Seorang penguntit telah dua kali menyusup ke rumah Stella. Ia merasa membutuhkan bantuan profesional. Karena itu, Kayson Sheridan, musuh bebuyutannya semasa kecil sekaligus pendiri Sheridan Securities, pun hadir untuk membantunya.
Kayson berjanji akan melindunginya serta menugaskan penyelidik terbaik untuk menangani kasus tersebut.
Mungkin Kayson tidak seburuk yang selama ini ia kira. Semakin lama bersama pria itu, Stella menyadari bahwa perasaannya jauh menjadi lebih rumit daripada yang pernah ia rasakan sebelumnya.
Namun, di sisi lain, seseorang telah mengincar Stella dan bertekad bahwa jika tidak dapat memilikinya, maka ia akan menghancurkannya.
୨ৎ SHERIDAN SECURITIES SEASON I ୨ৎ
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penculikan
Stella berada di kantor Kayson. Kantor yang sama tempat mereka bercinta di atas meja.
Wait, bukan bercinta.
Itu cuma sekedar seks.
Seks liar.
Kayson tidak jatuh cinta padanya.
Lengan Stella melingkar di perutnya sendiri. Sedangkan Kayson berjalan mondar-mandir beberapa langkah darinya. Ia terlihat anehnya gelisah.
Kayson tidak pernah gelisah.
Atau pernah?
Tapi hari itu dia memang sempat berada di lokasi pembunuhan. Kayson melihat mantan kekasih Stella, menemukan jasadnya.
Dan sekarang Kayson mungkin sedang berusaha menyusun kata-kata yang tepat untuknya.
Stella mengembuskan napas pelan. "Lo gak perlu mikirin gimana cara ngadepin gue."
Kayson berhenti berjalan. Ia mengerutkan kening menatapnya.
Stella memang sedang tertekan. Dia baru tahu Igor disiksa dan Betania sudah mati. Bersikap rasional jelas mustahil. Jadi dia sempat kehilangan kendali. Tapi sekarang Stella sudah bisa menguasai dirinya lagi, setidaknya untuk sementara.
"Gue cuma mau bilang ... gue suka sama lo, oke? Lo gak sebrengsek yang dulu gue kira."
"Bagus kalau gitu." Geraman rendah keluar dari tenggorokan Kayson saat dia melangkah mendekat.
Bahu Stella menegang. "Kayson?"
"Gue gak lagi mikirin gimana cara ngadepin lo. Gue gak bakal pernah bisa ngerti cara ngadepin lo. Soalnya lo gak pernah ngomong atau ngelakuin hal yang gue harapin. Dan itu salah satu hal yang gue suka dari lo."
Senyumnya muncul perlahan, membuat bekas luka tipis di pipi Kayson terlihat jelas. Stella justru menyukai bekas luka itu.
"Gue punya wishlist." Kayson meyakinkannya.
Stella ingin tahu apa saja isi daftar itu. Dia ingin terus berbicara dengannya. Dia ingin melakukan apa saja agar pikirannya tidak terus kembali pada fakta bahwa seorang pembunuh masih berkeliaran di luar sana.
Kayson memiringkan kepala, mengamatinya. "Dan lo mungkin juga punya wish list. Atau daftar hal-hal yang gue lakuin dan bikin lo kesel."
Stella menggeleng. "Gue gak bikin daftar."
Tangan Kayson terangkat dan menyentuh pipinya, mengusap lembut. "Gue seneng lo butuh gue. Gue bersyukur lo mau sama gue."
Jantungnya melonjak cepat. Setiap kali Kayson menyentuhnya, reaksi itu selalu muncul.
"Gue mau lo, Stella. Dan rasa itu gak berkurang cuma karena lo udah ada di ranjang gue. Justru makin kuat."
Stella pun merasakan hal yang sama.
"Gue juga butuh lo, Stella."
Tanpa sadar, Stella melangkah pelan mendekatinya.
"Gue butuh lo karena lo udah bikin gue senyum. Lo bikin gue terus waspada. Lo bikin gue ketawa saat gue cuma pengin marah sama dunia ini."
Kepala Stella sedikit terangkat dan dia membasahi bibirnya.
Tatapan Kayson langsung jatuh ke mulutnya. Itu bukan sengaja. Sungguh. Stella cuma gugup dan bibirnya kering.
"Gue orangnya pencemburu, Stella. Lo harus ngerti itu. Apalagi kalau soal lo, emosi gue bisa jadi meledak-ledak!"
Sekarang Stella tertawa kecil. "Dan lo pikir gue gak cemburuan?"
Seakan-akan cuma pria yang boleh cemburu.
Oh, tidak bisa.
"Waktu gue lihat detektif itu mandangin lo, waktu gue sadar kalian pernah jadian, gue hampir aja Jambak dia."
Tapi menyerang detektif yang sedang menginterogasinya jelas ide buruk.
Sangat buruk.
Untung Stella masih bisa menahan diri ... dan baru kehilangan kendali di mobil.
"Gue juga bisa cemburuan dan posesif. Lo harus ngerti itu sekarang. Gue bukan tipe cewek yang mau di duain. Gue atau gak sama sekali."
"Ngapain juga gue harus sama yang lain?"
Kedua tangan Kayson menangkup wajahnya. Dia menatap Stella, dan Stella bisa melihat hasrat di matanya. Kayson yang tampan dan liar.
"Gue gak mau terjadi apa-apa sama lo." Suaranya parau dan pelan.
"Kerjaan gue itu untuk melindungi. Itu yang gue lakuin."
Seharusnya dia duduk di balik meja mahalnya dan menciptakan teknologi canggih untuk menyelamatkan dunia.
Stella tidak ingin dia mendatangi TKP, memburu para penjahat.
"Gimana kalau tadi lo yang dibawa keluar dari rumah itu? Gimana kalau lo yang dimasukin ke kantong mayat?" Stella harus berkedip karena air mata kembali menggenang. "Gue gak bisa nerima itu. Gue gak mau. Gue—"
HPnya berdering. Nada nyaring pun memenuhi ruangan.
"Itu Riggs," gumam Kayson. "Kasih gue satu detik." Dia mundur sambil mengangkat teleponnya.
Stella menarik napas panjang. Dia hampir melewati batas. Hampir saja mengatakan sesuatu yang sudah lama dia simpan.
Kayson menempelkan HP ke telinganya. "Hei, kita baik-baik aja di sini. Gue udah nganter Stella pulang dengan selamat dan ...."
Wajahnya berubah. Dalam sekejap jadi gelap dan mematikan.
"Siapa ini?" tuntut Kayson.
Stella melangkah mendekat saat rasa takut itu mengalir di darahnya.
"Di mana adik gue, Bangsad?" geram Kayson. "Apa yang lo ...." Tatapannya melesat ke arah Stella. "Bukan Riggs yang tidur sama dia."
Detak jantung Stella menggema keras di telinganya seperti genderang.
"Gue. Gue yang tidur sama dia. Gue orang yang tepat buat Stella. Lo lagi nyari cowoknya? Lo mau cowoknya yang bertanggung jawab? Itu gue. Gue. Bukan Riggs. Riggs gak pernah jadi apa-apa buat dia, jadi lepasin adik gue, jauhi ...."
Kata-katanya terputus saat dia menarik HP dari telinganya. "Anjing ... Bajingan itu nutup telepon!"
"Kayson?"
Kayson sudah menekan nomor lain.
"Joel, lo lagi di kantor polisi, kan? Ya, sial, gue butuh lo. Gue butuh lo buat ke rumah adik gue, sekarang! Penjahat itu barusan nelepon. Dia nyandra Riggs. Jemput Hamizah dan beberapa polisi lain, masuk dengan senjata lengkap, karena itu juga yang bakal gue lakuin!"