NovelToon NovelToon
DIJODOHKAN SAAT SMA!!!

DIJODOHKAN SAAT SMA!!!

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Dijodohkan Orang Tua / Tamat
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: Tama Dias

Novel ini lahir dari rasa ingin mengeksplorasi kisah cinta remaja yang unik, tentang dua orang yang dijodohkan sejak SMA dan bagaimana mereka belajar mengenal satu sama lain. Penulis ingin menampilkan bahwa cinta sejati tidak selalu hadir dengan cara yang mudah atau instan, melainkan tumbuh melalui proses memahami, menerima, dan memilih satu sama lain setiap hari.
Melalui cerita ini, penulis ingin menggambarkan perjalanan emosi remaja yang realistis, mulai dari kebingungan, rasa penasaran, hingga perasaan hangat yang perlahan tumbuh menjadi cinta yang dewasa. Kisah ini juga menekankan bahwa di balik setiap tawa dan momen manis, ada nilai penting tentang keluarga, persahabatan, tanggung jawab, dan kesabaran yang membentuk karakter seseorang.
Cerita ini diharapkan bisa menjadi inspirasi bagi remaja untuk menyadari bahwa hubungan yang baik tidak hanya tentang perasaan, tetapi juga tentang saling menghargai, membangun kepercayaan, dan berani membuat pilihan yang tepat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tama Dias, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Suara dari dalam taman seson 2

Pagi itu, udara terasa begitu jernih.

Matahari memancar lembut, tidak terlalu terang, tapi cukup hangat untuk membangunkan aroma tanah dan bunga di taman belakang.

Alya membuka pintu kaca perlahan, melangkah ke luar sambil memegangi cangkir teh hangat.

Di dalam tubuhnya, sesuatu yang kecil kini tumbuh — sebuah kehidupan yang masih sunyi tapi terasa begitu nyata.

Raka sudah berada di taman sejak subuh.

Dia berjongkok di dekat deretan lili putih, menyiramnya perlahan, seolah sedang berbicara dengan mereka.

“Pagi-pagi udah ngobrol sama bunga?” tanya Alya dengan senyum lembut.

Raka menoleh, wajahnya berseri-seri. “Mereka harus disemangatin. Katanya biar tumbuhnya bagus.”

Alya duduk di bangku kayu dekat flamboyan, menatapnya lama.

“Kayaknya mereka nggak cuma tumbuh karena air, deh. Tapi juga karena hati yang nyiramnya.”

Raka mendekat, duduk di sebelahnya. “Kalimat kamu selalu kayak pagi ini — tenang tapi penuh kehidupan.”

Alya tertawa kecil. “Kamu juga, Rak. Sekarang kamu lebih sering ngomong manis daripada dulu.”

Raka tersenyum, menatap perut Alya yang mulai terasa sedikit berbeda. “Mungkin karena aku lagi belajar jadi ayah.”

Alya menatapnya lembut. “Kamu sadar nggak, taman ini jadi lebih hidup sejak aku tahu aku hamil?”

Raka mengangguk. “Aku sadar.

Mungkin karena sekarang taman ini nggak cuma nyimpen janji kita, tapi juga doa buat anak kita nanti.”

Alya menatap bunga-bunga di sekeliling mereka. “Aku kadang ngerasa mereka semua kayak bisik-bisik ke aku.”

“Bilang apa?” tanya Raka pelan.

“Kayak bilang, ‘jangan takut, kamu nggak sendiri.’”

Raka menatapnya lama. “Kamu memang nggak sendiri, Ly. Aku di sini, selalu.”

Alya menggenggam tangannya. “Aku tahu, Rak. Tapi rasanya aneh — di dalam diriku ada dua detak jantung sekarang.”

Raka mengusap lembut punggung tangannya. “Itu berarti hidup kamu makin luas, Ly.

Sekarang ada taman kecil di dalam kamu juga.”

Alya menatapnya pelan, lalu tersenyum dengan mata berkilat. “Taman kecil…” katanya pelan. “Aku suka sebutan itu.”

Beberapa hari kemudian, Alya mulai lebih sering duduk di taman.

Ia tidak lagi banyak bergerak seperti dulu, tapi kehadirannya membuat taman itu terasa lebih damai.

Ia membawa buku kecil dan mulai menulis hal-hal yang ia rasakan — bukan hanya tentang dirinya, tapi juga tentang kehidupan kecil di dalam perutnya.

“Hari ini kamu diam, tapi Ibu tahu kamu ada di sana.

Kadang Ibu merasa kamu dengar suara hujan, suara angin, bahkan suara Ayahmu tertawa.”

Alya menutup buku itu, menatap flamboyan besar di depannya.

Bunga-bunganya bergoyang pelan diterpa angin, dan ia merasa seolah alam sedang menyapanya dengan lembut.

Raka datang membawa sekeranjang buah. “Ly, kamu udah makan?”

Alya menggeleng. “Belum. Aku malah nulis lagi.”

Raka duduk di sebelahnya, memperhatikan halaman buku itu. “Kamu nulis apa?”

Alya tersenyum samar. “Tentang dia.”

“Dia?”

Alya menunjuk perutnya pelan. “Taman kecil kita.”

Raka menatapnya, wajahnya penuh haru. “Kamu tahu, Ly, aku rasa anak kita nanti bakal suka taman kayak kamu.”

Alya tersenyum. “Aku juga yakin. Soalnya dia udah denger suara taman dari sekarang.”

Raka menggenggam tangannya, mengusap punggungnya lembut. “Aku pengen nanti dia tumbuh dengan cinta yang sama kayak bunga-bunga di sini.

Bukan cuma cantik, tapi kuat, sabar, dan tahu caranya bertumbuh di bawah langit apa pun.”

Alya menatapnya lama. “Kamu sadar nggak, Rak, semua yang kamu bilang itu juga tentang kita?”

Raka tersenyum. “Mungkin karena cinta kita udah jadi guru. Dia ngajarin lebih banyak daripada yang aku kira.”

Mereka terdiam, hanya mendengarkan suara daun yang bergesekan di atas kepala.

Angin membawa aroma kenanga yang lembut.

Alya menutup mata, lalu meletakkan tangan Raka di atas perutnya.

“Kamu denger?” katanya pelan.

Raka tersenyum. “Aku nggak bisa denger, tapi aku bisa ngerasain.”

Alya menatapnya, suaranya nyaris berbisik. “Aku rasa dia tahu kamu ada di sini.”

Dan untuk sesaat, waktu terasa berhenti.

Hanya ada mereka, taman, dan kehidupan kecil yang perlahan menumbuhkan arti baru dari cinta.

Sore itu, hujan turun perlahan.

Alya duduk di bawah atap teras, menatap taman yang diselimuti rintik air.

Suara hujan yang jatuh ke daun terdengar seperti melodi — tenang dan menenangkan.

Raka datang membawa selimut. “Kamu nggak kedinginan, kan?”

Alya menggeleng. “Nggak. Aku suka denger suara hujan. Rasanya kayak dunia lagi berdoa.”

Raka ikut duduk di sebelahnya, menatap taman yang mulai berkilau karena genangan air kecil.

“Lucu, ya. Dulu kita takut hujan, sekarang malah suka.”

Alya tersenyum. “Dulu kita takut karena mikir hujan bikin bunga layu. Sekarang kita tahu, hujan yang bikin mereka hidup.”

Raka mengangguk pelan. “Dan mungkin cinta juga kayak hujan.

Kadang datang tiba-tiba, tapi justru itu yang bikin semua tumbuh.”

Alya menatapnya lembut. “Kamu selalu bisa nemuin puisi di hal-hal kecil, Rak.”

Raka tertawa pelan. “Mungkin karena aku hidup bareng sumber puisinya.”

Alya memukul pelan bahunya sambil tertawa.

Namun setelah itu, mereka kembali diam.

Hujan masih turun pelan, dan dari jauh terdengar suara air menetes ke kolam kecil di taman.

“Rak,” kata Alya pelan, “kamu pernah mikir nggak, nanti anak kita kayak apa?”

Raka menatap langit yang kelabu tapi lembut. “Aku nggak tahu. Tapi aku harap dia punya senyum kamu.”

Alya tertawa kecil. “Kalau sifat keras kepalanya, jangan dari aku, ya.”

“Kalau itu, aku juga nyerah,” kata Raka sambil tertawa. “Mungkin dia bakal punya dua kepala batu sekaligus.”

Mereka berdua tertawa, dan suara mereka tenggelam dalam bunyi hujan.

Tapi di dalam hati Alya, ada sesuatu yang berbeda hari itu — sesuatu yang lembut, seperti suara samar dari dalam taman.

Sebuah perasaan bahwa kehidupan yang tumbuh di dalam dirinya sedang ikut mendengar, ikut mencatat, ikut mencintai.

Malam datang dengan cepat.

Alya dan Raka duduk di ruang tengah, lampu temaram memantulkan cahaya hangat ke dinding rumah.

Di luar, hujan sudah berhenti, tapi aroma tanah basah masih tercium jelas.

Raka menatap Alya yang tengah menulis lagi di buku kecilnya. “Kamu nulis apa kali ini?”

Alya tersenyum tanpa menoleh. “Tentang hari ini.”

“Boleh aku baca?”

Alya berpikir sejenak, lalu menyerahkan buku itu.

Raka membaca pelan tulisan tangannya yang rapi:

“Hari ini, hujan turun pelan.

Taman kita bernapas, dan di dalam tubuhku ada taman lain yang ikut bernapas.

Kadang aku dengar suara kecil — entah dari bunga, dari langit, atau dari kehidupan yang belum bisa bicara.

Tapi aku tahu, semua suara itu bilang hal yang sama:

‘Cinta sedang tumbuh.’”

Raka menatap Alya dengan mata yang mulai berkaca.

“Ly… tulisan kamu selalu bikin aku pengen nyimpen dunia dalam genggaman.”

Alya tersenyum. “Nggak usah disimpen, Rak. Cukup dijaga.”

Raka menutup buku itu pelan, lalu menatapnya lama. “Aku janji bakal jaga kamu. Dan taman kecil kita.”

Alya menatapnya lembut. “Aku tahu. Karena kamu bukan cuma ayah dari anakku, tapi juga rumah dari hatiku.”

Raka mengulurkan tangannya, menggenggam tangan Alya erat.

Malam itu, suara hujan yang tersisa berubah jadi lagu.

Taman di luar berkilau di bawah sinar bulan, dan di dalam rumah itu, dua hati berdoa dalam diam — untuk cinta yang kini benar-benar hidup, di tanah, di udara, dan di dalam dada mereka.

Beberapa minggu telah berlalu sejak hujan pertama turun di bulan itu.

Musim berganti perlahan, dan taman mereka tampak lebih hidup dari sebelumnya.

Lavender bermekaran di sisi barat, sementara flamboyan besar mulai menjatuhkan kelopak merah-oranye ke tanah — menandai datangnya angin baru.

Alya berdiri di teras, memandangi taman sambil memegangi perutnya.

Ia mengenakan gaun lembut berwarna putih, rambutnya dibiarkan terurai ditiup angin.

Suara burung kecil terdengar bersahutan di kejauhan, seolah menyapa pagi yang damai itu.

Raka keluar membawa dua gelas susu hangat.

“Untuk calon ibu yang paling cantik,” katanya sambil tersenyum lebar.

Alya tertawa pelan. “Kamu makin manis aja tiap hari.”

Raka duduk di sampingnya, menatap taman yang berkilau diterpa cahaya matahari. “Lihat taman kita, Ly. Aku rasa mereka tahu ada kehidupan baru di sini.”

Alya menatap bunga-bunga di sekitar. “Kenapa kamu pikir begitu?”

Raka menunjuk bunga lili di pojok taman. “Mereka tumbuh lebih cepat dari biasanya. Kayak mereka pengen nyamain langkah sama kamu.”

Alya tersenyum hangat. “Mungkin mereka juga ikut bahagia.”

Mereka berdua duduk diam beberapa saat, menikmati keheningan pagi.

Di antara angin dan aroma bunga, Alya memejamkan mata.

Ia merasa… ada sesuatu yang lembut bergerak di dalam dirinya — pelan, seperti bisikan kecil dari dalam tanah.

“Rak,” katanya pelan, membuka mata. “Aku ngerasa dia barusan… gerak.”

Raka menatapnya cepat. “Serius?”

Alya mengangguk, wajahnya bersinar. “Cuma sebentar, tapi aku yakin.

Kayak getaran kecil yang bilang, ‘aku di sini.’”

Raka terdiam, menatap perut Alya dengan mata yang berkilau.

Dia menyentuhnya perlahan, seolah takut merusak keajaiban yang baru saja terjadi.

“Dia denger suara taman, Ly,” katanya akhirnya. “Dia tumbuh bareng semua yang kita rawat.”

Alya mengangguk, air matanya jatuh tanpa ia sadari. “Aku rasa ini pertama kalinya aku benar-benar denger suara dari dalam taman, Rak.

Suara yang nggak datang dari daun, tapi dari cinta yang hidup di dalam tubuhku.”

Raka tersenyum. “Suara paling indah di dunia.”

Sejak hari itu, setiap pagi Alya mulai berbicara pada taman — bukan lagi untuk dirinya sendiri, tapi untuk anak yang sedang ia kandung.

“Selamat pagi, sayang,” bisiknya sambil menyiram bunga. “Ini taman kita, tempat cinta Ibu dan Ayah kamu tumbuh dulu.”

Anak-anak tetangga yang datang membantu sering memperhatikan Alya dengan mata berbinar.

“Bu, bayi Ibu dengerin Ibu, ya?” tanya seorang anak perempuan kecil dengan pipi bulat.

Alya tertawa kecil. “Iya, mungkin dia dengerin semuanya.”

Raka yang mendengar percakapan itu menambahkan, “Makanya taman ini makin cantik. Soalnya tiap hari dapet cerita baru dari Ibu.”

Suasana di taman semakin hangat dari hari ke hari.

Warga sering datang bukan hanya untuk merawat tanaman, tapi untuk berbagi cerita, tertawa, dan merasakan kedamaian yang entah bagaimana selalu hadir di sana.

Suatu sore, langit tampak mendung.

Alya duduk di bawah pohon flamboyan, tangannya mengusap lembut perutnya.

Raka sedang memperbaiki pagar bambu di sisi timur taman.

Hujan mulai turun perlahan, rintiknya menimbulkan suara yang familiar — suara yang dulu mereka anggap sunyi, tapi kini terasa seperti lagu yang akrab.

Alya menatap ke atas, membiarkan tetes-tetes kecil mengenai ujung jarinya.

“Hujan, Rak,” katanya pelan. “Anak kita nanti harus suka hujan.”

Raka menoleh, tersenyum. “Aku yakin dia bakal cinta sama hujan, sama kayak ibunya.”

Alya tertawa pelan. “Aku cuma pengen dia tahu, hujan bukan tanda duka. Tapi tanda semua yang hidup butuh disirami.”

Raka berjalan mendekat, duduk di sebelahnya.

“Dia pasti tahu, Ly. Karena sejak sebelum lahir pun, dia udah tumbuh dikelilingi cinta yang disirami setiap hari.”

Alya menatap matanya, lalu berbisik, “Kamu sadar nggak, Rak? Taman ini bukan cuma tempat bunga tumbuh lagi. Sekarang dia tempat hidup bertumbuh — di tanah, di langit, dan di rahimku.”

Raka menatapnya lama, lalu menggenggam tangannya erat.

“Dan semua suara di taman ini sekarang punya makna baru.

Angin, hujan, tanah, daun… semuanya kayak nyanyiin lagu buat kamu dan anak kita.”

Alya tersenyum, menatap ke langit yang mulai kelabu. “Kamu denger, kan? Suaranya?”

Raka memejamkan mata.

Ia mendengar gemericik air, desir angin, dan suara halus daun yang bergesekan.

Semua itu berpadu menjadi satu harmoni yang lembut — seperti bisikan cinta dari alam.

“Denger,” jawabnya pelan. “Itu suara dari dalam taman.”

Malam tiba, hujan berhenti.

Alya dan Raka duduk di ruang tengah, menatap jendela yang masih dipenuhi embun.

Cahaya lampu temaram membuat suasana terasa hangat.

Raka membawa sebuah kotak kayu kecil dan meletakkannya di meja.

“Aku bikin ini buat kamu,” katanya.

Alya membuka kotak itu. Di dalamnya, ada kalung kecil dengan liontin berbentuk daun dan ukiran kecil di belakangnya:

‘Suara dari Dalam Taman.’

“Rak…” suaranya bergetar.

“Aku pengen kamu simpan ini sampai nanti anak kita lahir,” kata Raka lembut. “Biar dia tahu, sebelum dia bisa bicara, dunia udah nyanyiin lagu buat dia.”

Alya menatap liontin itu lama, lalu menatap Raka dengan mata berkaca. “Kamu selalu tahu cara bikin aku ngerasa dicintai.”

Raka tersenyum. “Soalnya cinta kamu yang ngajarin aku caranya.”

Mereka saling berpelukan.

Di luar, taman mereka berkilau lembut di bawah sinar bulan yang baru keluar dari balik awan.

Angin bertiup pelan, membawa aroma bunga dan tanah basah ke dalam rumah.

Dan di tengah semua keheningan itu, Alya menutup mata, meletakkan tangannya di perut, dan berbisik pelan,

“Denger, sayang… itu suara taman kita.

Suara yang dulu ngajarin Ibu dan Ayah kamu cara mencintai,

dan sekarang nyanyi buat kamu — agar kamu tumbuh dengan damai,

di bawah langit yang selalu menyimpan janji.”

Raka menatapnya, lalu memeluknya lagi — lebih erat kali ini.

“Suara dari taman ini nggak akan pernah hilang, Ly,” katanya pelan.

“Karena mulai malam ini, dia udah pindah ke dalam hati kita.”

Alya menatapnya, tersenyum dengan tenang.

Dan di luar sana, taman mereka bergoyang pelan — seolah ikut menjawab doa itu dengan cara yang hanya dimengerti oleh langit

1
Dania
wow bagus .semangat tor
Dhila Azahra
😍👍
dias lobers
baguss
dias lobers
gimana
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!