya tempat menitipkan kandungan.
Aku tertawa. Sinis.
“Enak saja, Mas! Aku nggak akan pernah memberikan anak ini kepada kalian.”
Monika mendecak pelan, wajahnya yang tadi lembut berubah tajam. “Rania, jangan egois. Anak itu butuh ayah dan keluarga yang lengkap.”
“Keluarga lengkap?” ulangku, menatap Bram dalam-dalam. “Sejak kapan kalian peduli soal keluarga?”
“Aku ayah dari anak ini!” suara Bram meninggi, seakan gelarnya cukup untuk merebut semuanya dariku.
Aku melangkah mendekat. Meski tubuhku gemetar, suaraku tak boleh kalah.
“Dan aku tidak akan pernah bilang kalau kau ayahnya.”
Sunyi.
Kalimat itu menggantung di udara seperti ancaman.
Wajah Bram memucat. Ia tak menyangka aku seberani ini. Dulu mungkin aku hanya akan menangis dan mengalah. Tapi sekarang tidak. Sekarang aku berdiri bukan hanya sebagai istri yang tersakiti.
Aku berdiri sebagai seorang ibu.
“Kau nggak berhak, Rania!” Bram berusaha meraih tanganku, tapi kutepis kasar.
“Yang nggak berhak itu kalian! Kalian bahkan sudah merencanakan hidup tanpa aku. Sekarang kalian ingin merencanakan hidup dengan anakku?”
Monika mengembuskan napas kesal. “Bram, sudahlah. Dia cuma sedang emosi.”
Aku tersenyum tipis. “Iya. Aku emosi. Karena kalian menyentuh satu-satunya alasan aku bertahan.”
Tanganku refleks memegang perutku.
“Anak ini bukan alat balas dendam, Mas. Bukan juga hadiah untuk istrimu yang sempurna itu.”
Bram terdiam.
“Kalau kau mau jadi ayah, belajarlah dulu jadi manusia.”
“Bram…” ucapnya pelan, pura-pura ragu. “Apa kamu nggak merasa aneh?”
Aku menoleh. Tatapan matanya menusuk, penuh tipu daya.
“Maksud kamu apa?” tanya Bram.
Monika menghela napas panjang, lalu menatap perutku dengan sinis. “Rania akhir-akhir ini dekat sekali dengan dokter itu… siapa namanya? Leon.”
Jantungku seperti berhenti berdetak.
Bram langsung menatapku tajam. “Leon?”
Monika mendekat, merangkul lengan suamiku seperti sedang menenangkan, padahal ia sedang menyulut api.
“Bukan nggak mungkin kan, Bram… anak itu bukan anak kamu.”
Plak!
Tamparan itu nyaris saja melayang, andai aku tak menahan tanganku sendiri. Amarahku mendidih sampai ke ubun-ubun.
“Jaga mulutmu, Monika!” suaraku bergetar, tapi bukan karena takut.
Bram melangkah mendekat, wajahnya berubah gelap. “Rania… jawab aku. Sejak kapan kamu ada hubungan sama Leon?”
Aku tertawa pahit. “Hubungan? Kau pikir semua orang serendah itu?”
“Jawab!” bentaknya.
Air mataku akhirnya jatuh, bukan karena tuduhan itu… tapi karena lelaki yang dulu bersumpah mencintaiku kini lebih percaya pada bisikan wanita lain.
“Leon cuma menolongku saat aku hampir pingsan di jalan! Saat kau sibuk bermesraan dengan istri pertamamu itu!” teriakku.
Monika pura-pura terkejut. “Aku cuma khawatir, Bram. Soalnya waktu itu aku lihat sendiri mereka berdua kelihatan akrab sekali.”
Fitnah yang dibungkus kepura-puraan.
Bram menatapku lama. Ada ragu di sana, tapi juga ego yang terlalu besar untuk mengalah.
“Kalau memang itu anakku… buktikan,” ucapnya dingin.
Dadaku terasa ditikam.
“Tes DNA?” tanyaku lirih.
“Iya. Kalau kamu berani.”
Aku mendekat, menatapnya tanpa gentar.
“Aku nggak takut tes apa pun. Tapi ingat satu hal, Mas… kalau nanti hasilnya membungkam kalian, jangan pernah datang lagi ke hidupku.”
Monika mengepalkan tangan. Rencananya untuk menjatuhkanku tak berjalan semudah yang ia kira.
Aku mengusap perutku perlahan.
“Kalian boleh meragukanku. Tapi aku nggak akan pernah meragukan darah yang mengalir di sini.”
“Setelah anak ini lahir kita tes DNA!!” bentak Bram, rahangnya mengeras.
“Gak perlu!! Anak ini gak perlu pengakuan kamu!!” balasku tanpa ragu.
Kalimatku seperti bensin yang disiram ke api.
Monika langsung menyambar dengan wajah pura-pura tersakiti. “Jadi benar kan apa kataku, Bram? Itu anak Leon! Jadi selama ini kita tertipu!”
Aku hendak maju, tapi sebelum sempat membuka mulut, sebuah dorongan keras membuat Monika terhuyung ke belakang.
“Jaga mulut kamu!” teriak Arumi.
Monika hampir jatuh kalau saja Bram tidak sigap menahannya. Wajahnya memerah, bukan karena sakit… tapi karena harga dirinya tergores.
“Kamu berani dorong aku?!” pekiknya.
Arumi berdiri di depanku seperti tameng. “Kalau kamu terus fitnah sahabatku, bukan cuma dorong yang kamu dapat!”
“Arumi…” lirihku, mencoba menahannya. Tapi hatiku justru hangat. Untuk pertama kalinya di ruangan itu, ada seseorang yang berdiri sepenuhnya di pihakku.
Bram menatap kami bergantian. “Sudah cukup! Ini urusan aku dan Rania!”
“Urusan?” Arumi tertawa sinis. “Sejak kapan kamu mengurus dia? Waktu dia kontraksi ringan di pinggir jalan, kamu ada? Waktu dia harus jual harga diri demi bertahan hidup, kamu ada?”
Bram terdiam.
Monika berusaha bangkit dari pelukan Bram. “Ah, sudahlah. Perempuan murahan memang pintar cari pembela.”
Plak!
Tamparan itu akhirnya benar-benar mendarat. Bukan dariku.
Arumi.
Ruangan mendadak hening.
“Kamu boleh menghina siapa saja,” ucap Arumi dengan suara bergetar karena marah, “tapi jangan pernah hina ibu yang sedang mempertaruhkan nyawanya buat anaknya!”
Bram kehilangan kata-kata. Monika memegang pipinya, menatap tidak percaya.
Aku melangkah maju. Kali ini suaraku pelan, tapi jauh lebih menusuk.
“Dengar baik-baik, Mas. Anak ini lahir dengan atau tanpa namamu di belakangnya. Dia tetap darah dagingku. Dan aku tidak akan membiarkan kalian menjadikannya alat permainan ego.”
Bram mengepalkan tangan. “Kamu menyesal nanti.”
Aku tersenyum tipis. “Yang akan menyesal itu bukan aku.”
Aku menggenggam tangan Arumi.
“Kita masuk.”
Dan kali ini, aku tak menoleh lagi.
Siang ini aku tetap berjualan seperti biasa. Gerobak kecilku berdiri di pinggir jalan, aroma ayam geprek mengepul menggoda siapa saja yang lewat.
Tapi hatiku tidak sehangat biasanya.
Ucapan Bram dan Monika terus terngiang di kepalaku.
Tentang tes DNA.
Tentang fitnah keji itu.
Tentang harga diriku yang mereka injak-injak.
Tanganku tetap mengulek sambal, tapi pikiranku melayang jauh.
“Ran, fokus!” seru Arumi pelan, menyenggol bahuku.
Aku tersadar. Di depanku sudah ada dua pembeli menunggu pesanannya.
“Maaf ya, Kak,” ucapku sambil tersenyum tipis.
Meski hatiku kacau, rezeki hari ini justru mengalir deras.
Alhamdulillah… jualanku makin dikenal. Banyak pelanggan baru datang, bahkan beberapa bilang tahu dari media sosial.
Ternyata Leon dan Arumi diam-diam terus mempromosikan ayam geprekku.
Leon memotret gerobakku dengan sudut yang bagus, menulis caption sederhana tapi menyentuh.
Arumi membagikannya ke semua grup dan story miliknya.
Aku sempat menegur mereka.
“Kenapa sih kalian repot-repot bantu aku?”
Leon hanya tersenyum tenang. “Karena kamu nggak pantas berjuang sendirian.”
Arumi langsung menyahut, “Dan karena ayam geprekmu emang enak banget! Jangan ge-er!”
Aku tertawa kecil. Untuk pertama kalinya sejak kejadian itu, dadaku terasa sedikit ringan.
Dan kali ini aku memberanikan diri mengambil langkah lebih besar.
Aku mulai mendaftarkan usahaku ke situs online.
Belajar upload foto sendiri.
Menentukan harga paket hemat.
Bahkan membuat promo “Geprek Ibu Pejuang”.
Tanganku gemetar saat pertama kali notifikasi pesanan online masuk.
Pesanan baru – 3 porsi Level 5.
Air mataku hampir jatuh.
Bukan karena sedih.
Tapi karena terharu.
****