"Jangan sentuh apa pun. Jangan duduk di sofa sebelum mandi. Dan singkirkan remah kerupuk itu dari jangkauan radar saya!" — Calvin Harvey Weinstein.
Nirbita Luminara Rein mengira hidupnya sudah berakhir saat orang tuanya pergi dan kakaknya, Varro, menyatakan mereka bangkrut. Tapi ternyata, penderitaan yang sesungguhnya baru dimulai saat ia "digadaikan" oleh kakaknya sendiri kepada Calvin—CEO jenius yang punya alergi akut pada segala sesuatu yang tidak rapi.
Bagi Calvin, Nirbi adalah sumber kuman berjalan. Bagi Nirbi, Calvin adalah kulkas dua pintu yang cerewetnya minta ampun. Namun, di balik semprotan disinfektan dan aturan ketatnya, Calvin menyimpan rahasia: Ia sudah jatuh cinta pada "si kuman kecil" ini sejak insiden pelukan salah sasaran di kampus dulu.
Bisakah rumah super steril Calvin bertahan dari badai keberantakan Nirbi? Atau justru hati Calvin yang akhirnya "terkontaminasi" cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27. Setitik Minyak dan Syarat Terakhir
Calvin melangkah masuk ke dapur dengan langkah yang masih sedikit goyah akibat sisa demam, namun matanya tetap berfungsi seperti radar pemindai kotoran. Ia menyisir setiap sudut dapur marmernya.
Ia tertegun sejenak. Biasanya, jika Varro yang memegang dapur, tempat itu akan tampak seperti medan perang sisa ledakan tepung. Namun pagi ini, meski ada aroma nasi goreng yang menyengat, piring-piring kotor sudah tertata di wastafel, dan lantai pun tidak terasa lengket.
"Sepertinya Navarro mulai belajar cara menghargai properti saya," batin Calvin.
Namun, mata elangnya mendadak terpaku pada satu titik. Di atas kompor stainless steel miliknya, ada setitik tetesan minyak—kecil, hampir mikroskopis—yang memantulkan cahaya lampu dapur. Meski jaraknya dua meter dari tempatnya berdiri, titik itu terasa seperti luka besar di mata Calvin. Ia meraba sakunya, mencari botol semprotan disinfektan, namun ia teringat pelukan Nirbi semalam.
Calvin menghela napas, memutuskan untuk mengabaikan titik minyak itu (untuk sementara) dan bergabung di meja makan.
"Gimana, Vin? Masih ngerasa ada bakteri yang ngerayap di hidung lo?" sindir Varro sambil menyodorkan piring berisi nasi goreng telur.
Calvin duduk dengan elegan, mencoba bersikap normal. "Suhu tubuh saya sudah stabil. Terima kasih atas... sarapan yang tidak terlalu berantakan ini."
Nirbi yang sedang asyik mengunyah, menoleh ke arah kakaknya. "Bang, tadi malam Kak Calvin hebat tau. Dia nggak marah pas aku pegang tangannya yang 'kotor' menurut dia."
Varro meletakkan sendoknya, suaranya mendadak berubah serius. "Oke, Vin. Gue liat lo emang udah banyak berubah demi adek gue. Tapi, sebagai kakak, gue butuh satu bukti final. Gue nggak mau punya ipar yang bakal pingsan kalau adek gue ajak makan di luar saat dia nggak punya uang."
Calvin menaikkan alisnya. "Bukti apa lagi, Navarro? Saya sudah ikut kamu ke pasar yang penuh lumpur itu."
Varro menyeringai licik. "Pasar itu cuma pemanasan. Syarat terakhir buat dapet restu gue: Siang ini, lo harus ajak Nirbi makan di Warung Tegal Bahari depan kampus. Dan aturannya cuma satu: Kalian harus makan sepiring berdua."
Prang!
Garpu di tangan Calvin terjatuh ke atas piring. "Sepiring berdua? Di warung pinggir jalan? Kamu tahu berapa banyak pertukaran liur dan bakteri yang terjadi dalam satu piring yang sama, Navarro?!"
"Oh, jadi lo lebih mentingin teori bakteri daripada adek gue?" tantang Varro. "Warung itu rame banget, Vin. Orang-orangnya dempet-dempetan. Kalau lo bisa lewatin itu tanpa nyemprot disinfektan ke muka pemilik warungnya, gue bakal kasih restu penuh buat lo nikahin Nirbi besok pagi kalau perlu."
Nirbi menahan napas, menatap Calvin dengan mata memohon. "Kak... ayolah. Itu warung langganan aku. Enak banget, beneran!"
Misi di Warteg Bahari
Pukul 12.30 siang. Jam makan siang paling sibuk. Calvin berdiri di depan warteg dengan wajah yang seolah sedang menatap gerbang neraka. Keringat dingin mulai membasahi keningnya melihat para kuli bangunan dan mahasiswa yang berdesakan di kursi kayu panjang.
"Ayo, Kak! Udah laper banget nih!" Nirbi menarik tangan Calvin masuk ke dalam.
Suara denting piring, aroma asap knalpot dari jalanan yang masuk ke warung, dan suara riuh orang mengobrol membuat Calvin merasa pening. Namun, saat melihat Nirbi tersenyum penuh harap, ia menguatkan hati.
"Pak, nasi satu piring! Lauknya rendang, orek tempe, sama sambel yang banyak ya!" seru Nirbi.
Satu piring plastik berwarna hijau pudar diletakkan di depan mereka. Hanya ada satu pasang sendok dan garpu.
"Ini... piringnya... apakah dicuci dengan air mendidih?" tanya Calvin dengan suara bergetar saat melihat sedikit bercak air di pinggiran piring.
"Udah, Mas! Bersih kok!" jawab si pelayan sambil mengelap meja dengan kain yang warnanya sudah tidak jelas.
Nirbi mengambil sesendok nasi dan daging rendang, lalu menyodorkannya ke mulut Calvin. "Aaa... Kak. Cobain dulu. Sedikit aja."
Seluruh pengunjung warteg mendadak terdiam, menatap pria berjas mewah yang sedang berhadapan dengan sesendok nasi warteg. Calvin menatap sendok itu, lalu menatap mata Nirbi. Ia teringat janjinya semalam: ia ingin melihat wajah ini setiap pagi. Dan untuk mencapainya, ia harus menaklukkan ketakutannya sekarang.
Dengan gerakan perlahan, Calvin membuka mulutnya. Hap.
Ia mengunyah perlahan. Matanya membelalak. "Ini... kenapa rasanya lebih enak daripada masakan koki bintang lima saya?"
Nirbi tertawa riang. "Kan aku udah bilang! Ayo, sekarang giliran aku!"
Calvin mengambil sendok yang sama—sendok yang baru saja masuk ke mulutnya—lalu menyuapi Nirbi. Ia tidak lagi peduli pada pertukaran enzim atau bakteri. Di tengah warteg yang gerah dan bising itu, Calvin merasa dinding OCD-nya runtuh satu per satu setiap kali Nirbi tersenyum puas setelah menelan makanan dari tangan Calvin.
Di kejauhan, di dalam mobil yang terparkir tak jauh dari sana, Varro mengamati lewat teropong. Ia melihat Calvin yang mulai terbiasa, bahkan terlihat menikmati momen sepiring berdua itu tanpa menyemprotkan disinfektan ke piringnya.
Varro tersenyum tulus, ada rasa lega yang amat sangat di dadanya. Ia mengambil ponselnya dan mengirim pesan singkat ke Calvin.
Pesan dari Navarro:
"Selamat, Vin. Lo lulus. Jangan lupa beli obat cacing setelah ini, tapi buat sekarang... nikmatin makan siang lo sama 'kuman' paling berharga di dunia."
Calvin merasakan ponselnya bergetar, membacanya, lalu menatap Nirbi yang sedang sibuk menjilati sambal di jarinya.
"Nirbita," panggil Calvin.
"Ya, Pak Bos?"
"Besok kita makan di sini lagi. Tapi... bawa piring sendiri dari rumah ya?"
Nirbi tertawa keras hingga tersedak, dan Calvin dengan sigap menepuk punggungnya, tidak peduli lagi jika jas mahalnya kini terkena noda sambal dari tangan Nirbi.
udah ngasih beban nitipin NOBITA eehh.. maksudku Nirbita...
nglunjak lagi..🤣🤣🤣🤣🤣
dari sahabat jadi musuh ini kah... bukan musuh dari awal.
Nirbita lucu banget ... ini bukan kembaran nya Nobita kan ??? /Joyful//Joyful//Joyful//Joyful//Joyful/
udah ini mah lucu lucu romantis gemes dan lebbayyy tapi aku suka