"Mereka mengira aku boneka porselen yang siap pecah. Mereka pikir aku buta, bodoh, dan lemah. Biar aku tunjukkan, dari balik duri-duri ini, ada mahkota yang menungguku."
Alana Wijaya adalah putri tunggal konglomerat yang jatuh miskin. Setelah ayahnya wafat, ia menikah dengan pria yang diam-diam berselingkuh dengan sahabatnya sendiri—tepat di bawah atapnya, selama tiga tahun. Alana memilih diam. Bukan karena takut, tapi karena sedang menyusun takhta.
Di balik gaun mahal dan senyum palsunya, ia diam-diam membangun kembali kerajaan ayahnya. Ia masuk ke klub eksklusif dengan pakaian usang, diremehkan, dicemooh—sampai suatu hari, para investor paling disegani di negeri ini berlutut menawarkan kerja sama.
Saat sang suami dan sahabatnya mulai menyadari bahwa mereka bukan lagi predator, melainkan mangsa... Alana baru benar-benar tersenyum.
"Kau pikir kau yang memainkanku? Sayang sekali. Permainan baru saja dimulai—dan akulah pembuat aturannya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anonymous MC, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Saat Predator Datang Meminta pada Mangsa
Dulu kau kira aku kelopak yang gugur
Yang bisa kau injak tanpa risau duri
Kau kira aku air yang selalu cemburu
Mengalir ke mana pun kau pergi
Sekarang kau datang dengan lutut berdarah
Mencari pertolongan di tangan yang kau sakiti
Kau lupa, sayang, mawar yang kau biarkan layu
Telah tumbuh akar di dalam tanah yang kau curi
Aku bukan lagi bunga di vas kristalmu
Yang bisa kau atur dan kau patahkan
Aku mawar liar yang haus akan waktu
Dan inilah saat duriku kau rasakan
Silakan duduk, minumlah teh
Jangan gugup, jangan takut
Karena permintaanmu hari ini akan menjadi
Tikaman pertama yang kau sendiri memintaku menusuk
---
Hujan deras mengguyur Jakarta malam itu. Alana duduk di ruang tamu megah yang dulu milik ayahnya—sekarang tercatat atas nama Richard. Ia memegang cangkir porselen tipis bergambar mawar merah, hadiah pernikahan dari ibunya yang sudah tiada. Teh chamomile di dalamnya sudah dingin, tapi Alana tak peduli. Matanya terus menatap layar ponsel, menunggu.
Panggilan masuk. Lucas.
"Dia baru saja keluar dari kantor pengacara. Wajahnya pucat pasi. Proyek Pelabuhan Tanjung Priok benar-benar kolaps. Auditor menemukan selisih 300 miliar. Bank sudah menunggak tiga bulan."
Alana tersenyum tipis. Ia menekan tombol rekaman di ponselnya, lalu meletakkannya di saku gaun tidur sutra warna merah hati.
"Terima kasih, Lucas. Kau boleh pulang."
"Kau yakin sendirian?"
"Dia yang akan datang padaku. Aku tak pernah sendirian saat predator menjadi peminta."
Alana mematikan sambungan. Ia bangkit, berjalan ke cermin di lorong. Wajahnya tenang, tapi matanya—matanya menyala seperti bara yang tertidur lama dan baru saja dihembus angin.
Ia mengganti gaun tidurnya dengan kebaya modern warna hijau zamrud, menyisir rambut sebentar, lalu memulas sedikit lipstik merah. Bukan untuk tampil cantik. Tapi untuk upacara. Malam ini adalah eksekusi pertama yang akan dilakukan dengan sarung tangan beludru.
Tepat pukul sembilan malam, bel pintu berbunyi.
Alana membuka pintu. Richard berdiri di sana, basah kuyup. Jas ribuan dolar itu lengket di tubuhnya, dasi terlepas, kemeja terbuka dua kancing. Wajah tampannya yang dulu selalu penuh kesombongan kini kusut. Lingkar hitam di bawah matanya dalam seperti jurang.
"Alana..." suaranya serak.
"Masuklah," kata Alana datar. "Kau pasti kedinginan."
Richard tampak terkejut. Mungkin ia expecting pintu dibanting, atau amarah, atau tangis. Tapi tidak. Alana hanya membuka pintu lebar-lebar, seperti biasa, seperti tiga tahun pernikahan palsu ini berjalan.
Ia mempersilakan Richard duduk di sofa yang sama tempat Viola biasa duduk memeluk Richard saat Alana "tidak tahu". Alana mengambil handuk dari lemari, melemparkannya ke Richard. Lalu tanpa bertanya, ia pergi ke dapur dan kembali dengan dua cangkir teh hangat.
"Ini..." Richard menerima cangkir itu dengan tangan gemetar.
"Jahe hangat. Kau pasti masuk angin nanti," kata Alana sambil duduk di sofa sebelah, menjaga jarak tepat. Tidak terlalu dekat, tidak terlalu jauh. Posisi yang sempurna untuk seseorang yang tahu segalanya tapi pura-pura buta.
Richard menyesap tehnya. Kehangatan menyebar di dadanya, tapi matanya tak bisa berhenti menatap istri yang selama tiga tahun ini ia anggap boneka. Ada sesuatu yang berbeda malam ini. Sesuatu di cara Alana duduk tegak, di cara ia menatapnya tanpa berkedip.
"Alana, aku..." Richard meletakkan cangkirnya. Tangannya meremas-remas. "Aku butuh bicara serius."
"Tentu. Kau suamiku," kata Alana dengan suara lembut, seperti biasa. "Apa yang bisa kubantu?"
Richard menarik napas panjang. Ia mengeluarkan dokumen dari dalam jas basahnya—kertas-kertas itu sudah sedikit lembab. Ia meletakkannya di meja kaca di antara mereka.
"Ini... ini surat tanah warisan ayahmu. Tanah di Kemang, di Pantai Indah Kapuk, dan kebun teh di Puncak."
Alana melihat dokumen itu tanpa menyentuhnya. Ia sudah tahu isinya. Lucas sudah memberitahunya seminggu lalu. Richard berencana menjual semua aset warisan yang atas nama Alana—satu-satunya harta yang tersisa dari ayahnya yang tak bisa Richard ambil karena terlindung klausul warisan.
"Ya, aku tahu itu," kata Alana tenang. "Tanah-tanah itu masih atas namaku."
"Aku... perusahaan sedang kesulitan." Richard menunduk. Ini pertama kalinya ia mengakui kelemahan di depan Alana. Biasanya, ia selalu bercerita pada Viola di kamar, dan Alana mendengarkan dari balik pintu. "Aku butuh dana cepat. Proyek pelabuhan... ada masalah. Kalau aku tak bayar dalam minggu ini, kita bisa kehilangan segalanya. Rumah ini, mobil-mobil, semuanya."
Kita, pikir Alana. Lucu sekali. Baru sekarang ia pakai kata "kita".
"Aku tahu," kata Alana lagi.
Richard mengangkat kepala. "Kau tahu?"
"Tentang proyek pelabuhan. Tentang 300 miliar yang lenyap. Tentang auditor yang menemukan mark-up anggaran." Alana tersenyum tipis. "Aku membaca koran, Richard. Aku bukan buta."
Richard terdiam. Ada rasa tidak nyaman menjalari punggungnya. Tapi ia tak punya pilihan. Ia butuh tanda tangan Alana. Tanah-tanah itu adalah satu-satunya aset likuid yang bisa segera dijual.
"Aku minta kau menandatangani surat kuasa ini," kata Richard, menunjuk dokumen terbuka. "Biarkan aku yang mengurus penjualannya. Kau tak perlu repot. Nanti uangnya masuk ke rekening bersama kita."
Alana mengambil dokumen itu. Membacanya perlahan, satu per satu. Matanya bergerak pelan, seperti sedang membaca novel, bukan dokumen hukum. Richard gelisah melihatnya.
"Kau tahu," kata Alana tiba-tiba, "Ayahku dulu pernah bilang sesuatu tentang tanah."
"Apa?"
"Ia bilang, 'Nak, tanah itu seperti istri. Kalau kau jual, pastikan kau tahu siapa yang akan mengelolanya. Karena setelah lepas, tak akan kembali.'" Alana menatap Richard. "Ayahku orang bijak."
Richard menelan ludah. "Aku hanya pinjam, Al. Nanti kalau perusahaan sudah pulih, aku beli lagi. Aku janji."
Janji, pikir Alana. Janji pernikahan saja kau ingkari dengan Viola di kamar sebelah.
"Baiklah," kata Alana, meletakkan dokumen itu.
Richard hampir tak percaya. "Kau... kau setuju?"
"Aku setuju tanah ini dijual. Tapi..."
Selalu ada tapi, pikir Richard. Jantungnya berdegup kencang.
"...aku punya syarat."
"Syarat apa?" Richard mencoba tersenyum ramah. "Apa pun, sayang. Kau tahu aku akan lakukan apa pun untuk keluarga kita."
Keluarga, pikir Alana. Lucu sekali kata itu di mulutnya.
"Aku mau jadi direktur utama."
Sunyi.
Richard membeku. Tangannya yang memegang cangkir berhenti di tengah jalan. Teh di dalamnya bergoyang sedikit, lalu diam.
"Apa?" bisiknya, seperti tak percaya.
"Aku mau jadi direktur utama," ulang Alana, jelas dan tenang. "Bukan jabatan simbolis. Bukan komisaris yang hanya hadir di rapat. Tapi CEO yang memegang kendali operasional. Yang menandatangani semua kontrak. Yang menentukan arah perusahaan."
Richard tertawa. Tapi tawanya aneh—setengah histeris. "Alana, kau bercanda, kan? Kau... kau tak punya pengalaman. Kau bahkan tak pernah kerja. Kau..."
"Aku lulusan Harvard Business School," potong Alana datar. "Aku dapat beasiswa penuh di sana, sebelum ayahku meninggal. Aku lulus dengan predikat summa cum laude. Ayahku sengaja menyembunyikannya karena ia ingin aku bebas memilih jalan hidup. Tapi ijazahku ada di brankas bank, kalau kau mau lihat."
Richard terpana. Mulutnya terbuka, tapi tak ada suara keluar.
"Selama tiga tahun pernikahan ini," lanjut Alana, "aku diam. Aku biarkan kau mengatur bisnis. Aku biarkan kau mengambil alih perusahaan ayahku. Aku bahkan biarkan kau..." ia berhenti sejenak, matanya menyipit, "...melakukan apa pun yang kau mau di rumah ini. Tapi sekarang situasinya berbeda. Kau datang padaku meminta tolong. Dan aku kasihan padamu."
Kasihan. Kata itu menusuk Richard lebih dalam dari apa pun.
"Tapi kalau kau pikir aku akan menandatangani tanah warisan ayahku tanpa imbalan apa pun, kau lebih bodoh dari yang kukira."
Richard bangkit berdiri. Wajahnya merah padam. "Kau... kau menjebakku? Ini semua sudah kau rencanakan?"
Alana tertawa kecil. Tawanya lembut, seperti lonceng perak. Tapi matanya dingin seperti es.
"Menjebak? Aku hanya duduk di rumah ini selama tiga tahun, Richard. Aku hanya istri bodoh yang tak tahu apa-apa, ingat? Aku bahkan tak tahu kau dan Viola..." ia menggantung kalimatnya, lalu menggeleng. "Sudahlah. Tak perlu bahas itu. Fokus pada tawaranku."
Richard terdiam. Viola. Apakah Alana tahu? Selama ini?
Ia menggigit bibir. "Al, dengar, tentang Viola..."
"Tidak penting," potong Alana cepat. "Aku tak peduli kau tidur dengannya di ranjang kita, di kamar kita, di rumah ayahku. Itu masa lalu. Yang penting sekarang: kau mau selamatkan perusahaan ini atau tidak?"
Richard terhuyung mundur, duduk kembali di sofa. Ia menatap Alana dengan pandangan baru—campuran antara takut dan kagum. Wanita ini... selama ini ia mengira Alana lemah, bodoh, buta. Tapi ternyata...
"Kau tahu selama ini?" bisiknya.
Alana tersenyum. Senyum itu indah, tapi juga mengerikan.
"Aku tahu kapan kau pertama kali menyentuhnya. Tiga tahun lalu, seminggu setelah pernikahan kita. Aku tahu kau membelikannya tas Hermes dengan uang perusahaan. Aku tahu kau menjaminkan tanah ayahku untuk modal usahamu yang gagal. Aku tahu kau menggelapkan dana proyek pelabuhan. Aku tahu semua, Richard. Aku hanya... menunggu waktu yang tepat."
Menunggu waktu yang tepat. Kata-kata itu bergema di kepala Richard seperti petir.
"Sekarang," Alana mendorong dokumen itu kembali ke hadapan Richard. "Kau punya dua pilihan. Pertama, kau menolak syaratku, dan aku tak akan menandatangani apa pun. Tanah itu tetap jadi milikku, dan kau bisa lihat sendiri bagaimana bank akan menyita semua aset perusahaan dalam minggu ini. Atau kedua, kau setuju aku jadi CEO, aku tandatangani surat ini, uang dari tanah ayahku masuk ke perusahaan, dan kita selamatkan bisnis ini bersama."
Richard menatap dokumen itu. Lalu menatap Alana. Lalu dokumen lagi.
"Kau... kau benar-benar menyiapkan ini semua," gumamnya.
"Aku hanya istri yang baik," jawab Alana manis. "Membantu suami yang sedang kesulitan."
Sunyi panjang mengisi ruang tamu itu. Hujan masih deras di luar. Suara tetes air di jendela seperti hitungan mundur.
"Aku harus... pikir..." Richard gagap.
"Kau tak punya waktu untuk berpikir," potong Alana. Ia mengeluarkan ponsel dari saku kebayanya. "Sekarang jam 9:30 malam. Besok pagi pukul 8, bank akan mengirim surat peringatan terakhir. Kalau kau setuju, kita bisa ke notaris jam 7 pagi, tanda tangan semuanya, lalu kau setor dana ke bank sebelum mereka bergerak. Atau..." ia mengangkat bahu, "...kau bisa pulang, tidur, dan besok bangun sebagai mantan direktur utama perusahaan bangkrut."
Richard memegang kepalanya. Pikirannya kacau. Viola. Viola pasti akan marah kalau tahu ia memberikan kursi direktur utama pada Alana. Tapi Viola tak bisa membantu. Viola hanya bisa merengek dan minta dibelikan barang mahal.
Sementara Alana... Alana menawarkan solusi.
"Kau yakin bisa menjalankan perusahaan?" tanyanya lirih, setengah putus asa.
Alana tersenyum. "Aku lebih siap dari yang kau kira."
"Tapi... karyawan, direksi, mereka tak akan menerima..."
"Biarkan aku yang urus itu," potong Alana. "Tugasmu hanya setuju. Sisanya urusanku."
Richard diam lama. Ia menatap Alana, mencari-cari kelemahan, mencari-cari celah. Tapi tak ada. Wanita di depannya ini adalah benteng yang tak tertembus. Dan untuk pertama kalinya, Richard sadar: ia telah membuat kesalahan besar selama tiga tahun ini.
"Baiklah," bisiknya akhirnya, suara hampir tak terdengar. "Aku setuju."
Alana mengangguk, seolah sudah menduga sejak awal. "Bagus. Sekarang, kau boleh pulang dan istirahat. Besok pagi jam 6 aku jemput. Bawa semua dokumen perusahaan yang diperlukan untuk serah terima jabatan."
Richard bangkit, jalannya sempoyongan. Di ambang pintu, ia berbalik.
"Alana... maafkan aku."
Alana menatapnya lama. Lalu tersenyum. Tapi senyum itu tak sampai ke mata.
"Maaf? Nanti saja. Sekarang, urus dulu bisnis kita. Maaf tak akan membayar utang 300 miliar, kan?"
Richard keluar, masuk ke mobilnya. Hujan mengguyur kaca depan, tapi ia tak segera menyalakan mesin. Ia hanya duduk, memandangi rumah megah yang dulu ia rampas, dan bertanya-tanya: apakah ia baru saja menjual nyawanya pada iblis berwajah malaikat?
Di dalam rumah, Alana berdiri di jendela, menatap mobil Richard yang akhirnya melaju pergi. Ia mengambil ponsel, menekan tombol rekaman. Suara Richard jelas terdengar: "Aku setuju."
Ia mengirimkannya pada Lucas, dengan pesan singkat:
"Siapkan semua untuk besok pagi. Kita mulai."
Lalu ia berjalan ke kamarnya—kamar yang dulu ia bagi dengan Richard, tempat ia berpura-pura tidur saat suaminya bangkit tengah malam menuju kamar Viola. Ia membuka lemari, mengambil kotak kayu kecil. Di dalamnya ada foto ayahnya.
"Ayah," bisiknya, "hari ini aku mulai mengambil kembali apa yang menjadi milik kita. Satu per satu. Perlahan. Dengan cara mereka sendiri."
Air mata jatuh di pipinya, tapi ia tersenyum. Senyum pertama yang tulus dalam tiga tahun.
Di luar, hujan mulai reda. Dan di timur, langit mulai menunjukkan semburat jingga—tanda fajar akan segera tiba.
Bersambung (ノ゚0゚)ノ→
terlalu enak klo cuma dimiskin kan
selingkuh di rumah sendiri selama 3th, istrinya dikira tdk tau 😄