"Kau pikir aku masih wanita lemah yang dulu?"
Dara Alvarino, dokter bedah kelompok mafia paling ditakuti mati ditikam dari belakang oleh sahabatnya sendiri. Saat membuka mata, ia terbangun dalam tubuh Kiara Adisaputra, istri lemah yang sedang hamil tiga bulan, dipukuli suaminya sendiri karena dituduh selingkuh.
PLAK!
Tamparan keras mendarat di pipinya. "Pelacur! Ngaku saja kalau anak itu bukan anakku!"
Arkan Adisaputra, suaminya berdiri dengan mata penuh kebencian. Di belakangnya, Lenna si adik angkat tersenyum tipis, pura-pura cemas. "Kak Arkan, jangan kasar... Kak Kiara kan sedang hamil..."
Dara yang sekarang Kiara menatap tajam. Tubuh ini lemah, tapi jiwanya adalah predator yang pernah membedah tubuh manusia tanpa berkedip.
"Kau mau bukti?" Kiara berdiri, mengusap darah di sudut bibirnya. "Aku akan tunjukkan siapa yang sebenarnya berbohong di rumah ini."
Pembalasan dimulai. Kali ini, ia tidak akan mati sia-sia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3 - POLA YANG SAMA
Tiga hari sejak konfrontasi di ruang makan, Kiara menghabiskan waktunya mengamati.
Dara tahu satu hal dari kehidupan lamanya, sebelum menyerang, kamu harus tahu medan perang. Kamu harus tahu musuhmu, kebiasaan mereka, kelemahan mereka, pola mereka.
Dan Lenna punya pola.
Kiara duduk di balkon kamarnya, berpura-pura membaca buku. Tapi matanya terus mengawasi halaman belakang di mana Lenna sedang duduk di gazebo, minum teh dengan Nyonya Devi.
Dari jauh, mereka terlihat seperti ibu dan anak kandung. Lenna tertawa lembut, menuangkan teh untuk Nyonya Devi dengan penuh perhatian. Nyonya Devi tersenyum hangat, senyum yang tidak pernah diberikan pada Kiara.
"Tante, kue ini buatan Lenna sendiri lho. Coba deh, Tante pasti suka."
"Oh, Lenna sayang, kamu ini terlalu baik. Masak-masak segala untukku."
"Lenna senang kok kalau bisa bikin Tante senang."
Dara tersenyum sinis, klasik... Mendekati ibu, mendapat perlindungan, memposisikan diri sebagai anak yang sempurna. Sementara istri sah dijadikan musuh bersama.
Salma dulu juga begitu. Mendekati bos-bos mafia dengan cara yang sama, lembut, perhatian, selalu ada saat dibutuhkan. Sampai semua orang percaya dia adalah malaikat.
Padahal di belakang, dia merencanakan pembunuhan.
Kiara membuka buku catatan kecil, curi dari laci meja belajar tadi pagi. Di dalamnya, dia mulai menulis.
POLA LENNA :
Pagi : Sarapan dengan Arkan, selalu duduk di sebelahnya. Menuangkan kopi, menyiapkan piring. Bermain peran sebagai "istri sempurna" yang tidak pernah jadi.
Siang : Mendekati Nyonya Devi. Membuat kue, menemani minum teh, mendengarkan keluhan. Memposisikan diri sebagai anak kandung.
Sore : Menghabiskan waktu di ruang kerja Arkan dengan dalih "membantu pekerjaan". Waktu berduaan.
Malam : Kembali ke kamarnya yang tepat di sebelah kamar Arkan. Kamar yang lebih dekat dari kamar Kiara yang di sayap lain rumah.
Dara mengetuk-ketuk pulpen ke bibirnya. Semua strategi Lenna bertujuan satu hal... menggantikan posisi Kiara. Tidak cukup dengan merebut hati Arkan, Lenna ingin menghapus eksistensi Kiara sepenuhnya.
Dan hampir berhasil.
Ketukan pintu menginterupsi analisisnya.
"Masuk."
Sari muncul, membawa nampan obat dan segelas susu.
"Nyonya, sudah waktunya minum vitamin untuk kandungan."
"Terima kasih, Sari."
Dara meraih gelas susu, tapi kemudian berhenti. Instingnya... instink yang menyelamatkannya berkali-kali di dunia mafia, berteriak waspada.
"Sari, siapa yang menyiapkan susu ini?"
"Nona Lenna, Nyonya. Beliau bilang mau memastikan Nyonya dapat nutrisi yang cukup untuk kandungan."
Dara menatap susu itu, warnanya normal, baunya normal.
Tapi Lenna yang menyiapkannya.
"Sari, kamu sudah minum hari ini?"
"Sudah, Nyonya."
"Coba kamu minum ini dulu, sedikit saja."
Sari terlihat bingung tapi menurut. Dia meneguk sedikit susu, lalu menungggu.
Tidak ada reaksi.
Dara menghela napas, mungkin dia terlalu paranoid. Trauma dari diracun Salma membuatnya curiga pada semua makanan dan minuman.
"Baiklah, terima kasih Sari."
Dia meneguk susunya, sambil tetap waspada pada setiap sensasi di tubuhnya. Tidak ada rasa aneh, mungkin memang aman.
Atau mungkin racunnya bekerja lambat.
Dara meletakkan gelas kosong, mengambil catatan lagi. Dia harus lebih hati-hati. Di kehidupan lama, dia ahli dalam racun, tahu mana yang berbahaya, mana yang tidak. Tapi tubuh Kiara ini sedang hamil. Lebih rentan... Lebih lemah...
"Nyonya, boleh saya tanya sesuatu?"
Dara menatap Sari. "Apa?"
"Kenapa... kenapa Nyonya berubah? Maksud saya, saya senang Nyonya sekarang lebih berani, tapi... apa yang terjadi?"
Pertanyaan yang tidak bisa dijawab dengan jujur.
"Kadang orang harus hampir mati dulu baru sadar, Sari. Aku hampir mati kemarin, dan aku sadar kalau aku terus jadi Kiara yang dulu, aku akan benar-benar mati."
"Tapi Nona Lenna bilang..."
"Lenna bilang apa?"
Sari terlihat ragu. "Beliau bilang... Nyonya mungkin kerasukan atau ada yang aneh dengan Nyonya. Beliau khawatir Nyonya berbahaya untuk Tuan Arkan dan keluarga."
Dara tertawa, tawa pahit yang membuat Sari tersentak.
"Kerasukan? Berbahaya?" Dara bangkit, berjalan ke jendela, menatap Lenna yang masih bercengkrama dengan Nyonya Devi di bawah. "Sari, kamu tahu apa bedanya orang baik dan orang jahat?"
"Tidak, Nyonya."
"Orang baik tidak perlu bilang dia baik. Tapi orang jahat selalu bilang orang lain yang jahat."
Sari terdiam, mencerna kata-kata itu.
"Kamu sudah bekerja di sini sepuluh tahun, kan? Kamu lihat sendiri bagaimana aku diperlakukan. Kamu lihat sendiri bagaimana Lenna selalu ada di sisi Arkan. Tapi kenapa kamu tidak pernah bertanya kenapa wanita yang sudah punya tempat di hati Arkan, masih perlu menyingkirkan istrinya?"
"Karena... karena Nona Lenna bilang dia tidak pernah..."
"Dia bilang, tapi apa yang dia lakukan?"
Sari membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Tidak ada jawaban.
"Pergilah, Sari. Terima kasih untuk susunya."
Setelah Sari keluar, Dara kembali ke catatannya. Dia harus mencari lebih banyak bukti. Ingatan Kiara memberikan banyak informasi, tapi tidak cukup untuk membongkar Lenna sepenuhnya.
Dia butuh sesuatu yang konkret.
Malam itu, Dara menunggu sampai semua orang tidur. Pukul dua pagi, dia menyelinap keluar dari kamar, bergerak di koridor gelap dengan langkah hati-hati.
Tujuannya kamar Lenna.
Di kehidupan lama, Dara pernah belajar cara membuka kunci dari salah satu anggota mafia. Keterampilan yang tidak pernah dia kira akan berguna di kehidupan sebagai "istri teraniaya".
Dia mengeluarkan jepit rambut, memasukkannya ke lubang kunci kamar Lenna, memutar dengan lembut...
Klik.
Pintu terbuka.
Dara masuk, menutup pintu pelan di belakangnya. Kamar Lenna berbau parfum mawar manis, tapi terlalu kuat, seperti mencoba menutupi sesuatu.
Tempat tidur kosong, rapi, selimut tidak berantakan.
Lenna tidak tidur di sini.
Dara mengerutkan kening. Kalau Lenna tidak di kamarnya sendiri, berarti...
Kamar Arkan.
Amarah meledak di dadanya, tapi dia menahannya. Sekarang bukan waktunya untuk emosi, sekarang waktunya untuk mencari bukti.
Dia membuka laci meja rias Lenna. Kosmetik, perhiasan, surat-surat...
Tunggu.
Dara menarik amplop yang tersembunyi di balik cermin lipat. Amplop cokelat, agak tebal.
Dia membukanya.
Foto-foto.
Foto Lenna dengan seorang pria, bukan Arkan. Pria lain lebih muda, tampan, berpakaian kasual. Mereka berpelukan. Berciuman. Di salah satu foto, Lenna tertawa lepas, dengan ekspresi yang tidak pernah dia tunjukkan di rumah ini.
Ekspresi seorang wanita yang jatuh cinta.
Dara membalik foto. Ada tulisan di belakang [Untuk Lenna tersayang, dari Rio. Suatu hari nanti kita akan bersama.]
Rio.
Dara mengambil ponselnya, memfoto semua gambar dengan cepat. Ini belum cukup untuk menghancurkan Lenna, tapi ini awal yang bagus.
Dia memasukkan kembali amplop ke tempatnya, memastikan semuanya terlihat tidak tersentuh...
Suara langkah kaki.
Dara membeku.
Langkah kaki mendekat ke arah kamar Lenna.
Sial.
Dia tidak punya waktu keluar, dia melirik sekeliling... lemari. Dia meluncur ke dalam lemari pakaian Lenna, menutup pintunya tepat saat pintu kamar terbuka.
Melalui celah pintu lemari, Dara bisa melihat Lenna masuk. Rambutnya berantakan, bibir sedikit bengkak, baju tidur yang... tidak rapi.
Dan yang membuatnya ingin muntah... Arkan mengikuti di belakang Lenna.
"Kamu yakin tidak apa-apa aku di sini?" suara Arkan rendah.
"Tidak apa-apa, Kak. Lagian Kak Kiara kan sudah tidur."
Arkan menarik napas. "Aku masih merasa bersalah soal kemarin..."
"Kak Arkan tidak salah apa-apa. Kak Kiara yang berbohong, Kak Arkan cuma membela hakmu."
"Tapi dia hamil, Len. Aku hampir..."
"Ssshh..." Lenna meletakkan jari di bibir Arkan. "Jangan memikirkan dia lagi. Malam ini, pikirkan aku saja."
Dara mengepalkan tinjunya di dalam lemari. Mual merayap di tenggorokannya bukan karena hamil, tapi karena jijik.
Ini bukan cuma soal Lenna merebut Arkan. Ini soal tidak punya rasa malu, tidak punya batas.
Arkan terlihat ragu sebentar, tapi kemudian Lenna berjinjit, mencium bibirnya...
Dara menutup mata, dia tidak perlu melihat lebih jauh. Tapi dia mendengar...
Mendengar bisikan Lenna. "Aku mencintaimu, lebih dari siapapun."
Mendengar Arkan menjawab. "Aku juga..."
Kebohongan... Semuanya kebohongan.
Lenna punya Rio, tapi dia tetap memanipulasi Arkan. Karena Arkan punya nama, harta, status. Sementara Rio... Dara menebak mungkin pria biasa yang Lenna cintai tapi tidak bisa memberinya kehidupan mewah.
Sama seperti Salma, mengatakan "sahabat" tapi mengkhianati demi uang.
Pola yang sama.
Manipulasi yang sama.
Pengkhianatan yang sama.
Dan Dara sudah muak dengan pola ini.
lupita namanya siapa ya