Di sebuah mansion megah di perbukitan Bel-Air, nama Leonor Kaia hanyalah sebuah bisikan yang memudar, sebuah kesalahan statistik dalam silsilah keluarga Gonzales yang terobsesi dengan Anak Laki-laki.
"Kau lihat dia, Leonor?" suara dingin itu menghentikan langkah Leonor di bordes tangga.
Sang Ayah, David Gonzales berdiri di sana, menyesap wiskinya. Pria itu adalah pengusaha terkaya nomor empat di Los Angeles, namun di mata Leonor, dia hanyalah pria tua yang jiwanya telah membusuk oleh patriarki.
"Ethan adalah masa depan perusahaan. Dia adalah apa yang seharusnya kau jadikan cermin."
David Gonzales tidak pernah memanggilnya putriku. Baginya, Leonor adalah pengingat akan kegagalan kedua. Setelah istri pertamanya hanya memberikan seorang anak perempuan, David mengira menikahi "gadis miskin yang dia pungut" begitu istilah kejam keluarga besarnya, akan memberinya keberuntungan berbeda. Namun, Leonor lahir. Seorang bayi perempuan dengan mata yang terlalu mirip ibunya, lembut, namun tajam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#6
Angin musim semi yang bertiup di koridor terbuka gedung universitas terasa dingin, namun tak sedingin tatapan mata yang saling beradu siang itu.
Leonor Kaia baru saja keluar dari perpustakaan seni saat ia berpapasan langsung dengan Edgar Castiel Martinez. Pria itu tidak sendirian, ia dikelilingi oleh kroni-kroninya, termasuk Ethan yang selalu mengekor di belakang seperti bayangan yang haus perhatian.
Langkah Leonor terhenti. Ia ingin berbalik, namun harga dirinya melarangnya untuk terlihat seperti pecundang yang melarikan diri.
Dengan gaun sage green pemberian Aurora yang membungkus tubuhnya dengan anggun, Leonor mencoba berjalan melewati kerumunan pria-pria berjas mahal itu dengan kepala tegak.
Namun, Edgar punya rencana lain. Saat Leonor tepat berada di sampingnya, Edgar menghentikan langkahnya, membuat seluruh rombongan itu ikut berhenti secara serentak.
"Kurirmu datang pagi tadi," suara Edgar rendah, namun memiliki daya gedor yang sanggup membungkam kebisingan di koridor.
Leonor berhenti, namun tidak menoleh. "Bagus. Artinya tanggung jawabku sudah selesai."
Edgar melangkah satu tindak ke samping, memblokir jalan Leonor. Ia memasukkan tangan ke saku celana bahannya yang seharga ribuan dolar, lalu menatap Leonor dengan sorot mata yang sulit dibaca, antara jijik dan meremehkan.
"Aku membuangnya," ucap Edgar datar.
Leonor mengernyitkan dahi, kini ia terpaksa menatap wajah pria angkuh itu. "Apa maksudmu?"
"Jas itu. Aku membuangnya ke tempat sampah segera setelah kurir itu pergi," Edgar tersenyum miring, senyum yang sama sekali tidak mencapai matanya yang sedingin es. "Aku punya prinsip, Kaia. Aku tidak memakai barang yang pernah disentuh atau dipakai oleh orang lain. Apalagi oleh orang seperti... kau."
Deg.
Jantung Leonor seakan berhenti berdetak sesaat. Kalimat itu bukan sekadar penghinaan terhadap sebuah pakaian, itu adalah pernyataan bahwa keberadaan Leonor, sentuhannya, dan dirinya sendiri dianggap sebagai kotoran yang mencemari kemurnian dunia elit Edgar.
Leonor adalah gadis yang sebenarnya sangat angkuh di balik sikap feminimnya. Ia bangga pada bakatnya, bangga pada kemandiriannya. Namun, ketika seseorang secara terang-terangan menginjak harga dirinya di depan umum, terutama di depan Ethan yang kini mulai terkekeh di belakang Edgar rasa sesak mulai memenuhi dadanya.
Matanya memanas, lapisan bening mulai menggenang di pelupuk matanya. Ia ingin menangis, bukan karena sedih, tapi karena amarah yang tidak punya tempat untuk keluar.
Namun, Leonor menolak untuk hancur di sini. Jika ia menangis sekarang, Edgar menang.
Ia menarik napas panjang, menelan kembali rasa sakit yang menyumbat tenggorokannya. Ia melangkah maju, sangat dekat, hingga ia bisa mencium aroma parfum mahal Edgar yang kini ia benci setengah mati. Ia tidak peduli lagi pada Ethan atau orang-orang yang menonton.
Leonor berjinjit sedikit, mendekatkan bibirnya ke telinga Edgar. Suaranya tidak kencang, hanya berupa bisikan halus yang tajam seperti sembilu.
"Dengar baik-baik, Tuan Martinez yang terhormat," bisik Leonor. Suaranya bergetar, namun penuh dengan keyakinan yang mematikan. "Mungkin hari ini kau bahkan tidak sudi melirikku. Mungkin hari ini kau merasa bisa membuangku seperti sampah."
Ia menjeda sejenak, membiarkan kalimatnya meresap.
"Tapi aku bersumpah demi nyawa ibuku... suatu saat nanti, aku akan membuatmu jatuh cinta secinta-cintanya padaku. Aku akan membuatmu memuja setiap langkahku, memohon perhatianku, dan menggantungkan hidupmu pada senyumku."
Edgar masih diam, namun rahangnya mengeras.
"Dan tepat saat kau merasa tidak bisa hidup tanpaku," lanjut Leonor dengan nada yang tiba-tiba menjadi sangat dingin, "saat itulah aku akan mencampakkanmu ke lubang terdalam. Aku akan menghancurkan hatimu hingga tak bersisa, seperti kau menghancurkan harga diriku hari ini. Itulah sumpahku."
Setelah membisikkan itu, Leonor menarik diri dan menatap langsung ke mata Edgar. Ia mengira akan melihat kemarahan atau setidaknya kejutan.
Namun, yang terjadi justru sebaliknya.
Edgar terdiam selama dua detik, lalu ledakan tawa keluar dari mulutnya. Ia tertawa kencang, tawa yang sangat tulus namun sangat menghina.
Teman-temannya yang tidak mendengar bisikan itu ikut tertawa hanya karena melihat pemimpin mereka tertawa.
"Kau?" Edgar berkata di sela tawanya, menunjuk Leonor dengan jarinya yang panjang. "Kau ingin membuatku jatuh cinta? Kau pikir ini adalah drama picisan yang kau tonton di televisi, Leonor?"
Edgar menyeka ujung matanya yang sedikit berair karena tertawa. "Dengar, Gadis Desainer. Kau tidak punya apa-apa. Tidak ada nama, tidak ada harta, tidak ada pengaruh. Kau hanya punya wajah cantik yang bisa kutemukan ribuan jumlahnya di klub malam mana pun di Los Angeles. Sumpahmu itu... itu adalah lelucon paling lucu yang kudengar sepanjang tahun ini."
Ethan ikut menimpali, "Kakakku sepertinya sudah mulai gila karena terlalu banyak menghirup uap cat di studionya, Edgar. Jangan masukkan ke hati."
Jika beberapa menit yang lalu Leonor merasa ingin menangis, kini perasaan itu hilang sepenuhnya. Rasa sakitnya telah membeku menjadi kristal kebencian yang keras. Ia tidak lagi tersinggung oleh tawa itu. Ia justru merasa kasihan pada Edgar, pria yang begitu buta oleh kekuasaannya sehingga tidak bisa melihat badai yang sedang menuju ke arahnya.
Leonor tersenyum. Bukan senyum manis, tapi senyum tipis yang penuh misteri.
"Tertawalah sepuasnya, Edgar," ucap Leonor dengan nada yang sangat tenang, yang entah mengapa membuat tawa Edgar perlahan mereda. "Simpan tawa itu baik-baik di memorimu. Karena aku pastikan... suatu saat nanti, kau akan menangis darah saat aku meninggalkanmu."
"Kau akan merangkak di kakiku, memohon agar aku tidak pergi. Dan saat itu terjadi, aku akan mengingatkanmu pada hari ini. Pada jas yang kau buang, dan pada tawa yang kau lepaskan sekarang."
Tanpa menunggu balasan lagi, Leonor berbalik. Ia berjalan pergi dengan langkah yang jauh lebih mantap daripada saat ia datang. Ia tidak lagi peduli pada parade mobil mewah yang akan keluar sebentar lagi. Ia tidak peduli pada pandangan rendah ayahnya.
Di kepalanya, ia tidak lagi merencanakan sebuah busana. Ia mulai merancang sebuah strategi. Jika Edgar Martinez menganggap dunia ini adalah permainan bisnis, maka Leonor akan memulainya. Ia akan menjadi wanita paling mempesona, paling cerdas, dan paling tak terjangkau yang pernah Edgar temui. Ia akan menjadi candu yang tidak akan pernah bisa Edgar lepaskan.
Di belakangnya, Edgar berdiri diam, menatap punggung Leonor yang menjauh. Tawanya telah hilang, digantikan oleh rasa penasaran yang aneh dan gangguan kecil di sudut hatinya yang ia sangkal sekuat tenaga.
🌷🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰