NovelToon NovelToon
HEARTS & SCALPELS: The Silent Recipe

HEARTS & SCALPELS: The Silent Recipe

Status: sedang berlangsung
Genre:Dark Romance / Mafia / BTS
Popularitas:467
Nilai: 5
Nama Author: Sabana01

"Di balik presisi pisau bedah, ada rahasia yang tidak boleh terucap."
Sheril tidak pernah menyangka bahwa kariernya sebagai ahli forensik akan membawanya ke dalam lingkaran berbahaya antara cinta dan kebenaran. ia mempercayai sekaligus mencurigai kekasihnya Jungkook.
Beberapa rahasia memang lebih baik tetap membisu. Tapi, apakah detak jantung bisa berbohong di bawah tajamnya skalpel?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18: Ruang Rahasia di Restoran

Malam di Seoul tidak pernah benar-benar sunyi, namun di dalam kubikel kecil di sudut markas kepolisian yang remang-remang, kesunyian itu terasa menekan. Suga, dengan mata yang merah akibat kurang tidur, bersandar di kursinya. Cahaya biru dari tiga monitor besar memantul di lensa kacamatanya, menciptakan kilatan yang dingin. Tangannya yang pucat menari di atas keyboard mekanik, suaranya beradu dengan detak jantungnya yang tidak beraturan—tak-tak-tak—sebuah simfoni digital di tengah malam.

Suga bukan sekadar detektif; ia adalah pembedah data. Baginya, setiap sistem keamanan memiliki celah, setiap kode memiliki retakan, dan setiap manusia memiliki rahasia yang terkubur dalam bit dan byte. Fokusnya malam ini adalah Le Lapin, restoran bintang lima milik Jeon Jungkook yang menjadi pusat kecurigaan timnya.

"Kau terlalu rapi, Jungkook-ah," gumam Suga, suaranya parau. "Terlalu bersih untuk seseorang yang berada di pusat badai."

Suga telah menghabiskan enam jam terakhir mencoba menembus firewall berlapis milik restoran tersebut. Sistemnya tidak menggunakan perangkat lunak komersial biasa; itu adalah enkripsi tingkat militer yang disamarkan dengan sangat cerdik. Namun, Suga menemukan sesuatu yang janggal—sebuah transmisi data kecil yang keluar secara konsisten setiap pukul dua pagi menuju server lokal di dalam gedung restoran.

Dengan satu tarikan napas panjang, Suga memasukkan baris perintah terakhir. Layar monitornya sempat berkedip merah—peringatan intrusi—sebelum akhirnya berubah menjadi deretan folder tanpa nama. Jarinya bergerak menuju sebuah folder yang ukurannya jauh lebih besar dari yang lain. Folder itu terenkripsi dengan kunci biometrik yang telah ia bypass menggunakan rekaman suara Jungkook yang ia ambil secara ilegal beberapa hari lalu.

Klik.

Pintu digital itu terbuka.

Suga tertegun. Di depannya bukan sekadar data transaksi atau inventaris bahan makanan. Ia masuk ke dalam sistem CCTV privat yang tidak terdaftar di denah resmi bangunan. Kamera-kamera ini tidak mengawasi lobi mewah atau dapur utama yang sibuk. Kamera ini mengarah ke satu titik koordinat yang terletak di bawah pondasi restoran.

"Lantai bawah tanah... tapi di denah hanya ada gudang anggur," bisik Suga.

Ia menekan tombol play pada rekaman siaran langsung. Layar monitor utama perlahan menampilkan sebuah ruangan yang luas, berdinding beton polos, tanpa jendela. Pencahayaannya remang-remang, hanya mengandalkan lampu operasi besar yang menggantung di tengah ruangan.

Suga merasakan bulu kuduknya meremang. Ruangan itu tampak seperti hibrida yang mengerikan antara dapur profesional, laboratorium forensik, dan kamar tidur mewah.

Di sisi kiri, terdapat meja berbahan baja antikarat yang dipenuhi dengan deretan pisau. Namun, itu bukan pisau koki biasa. Di sana ada klem, pinset anatomi, dan skalpel—peralatan yang identik dengan yang digunakan Sheril di lab forensik. Semuanya tertata sangat rapi, berkilau di bawah lampu, seolah-olah siap digunakan untuk sebuah perjamuan... atau sebuah autopsi.

Namun, yang membuat napas Suga tercekat adalah sisi kanan ruangan tersebut. Di sana terdapat sebuah meja rias kayu ek yang sangat kontras dengan dinginnya dinding beton. Di atas meja itu, ada puluhan bingkai foto. Suga memperbesar gambarnya. Semuanya adalah foto Sheril.

Bukan foto hasil pengintaian dari jauh yang kasar. Ini adalah foto-foto yang diambil dengan penuh perasaan: Sheril saat tertawa di taman, Sheril saat tertidur di sofa, bahkan Sheril yang sedang fokus membedah mayat di laboratorium melalui celah jendela yang tersembunyi. Ruangan itu adalah sebuah kuil pemujaan yang dibangun di atas fondasi obsesi.

"Gila..." gumam Suga, tangannya gemetar saat ia memutar rekaman dari jam sebelumnya.

Layar monitor menunjukkan pintu rahasia di sudut ruangan terbuka. Jeon Jungkook masuk. Pria itu tidak lagi mengenakan seragam koki putihnya yang bersih. Ia memakai kaus hitam polos, wajahnya tampak sangat lelah, rambutnya yang gelap jatuh menutupi matanya yang sembab.

Jungkook berjalan perlahan menuju meja rias itu. Gerakannya tampak rapuh, hampir seperti seseorang yang sedang berjalan dalam tidur. Ia tidak menyentuh peralatan bedah atau pisau-pisau tajam itu. Ia justru meraih sebuah sweter berwarna krem yang terlipat rapi di kursi samping meja rias.

Itu adalah sweter milik Sheril yang dilaporkan hilang seminggu yang lalu.

Suga menyaksikan dengan ngeri sekaligus iba saat Jungkook membenamkan wajahnya ke dalam sweter itu, menghirup aromanya dalam-dalam seolah itu adalah oksigen terakhir di dunia. Tubuh tegap pria itu mulai berguncang. Di tengah kesunyian ruangan bawah tanah yang terekam kamera tanpa suara, Jungkook tampak menangis tersedu-sedu. Ia jatuh berlutut di lantai beton yang dingin, masih mendekap sweter itu erat-erat di dadanya. Ia menciumi kain itu berkali-kali, menggumamkan sesuatu yang tidak tertangkap oleh mikrofon.

"Dia bukan sekadar koki..." suara Suga bergetar, "dia membangun penjara cinta di bawah sana."

Suga merasa mual. Pemandangan itu jauh lebih menakutkan daripada melihat seorang pembunuh berdarah dingin. Ini adalah sesuatu yang lebih dalam dan lebih merusak—sebuah cinta yang telah membusuk menjadi obsesi yang menyimpang. Jungkook tampak seperti pria yang sedang memuja tuhan yang ia ciptakan sendiri, di sebuah dunia di mana hanya ada dia dan bayangan Sheril.

Namun, Suga harus tetap objektif. Sebagai detektif, ia tidak melihat bukti pembunuhan di sini. Tidak ada mayat yang sedang dimutilasi, tidak ada darah segar yang tercecer di lantai. Ruangan itu bersih, terlalu bersih. Pisau-pisau itu mungkin hanya koleksi pribadi, dan foto-foto itu—meski menyeramkan—bisa saja diklaim sebagai bentuk cinta yang eksentrik.

Secara hukum, Jungkook masih bukan tersangka. Belum ada bukti fisik yang mengaitkan ruangan ini dengan empat korban pembunuhan yang sedang mereka selidiki. Tapi secara insting, Suga tahu bahwa ia sedang menatap jantung dari kegelapan yang selama ini mereka cari.

Tiba-tiba, di monitor, Jungkook mendongak. Ia seolah-olah menatap tepat ke arah kamera tersembunyi yang sedang diakses Suga. Mata Jungkook yang biasanya jernih dan manis, kini tampak hampa, seperti lubang hitam yang siap menelan siapa pun yang berani mengintip ke dalamnya.

Jungkook bangkit, berjalan menuju sebuah lemari pendingin besar di sudut ruangan. Ia membukanya, mengeluarkan sebuah nampan yang ditutup kain putih. Ia meletakkannya di meja baja, mengambil sebuah skalpel, dan mulai melakukan sesuatu pada objek di atas nampan tersebut dengan gerakan yang sangat lembut, hampir seperti membelai.

Suga berusaha memperbesar gambar untuk melihat apa yang ada di atas nampan itu, namun resolusinya pecah. Objek itu berwarna merah muda pucat, berbentuk lonjong—bisa jadi itu adalah sepotong daging sapi premium untuk menu besok, atau sesuatu yang jauh lebih mengerikan.

"Suga? Kau masih di sana?"

Suara berat RM yang tiba-tiba muncul di belakangnya membuat Suga hampir melompat dari kursinya. Dengan refleks kilat, ia menutup jendela peretasan dan beralih ke layar database standar.

RM masuk dengan dua gelas kopi kertas di tangannya. Ia meletakkan satu di meja Suga, matanya menatap tajam ke arah monitor yang kini hanya menampilkan daftar nama informan.

"Kau terlihat seperti baru saja melihat hantu," ujar RM, matanya menyipit penuh selidik.

Suga meraih kopi itu dengan tangan yang masih sedikit dingin. "Hanya kelelahan, Hyung. Data logistik restoran itu sangat membosankan. Semuanya bersih. Terlalu bersih."

RM bersandar di meja, menyesap kopinya. "Jin baru saja menelepon. Sheril menghilang setelah autopsi korban keempat. Dia tidak menjawab teleponnya. Jin sedang dalam perjalanan ke apartemen Jungkook."

Jantung Suga seolah berhenti berdetak. Ia teringat rekaman yang baru saja ia lihat—Jungkook yang menangis sambil menciumi pakaian Sheril di ruangan yang dikelilingi pisau bedah.

"Kita harus ke sana," ujar Suga, suaranya mendadak tegas.

"Kenapa? Kita belum punya surat perintah," balas RM. "Masuk ke sana tanpa bukti sah hanya akan membuat Jungkook menuntut kita balik. Kau tahu betapa kuatnya pengacara yang dia miliki."

Suga menatap monitornya yang kini gelap. Ia tahu ia tidak bisa menceritakan tentang peretasan ilegal itu sekarang. Jika ia mengaku, bukti itu tidak akan bisa digunakan di pengadilan, dan ia akan kehilangan lencananya. Tapi ia juga tahu, jika Sheril berada di restoran itu sekarang, dia mungkin sedang berjalan masuk ke dalam sebuah perangkap yang telah disiapkan dengan sangat indah.

"Aku punya firasat, Hyung," kata Suga sambil berdiri dan menyambar jaketnya. "Firasat bahwa koki kesayangan kita itu sedang menyiapkan hidangan penutup yang tidak akan pernah dilupakan oleh Sheril."

RM menatap Suga lama, mencari keraguan di mata juniornya itu. Namun yang ia temukan hanyalah ketakutan yang nyata. RM mengangguk kecil. "Baiklah. Kita bergerak sebagai kunjungan rutin. Tapi jika kau melakukan sesuatu yang melanggar protokol, aku tidak bisa melindungimu."

Saat mereka melangkah keluar dari markas menuju mobil, Suga tidak bisa berhenti memikirkan wajah Jungkook di monitor tadi. Pria itu tidak tampak seperti penjahat berdarah dingin. Ia tampak seperti pria yang hancur, yang sedang mencoba merekatkan kembali kepingan hidupnya dengan cara yang paling mengerikan.

Di bawah restoran Le Lapin, di ruang rahasia yang dingin, Jungkook mungkin sedang menunggu. Bukan sebagai tersangka, bukan sebagai pembunuh, tapi sebagai seorang koki yang sedang merapikan "penjara cinta" miliknya, menunggu sang ratu untuk pulang dan menempati singgasana yang telah ia siapkan di antara deretan pisau dan foto-foto kenangan.

Dan Suga tahu, misteri ini baru saja dimulai. Karena di dunia Jeon Jungkook, garis antara mencintai dan membedah adalah garis yang sangat tipis, setipis mata pisau skalpel yang berkilau di kegelapan.

1
Lilyyanaa
ternyata member bts lengkapp🤭
sabana: iyah, semoga suka🙏
total 1 replies
sabana
Ini Fanfic idol lagi ya, minjam nama-nama personil BTS ya, semoga suka
李慧艳
mampir...semangatk kak
李慧艳: tolong AP???
total 5 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!