Namaku Valerie. Hidupku adalah sebuah kompetisi yang sudah ditentukan kekalahannya bahkan sebelum dimulai. Di rumah ini, aku hanyalah bayangan dari Kakakku yang seorang dokter muda sukses. Orang tuaku menganggapku investasi gagal; mereka mengirim Kakak ke sekolah elit, sementara aku cukup di sekolah pinggiran karena dianggap hanya membuang-buang uang.
Muak menjadi sampah di mata mereka, aku memilih pergi. Aku terjun ke dunia malam, bergaul dengan mereka yang juga merasa terbuang. Meski aku dikelilingi botol minuman dan asap rokok, aku masih punya satu prinsip: aku tidak akan membiarkan diriku hancur sepenuhnya. Aku tetap menjaga harga diriku di tengah liarnya jalanan.
Namun, kebebasan ternyata berasa hambar sampai malam itu tiba. Di sebuah kelab yang bising, aku bertemu dengan Revan, adik angkat Ibu yang sudah bertahun-tahun menghilang untuk mengejar karier dosennya. Saat orang tuaku bahkan tidak sudi mencariku,pria yang terpaut sepuluh tahun dariku inilah yang justru menarikku keluar
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EILI sasmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22: PRIA TAK DI UNDANG.
Valerie menelan ludah, ia bisa merasakan degup jantung Revan yang berpacu cepat di dadanya. "Mas, jangan berlebihan. Aku tidak akan membalas pesannya jika dia menghubungiku."
"Tentu saja kau tidak akan membalasnya," Revan menarik wajahnya sedikit menjauh untuk menatap mata Valerie, "karena mulai malam ini, ponselmu akan ada dalam pengawasanku. Dan besok di kampus..." Revan tersenyum tipis, sebuah senyum misterius yang membuat Valerie merinding, "...aku akan memastikan Julian tahu bahwa 'permata' yang dia cari sudah berada di dalam brankas yang paling aman. Dan dia tidak memiliki kuncinya."
Valerie hanya bisa pasrah. Di satu sisi ia merasa lucu melihat Revan yang begitu protektif, namun di sisi lain ia tahu bahwa esok di kampus akan menjadi hari yang sangat berat. Karin dengan misi perjodohannya, Julian dengan rasa penasarannya, dan Revan... dengan otoritas suaminya yang tidak ingin diganggu gugat.
Pagi itu, kelas Hukum Perdata terasa lebih tegang dari biasanya, namun bukan karena materi kuliahnya. Di baris terdepan, sebuah kotak bekal premium dengan aroma croissant mentega yang menggoda tergeletak manis di atas meja Valerie.
Julian berdiri di sana, bersandar santai pada meja Valerie dengan senyum kemenangannya. "Aku ingat kau bilang tidak sempat sarapan kemarin, Valerie. Ini croissant terbaik dari kafe temanku. Anggap saja ini bahan bakar untuk otakmu sebelum menghadapi 'Iblis'," bisiknya dengan nada ceria.
Karin, yang duduk di samping Valerie, tampak seperti pendukung setia di garis depan. "Terima kasih, Pak Julian! Valerie ini memang pelupa kalau soal makan. Beruntung sekali ada yang perhatian begini," sahut Karin sambil menyenggol lengan Valerie dengan kode 'terima saja!'.
"Maaf, Pak Julian. Tapi saya sudah sarapan di rumah," tolak Valerie sehalus mungkin, sambil mencoba mendorong kotak itu kembali.
"Ah, satu potong saja tidak akan membuatmu kekenyangan," desak Julian dengan gigih, tangannya hampir menyentuh jemari Valerie saat hendak membuka kotak tersebut.
Tepat saat itu, pintu kelas terbuka dengan dentuman pelan namun berwibawa. Revan masuk. Langkahnya terhenti seketika saat melihat pemandangan di barisan depan.
Revan menatap kotak bekal itu, lalu menatap tangan Julian yang berada sangat dekat dengan Valerie. Rahang Revan mengeras. Mahasiswa di barisan belakang mulai berbisik, "Lihat wajah Pak Revan, dia sepertinya sedang ingin memakan seseorang hidup-hidup."
Revan berjalan menuju podiumnya. Wajahnya yang biasanya pucat kini perlahan memerah, bukan karena malu, tapi karena menahan amarah yang meledak-ledak di dadanya. Ia meletakkan tasnya dengan bunyi brak yang cukup keras, membuat seisi kelas tersentak.
"Pak Julian," suara Revan terdengar seperti es yang retak. "Saya tidak tahu sejak kapan ruang kuliah saya berubah menjadi kafetaria."
Julian terkekeh, tidak merasa terancam sama sekali. "Hanya sebentar, Pak Revan. Memberi nutrisi pada mahasiswi berbakat kita."
Revan tidak menjawab, namun matanya menatap tajam ke arah kotak bekal itu seolah-olah ia bisa membakarnya hanya dengan kekuatan pikiran. Ia mulai membuka laptopnya dengan gerakan kasar, tangannya sedikit gemetar karena menahan diri untuk tidak melempar Julian keluar jendela. Bagi mahasiswa lain, Pak Revan tampak sangat tersinggung karena kedisiplinannya dilanggar, tapi bagi Valerie, dia tahu suaminya sedang berada di ambang batas kesabaran.
"Pak Julian, tolong bawa kembali. Saya... saya benar-benar tidak bisa menerimanya," Valerie bersuara lagi, merasa tidak enak melihat wajah suaminya yang sudah seperti kepiting rebus.
"Kenapa? Apa kau sedang menjaga perasaan seseorang?" tanya Julian setengah bercanda, matanya berkilat menantang.
Karin ikut menimpali, "Iya, Val. Jangan bilang kau takut pacarmu marah? Memangnya ada pria yang lebih oke dari Pak Julian?"
Valerie melirik Revan yang kini sedang meremas pulpennya dengan sangat kuat. Valerie menarik napas panjang, ia harus mengakhiri ini sebelum Revan benar-benar melakukan tindakan di luar nalar.
"Sebenarnya... benar, Karin. Pak Julian, maaf, saya tidak bisa menerima ini karena saya sudah punya pasangan," ucap Valerie tegas.
Seketika, suasana kelas menjadi sangat hening. Revan yang tadinya sedang menatap layar laptop, perlahan mendongak. Meski wajahnya masih memerah, ada sedikit binar kemenangan yang tersembunyi di balik kacamata miliknya.
Julian tertegun sejenak, namun kemudian tertawa kecil. "Pasangan? Maksudmu... kau punya pacar? Mahasiswa juga?"
Karin hampir berteriak. "Apa?! Kau punya pacar, Val? Sejak kapan? Kok aku tidak tahu? Pasti dia hanya pria biasa yang tidak selevel denganmu, kan?"
"Pasangan yang kumaksud adalah seseorang yang sangat berarti bagiku, dan dia sangat... protektif," tambah Valerie, menatap Revan sekilas.
Julian melambaikan tangannya seolah itu bukan masalah besar. "Hanya pacar, kan? Selama janur kuning belum melengkung, kompetisi masih terbuka, Valerie. Lagipula, pacar anak muda biasanya hanya bertahan seumur jagung."
Revan yang mendengar kata 'hanya pacar' dan 'kompetisi' hampir saja mematahkan pulpen di tangannya. Ia berdehem sangat keras, memutus percakapan itu.
"Saudari Valerie, simpan kotak itu atau saya buang ke tempat sampah sekarang juga," perintah Revan dengan suara yang bergetar menahan emosi. "Dan Pak Julian, silakan tinggalkan kelas saya. Waktu bermain Anda sudah habis."
Julian mengangkat bahu, memberikan kedipan terakhir pada Valerie sebelum keluar. Karin langsung merapat ke telinga Valerie, "Val, kau harus cerita siapa pacarmu itu! Jangan sampai dia cuma menghalangimu mendapatkan pria seperti Pak Julian!"
Valerie hanya bisa menghela napas. Ia bermaksud mengakui suaminya, tapi malah disalahartikan sebagai pacar biasa.
Situasi semakin kacau. Di saat Revan sedang berusaha meredam api cemburunya di dalam kantor dosen, sebuah kejutan muncul di parkiran belakang gedung Seni yang biasanya sepi.
Valerie sedang berjalan menuju kelas studio sore ketika langkahnya terhenti mendadak. Di dekat deretan pohon mahoni, berdiri seorang pria dengan pakaian lusuh dan wajah yang tampak sangat lelah.
Arsen.
Pria itu adalah orang yang dahulu sempat membuat hidup Valerie berantakan, sosok dari masa lalu yang akhirnya lari ketakutan setelah diancam habis-habisan oleh Revan. Namun kini, ia kembali dengan tatapan memelas.
"Valerie..." panggil Arsen dengan suara serak.
Valerie mundur selangkah, napasnya tertahan. "Arsen? Sedang apa kau di sini? Jika Mas Revan tahu kau kembali..."
"Aku hanya ingin minta maaf, Val," Arsen memotong cepat, ia mendekat dengan tangan terangkat, mencoba menunjukkan bahwa ia tidak berniat jahat. "Aku dihantui rasa bersalah. Hidupku hancur sejak saat itu. Aku tidak tenang sebelum kau memaafkanku."
Arsen yang putus asa refleks meraih kedua tangan Valerie, memohon dengan sangat dramatis. Dari kejauhan, posisi mereka terlihat sangat intim, seperti sepasang kekasih yang sedang terlibat pertengkaran hebat namun penuh perasaan.
Tanpa mereka sadari, di lantai dua gedung Seni, Karin dan Julian sedang berdiri di balkon sambil menikmati kopi. Mata mereka berdua tertuju lurus ke arah parkiran.
"Lihat itu," Julian menyipitkan mata, suaranya mendadak berubah tajam. "Itukah 'pasangan' yang dia banggakan tadi pagi?"