NovelToon NovelToon
Balasan Seorang Istri Untuk Suami Dan Mertua Jahat

Balasan Seorang Istri Untuk Suami Dan Mertua Jahat

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:6.8k
Nilai: 5
Nama Author: Eireyynezkim

Shafira Azzahra, tidak menyangka laki-laki yang dulu selalu baik dan royal berubah ketika dirinya sudah menikah dengan Aris Permana. Aris, suaminya menunjukkan sifat aslinya yang pelit dan perhitungan dengannya. Apalagi sikapnya yang lebih mengutamakan keluarganya dibandingkan dirinya yang sebagai istri.

Setiap hari Shafira akan dikasih jatah belanja 20 ribu sehari oleh suaminya, Aris. Setiap hari Shafira harus memutar otak, harus dibuat apa dengan uang 20 ribu rupiah. Jika lauk tak enak, Sharifa'lah yang akan mendapatkan makian dari mulut julid keluarga suaminya.

Akhirnya Shafira memanfaatkan waktunya dirumah dengan menulis novel dan berjualan online dengan nama pena dan nama tokonya memakai nama samaran agar suami dan keluarganya tidak tahu kalau Sahfira juga memiliki penghasilan.

Suatu hari Shafira tidak sengaja melihat sang suami sedang jalan dengan seorang wanita. Karena mencium bau bau perselingkuhan, Shafira pun mulai masa bodoh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tiga Belas

Hari yang ditunggu-tunggu Aris pun tiba. Hari ini Aris akan melamar Fela, ah bukan melamar, tepatnya hanya memberi tahu pada keluarga Fela kalau mereka akan menikah, sebagai formalitas saja.

"Kamu mau kemana, mas? Kok sudah rapi gini?"

Tanya Shafira sengaja memancing suaminya.

"Oh, mas mau ikut ibu kerumah saudaranya, soalnya ada yang mau nikah". jawab Aris sambil merapikan penampilannya didepan cermin.

"Saudara yang mana? Terus kenapa kamu gak ngajakin aku, mas. Aku kan menantu ibu yang berarti keluarga ibu ya keluarga aku juga."

"Eh, gak usah. Kamu gak perlu ikut, kamu dirumah aja jaga rumah, lagian mas perginya gak lama kok." ucap Aris cepat-cepat.

"Pokoknya aku mau ikut, aku juga pengen kenal dengan saudara-saudara ibu."

"Mas bilang gak usah ya gak usah." ucap Aris tanpa sadar malah membentak istrinya.

"Kenapa kamu aneh gini sih, mas? masak aku gak boleh ikut ke acara nikahan saudara ibu. Atau jangan-jangan yang mau menikah itu kamu mas?" celetuk Shafira menyipitkan matanya.

"K-kamu ngomong a-apa sih, mana mungkin yang menikah itu mas." gagap Aris salah tingkah dengan tuduhan Shafira yang tidak sepenuhnya salah itu.

"Aris..!" Pekik bu Ratna.

"Kamu ngapain aja didalam, bertelor? Ini sudah siang. Itu taksinya udah nungguin dari tadi." seru bu Ratna lagi.

"Kamu sih, kena marah ibu kan. Kamu jangan curigaan gitu sama mas. Gak ada yang nikah lagi. Kebanyakan nonton sinetron sih, jadinya gini kan, bawaannya curigaan mulu. Udah, mas pergi dulu. Kamu jaga rumah aja." Aris pun cepat-cepat keluar dari kamar takut ditodong pertanyaan lagi yang membuatnya semakin gugup.

'Huh... Untung ibu cepat manggil. Lagian kenapa Shafira bisa ngomong gitu. Apa jangan-jangan dia udah tahu kalau aku mau menikah lagi ya. Ah gak mungkin lah, buktinya Shafira anteng-anteng aja tuh, kalau Shafira tahu, udah dari kemarin Shafira ngamuk-ngamuk.' batin Aris.

Mereka pun berangkat bertiga dengan pak Agus menggunakan taksi online. Sebenarnya pak Agus malas ikut, ini kesempatannya untuk bisa datang ke rumah Siska. Tapi bu Ratna memaksa, katanya biar afdol kedua orang tua Aris harus ikut.

Hampir satu jam perjalanan mereka pun tiba di desa tempat tinggal orang tua Fela.

"Ini beneran rumahnya Ris?" Tanya bu Ratna sambil menunjuk rumah yang ada didepannya saat taksi yang ditumpanginya berhenti dirumah yang menurut bu Ratna lebih kecil dari rumahnya.

"Kayaknya iya bu, nomor rumahnya juga sama.

Ah, itu Fela bu." tunjuk Aris yang melihat Fela keluar dari rumahnya dan menghampiri mereka.

Aris terpesona melihat Fela yang menurutnya sangat cantik, apalagi ditambah dengan riasan diwajahnya.

Bu Ratna memandang sinis rumah calon besannya.

'Ini sih gak beda jauh sama rumah orang tuanya si Shafira, kecilnya juga sama. Bedanya cuma rumahnya udah permanen.' batin bu Ratna. Ia fikir rumah calon besannya itu mewah, atau paling gak sama lah dengan rumahnya.

"Mas Aris, bu, pak, ayo masuk." ucap Fela sambil menyalami tangan bu Ratna dan pak Agus.

Dengan muka masam akhirnya bu Ratna memasuki rumah calon besannya itu.

"Assalamu'alaikum.." seru Aris.

"Wa'alaikumsalam.." jawab orang-orang yang berada didalam rumah.

Glek..

Aris menelan ludah melihat banyaknya orang yang menunggu mereka.

'Aduh.. Kenapa Fela harus ngundang orang sebanyak ini, mana ibu gak bawa apa-apa lagi.' batin Aris yang tiba-tiba tidak percaya diri karna ia tidak membawa apapun sebagi buah tangan.

"Bu, didalam ramai orang. Kita gak bawa apa-apa, gimana ini. Aris malu." bisik Aris pada ibunya.

"Udah masuk aja, orang bukan acara lamaran ini. " ucap bu Ratna.

Ia juga merasa Fela berlebihan mengundang banyak orang.

"Ayok mas Aris masuk, kenapa bengong aja."

tegur Fela karna melihat Aris hanya mematung didepan pintu.

"Eh i-iya.. Ayok bu."

Mereka pun masuk dan disambut antusias oleh semuanya.

Fela. "Selamat datang mbak." sapa bu Nurma, ibunya

"Oh i-iya." sahut bu Ratna memaksakan senyumnya.

"Ayo ayo, semuanya silahkan duduk." ucap bu Nurma.

Mereka pun duduk di ambal besar bersama para tetangga yang ingin menyaksikan acara lamaran tersebut yang isinya ibu-ibu semua.

Fela terlihat keluar dari arah dapur sambil membawa nampan berisi minuman dan piring berisi kue-kue.

"Silahkan diminum dulu bu, pak dan mas Aris." ujar Fela.

Aris mengangguk sungkan. Ia dan kedua orang tuanya menyeruput teh yang disajikan oleh Fela.

"Jadi begini bu, apa sampeyan sudah tahu kalau anak saya Aris mingggu depan akan menikahi Fela?"

"Iya Fela sudah memberi tahu." jawab bu Nurma sambil mengangguk.

"Jadi, kedatangan kami kesini untuk

mengantarkan Aris meminta izin secara langsung pada ibu selaku orang tuanya Fela kalau anak saya akan menikahi Fela. Dan saya juga minta tolong pada sampeyan untuk melapor pada pihak desa dan RT, juga tolong panggilkan ustadz untuk menikahkan mereka. Sampeyan juga sudah dikasih tahu kan kalau ini hanya pernikahan siri?" Tanya bu Ratna.

"Tahu" ucap bu Nurma sambil mengangguk.

"Nah ya udah, sekarang sudah deal kan kalau akad nikahnya akan diadakan dirumah ini?" Tanya bu Ratna memastikan.

"Dan ini ada uang untuk pesan katering dan keperluan lainnya". ucap bu Ratna sambil menyodorkan amplop pada bu Nurma.

Bu Nurma langsung menerimanya dan bingung karna melihat amplop itu tipis tidak sesuai dengan bayangannya.

"Jadi, semuanya sudah selesai kan." ujar bu Ratna.

"Kok gak ada acara tukar cincinnya ya, kan biasanya acara lamaran ada acara tukar cincinnya." celetuk salah satu ibu-ibu.

"Iya, biasanya pihak lelaki juga membawa seserahan ke rumah si perempuan." sambung ibu-ibu yang lain.

"Kata siapa ini acara lamaran? Ini hanya rembukan, mereka juga hanya menikah siri." ujar bu Ratna yang mulai sewot.

"Eh calon besan, walaupun cuma pernikahan siri, tapi ya masak sampeyan cuma bawa badan saja, apa sampeyan gak malu meminta anak gadis orang tapi tidak membawa apa-apa? Dan ini juga, kenapa amplopnya tipis sekali." ujar bu Nurma yang juga sedari tadi menahan kesal karna calon besannya seperti tidak menghargai anaknya."

Bu Ratna sudah melotot saat calon besannya menuntut yang macam-macam.

"Sampeyan tenang saja, kalau masalah seserahan, besok kami bawa saat acara akad, sekalian dengan maharnya." ujar bu Ratna.

"Bener ya, jangan sampai kalian cuma bawa badan saja." sinis bu Nurma.

"Dan ini saya minta ditambahin, kalau cuma dua juta gak akan cukup untuk pesan katering, belum lagi untuk ngasih amplop pak penghulunya." ujar bu Nurma lagi yang sudah membuka amplop yang diberikan bu Ratna.

"Heh, enak aja. Segitu saja sudah banyak. Emangnya sampeyan mau ngundang berapa banyak? Sekampung?" sewot bu Ratna.

Membuat Aris dan pak Agus malu karna banyak orang yang mulai berbisik-bisik membicarakan mereka.

"Ya udah bu, nanti saya transfer langsung ke Fela berapa yang kurang. Kalau sekarang saya gak bawa uang cash." ucap Aris menengahi ibunya dan calon ibu mertuanya yang tidak ada yang mau mengalah.

"Heh, jangan mau! Segitu sudah cukup, malah lebih. Kamu jangan mau diporotin." ujar bu Ratna yang balik memarahi Aris.

"Udah bu, malu dilihatin banyak orang." bisik Aris pelan.

Fela yang melihat juga merasa kecewa dan malu karna Aris tidak membawa apa-apa saat datang melamarnya. Ia sudah membayangkan saat acara lamarannya Aris akan membawa banyak seserahan untuknya, itu sebabnya Fela menyuruh ibunya mengundang para tetangga. Tapi ternyata Aris datang dengan tangan kosong, membuatnya malu.

"Ya sudah kalau gitu kami pamit dulu, minggu depan kami datang lagi." ucap bu Ratna.

"Eh, jangan pulang dulu. Kami sudah menyiapkan jamuan untuk menjamu kedatangan calon besan dan nak Aris." ujar bu Nurma.

Walaupun ia kesal pada calon besannya, tapi ia tetap menjamu kedatangan calon besannya sebagai bentuk menghormati.

Bu Nurma pun menghidangkan makanan dengan dibantu beberapa tetangganya.

Bu Ratna yang sudah terlanjur kesal pun hanya makan sedikit, padahal makanan yang dihidangkan banyak dan tentunya enak-enak.

Setelah selesai mereka pun pamit pulang dengan Aris yang membawa rasa malu.

Dari perjalanan sampai rumah, bu Ratna terus ngedumel, karna ia merasa dipermalukan didepan banyak orang.

"Huh.. enak aja mau minta macam-macam, orang cuma nikah siri juga. Kamu sih Ris, kenapa kamu gak kasih tahu Fela kalau dia gak perlu ngundang orang lain. Awas aja kalau kamu kasih mereka uang lagi." ucap Bu Ratna melotot pada Aris.

Membuat Aris garuk-garuk kepala. Pak Agus hanya diam saja, ia malas berkomentar karna sudah hafal dengan sifat istrinya yang keras kepala dan tidak mau dibantah.

"Iya bu." jawab Aris mencari aman, tak ingin kena semprot ibunya lagi.

"Loh, kok cepat banget pulangnya mas? Aku kira pulangnya malam karna mau bantu-bantu dulu. Itu juga ibu kenapa?" ucap Shafira sengaja padahal Shafira tahu kalau mereka tidak pergi ke acara nikahan.

"Gak kenapa-kenapa. Udah, mas mau istirahat dulu, kepala mas pusing ini."

Aris pun segera masuk kedalam kamar, ia sebisa mungkin ingin menghindari pertanyaan-pertanyaan Shafira.

Shafira hanya memandang heran, kenapa pulang -pulang muka bu Ratna dan Aris pada masam.

Dreett...

Bu Ratna yang sedang selonjoran sambil memainkan handphone di atas kasur melihat ada panggilan masuk ke handphone suaminya. Bu Ratna segera mengambil handphone suaminya yang tergeletak di atas meja, karan pak Agus sedang ke kamar mandi.

"Dudung?" gumam Bu Ratna membaca nama si penelpon. Baru saja ingin menekan tombol hijau tapi panggilan tersebut sudah berakhir.

Ting...

Tak lama pesan dari Dudung datang. Karna penasaran bu Ratna membuka pesan tersebut, karna handphone pak Agus tidak memakai sandi, membuat Bu Ratna mudah membukanya.

[Akang, nanti malam jadi kerumah adek kan ] pesan dari Dudung.

"Kenapa si Dudung suruh bapak datang kerumahnya malam-malam? Terus ini apalagi pake panggilan akang adek." gumam bu Ratna merasa aneh membaca pesan dari Dudung, karna setahu bu Ratna Dudung juga seorang bapak-bapak yang seumuran dengan suaminya.

Kreek..

Pintu dibuka pak Agus, terlihat pak Agus baru selesai mandi.

"Pak, tadi ada telpon dari Dudung..!" seru Bu Ratna.

Deg...

1
Desi Belitong
aku suka dia melawan bukan hanya bisa nangis💪💪
Aisyah Sabilla
THOR KAPAN UPDATE
Iry: kemungkinan bsk aku update langsung banyak yah
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!