Terlahir kembali sebagai Riser Phenex—bangsawan iblis paling dibenci dengan reputasi sampah—bukanlah pilihan yang buruk bagi seorang pemuda dari dunia modern. Dengan sistem "Yui" yang bermulut tajam namun setia, serta kekuatan terlarang dari masa lalu yang terkubur (Meliodas), Riser memutuskan untuk berhenti mengejar wanita yang tidak menginginkannya. Di hari Rating Game yang seharusnya menjadi kehancurannya, dia justru membakar naskah takdir. Dia membatalkan pertunangan, melepaskan gelar "pecundang", dan mulai membangun "keluarga" sejatinya sendiri. Dari pedang Saeko Busujima hingga kesetiaan Yasaka, Riser tidak hanya ingin bertahan hidup; dia ingin mendominasi dunia supranatural dengan gaya yang elegan, sarkastik, dan tak terbantahkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terlahir Kembali
Kelopak mata itu bergetar hebat sebelum akhirnya terbuka, menampakkan sepasang manik mata yang berpendar jingga keemasan. Rasa sakit yang menghujam ulu hati adalah hal pertama yang menyambut kesadarannya—rasa sakit yang terasa nyata, seolah-olah jiwanya baru saja dipaksa masuk ke dalam wadah yang terlalu sempit.
Dia tidak berada di kamarnya yang berantakan dengan poster anime. Tidak ada bau mie instan atau suara kipas angin PC yang menderu. Sebaliknya, indra penciumannya menangkap aroma kayu cendana yang mahal, parfum mawar yang menyengat, dan sesuatu yang jauh lebih dominan: aroma belerang dan api.
"Uh..."
Sebuah erangan rendah keluar dari tenggorokannya. Dia mencoba bangkit, namun tubuhnya terasa seberat timah. Saat tangannya menyentuh permukaan tempat tidur, dia merasakan sutra berkualitas tinggi. Dia menoleh ke samping, menatap cermin besar berbingkai emas yang berdiri tegak di sudut ruangan megah itu.
Bukan wajahnya.
Di dalam cermin itu, seorang pria muda menatap balik dengan ekspresi linglung. Rambut pirang pucat yang tertata rapi, setelan jas merah burgundy yang terlihat sangat arogan, dan aura kemewahan yang memuakkan.
Tunggu. Ini... Riser Phenex?
Ingatan terakhirnya adalah cahaya putih yang menyilaukan dan suara sosok yang mengaku sebagai Dewa, meminta maaf karena sebuah kecerobohan konyol yang mengakhiri hidupnya sebagai seorang otaku di usia muda.
Aku benar-benar bereinkarnasi? Tapi kenapa harus jadi ayam bakar ini?
Tepat saat pemikiran itu melintas, sebuah sensasi dingin yang kontras dengan suhu tubuhnya yang panas mulai merayap di belakang kepalanya.
[ Sinkronisasi Jiwa: 15% ]
[ Memproses memori inang... ]
[ Integrasi selesai. Selamat pagi, Pemalas. ]
Pria itu tersentak. Suara itu bukan suara robot yang datar. Itu suara perempuan—tajam, sedikit angkuh, tapi memiliki nada merdu yang familiar.
"Siapa?" gumamnya, suaranya kini terdengar jauh lebih berat dan penuh wibawa dibanding suara aslinya di dunia lama.
[ Aku Yui. Berhenti mencari di kolong tempat tidur, aku ada di dalam kesadaranmu. Dan tolong, bisakah kamu berhenti memasang wajah bodoh itu? Itu merusak reputasi visual yang sudah susah payah aku sinkronkan dengan seleramu. ]
Riser—nama yang kini harus dia terima—terkekeh pelan, meski dadanya masih terasa sesak. "Yui, ya? Nama yang bagus untuk sistem yang terdengar seperti sedang mengalami PMS."
[ Kamu ingin mati lagi? Aku bisa mengatur jadwalnya jika kamu mau. ]
"Galak sekali," Riser menghela napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya. Dia bangkit dari tempat tidur, berjalan perlahan menuju balkon kamar yang luas. Dari sana, dia bisa melihat pemandangan dunia bawah (Underworld) yang eksotis. Langit berwarna ungu kemerahan dengan kastel-kastel megah yang melayang di kejauhan.
Dia melihat tangannya sendiri. Nyala api kecil tiba-tiba muncul di ujung jarinya secara naluriah. Itu bukan api biasa; itu adalah api keabadian milik klan Phenex. Namun, di balik api itu, dia bisa merasakan sesuatu yang jauh lebih gelap, lebih berat, dan jauh lebih destruktif. Kekuatan yang diminta jiwanya sebelum terlahir kembali: kekuatan sang kapten dari tujuh dosa besar.
"Yui, status. Berikan aku gambaran tanpa basa-basi," ucap Riser sambil menyandarkan sikunya di pagar balkon, menatap hamparan wilayah Phenex yang luas.
Status Pengguna
Nama: Riser Phenex
Ras: Iblis Berdarah Murni
Gelar: Pewaris Ketiga Klan Phenex
Kekuatan Utama:
* Power of Darkness (Segel Level 1 - Sinkronisasi Dibutuhkan)
* Full Counter (Pasif/Aktif - Tergantung Reaksi Tubuh)
* Tori Tori no Mi: Model Phoenix (Terintegrasi dengan Darah Phenex - Tanpa Kelemahan Air)
Keahlian:
* Pengendalian Energi: Master
* Intuisi Pertempuran: Khusus
* Seni Bela Diri (Re-Taekwondo): Master
* Memasak: Master
Riser menatap daftar itu dengan senyum miring. "Master memasak? Dewa itu benar-benar mengabulkannya di tengah-tengah paket kekuatan tempur?"
[ Tentu saja. Seorang Raja butuh lidah yang tajam, bukan hanya pedang yang tajam. Lagipula, bukankah kamu yang bilang kalau jalan menuju hati wanita adalah melalui perut mereka? Dasar mesum. ]
Riser tertawa kecil, suara tawanya kini terdengar lebih santai, kehilangan kekakuan aristokrat aslinya. "Itu strategi, Yui. Bukan mesum. Ada perbedaan tipis di sana."
Tiba-tiba, pintu kamarnya diketuk dengan keras. Bukan ketukan pelayan yang sopan, melainkan ketukan yang terburu-buru dan penuh kecemasan.
"Kakak! Kak Riser! Kamu sudah bangun?"
Suara itu. Ravel Phenex. Adik perempuannya—atau setidaknya, adik dari tubuh ini.
Riser memejamkan mata sejenak, membiarkan memori asli dari Riser Phenex mengalir. Hari ini. Tanggal ini. Dia menyadari satu hal yang membuatnya mendengus geli.
"Yui, ini hari itu, kan?"
[ Ya. Hari di mana kamu seharusnya pergi ke dunia manusia untuk mempermalukan dirimu sendiri di depan Rias Gremory dan berakhir menjadi ayam panggang oleh seorang bocah yang berteriak 'Boost' setiap sepuluh detik. ]
Riser merapikan kerah jasnya, menatap pantulan dirinya di kaca balkon dengan tatapan yang kini tajam dan penuh percaya diri. Kesan arogan yang kosong telah hilang, digantikan oleh aura dingin yang analitis namun santai.
"Ayam panggang, ya? Kurasa menu hari ini akan berubah," bisik Riser. Dia berjalan menuju pintu, setiap langkahnya terasa lebih ringan seiring dengan teknik pernapasan yang dia pelajari dari memori bela dirinya yang baru.
Dia membuka pintu, dan di sana berdiri seorang gadis kecil dengan rambut pirang yang dikuncir dua, menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Ravel tampak siap untuk memohon sesuatu, kemungkinan besar memohon agar kakaknya tidak terlalu kasar pada Rias—atau sebaliknya, mengkhawatirkan kesombongan kakaknya sendiri.
Riser tidak menunggu Ravel bicara. Dia mengulurkan tangan, mengusap kepala adiknya itu dengan gerakan yang lembut namun tegas, sesuatu yang tidak akan pernah dilakukan oleh Riser yang asli.
"Ayo pergi, Ravel. Aku punya janji yang harus diselesaikan di Kuoh."
Ravel tertegun. Dia merasakan suhu tubuh kakaknya tidak lagi membara seperti api yang tak terkendali, melainkan terasa hangat dan menenangkan. "Kak... Riser?"
"Kenapa? Apa aku terlihat terlalu tampan hari ini sampai kamu lupa cara bicara?" Riser mengedipkan satu matanya, membuat Ravel tersipu malu sekaligus bingung dengan perubahan sikap kakaknya yang mendadak menjadi sangat santai.
[ Cih, mulai lagi sifat tebar pesonanya. ]
Riser hanya tersenyum tipis mendengar ejekan Yui di kepalanya. Dia melangkah melewati koridor panjang kastel Phenex, menuju lingkaran sihir transportasi yang sudah disiapkan. Targetnya jelas: Akademi Kuoh. Bukan untuk memaksa sebuah pernikahan, tapi untuk mengambil kembali kendali atas takdirnya sendiri.
Lingkaran sihir dengan lambang klan Phenex berpendar terang di tengah ruang klub Penelitian Ilmu Gaib. Cahaya api yang muncul tidak lagi terasa liar dan menyengat, melainkan memancar dengan tekanan yang tenang namun masif. Dari balik pendaran itu, Riser melangkah keluar dengan tangan terbenam di saku celananya. Ravel mengikuti di belakang, tampak sedikit canggung karena merasakan atmosfer kakaknya yang sangat berbeda dari biasanya.
Di depan mereka, Rias Gremory berdiri dengan wajah kaku. Di sampingnya, seorang pemuda berambut cokelat—Hyoudou Issei—mengepalkan tangan dengan kemarahan yang meluap-luap. Sisanya, Akeno, Kiba, dan Koneko, sudah dalam posisi siaga.
Riser menyapukan pandangannya ke seluruh ruangan. Matanya sempat berhenti sejenak pada sosok Asia Argento yang berdiri gemetar di pojok ruangan.
[ Target Terdeteksi: Asia Argento. ]
[ Status: Ketakutan, Bingung, Memiliki potensi kemurnian tinggi. ]
[ Saran: Berhentilah menatapnya seperti predator, atau citra 'pahlawan' yang ingin kamu bangun akan hancur sebelum dimulai. ]
Diamlah, Yui. Aku sedang melakukan observasi, batin Riser datar.
"Riser Phenex..." Rias membuka suara, nadanya sedingin es. "Sudah kubilang, aku tidak akan menerima pernikahan ini. Kenapa kamu masih bersikeras datang ke sini dengan cara tidak sopan?"
Riser tidak langsung menjawab. Dia berjalan perlahan menuju sofa kulit yang ada di sana, melewati Issei seolah pemuda itu hanyalah hiasan dinding yang tidak penting. Gerakannya begitu santai, namun setiap langkahnya memberikan tekanan mental yang membuat Kiba Yuuto secara refleks memegang gagang pedangnya.
"Hei! Kau dengar tidak?! Jangan mengabaikan Buchou!" teriak Issei, melangkah maju untuk mencengkeram kerah jas Riser.
Wush—
Hanya dalam satu gerakan halus, Riser memiringkan tubuhnya sedikit. Dia tidak memukul, dia hanya membiarkan aura gelap dari Power of Darkness miliknya memercik tipis di ujung jarinya. Issei terpental mundur beberapa langkah seolah baru saja menabrak dinding yang tak terlihat.
"Berisik sekali," ucap Riser pelan, suaranya terdengar sangat manusiawi namun mengandung otoritas yang tidak bisa dibantah. "Aku datang ke sini untuk bicara dengan pemilik rumah, bukan dengan peliharaan yang belum diajari cara menggonggong pada tempatnya."
"Kau—!" Issei hendak maju lagi, namun Rias mengangkat tangannya, menghentikan pionnya.
Rias menatap Riser dengan dahi berkerut. Ada yang salah. Riser yang dia kenal adalah seorang narsistik yang akan berteriak tentang kehebatan api abadinya sejak detik pertama dia tiba. Riser yang ada di depannya sekarang terlihat... tenang. Terlalu tenang.
"Duduklah, Rias. Wajah cantikmu akan cepat keriput kalau kamu terus memasang ekspresi seperti ingin menelan orang hidup-hidup," ujar Riser sambil menyandarkan punggungnya di sofa, melipat kaki dengan gaya yang sangat elegan.
Ravel Phenex berdiri di samping kakaknya, matanya mengerjap tidak percaya. "Kak... Kakak benar-benar ingin bicara baik-baik?"
Riser melirik adiknya itu dan tersenyum tipis—senyum yang tulus, bukan seringai jahat. "Tentu saja. Aku bosan dengan drama yang tidak produktif."
Rias akhirnya duduk di hadapan Riser, meski tubuhnya tetap tegang. Akeno berdiri di belakangnya, matanya menyipit waspada, siap melepaskan petir kapan saja.
"Apa maumu, Riser? Jika ini tentang mempercepat pernikahan, jawabanku tetap tidak," tegas Rias.
Riser menyesap teh yang entah sejak kapan sudah disediakan oleh Yubelluna—ratunya yang muncul dari bayang-bayang di belakangnya. Dia menatap cairan teh itu sejenak sebelum menatap lurus ke mata biru Rias.
"Aku ke sini untuk menawarkan sebuah solusi. Sebuah Rating Game," ucap Riser tenang.
Issei berteriak lagi, "Tentu saja! Ujung-ujungnya pasti kau ingin pamer kekuatan, kan?!"
"Bisa kau tutup mulutnya, Rias? Atau perlu aku yang melakukannya secara permanen?" Riser melirik Issei dengan tatapan dingin yang membuat pemuda berambut cokelat itu mendadak membeku. Tekanan itu bukan berasal dari api, melainkan sesuatu yang jauh lebih purba dan mematikan.
[ Sinkronisasi Jiwa meningkat: 18%. ]
[ Catatan: Tekanan mental yang baru saja kamu lepaskan cukup efektif. Tapi hati-hati, jantung Issei hampir copot. ]
Riser kembali fokus pada Rias. "Jika aku kalah, aku akan membatalkan pertunangan ini secara resmi di depan Dewan Iblis dan menjamin kebebasanmu tanpa syarat. Aku juga akan menanggung semua konsekuensi sosial yang diterima keluarga Phenex."
Rias tertegun. Tawaran itu terlalu menguntungkan baginya. "Lalu... jika kamu menang?"
Riser meletakkan cangkir tehnya di meja dengan dentingan pelan. Dia memajukan tubuhnya, memberikan senyum misterius yang membuat jantung Rias berdegup lebih kencang karena alasan yang tidak dia pahami.
"Jika aku menang, kamu akan tetap bebas dari pernikahan ini. Tapi," Riser menjeda kalimatnya, matanya beralih ke arah Asia Argento sejenak sebelum kembali ke Rias. "Kamu dan seluruh Peerage-mu harus berhutang budi padaku. Dan suatu saat, aku akan menagih hutang itu dalam bentuk kerja sama faksi."
"Hah?" Rias benar-benar bingung. "Maksudmu, kau tidak ingin menikahiku meski kau menang?"
Riser tertawa lepas, suara tawa yang terdengar jujur dan sedikit sarkastik. "Rias, kamu wanita yang hebat dan cantik. Tapi aku tidak tertarik pada wanita yang hatinya tidak ada padaku. Aku punya harga diri yang lebih tinggi daripada sekadar mengemis cinta pada wanita yang membenciku."
Dia bangkit dari duduknya, merapikan jasnya yang tidak kusut sama sekali.
"Sepuluh hari dari sekarang. Siapkan bidak-bidakmu. Oh, dan satu hal lagi..." Riser berjalan menuju Asia Argento. Grayfia Lucifuge, yang baru saja muncul di ruangan itu untuk memantau, terkejut melihat pergerakan Riser yang begitu tenang namun tak terdeteksi.
Riser berdiri di depan Asia, yang gemetar ketakutan. Bukannya menyakiti, Riser justru mengulurkan tangannya dan menepuk bahu Asia dengan lembut.
"Jangan takut, Biarawati. Di dunia ini, kekuatan bukan hanya untuk menghancurkan, tapi untuk melindungi hal yang layak dilindungi. Cobalah untuk makan lebih banyak, kamu terlihat terlalu pucat."
Setelah mengatakan itu, Riser berbalik dan berjalan menuju lingkaran sihir transportasi.
"Sampai jumpa di arena, Rias Gremory. Cobalah untuk tidak membuatku bosan."
[ Misi Tersembunyi Selesai: Mengubah Persepsi Awal. ]
[ Hadiah: Peningkatan kontrol Tori Tori no Mi (Model Phoenix). ]
[ Komentar Yui: Tidak buruk untuk seorang otaku yang biasanya hanya bicara dengan bantal guling. Kamu terlihat sedikit keren tadi... sedikit saja. ]
Riser hanya tersenyum tipis saat tubuhnya menghilang ditelan api merah keemasan, meninggalkan ruangan klub yang kini dipenuhi oleh keheningan yang mencekam dan rasa penasaran yang luar biasa dari pihak Rias.