NovelToon NovelToon
Jodoh Sang Letnan

Jodoh Sang Letnan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:34.6k
Nilai: 5
Nama Author: Deyulia

Ikuti saya di:
FB Lina Zascia Amandia
IG deyulia2022

Setelah hatinya lega dan move on dari mantan kekasih yang bahagia dinikahi abang kandungnya sendiri. Letnan Satu Erlaga Patikelana kembali menyimpan rasa pada seorang gadis berhijab sederhana yang ia temui di sebuah pujasera.

Ramah dan cantik, itu kesan pertama yang Erlaga rasakan saat pertama kali bertemu dengan gadis itu. Namun, ketika hatinya mulai menyimpan rasa, tiba-tiba sang mama membawa kabar kalau Erlaga akan dikenalkan pada seorang gadis anak dari leting sang papa. Sayangnya, Erlaga menolak. Dia hanya ingin mendapatkan jodoh hasil pencariannya.

Apakah Erlaga pada akhirnya menerima perjodohan itu, atau malah justru berjodoh dengan gadis yang ia temui di pujasera?

Yuk, kepoin kisahnya di "Jodoh Sang Letnan"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deyulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9 Doa dan Sangkalan Bersatu Padu

     ​Pagi itu di kediaman Dallas yang biasanya tenang, kini berubah menjadi riuh dengan nada kecemasan. Dallas berdiri di teras depan, ponselnya menempel erat di telinga. Wajahnya melunak, karena ia sedang berempati terhadap yang terjadi pada Erlaga.

     Beberapa saat kemudian, Dallas menghubungi Pak Erkana,

​"Iya, Er. Saya baru lihat beritanya semalam. Innalillahi... saya sekeluarga sangat prihatin. Bagaimana kondisi Laga sekarang? Apa sudah ada kabar terbaru dari Markas Besar?" Suara Dallas terdengar berat, penuh dengan wibawa namun tersirat rasa sayang seorang paman kepada keponakannya.

     ​Di balik tirai jendela ruang tengah yang sedikit terbuka, Syafina berdiri mematung. Ia menahan napas, berusaha menangkap setiap kata yang keluar dari mulut papanya. Jantungnya berdenyut nyeri setiap kali nama "Laga" disebut.

     ​"Kritis? Ya Allah... semoga ada mukjizat. Tolong sampaikan pada Jeng Zahira agar tetap kuat. Kami akan mendoakan Laga dari sini. Nanti malam kalau tidak ada halangan, saya dan Sakala akan mampir ke rumah," lanjut Dallas sebelum akhirnya menutup telepon dengan helaan napas panjang.

     ​Syafina segera menjauh dari jendela sebelum papanya berbalik masuk. Ia duduk di sofa, mencoba menyibukkan diri dengan buku di pangkuannya, meski tak satu pun kata yang mampu ia serap. Pikirannya kacau balau.

     ​"Tidak. Tidak mungkin itu Kak Laga kenalanku," batinnya terus menyangkal. "Kak Laga yang aku temui di kedai bakso itu orangnya lembut. Dia juga tidak pernah bilang mau ke Sudan. Itu hanya kebetulan namanya saja yang sama."

    ​"Tapi... kalau memang dia bukan Erlaga anak temannya Papa, kenapa Kak Laga yang aku temui di kedai bakso sampai sekarang tidak ada kabar? Kenapa nomornya mati total tepat di hari penugasan Satgas itu berangkat?" bisiknya lirih. Syafina memejamkan mata erat-erat, mencoba mengusir bayangan liontin hati patah yang ia simpan di lemari.

     ​Malam harinya, rumah terasa lebih sepi. Dallas sudah bersiap-siap dengan batik lengan panjangnya. Ia tampak sedang mengecek ponsel, menunggu kabar dari putra pertamanya, Sakala.

     ​"Fina, kamu yakin tidak mau ikut ke rumah Om Erkana?" tanya Dallas saat melihat Syafina hanya duduk terdiam di depan televisi yang menyala tanpa suara. "Tadi, Mama dan Syafini sudah berangkat duluan ke sana. Mau menghibur Tante Zahira yang sedih. Papa berangkat bareng sama Aamu Sakala. Kami sudah janjian di depan komplek."

     ​Syafina mendongak, menatap papanya dengan senyum kaku yang dipaksakan. "Enggak deh, Pa. Fina masih banyak tugas kuliah. Titip salam saja buat Om Erkana dan Tante Zahira. Semoga... semoga putra mereka segera membaik."

     ​Dallas menatap putrinya sejenak, ada kilat kecurigaan di matanya, namun ia urungkan untuk bertanya lebih jauh. "Ya sudah, kalau begitu. Kamu kunci pintu rumah, ya. Papa berangkat dulu. Assalamualaikum."

     "Waalaikumsalam." Syafina membalas salam, matanya mengikuti kepergian Dallas sampai Dallas memasuki mobilnya.

     ​Begitu deru mobil Dallas menjauh, Syafina melempar bantal sofa ke lantai. Ia tidak sanggup ikut.

     "Semoga anak teman Papa cepat pulih dari luka-lukanya. Dan, semoga anak teman Papa yang saat ini terluka, bukan Kak Erlaga kenalanku," sangkalnya lagi. Namun, dasar hatinya tetap merasa was-was dan tentu saja ia berdoa untuk keselamatan anak teman Papanya itu, meskipun Syafina tidak mengenalnya.

***

     Ribuan kilometer dari Bandung, di sebuah tenda medis darurat yang dikelilingi oleh kawat berduri dan penjagaan ketat, Lettu Erlaga sedang bertarung nyawa melawan maut. Suasana di dalam tenda itu sangat panas, meski pendingin ruangan portabel sudah dinyalakan dengan maksimal.

     Bau anyir darah dan karbol menyengat, bercampur dengan suara bip teratur dari monitor jantung yang terhubung ke tubuh Erlaga.

​Erlaga terbaring tidak berdaya. Bahu kirinya luka terkena serpihan ledakan, serta luka tembak yang tembus di lengan kanannya.

     Wajahnya yang biasanya segar dan penuh wibawa kini pucat pasi, tulang pipinya tampak lebih menonjol karena berat badannya turun drastis selama tugas.

     ​Dalam ketidaksadarannya, Erlaga merasa sedang berada di sebuah lorong gelap yang panjang. Ia berlari, namun kakinya terasa sangat berat. Di ujung lorong itu, ada secercah cahaya, dan ia melihat seraut wajah teduh yang sangat ia rindukan.

     ​"Syafina...." Igauan itu keluar dari bibirnya yang kering dan pecah-pecah.

     ​Seorang perawat militer segera mendekat, memeriksa infus yang mengalir ke pembuluh darah Erlaga. "Suhunya masih tinggi, Dok," lapor perawat itu pada dokter batalyon yang berjaga.

     ​Erlaga tidak mendengar mereka. Dalam mimpinya, ia sedang melihat Syafina gelisah lalu berdoa dengan khusuk sambil memegang benda di tangan kirinya dengan erat. Liontin hati yang separuh, sisa yang dipatahkan Erlaga.

     "Syafina, kamu masih menyimpan liontin itu, Dik?" ujarnya parau.

     "Dia terus mengigau, Dok," lapor perawat itu, sembari memasukan cairan ke dalam labu infus.

     "Biarkan, dia sedang berjuang melewati masa kritis," balas dokter. Tangannya cekatan memasang perban di tangan kanan Erlaga.

     ​Tangan kanan Erlaga yang sudah dibebat perban bergerak lemah, jemarinya seolah mencoba menggapai sesuatu yang menggantung di dadanya. Dog tag yang menyatu dengan liontin hati sebelah itu bergeser, menciptakan bunyi logam halus yang beradu.

     ​Erlaga merasa sangat haus. Haus akan air, dan haus akan maaf. Di ambang batas antara hidup dan mati, egonya telah luruh sepenuhnya. Ia tidak lagi peduli siapa pria muda yang bersama Syafina waktu itu. Ia hanya ingin pulang.

     Ia ingin menjelaskan bahwa keberangkatannya ke Sudan bukan untuk melarikan diri, melainkan untuk memenuhi janji pada negara yang sudah tertanam di nadinya.

    "Jangan... jangan hilang," bisiknya lagi dalam igauan. Ia takut liontin sebelah itu hilang. Jika benda itu hilang, ia merasa harapannya untuk kembali pada Syafina juga akan musnah.

     ​Malam hari di kota Darfur kian mencekam. Di luar tenda, suara tembakan sesekali masih terdengar di kejauhan, mengingatkan bahwa kedamaian di negeri ini masih sangat mahal harganya.

     Namun di dalam tenda itu, seorang prajurit sedang melakukan operasi paling sulit dalam hidupnya, yakni operasi untuk tetap bertahan hidup demi satu nama yang bahkan belum sempat ia miliki seutuhnya.

     ​Erlaga tidak tahu bahwa di tempat yang jauhnya ribuan mill tepatnya di kota Bandung, Syafina yang ia igaukan sedang meringkuk di pojok tempat tidur, sambil menggenggam liontin separuh hati dengan air mata yang terus mengalir, meski mulutnya terus saja berkata, "Itu bukan dia... itu bukan Kak Erlaha...."

     ​Takdir seolah sedang menertawakan mereka berdua. Satu orang berjuang melawan maut di tengah gersangnya Afrika, sementara yang lain berjuang melawan kenyataan di tengah dinginnya hujan Bandung.

1
Esther
gak ada capeknya Laga....habis latihan langsung ngerjain istri😄
Lina Zascia Amandia: Lagi hangat2nya pengantin baru, heheh....
total 1 replies
Ayudya
lanjut kak
Ikaaa1605
Kiw kiw😅
Nice1808
romantis bnget🤣🤣lanjut thor
@💤ιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍
@💤ιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
sabar shafina. erlaga juga kangen kamu
Kasandra Kasandra
lanjut
Nar Sih
sabarr ya fina,tiga hri gk lama kok ,pasti nanti stlh suami mu pulang puas,,in deh lepas rinduu
Supryatin 123
lnjut thor 💪💪
Patrick Khan
ahhhh apa q aja yg di tinggal suamik kerja luar kota malah seneng gk karuan🤣🤣🤣🤣
Patrick Khan: hahaha.. iya kak
total 4 replies
Nice1808
sabar fina cuma 3 hari ntar laga pulang rindu nya menggebu2😃😃😃
Ayudya
sabar Fina hanya 3 hari ntar kalau Uda pulang peluk yg erat jangan lepaskan🤣🤣🤣🤣🤣
Eva Tigan
persiapkan diri ..jiwa dan raga saja Syafina..ini Pak Kapten pulang pasti rindunya menggebu gebu,harus siap segera digempur entah sampai berapa Ronde..😄
Eva Tigan: yup benar.. kekuatan prajurit pasti ekstra kuat di darat ,laut dan udara ..bahkan di atas ranjang sekalipun 😄
total 2 replies
@💤ιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
shafina, semangat tunjukkan prestasimu yaa
@💤ιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
semangat yaw😊
Nar Sih
sabarr fina ,jgn dgr kata ibu,,persit yg lain nya ,💪
Nar Sih
semagatt fina 💪jdi ibu persit 👍
Esther
dimana2 ya kalau yang senior itu selalu sok berkuasa.
Esther
Memakai seragam persit pertama kali....semangat Fina
Supryatin 123
lnjut thor 💪💪 double up nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!