Bagaimana jika saat kamu lupa segalanya, pria tertampan yang pernah kamu lihat mengaku sebagai kekasihmu? Apakah ini mimpi buruk...atau justru mimpi jadi nyata?"
Content warning:
Slow Pace, Psychological Romance, Angst.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Achromicsea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Potongan Hidup
Cahaya matahari hanya terasa seperti sesuatu yang terlalu terang untuk mata yang masih basah dan bengkak. Aku terbangun dengan kepala berat, kelopak mataku nyeri seperti habis dipaksa menangis berjam-jam karena memang begitu adanya. Setiap kali berkedip, ada rasa perih yang menusuk, membuat dadaku ikut sesak.
Aku menatap langit-langit apartemen tanpa fokus. Rasanya kosong, tapi di saat yang sama penuh. Penuh suara, penuh bayangan, penuh satu nama yang terus berulang di kepalaku.
Maya.
Untuk orang lain, mungkin aku terlihat berlebihan. Menangis semalaman, wajah sembab, tubuh lemas seolah dunia runtuh seluruhnya. Tapi mereka tidak tahu. Tidak ada yang benar-benar tahu.
Maya bukan sekadar teman.
Dia satu-satunya potongan hidupku yang masih utuh sebelum kecelakaan setahun lalu. Satu-satunya yang masih ingat aku seperti apa dulu sebelum ingatan itu berlubang, sebelum sebagian diriku hilang dan tidak pernah kembali. Kami bukan hanya dekat. Kami tumbuh bersama, saling mengisi di masa-masa yang sekarang bahkan sulit kuingat dengan jelas.
Dan sekarang dia pergi. Tidak, bukan pergi. Aku menelan ludah, dadaku kembali menegang. Maya nggak mungkin bunuh diri.
Pikiran itu muncul lagi, keras, membentur kepalaku berulang kali. Terlalu banyak yang tidak masuk akal. Kata-kata Gio kemarin, kesimpulan polisi, semuanya terasa seperti potongan puzzle.
Aku duduk perlahan, tubuhku masih lemah. Kakiku menyentuh lantai dingin, tapi aku hampir tidak merasakannya. Kepalaku sudah terlalu sibuk memutar kemungkinan demi kemungkinan.
Kalau bukan bunuh diri, lalu apa? Apakah dia ditekan? Takut? Atau ada sesuatu yang dia sembunyikan bahkan dari tunangannya sendiri?
Aku berdiri dan berjalan ke arah dapur tanpa benar-benar sadar apa yang kulakukan. Jam menunjukkan pagi, tapi perutku terasa mati rasa. Aku tidak lapar. Yang ada hanya dorongan aneh untuk terus berpikir, terus mengingat, terus mencari celah yang mungkin aku lewatkan.
Aku melewatkan sarapan begitu saja.
Tidak menyeduh apa pun, tidak menyentuh apa pun. Aku hanya berdiri di sana, menatap meja dapur kosong, dan tenggelam dalam pikiranku sendiri.
Arven memperhatikanku sejak tadi, aku merasakannya.
Ia tidak langsung bicara. Ia hanya mengamatiku dari ambang pintu, melihat caraku berdiri terlalu lama tanpa tujuan, caraku menatap kosong seolah tubuhku ada di sini tapi pikiranku entah di mana.
Akhirnya, ia mendekat.
"Ren," panggilnya pelan, tapi jelas. "Kamu belum makan."
Aku tidak menoleh.
"Ren," ulangnya, kali ini sedikit lebih tegas. "Kamu boleh sedih, boleh nangis, boleh berduka tapi jangan sampai kamu abaikan tubuh kamu. Makan ya?"
Kalimat itu terdengar seperti perhatian. Tapi di telingaku, entah kenapa, rasanya seperti tekanan.
Dadaku langsung panas.
Aku menoleh cepat ke arahnya. Mataku masih merah, pandanganku tajam, emosiku sudah di ujung batas sejak bangun tadi.
"Kalau aku bilang nggak mau," kataku dingin, suaraku bergetar tapi keras, "ya aku nggak mau, Ven."
Ruangan mendadak sunyi.
Arven terdiam. Aku bisa melihat rahangnya mengeras perlahan, otot di wajahnya menegang. Ia tidak suka melihatku seperti ini, keras kepala, menolak, seolah sedang menghukum diri sendiri.
Ia menarik napas, dalam dan berat.
Dan ketika ia bicara lagi, nadanya meledak.
"KAMU SEDIH SELAMA SERATUS HARI PUN," suaranya menggema, kasar, "MAYA ITU NGGAK AKAN BANGKIT DARI KUBUR TERUS NYAMPERIN KAMU!"
Kata-kata itu menghantamku lebih keras dari tamparan mana pun.
Aku membeku.
Dadaku terasa seperti diremas. Mataku melebar, napasku tercekat di tenggorokan. Untuk sesaat, aku bahkan lupa caranya bernapas.
Arven sendiri tampak terkejut dengan suaranya. Ia terdiam setelah itu, napasnya masih naik turun, tangannya mengepal di sisi tubuhnya.
Aku menatapnya, luka di mataku bukan cuma karena kehilangan saja, tapi karena kalimat itu.
Pelan, suaraku keluar, nyaris berbisik.
"Aku tahu," kataku. "Justru karena itu aku nggak bisa berhenti, Ven."
Tanganku gemetar.
"Kalau aku berhenti mikir, berhenti nyari itu artinya aku nerima dia mati sia-sia."
Aku menggeleng kecil, air mata kembali jatuh.
"Maya nggak mungkin bunuh diri. Dan aku nggak akan diem aja."
Ruangan kembali sunyi. Kali ini lebih berat.
Arven menatapku lama.
Wajahnya berubah bukan lagi marah, melainkan sesuatu yang jauh lebih menyakitkan untuk dilihat.
Ia menutup mata sesaat, menarik napas dalam-dalam seolah sedang menahan sesuatu yang terlalu berat di dadanya. Ketika ia membukanya lagi, sorot matanya melembut, bahunya turun, seluruh tubuhnya seperti kehilangan tenaga untuk tetap tegang.
"Ren..." suaranya serak. Jauh berbeda dari teriakannya barusan.
Ia melangkah mendekat, ragu, seperti takut satu gerakan salah bisa membuatku runtuh lebih parah. Tangannya terangkat, lalu turun lagi, sebelum akhirnya ia berani berdiri tepat di depanku.
"Maaf," katanya cepat. "Maaf. Aku nggak seharusnya ngomong gitu."
Aku tidak langsung menjawab. Dadaku masih sakit, tenggorokanku masih perih.
Arven menghela napas lagi, kali ini lebih pendek, ia takut aku akan menutup diri kalau ia terlambat bicara.
"Aku minta maaf," ulangnya, nadanya melemah. "Aku salah. Aku keterlaluan."
Ia menunduk sedikit, matanya tidak berani langsung menatapku.
"Aku cuma aku panik, Ren," lanjutnya lirih. "Aku lihat kamu kayak mau ngilang. Nggak makan, nggak tidur bener, matamu kosong aku takut kehilangan kamu juga."
Kata juga itu menusuk.
Tanganku masih gemetar di sisi tubuhku. Aku tidak tahu harus marah atau menangis lagi.
Arven akhirnya berlutut di depanku, persis seperti semalam. Posisi itu membuatku mau tak mau menatapnya.
"Maafin aku," katanya pelan, hampir putus. "Aku nggak bermaksud nyakitin kamu. Aku tau Maya penting banget buat kamu. Aku tau kamu nggak lebay. Aku tau ini dunia kamu yang lagi runtuh."
Ia menelan ludah.
"Aku cuma nggak mau kamu hancur sendirian."
Dadaku mengencang. Nafasku bergetar.
Arven mengulurkan tangannya, ragu, lalu menggenggam jemariku dengan hati-hati, seolah aku terbuat dari kaca.
"Kita cari jalan keluarnya, ya?" katanya akhirnya. Suaranya lembut, nyaris memohon. "Pelan-pelan. Bareng-bareng. Oke?"
Ia mengangkat wajahnya sedikit, menatapku sungguh-sungguh.
"Tapi kamu harus makan dulu."
Kalimat itu sederhana. Hanya permintaan dari seseorang yang takut kehilanganku.
Air mataku jatuh lagi, kali ini tanpa isakan. Aku mengangguk kecil, hampir tidak terlihat.
"Satu suap," bisikku lemah. "Habis itu aku mau mulai nyari."
Arven mengangguk cepat, seolah itu sudah lebih dari cukup.
"Deal," katanya lirih. "Satu suap pun nggak apa-apa."
Ia berdiri, bergerak ke dapur, aku tetap berdiri di tempat, memeluk diriku sendiri.