NovelToon NovelToon
Ratu Yang Memilih Takdirnya

Ratu Yang Memilih Takdirnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat / Cintapertama
Popularitas:830
Nilai: 5
Nama Author: Anaya Barnes

Arcelia Virellia pernah menjadi putri yang hidup dalam kemewahan. Namun ketika bisnis keluarganya berada di ambang kehancuran, ia dijadikan alat transaksi melalui pernikahan politik dengan pewaris keluarga Ravert.
Pernikahan yang seharusnya menyelamatkan segalanya justru menghancurkan hidupnya.
Dihina keluarga suami…
Diabaikan oleh pria yang menjadi suaminya sendiri…
Dan ketika kematian misterius merenggut nyawa suaminya, Arcelia dituduh sebagai pembawa sial dan diusir tanpa belas kasihan.
Semua orang mengira hidupnya telah berakhir.
Namun tiga tahun kemudian, seorang investor misterius muncul dan mulai menguasai dunia bisnis elit kota. Tidak ada yang tahu identitasnya… sampai wanita itu kembali muncul dengan nama yang membuat masa lalu mereka bergetar.
Arcelia telah kembali.
Bukan lagi sebagai putri yang patuh…
Melainkan ratu yang siap menagih semua pengkhianatan.
Karena bunga mawar mungkin terlihat indah…
Tapi mereka lupa bahwa mawar selalu memiliki duri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anaya Barnes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20

Cahaya spiral menelan segalanya. Arcelia Virellia tidak lagi merasakan lantai di bawah kakinya. Tidak ada udara. Tidak ada arah. Hanya aliran energi yang bergerak seperti sungai tanpa tepi.

Ketika pusaran itu berhenti, ia berdiri di ruang yang berbeda. Bukan kosong seperti sebelumnya.

Tempat ini seperti perpustakaan raksasa tanpa dinding. Pilar-pilar cahaya menjulang tinggi, dan di antara mereka melayang lembaran-lembaran simbol bercahaya, berputar perlahan.

Ravenor mendarat beberapa langkah di belakangnya.

“Ini bukan ruang fisik,” gumamnya.

“Ini arsip hukum lama,” suara samar itu kembali terdengar, kini tidak lagi mengintimidasi. “Lapisan kedua inti.”

Arcelia melangkah maju.

Setiap kali ia mendekati satu lembar simbol, gambaran muncul di udara, Dunia lama, langit yang terbelah. Makhluk cahaya dan bayangan saling bertarung. Dan di tengahnya, seorang perempuan dengan lambang yang sama di pergelangan tangan.

Arcelia terdiam.

“Itu…?”

“Pewaris pertama yang menyatukan energi,” jawab suara itu. “Ia gagal.”

Gambaran berubah.

Perempuan itu mencoba menahan dua arus energi yang saling menghantam. Tubuhnya retak oleh cahaya, bayangannya terpisah dari dirinya. Dan dunia di sekitarnya runtuh menjadi serpihan.

Arcelia merasakan tenggorokannya kering.

“Apa yang ia lakukan salah?”

“Memaksa dominasi. Ia mencoba mengontrol keduanya, bukan mendengarkan.”

Ravenor menyilangkan tangan. “Dan perbedaannya dengan Arcelia?”

Sunyi sejenak.

“Kali ini, energi memilih untuk menyatu.”

Kalimat itu membuat Arcelia menatap simbol di tangannya. Bukan ia yang memaksa? Atau… ia memang dipilih? Tiba-tiba salah satu pilar cahaya bergetar.

Lembaran simbol di sekitarnya bergerak cepat, seolah tertiup badai tak terlihat.

Arcelia merasakan tekanan kuat di dadanya.

“Apa itu?” tanya Ravenor tajam.

“Ketidakseimbangan,” jawab suara itu. “Lapisan pertama menolak perubahan.”

Dari kejauhan,

Gelombang hitam muncul—bukan makhluk. Lebih seperti arus hukum lama yang mencoba mengembalikan semuanya ke bentuk awal.

Garis lurus.

Cahaya di satu sisi.

Bayangan di sisi lain.

Tidak bercampur.

Arcelia melangkah maju.

“Kalau aku ingin menciptakan keseimbangan baru,” katanya pelan, “aku harus mengubah ini.”

“Ya.”

Gelombang itu semakin mendekat. Simbol di pergelangannya menyala. Arcelia menutup mata.

Ia tidak memanggil cahaya.

Tidak memanggil bayangan.

Ia merasakan keduanya.

Dua arus berbeda.

Dua suara berbeda.

Biasanya mereka berdebat dalam dirinya, saling tarik, saling dorong.

Sekarang ia tidak menekan. Ia mendengarkan. Cahaya bukan untuk mendominasi, bayangan bukan untuk menghancurkan. Keduanya ada untuk menjaga batas.

Arcelia mengangkat tangannya perlahan. Alih-alih meledak, energi itu mengalir lembut, membentuk spiral seperti yang ia lihat sebelumnya.

Gelombang hitam bertabrakan dengan spiral itu. Bukannya pecah, ia melunak.

Berubah arah.

Menyesuaikan.

Ravenor tertegun.

Pilar-pilar cahaya berhenti bergetar. Lembaran simbol yang berputar mulai menyusun ulang diri mereka. Garis lurus berubah menjadi lengkungan. Dua warna yang terpisah kini saling melilit.

Suara samar itu terdengar lebih dekat.

“Kau tidak melawan hukum lama.”

Arcelia membuka mata.

“Aku mengajaknya berubah.”

Detik itu juga, seluruh ruang berpendar terang. Spiral energi meluas, menyentuh setiap pilar. Dan jauh di atas kota Lumin, angin berhenti berhembus sesaat.

Celah-celah kecil yang tersembunyi di sudut ruang, menghilang satu per satu. Ketika cahaya mereda, Arcelia terhuyung.

Ravenor langsung menangkap lengannya.

“Kau baik-baik saja?”

Ia menarik napas panjang.

Lelah, tapi stabil.

Simbol di pergelangannya kini berubah sepenuhnya. Tidak lagi hitam-putih dengan garis perak. Melainkan spiral kecil yang terus bergerak pelan.

“Hukum lama tidak sepenuhnya hilang,” suara itu berkata terakhir kali. “Tapi kau telah menulis ulang sebagian.”

“Dan kau?” tanya Arcelia.

Sunyi.

Bentuk samar itu memudar. “Aku hanya penjaga pintu. Dunia ini sekarang meresponsku.”

Ruang perpustakaan cahaya perlahan menghilang. Arcelia dan Ravenor kembali berdiri di dalam menara tua. Kristal hitam di tengah ruangan kini tidak lagi gelap. Ia berpendar lembut.

Seimbang.

Ravenor menatapnya lama.

“Kau baru saja melakukan sesuatu yang bahkan Dewan tidak tahu caranya.”

Arcelia menatap pergelangan tangannya.

“Aku tidak memperbaiki semuanya.”

“Tapi?”

Ia mengangkat wajah, menatap langit melalui celah atap menara.

“Tapi sekarang… dunia tidak lagi memandangku sebagai anomali.”

Angin malam terasa berbeda. Lebih ringan. Namun jauh di kedalaman ruang, sesuatu yang lebih tua dari hukum lama, mulai menyadari bahwa keseimbangan telah berubah.

Dan perubahan seperti itu… jarang dibiarkan tanpa konsekuensi. Menara tua terasa berbeda. Tidak lagi berat. Tidak lagi seperti menyimpan rahasia yang menekan dari segala arah. Kristal di tengah ruangan berpendar lembut dengan cahaya spiral, selaras dengan simbol di pergelangan tangan Arcelia Virellia.

Namun ketenangan itu tidak bertahan lama.

Tiba-tiba, spiral kecil di pergelangannya berhenti berputar.nBukan padam. Hanya… diam.

Arcelia langsung menegang.

Ravenor menyadarinya. “Apa?”

“Dunia sedang menyesuaikan,” bisiknya.

Udara di dalam menara bergetar pelan. Tidak seperti serangan. Tidak seperti retakan. Lebih seperti sesuatu yang sangat besar… menghela napas.

Lalu suara itu datang. Bukan suara makhluk bayangan sebelumnya. Bukan penjaga pintu, ini lebih dalam.

Lebih tua.

“Perubahan terdeteksi.”

Kata-katanya tidak menggema. Tidak berbisik.

Ia hanya ada.

Di udara. Di batu. Di tulang.

Ravenor langsung berdiri di depan Arcelia secara refleks.

“Siapa di sana?”

“Struktur inti dunia,” jawab suara itu tanpa emosi. “Protokol keseimbangan lama terganggu. Penyesuaian diperlukan.”

Arcelia menelan napas.

“Aku tidak menghancurkan apa pun.”

“Benar.”

Hening sepersekian detik.

“Kau menulis ulangnya.”

Kristal di tengah ruangan retak tipis, bukan karena pecah, tapi karena terbuka. Dari dalamnya muncul lingkaran cahaya transparan, membentuk simbol yang jauh lebih besar dari milik Arcelia.

Simbol itu bukan spiral.

Melainkan lingkaran dengan garis-garis saling bersilangan. Kompleks,,, rumit.

“Setiap perubahan besar menciptakan ketidakseimbangan baru di tempat lain,” suara itu melanjutkan.

Arcelia mengerutkan kening. “Di mana?”

Gambaran muncul di udara.

Bukan Lumin.

Bukan menara.

Tapi wilayah jauh di luar kota, hutan yang jarang disentuh manusia. Di tengah hutan itu, tanah terbelah tipis.

Bukan retakan langit.

Retakan bumi.

Energi gelap merembes keluar perlahan.

Ravenor menghela napas pelan. “Efek geser.”

Arcelia mengangguk.

“Aku menenangkan celah ruang… tapi energi lama terdorong ke tempat lain.”

“Perubahan harus didistribusikan,” suara itu berkata. “Keseimbangan baru membutuhkan jangkar.”

“Jangkar?” ulang Arcelia.

“Penopang permanen untuk harmonisasi.”

Kristal bergetar lagi, sebuah pilihan muncul di udara.

Dua jalur energi.

Satu,,, membiarkan retakan di hutan berkembang perlahan, mengamati, dan bereaksi nanti.

Dua,,, menjadi jangkar itu sendiri.

Ravenor langsung memahami.

“Kalau kau jadi jangkar…”

Arcelia menyelesaikan kalimatnya dengan tenang.

“Aku terikat ke inti dunia.”

“Tidak bisa menjauh terlalu jauh. Tidak bisa mengabaikan gangguan besar. Hidupmu tidak lagi sepenuhnya milikmu.”

Sunyi.

Angin malam masuk melalui celah menara. Arcelia menatap gambaran hutan itu. Jika dibiarkan, retakan kecil bisa membesar. Ia sudah melihat apa yang terjadi jika retakan tumbuh tanpa kendali. Ia tidak ingin mengulang malam itu.

Ravenor menatapnya.

“Kau tidak harus memutuskan sekarang.”

Suara tua itu berbicara lagi.

“Penundaan meningkatkan risiko.”

Tentu saja.

Arcelia tertawa kecil, bukan karena lucu, tapi karena dunia memang tidak pernah memberinya waktu yang cukup. Ia menatap simbol spiral di pergelangannya. Dulu ia merasa menjadi anomali.bSekarang dunia mengakuinya sebagai bagian dari strukturnya.

Pertanyaannya tinggal satu, apakah ia siap membayar harga itu? Ia mengangkat tangan perlahan.

“Apa yang terjadi kalau aku menjadi jangkar?”

“Kesadaranmu terhubung sebagian dengan inti. Kau akan merasakan gangguan sebelum ia terjadi.”

“Dan kelemahannya?”

“Jika inti terguncang… kau juga.”

Ravenor mengatupkan rahang.

“Itu terlalu berisiko.”

Arcelia menatapnya.

“Bukankah semuanya sudah berisiko sejak awal?”

Sunyi.

Lalu ia melangkah maju. Simbol spiral di tangannya mulai berputar lagi, kali ini lebih cepat.

“Aku tidak akan membiarkan keseimbangan baru runtuh hanya karena aku takut pada konsekuensinya.”

Ia menyentuh lingkaran cahaya besar itu. Cahaya menyebar cepat ke seluruh ruangan. Kristal di tengah menara menyala terang. Simbol besar itu menyusut, masuk ke dalam spiral di pergelangannya.

Rasa panas menjalar ke seluruh tubuhnya.

Bukan menyakitkan.

Tapi dalam.

Seperti akar yang tumbuh dari dalam dadanya, menjalar ke tanah, ke udara, ke langit.

Di kejauhan, Retakan kecil di hutan berhenti membesar. Tanah menyatu kembali. Udara kembali stabil.

Dan di menara tua,,,, Arcelia terhuyung satu langkah.

Ravenor segera menahannya.

“Akhirnya kamu sudah sadar,,, gimana keadaan mu?” tanyanya pelan.

Arcelia membuka mata perlahan.

Pandangan dunianya terasa berbeda,,,, Ia bisa merasakan kota.

Bukan melihat.

Merasakan.

Aliran energi di bawah jalan. Getaran kecil di udara.

Bisikan ruang yang bergeser.

“Aku di sini,” katanya pelan.

“Tapi sekarang… aku juga di mana-mana.”

Ravenor menatapnya dengan campuran kagum dan khawatir.

Di atas Lumin, langit malam terlihat damai. Namun jauh, sangat jauh di luar jangkauan kota, sesuatu yang tidak terikat pada hukum lama maupun baru, telah memperhatikan perubahan itu. Dan tidak seperti retakan atau bayangan, ia tidak membutuhkan gerbang.

1
Anaya Barnes
siap kaka
makasih udah mampir🙏
mfi Pebrian
aku dah mampir yah.....cerita nya bagus.....tetap semangat.
jangan lupa mampir juga di novel aku judul nya"Dialah sang pewaris"di tunggu yah....
Raine
jujur ceritanya bagus, tapi sedikit bosan untuk saya, narasi author di setiap bab selalu mengulang kalimat dengan arti yg sama, kayak udah baca tadi trus di baca ulang lagi dan lagi
mfi Pebrian: mampir kak di novel saya"Dialah sang pewaris"
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!