NovelToon NovelToon
Benih Kesalahan Satu Malam

Benih Kesalahan Satu Malam

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Hamil di luar nikah / Anak Kembar / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Senimetha

Elisa (18 tahun) hanyalah gadis yatim piatu yang berjuang sendirian demi menyekolahkan adiknya. Namun, hidupnya berubah menjadi mimpi buruk saat sebuah pesanan makanan membawanya ke kamar yang salah. Di sana, ia kehilangan segalanya dalam satu malam yang tragis. Di sisi lain, ada Kalandra (30 tahun), pewaris tinggal kaya raya yang dikenal dingin dan anti-perempuan. Malam itu, ia dijebak hingga kehilangan kendali dan merenggut kesucian seorang gadis asing. Elisa hancur dan merasa mengkhianati amanah orang tuanya. Sedangkan Kalandra sendiri murka karena dijebak, namun bayang-bayang gadis semalam terus menghantuinya. Apa yang akan terjadi jika benih satu malam itu benar-benar tumbuh di rahim Elisa? Akankah Kalandra mau bertanggung jawab, atau justru takdir membawa mereka ke arah yang lebih rumit? Yukkk…ikuti ceritanya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senimetha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Elisa-19

Cahaya matahari pagi ini yang masuk melalui celah gorden ruang VIP rumah sakit itu terasa jauh lebih lembut. Tidak ada lagi kabut pekat yang mencekam seperti malam sebelumnya. Suara mesin pendeteksi jantung yang teratur menjadi satu-satunya irama yang mengisi keheningan, memberikan rasa tenang yang aneh bagi siapa pun yang mendengarnya.

Elisa mengerjapkan matanya. Hal pertama yang ia rasakan adalah tangannya yang hangat. Saat ia melirik ke bawah, ia menemukan tangan Kalandra masih menggenggam jemarinya, bahkan saat pria itu tertidur dengan posisi duduk yang tampak sangat tidak nyaman di samping tempat tidur.

Wajah Kalandra saat tidur tampak berbeda. Guratan tegas di dahinya sedikit mengendur, namun lingkaran hitam di bawah matanya tidak bisa berbohong kalau pria yang menjadi suaminya ini telah berjaga sepanjang malam. Elisa terdiam sejenak, menatap wajah suaminya. Ada rasa bersalah yang menyeruak seolah menyadarkan ya bahwa pria ini seharusnya berada di kantor mewah, memimpin rapat penting, bukan meringkuk di kursi rumah sakit yang sempit karena dirinya.

Elisa mencoba bergerak sedikit untuk membetulkan letak bantalnya, namun gerakan kecil itu langsung membuat Kalandra terjaga. Pria itu menegakkan punggungnya dengan cepat, matanya langsung mencari wajah Elisa.

"Elisa? Apa ada yang sakit? Atau kamu butuh sesuatu?" tanya Kalandra dengan suara serak khas orang bangun tidur, namun penuh kesiagaan.

"Nggak, Mas. Emm…saya cuma mau geser bantal. Maaf, saya jadi bangunin Mas Landra," bisik Elisa.

Kalandra tidak menjawab, ia justru berdiri dan membantu Elisa menyesuaikan posisi tempat tidur elektriknya agar lebih tegak. "Jangan banyak bergerak dulu. Dokter bilang kamu harus bed rest total. Biar saya saja."

Ia kemudian mengambil segelas air hangat di nakas, memastikan suhunya pas dengan menyentuh pinggiran gelas ke telapak tangannya sendiri, lalu menyodorkannya pada Elisa.

"Minum dulu. Bibirmu terlihat kering," ujar Kalandra.

Elisa meminumnya perlahan. Saat ia mengembalikan gelas itu, matanya bertemu dengan mata Kalandra. "Mas Landra sudah makan? Mas kelihatan capek sekali."

Kalandra mengusap wajahnya, mencoba mengusir kantuk yang masih tersisa. "Tadi subuh saya sudah makan roti yang dibawakan Bimo. Kamu tidak perlu memikirkan saya. Pikirkan saja dirimu dan itu bayi kita."

Mendengar kata bayi kita, Elisa secara otomatis menyentuh perutnya. "Dia... dia benar-benar kuat ya, Mas? Meskipun saya sudah ketakutan seperti kemarin, dia tetap bertahan."

Kalandra duduk kembali di tepi tempat tidur. "Dia anak Mahendra, Elisa. Dia tahu ayahnya sedang berjuang di luar, jadi dia memutuskan untuk berjuang di dalam. Dia tidak akan menyerah semudah itu."

...----------------...

Pukul sepuluh pagi, pintu ruangan terbuka pelan. Nyonya Siska masuk dengan wajah yang dipenuhi kekhawatiran, namun ia berusaha tetap tersenyum saat melihat Elisa sudah sadar. Di belakangnya, Bi Inah membawa beberapa tas berisi pakaian bersih dan makanan rumah yang aromanya sangat lembut.

"Elisa, sayang..." Siska langsung mendekat dan memeluk bahu Elisa dengan hati-hati. "Mama langsung berangkat dari rumah begitu Papa cerita kejadian semalam. Bagaimana perasaanmu sekarang, Nak?"

"Sudah lebih baik, Ma. Maaf sudah membuat Mama khawatir," sahut Elisa tulus. Ia sudah mulai terbiasa memanggil Siska dengan sebutan Mama, sebuah kata yang dulu terasa sangat asing baginya.

Siska duduk di kursi yang tadi ditempati Kalandra. Ia mengeluarkan sebuah botol kecil berisi minyak esensial jeruk yang segar. "Ini untukmu. Kalau kamu merasa mual karena bau obat rumah sakit, hirup ini saja. Ini alami, tidak akan berbahaya untuk janin."

Kalandra berdiri di dekat jendela, memberikan ruang bagi ibu dan istrinya untuk bicara. Siska menoleh ke arah putranya.

"Landra, kamu pulanglah dulu ke villa. Mandi dan ganti baju. Biar Mama yang menjaga Elisa di sini bersama Bi Inah. Kamu kelihatan seperti orang yang tidak tidur selama tiga hari," tegur Siska.

"Landra nggak apa-apa, Ma. Landra mau di sini," tolak Kalandra keras kepala.

"Pulang, Kalandra," suara Siska sedikit meninggi namun tetap lembut. "Kalau kamu jatuh sakit, siapa yang akan menjaga Elisa saat dia pulang nanti? Kamu butuh tenaga untuk menghadapi masa-masa kehamilan Elisa ini dan kamu juga ada urusanmu dengan Papa, kan?"

Kalandra terdiam. Ia tahu ibunya benar. Ada perang besar yang harus ia pimpin di Jakarta lewat sambungan telepon dan layar laptopnya. Ia tidak bisa melakukannya dengan kondisional fisik yang drop.

"Baiklah Ma. Saya pulang sebentar," Kalandra mendekati Elisa, mengusap dahinya dengan lembut. "Saya akan kembali sore nanti. Kalau ada apa-apa, langsung telepon saya."

Elisa mengangguk. "Hati-hati, Mas."

Setelah Kalandra pergi, Siska menggenggam tangan Elisa. Ia menatap menantunya itu dengan tatapan yang sangat dalam.

"Elisa, Mama tahu pernikahan ini dimulai dengan cara yang sulit. Mama juga tahu kamu mungkin merasa tertekan dengan nama besar keluarga ini," ujar Siska pelan. "Tapi kamu harus tahu satu hal. Landra, dia belum pernah seperti ini sebelumnya."

Elisa mengernyit. "Maksud Mama?"

"Mama sudah membesarkannya selama 30 tahun ini. Landra itu orangnya kaku, dingin, dan selalu menjaga jarak dengan wanita. Dia lebih suka menghabiskan waktu dengan laporan keuangan daripada kencan. Tapi semalam, saat dia telepon Papa sambil menangis karena takut kehilanganmu, itu membuat Mama sadar bahwa Tuhan mengirimkanmu bukan hanya untuk memberi kami cucu, tapi untuk mencairkan hati putra Mama yang membeku itu."

Elisa terpaku. “Mas Landra menangis? Pria yang terlihat sekuat itu menangis karena dirinya?”

"Jangan dengarkan apa pun yang dikatakan orang di luar sana, Nak," lanjut Siska. "Martabatmu tidak ditentukan oleh pekerjaanmu dulu atau bagaimana cara anak ini hadir. Martabatmu ditentukan oleh bagaimana kamu menjaga dirimu sekarang. Kamu adalah nyonya di rumah Mahendra, dan kami semua ada berdiri di belakangmu."

Air mata Elisa jatuh. Bukan karena sedih, tapi karena ia merasa benar-benar memiliki rumah untuk pertama kalinya sejak orang tuanya meninggal.

...----------------...

Sore harinya, sesuai janjinya pagi tadi, Kalandra pun kembali ke Rumah Sakit. Ia sudah berganti pakaian, wajahnya lebih segar, meski ketegangan masih tersirat di matanya. Ia membawa sebuah tablet dan beberapa berkas.

"Bimo bilang Danu mulai panik," ujar Kalandra saat mereka tinggal berdua di ruangan. "Langkah Papa di kementerian benar-benar mematikan jalannya. Dia sekarang sedang mencoba menjual aset-asetnya untuk menutupi hutang."

"Mas..." Elisa memanggil pelan. "Apakah ini tidak akan berbahaya bagi Mas Landra? Maksud saya, kalau dia makin terdesak, dia bisa saja akan berbuat nekat."

Kalandra duduk di sofa, membuka laptopnya. "Dia sudah nekat sejak awal, Elisa. Dan itu kesalahannya. Dia pikir saya akan diam saja saat dia menyerangmu. Dia tidak tahu bahwa pria yang paling berbahaya adalah pria yang sedang melindungi keluarganya."

Kalandra berhenti sejenak, lalu menatap Elisa. "Kamu tahu? Tadi saya sempat mampir ke kantin rumah sakit. Saya mencium bau soto ayam yang sangat menyengat, tapi anehnya... saya tidak mual sama sekali."

Elisa sedikit tertawa. "Mungkin karena bayi kita tahu Mas Landra sedang sibuk jadi pahlawan, jadi dia kasih waktu istirahat buat lambung ayahnya."

Kalandra tersenyum tipis itu sebuah senyum yang kini lebih sering muncul. "Mungkin. Atau mungkin karena dia tahu ibunya sudah merasa lebih aman."

Malam itu, Kalandra menunjukkan sisi yang belum pernah Elisa lihat. Karena Elisa tidak boleh turun dari tempat tidur, Kalandra bersikeras untuk menyuapinya makan malam.

"Saya bisa sendiri, Mas. Tangan saya tidak sakit," protes Elisa saat Kalandra menyodorkan sesendok bubur halus ke mulutnya.

"Dokter bilang bed rest total. Itu artinya kamu tidak boleh mengeluarkan energi untuk hal-hal yang bisa saya lakukan untukmu," sahut Kalandra dengan nada otoriter yang manis. "Ayo…Buka mulutmu."

Elisa akhirnya menyerah. Ia menerima suapan demi suapan dari Kalandra. Ada rasa canggung yang manis di antara mereka. Kalandra melakukannya dengan sangat sabar, meniup setiap suapan agar tidak terlalu panas, dan mengelap sudut bibir Elisa dengan tisu setiap kali ada sisa makanan.

"Kenapa kamu menatap saya begitu?" tanya Kalandra menyadari Elisa terus memperhatikannya.

"Hanya... terpikir saja. Kalau teman-teman kantor Mas lihat Mas Landra sedang menyuapi saya seperti ini, pasti mereka tidak akan percaya," goda Elisa.

Kalandra mengangkat bahu. "Biarkan saja. Mereka tidak perlu tahu bagaimana saya memperlakukan istri saya. Itu privasi saya."

Setelah makan, Kalandra membacakan beberapa berita ringan untuk menghibur Elisa agar gadis itu tidak melamunkan hal-hal yang berat. Alur hidup mereka terasa bergerak sangat lambat, namun setiap detiknya terasa begitu berharga. Mereka sedang menenun kembali kepercayaan yang sempat hancur, dengan benang demi benang.

"Mas Landra," panggil Elisa saat Kalandra baru saja menutup laptopnya untuk bersiap istirahat.

"Ya?"

"Terima kasih sudah menangis untuk saya semalam."

Kalandra tertegun. Ia berdehem pelan, wajahnya tampak sedikit salah tingkah. "Mama ya yang cerita? Mama memang terkadang terlalu banyak bicara."

"Nggak apa-apa, Mas. Saya justru senang mengetahuinya. Itu membuat saya merasa…Em..saya merasa begitu benar-benar berarti buat Mas."

Kalandra berjalan mendekat, ia duduk di kursi samping tempat tidur dan menggenggam tangan Elisa. "Kamu lebih dari sekadar berarti, Elisa. Kamu adalah hidup saya sekarang. Dan bayi ini... dia adalah masa depan kita."

Ia mengecup punggung tangan Elisa dengan khidmat. Di luar, hujan Puncak kembali turun dengan ritme yang teratur, seolah sedang mengiringi proses penyembuhan dua jiwa yang terluka. Tidak ada lagi ketergesaan. Mereka membiarkan waktu menyembuhkan apa yang perlu disembuhkan, dan membiarkan cinta tumbuh di antara sela-sela tanggung jawab yang mereka jalani.

Trimester pertama ini mungkin masih akan panjang dan penuh mual, tapi di dalam ruangan itu, ada sebuah ikrar bisu yang jauh lebih kuat dari sekadar dokumen negara, janji bahwa mereka akan bertahan, apa pun badai yang menghadang di luar sana.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

...Selamat membaca☺️🥰...

...Jangan lupa like, Comment, vote dan ratenya ya manteman🙏🏻🙌🏾❤️...

...🌹🌹🌹...

1
Edi
semoga si danu cepat ketangkap dan bebi tripel lahir dengan selamat
tamara.nietzsche
Saling dukung ya! The Mansion😍🙏
tamara.nietzsche
Cerita yang kerennn
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!