Hellowwww
Ini adalah novel pertama sayaa.
Semoga sukaa ya 😍🙏
Sinopsis:
Bercerita tentang dua pasangan yang bucin banget di sekolah. Namun, karena suatu hal menyebabkan hubungan mereka menjadi renggang hingga ada di pinggir jurang, bahkan setelah jatuh pun mereka masih dihadapkan pada ribuan masalah.
Masalah apa ya kira-kira?
Yuk dibaca langsung ajaa!
Donasi ke aku:
Saweria: parleti
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jaaparr., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21. Kembali Normal
Dua minggu telah berlalu sejak percakapan Asha dan Arsa di depan kelas.
Dua minggu di mana Asha berusaha keras untuk menerima kenyataan bahwa Arsa sudah tidak bisa kembali lagi kepadanya.
Perlahan-lahan, Asha mulai menurunkan egonya. Ia mulai belajar untuk berdamai dengan situasi ini.
Meskipun masih sakit, tapi ia tau bahwa ia tidak bisa terus-terusan terpuruk seperti ini.
🌷🌷🌷🌷
Pagi ini, seperti biasa, Asha datang ke sekolah dengan langkah yang lebih ringan dari biasanya. Ia sudah memutuskan untuk mencoba bersikap normal.
Saat ia berjalan di koridor, ia melihat Arsa dan Raya sedang mengobrol di depan kelas dengan senyuman di wajah mereka.
Dulu, pemandangan itu akan membuat dadanya sesak. Tapi sekarang... Sekarang ia hanya tersenyum tipis dan berjalan melewati mereka.
"Pagi" sapa Asha dengan nada yang lebih ramah dari biasanya.
Arsa dan Raya menoleh ke arah Asha dengan wajah yang sedikit terkejut.
"Hmm, pagi Asha!" balas Raya dengan senyuman lebar.
Arsa hanya mengangguk pelan dengan tatapan yang sulit diartikan.
Asha masuk ke kelas dan duduk di kursinya. Cinta yang melihat perubahan sikap Asha langsung menghampiri dengan wajah penuh tanda tanya.
"Sha, lo... Lo beneran gapapa?" tanya Cinta dengan nada khawatir.
Asha mengangguk dengan senyuman tipis. "Iya, Cin. Gw udah capek nangis terus. Gw harus belajar nerima kenyataan."
Cinta menatap Asha dengan tatapan yang penuh simpati. "Gw bangga sama lu, Sha. Lu bener-bener kuat."
Asha menggeleng pelan. "Bukan kuat, Cin. Gw cuma... Gw cuma pasrah aja."
🌷🌷🌷🌷
Hari-hari berikutnya, hubungan Asha, Arsa, dan Raya mulai berkembang ke arah yang lebih baik.
Mereka bertiga mulai sering mengobrol bersama, meskipun terkadang masih ada kecangggungan di antara mereka.
Suatu hari, guru matematika masuk ke kelas dengan pengumuman.
"Baiklah semuanya, untuk tugas kelompok kali ini, saya sudah bagi kalian dalam kelompok beranggotakan empat orang. Saya akan bacakan nama-namanya."
Asha mendengarkan dengan seksama, berharap ia tidak satu kelompok dengan Arsa.
"Kelompok lima: Kian Arsa, Sarah Ashalova, Alea Raya, dan Cinta Widyanta."
Deg.
Asha merasakan jantungnya berdegup kencang. Dari semua kemungkinan, kenapa harus satu kelompok dengan Arsa DAN Raya?
"Tema tugas kalian adalah tentang ekosistem. Kalian harus membuat presentasi lengkap dengan video. Deadline-nya dua minggu dari sekarang. Selamat bekerja."
Setelah guru itu keluar, Cinta langsung menghampiri Asha dengan wajah yang khawatir.
"Sha, lu gapapa?" tanya Cinta dengan nada pelan.
Asha mengangguk pelan meskipun di dalam hatinya ia merasa tidak nyaman. "Gapapa kok, Cin. Gw harus profesional."
Tidak lama kemudian, Raya dan Arsa menghampiri mereka.
"Hmm, yuk kita diskusi kapan mau ngerjain tugasnya" ajak Raya dengan senyuman ramah.
Mereka berempat lalu berkumpul membentuk lingkaran kecil.
"Gimana kalau kita kerjain di rumah salah satu dari kita? Biar lebih fokus" usul Cinta.
"Hmm, boleh. Rumah siapa?" tanya Raya.
Keheningan merajai mereka untuk beberapa saat. Tidak ada yang berani menawarkan.
"Kalau gitu di rumah gw aja deh. Kebetulan orang tua gw jarang di rumah" tawar Cinta akhirnya.
"Oke, deal. Kapan?" tanya Arsa.
"Besok sore aja gimana? Habis pulang sekolah langsung ke rumah gw" usul Cinta.
Mereka semua mengangguk setuju.
🌷🌷🌷🌷
Keesokan harinya, sepulang sekolah, mereka berempat pergi ke rumah Cinta.
Rumah Cinta cukup besar dengan halaman yang luas. Mereka duduk di ruang tamu yang nyaman, dengan laptop, buku-buku, dan camilan di atas meja.
"Oke, jadi kita harus bikin presentasi tentang ekosistem. Menurut kalian, ekosistem apa yang menarik buat dibahas?" tanya Cinta membuka diskusi.
"Hmm, gimana kalau ekosistem hutan hujan tropis? Banyak hal menarik yang bisa dibahas" usul Raya.
"Boleh juga tuh. Setuju gak?" tanya Arsa melihat ke arah Asha.
Asha yang ditanya langsung tersentak. Ini pertama kalinya Arsa berbicara langsung kepadanya setelah sekian lama.
"Eh, iya. Gw setuju" jawab Asha dengan suara yang pelan.
Mereka lalu mulai membagi tugas. Arsa dan Raya mengerjakan bagian riset dan konten, sementara Asha dan Cinta mengerjakan bagian desain presentasi dan video.
Selama beberapa jam pertama, suasana cukup canggung. Terutama antara Asha dan Arsa yang berusaha menghindari kontak mata.
Tapi lama-kelamaan, suasana mulai mencair.
"Eh Arsa, lo inget gak waktu kita SD dulu, kita pernah bikin proyek tentang tanaman? Terus tanaman lo mati gara-gara lo lupa nyiram" cerita Raya sembari tertawa.
Arsa tertawa juga. "Iya! Terus guru kita marah-marah gara-gara proyeknya gagal."
Mereka berdua tertawa bersama mengingat kenangan masa kecil mereka.
Asha yang melihat itu hanya tersenyum tipis. Ia sudah membiasakan diri dengan kedekatan Arsa dan Raya.
"Sha, lo gapapa?" bisik Cinta dengan nada khawatir.
Asha mengangguk. "Gapapa kok, Cin. Gw udah biasa."
Tapi di dalam hatinya, masih ada sedikit rasa sakit yang tersisa.
🌷🌷🌷🌷
Saat istirahat, Cinta menyiapkan camilan untuk mereka. Raya membantu Cinta di dapur, meninggalkan Asha dan Arsa berdua di ruang tamu.
Keheningan yang canggung merajai mereka. Asha sibuk dengan laptopnya, sementara Arsa menatap keluar jendela.
"Asha..." panggil Arsa tiba-tiba dengan suara yang pelan.
Asha mengangkat kepalanya. "Ya?"
"Aku... Aku mau minta maaf. Soal semua yang udah terjadi" ucap Arsa dengan nada yang penuh penyesalan.
Asha terdiam mendengar permintaan maaf Arsa. Di dalam hatinya, ada perasaan campur aduk.
"Udah, Arsa. Gw udah gak masalah lagi kok. Yang penting sekarang lo bahagia" ucap Asha dengan senyuman yang dipaksakan.
Arsa menatap Asha dengan tatapan yang sulit diartikan. "Kamu... Kamu serius?"
Asha mengangguk. "Serius. Gw udah belajar buat nerima kenyataan kalau lo udah gak bisa kembali ke gw lagi."
"Asha—"
"Dan gw tau, lo sekarang lebih nyaman sama Raya. Gapapa kok. Gw seneng kok liat lo bisa ketawa lagi" potong Asha dengan suara yang bergetar di akhir kalimat.
Arsa merasakan dadanya sesak mendengar ucapan Asha. Ada perasaan bersalah yang luar biasa.
"Maafin aku, Asha. Aku bener-bener gak bermaksud nyakitin kamu" ucap Arsa dengan suara yang penuh penyesalan.
"Gw tau kok. Lo gak salah, Arsa. Ini semua bukan salah lo" ucap Asha dengan senyuman pahit.
Sebelum Arsa sempat menjawab, Raya dan Cinta sudah kembali dengan membawa camilan.
"Hmm, nih nih! Makanan udah dateng!" seru Raya dengan ceria.
Suasana canggung tadi langsung tergantikan dengan kehangatan lagi.
🌷🌷🌷🌷
Setelah beberapa jam mengerjakan tugas, akhirnya mereka selesai dengan pembagian kerja dan timeline-nya.
"Oke, jadi minggu depan kita ketemu lagi ya buat finalisasi" ucap Cinta menyimpulkan.
"Hmm, setuju. Makasih ya Cin udah nyediain tempat" ucap Raya dengan senyuman.
Mereka lalu membereskan barang-barang mereka masing-masing.
Saat akan pulang, Raya menghampiri Asha dengan senyuman ramah.
"Hmm, Asha... Makasih ya hari ini. Aku seneng kita bisa kerja bareng" ucap Raya dengan tulus.
Asha tersenyum tipis. "Sama-sama, Raya."
Raya terdiam sejenak, lalu ia menatap Asha dengan tatapan yang serius.
"Hmm, Asha... Aku tau ini pasti berat buat kamu. Tapi... Tapi aku seneng kamu mau nyoba nerima keadaan. Kamu... Kamu orang yang kuat" ucap Raya dengan nada yang penuh simpati.
Asha tidak menyangka akan mendengar kata-kata seperti itu dari Raya. Di dalam hatinya, ada perasaan aneh.
"Makasih, Raya" ucap Asha akhirnya.
Mereka lalu pulang ke rumah masing-masing dengan perasaan yang berbeda-beda.
🌷🌷🌷🌷
Malam harinya, Cinta menelepon Asha.
"Sha, gw mau nanya. Lo... Lo beneran udah gapapa sama keadaan sekarang?" tanya Cinta dengan nada khawatir.
Asha terdiam di ujung telpon. Ia menatap foto Arsa yang masih tertempel di dinding kamarnya.
"Gw... Gw gak tau, Cin. Gw cuma berusaha buat terlihat gapapa aja" jawab Asha dengan suara yang pelan.
"Tapi sebenernya lo masih sakit hati kan?" tanya Cinta dengan lembut.
Asha mengangguk meskipun Cinta tidak bisa melihatnya. "Iya... Masih sakit banget. Tapi gw harus belajar buat hidup dengan rasa sakit ini."
"Sha... Lu gak harus maksa diri lu buat gapapa kalau sebenernya lu masih sakit" nasehat Cinta.
"Tapi gw juga gak bisa terus-terusan terpuruk, Cin. Gw harus move on. Gw harus... Gw harus ngelepas Arsa" ucap Asha dengan suara yang tercekat.
Air matanya mulai jatuh.
"Meskipun itu susah banget... Meskipun gw masih cinta sama dia... Tapi gw harus belajar buat ngelepas..."
Cinta mendengarkan dengan hati yang ikut teriris. "Gw ngerti, Sha. Dan gw bakal selalu ada buat lu."
"Makasih, Cin. Lo emang sahabat terbaik gw" ucap Asha dengan senyuman di balik air mata.
Setelah telpon berakhir, Asha melepas foto Arsa dari dinding kamarnya. Ia menatap foto itu untuk terakhir kalinya.
"Arsa... Gw harap lo bahagia. Meskipun bukan sama gw" bisik Asha dengan air mata yang terus mengalir.
Ia lalu memasukkan foto itu ke dalam laci mejanya. Menyimpannya bersama kenangan-kenangan manis yang pernah mereka miliki.
'Ini... Ini langkah pertama gw buat move on' batin Asha dengan hati yang begitu sakit.
🌷🌷🌷🌷
Sementara itu, di kamarnya, Arsa duduk di tepi kasur sembari menatap hp-nya.
Ia membuka chat dengan Asha. Chat yang sudah lama tidak aktif.
Percakapan terakhir mereka masih tentang tugas kelompok tadi.
Arsa menatap foto profil Asha dengan tatapan yang sulit diartikan.
'Kenapa... Kenapa dadaku terasa sesak ya setiap kali ngeliat dia berusaha tersenyum?' batin Arsa dengan perasaan yang campur aduk.
'Apa... Apa aku salah udah ngelepas dia?'
Tapi sebelum ia sempat memikirkan lebih lanjut, hp-nya berdering. Sebuah pesan dari Raya.
^^^Raya^^^
^^^Hmm, Arsa. Makasih ya hari ini. Seneng bisa ngerjain tugas bareng kamu lagi kayak dulu 😊^^^
Arsa tersenyum tipis melihat pesan Raya. Ia lalu mengetik balasan.
Arsa
Sama-sama, Lea. Aku juga seneng kok.
Setelah mengirim pesan itu, Arsa kembali menatap foto profil Asha dengan tatapan yang penuh dilema.
'Asha... Maafkan aku...'
TO BE CONTINUED
🌷🌷🌷🌷🌷
Akhirnya hubungan mereka bertiga mulai membaik! Meskipun masih ada kecangggungan, tapi setidaknya mereka bisa bekerja sama dengan baik 💪
Tapi Asha masih harus berjuang keras buat nerima kenyataan dan move on dari Arsa. Kasian banget liat dia harus nyimpen foto Arsa di laci 😭
Kira-kira Asha bisa beneran move on? Atau justru perasaannya makin dalam?
Penasaran kan kelanjutannya? Yuk stay tune terus dan jangan lupa follow ig author!
Follow ig author ya!
@Jaaparr.
tapi bikin Asha sungguh movie on Thor kalau bersama arsa itu menyakitkan jangan sia siakan airmataku ,..bahagiakan asha bersama orang lain juga supaya arsa merasakan kesakitan dan air mataku