Dibakar hidup-hidup oleh suaminya sendiri, Aurelia kembali dari kematian dalam tubuh Elara, putri bangsawan lemah yang ia benci. Kini, ia terperangkap dalam tubuh rapuh yang trauma pada api, di istana yang sama tempat pembunuhnya bertahta.
Dikelilingi selir licik pemuja sihir hitam dan kaisar paranoid yang terobsesi padanya, Aurelia harus menggunakan sihir void terlarang untuk membalas dendam tanpa menghancurkan jiwanya sendiri. Di antara intrik racun dan rahasia kuno yang mengguncang dunia, sang Ratu harus memilih: takhta berlumur darah, atau keselamatan dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 Rencana Kaelen
Pedang yang Terhunus dalam Sunyi
Sisa-sisa energi logam dari baju zirah Panglima Vane masih terasa seperti getaran statis di udara pagi yang membeku. Elara memaksakan kakinya untuk tetap melangkah dengan tenang melintasi jalan setapak taman yang berkelok, meskipun setiap ketukan tongkat kayu hitamnya di atas tanah berbatu terasa seperti palu yang menghantam saraf kakinya yang mulai lemas. Di belakangnya, Rina masih tampak waspada, matanya terus menyisir semak-semak mawar yang bergoyang pelan ditiup angin dingin. Aroma bunga Asteria yang mulai layu merambat masuk ke indra penciumannya, memicu rasa pedih yang akrab—sebuah pengingat akan tanah air yang kini hanya menjadi sejarah yang berdebu.
"Nyonya, Panglima Vane tampak benar-benar terguncang tadi. Apakah Anda yakin dia tidak akan mengkhianati janji ini?" Rina berbisik sambil merapatkan jubahnya.
"Vane tidak mengenal kesetiaan, Rina. Dia hanya mengenal rasa takut akan kematian," Elara menjawab tanpa menoleh. Suaranya serak, mencerminkan kelelahan yang mulai menggerogoti pertahanannya. "Selama dia masih percaya bahwa hanya tanganku yang bisa meramu penawar untuk sirkuit energinya yang korosif, dia akan menjadi perisai bagi kita. Namun, aku tidak mengharapkan dia menjadi teman. Aku hanya membutuhkannya sebagai alat."
"Tapi pergerakan militer di perbatasan... jika dia tidak segera memberikan hak pasukan Jenderal Kaelen—"
"Dia akan memberikannya," Elara memotong, matanya tiba-tiba menajam saat ia merasakan getaran energi yang berbeda di balik bayang-bayang pohon ginkgo besar di depan mereka. "Berhentilah di sini, Rina. Jaga jarak sepuluh langkah. Tamu kita sudah tiba."
Rina mengangguk patuh dan segera mengambil posisi. Dari balik bayang-bayang pohon yang tinggi, sebuah sosok melangkah keluar dengan keanggunan seorang pemangsa. Jenderal Kaelen muncul dengan jubah tempur abu-abunya yang tertutup embun pagi. Wajahnya yang tegas tampak lebih gelap dari biasanya, dan tangannya yang terbalut sarung tangan kulit hitam terus meremas gagang pedang di pinggangnya—sebuah gestur yang menunjukkan gejolak emosi yang hampir meluap.
"Kau mengambil risiko terlalu besar dengan menemui anjing-anjing Vane di tempat terbuka seperti ini," suara Kaelen terdengar rendah dan penuh tekanan, sebuah perpaduan antara kemarahan dan kecemasan yang mendalam.
"Selamat pagi juga untukmu, Kaelen," Elara menyandarkan tubuhnya pada batang pohon, mencoba menyembunyikan getaran di lututnya. "Aku berasumsi kau tidak datang ke sini hanya untuk menceramahiku soal keamanan."
"Aku datang karena aku melihat apa yang terjadi di perbatasan, Elara! Pasukanku kelaparan sementara kau sibuk bermain teka-teki dengan orang yang membantai rakyat kita sepuluh tahun lalu!" Kaelen melangkah maju hingga ia berdiri tepat di hadapan Elara. "Cukup dengan politik ini. Aku sudah menyusun rencana. Malam ini, aku akan membawa pasukan elitku masuk ke sayap kiri istana. Kita bisa mengeluarkanmu dari sini, membunuh Valerius dalam tidurnya, dan kembali ke Asteria untuk membangun perlawanan yang nyata."
Elara menatap mata Kaelen—mata yang masih memancarkan kesetiaan murni kepada Aurelia, meskipun ia kini menatap tubuh Elara yang asing. Dilema martabatnya berdenyut di balik dadanya; ia ingin sekali memeluk pria ini dan memberitahunya bahwa permaisurinya telah kembali. Namun, ia melihat tangannya sendiri yang memiliki pola abu-abu pekat—tanda bahwa jiwanya sudah terkontaminasi oleh Void.
"Kau ingin melakukan kudeta kecil di tengah ibu kota yang dipenuhi penyihir istana?" Elara bertanya dengan nada dingin yang menusuk. "Itu bukan rencana, Kaelen. Itu adalah surat kematian kolektif bagi seluruh sisa tentara Asteria."
"Lebih baik mati terhormat sebagai prajurit daripada mati perlahan sebagai budak politik kaisar paranoid itu!" Kaelen menghantamkan tinjunya ke batang pohon di samping kepala Elara. "Kenapa kau berubah menjadi begitu pengecut? Di mana harga dirimu sebagai putri Asteria?"
"Harga diriku tidak terletak pada seberapa cepat aku bisa mati, tapi pada seberapa banyak musuh yang bisa aku seret ke liang lahat bersamaku," Elara membalas tatapan Kaelen tanpa berkedip. "Dengarkan aku dengan baik, Jenderal. Valerius bukan hanya kaisar, dia adalah pusat dari seluruh segel sihir di kekaisaran ini. Membunuhnya sekarang hanya akan memicu ledakan energi yang akan meratakan kota ini. Apakah itu yang kau inginkan? Menjadi pahlawan di atas puing-puing?"
Kaelen terdiam, rahangnya mengeras. "Lalu apa? Kita hanya duduk diam sambil kau memberikan obat-obatan pada Vane?"
"Aku memberikan ketergantungan pada Vane agar dia memberikan logistik padamu," Elara menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan sisa tenaganya. "Tadi pagi, aku sudah menekan Vane untuk mengembalikan sepuluh persen logistik yang hilang ke perbatasan utara. Dia akan melakukannya besok. Jika kau menyerang sekarang, kau hanya akan membuktikan bahwa faksi militer lama benar soal bahaya orang-orang Asteria. Kau akan menghancurkan fondasi yang baru saja aku bangun."
"Kau memanfaatkanku untuk memperkuat posisimu di hadapan Valerius?" Kaelen berbisik, nadanya terdengar sangat terluka.
"Aku memanipulasi seluruh dunia agar kita bisa menang, Kaelen. Termasuk kau," Elara merasakan perih di matanya, namun ia menolaknya. "Aku memerintahkanmu—bukan sebagai Elara, tapi sebagai penasihat kaisar yang memegang segel rahasia—untuk membatalkan semua rencana serangan fisik malam ini. Masukkan pedangmu kembali ke sarungnya."
"Kau memerintahku?" Kaelen tertawa pahit, suaranya parau. "Kau benar-benar sudah menjadi bagian dari mereka, bukan? Jiwa Aurelia pasti akan menangis melihat apa yang kau lakukan sekarang."
Kalimat itu menghantam Elara lebih keras daripada sihir logam apa pun. Ia hampir saja menyentuh pipi Kaelen untuk meyakinkannya, namun ia melihat pola hitam di ujung jemarinya yang mulai bergetar. Ia menarik tangannya kembali ke balik jubahnya.
"Biarkan dia menangis, asalkan dia menangis di atas singgasana yang bersih dari musuhnya," Elara berkata dengan nada absolut. "Inilah solusi ketiga kita, Kaelen. Kau tidak akan menyerang hari ini. Kau akan menjadi pedang cadanganku. Pergilah ke perbatasan, terima logistik dari Vane, dan tunggu aba-aba dariku. Saat aku memberimu sinyal, saat itulah kau boleh menghancurkan apa pun yang kau mau. Tapi tidak sekarang."
Kaelen menatap Elara lama sekali, mencari sisa-sisa gadis pemalu yang ia kenal dulu, namun yang ia temukan hanyalah seorang penguasa yang dingin dan penuh perhitungan. Akhirnya, ia membungkuk dengan kaku, sebuah penghormatan yang terasa lebih seperti perpisahan.
"Aku akan menunggu, Elara. Tapi ingatlah, jika kau terlalu lama bergaul dengan kegelapan, kau mungkin akan lupa bagaimana rasanya berdiri di bawah matahari Asteria."
Kaelen berbalik dan menghilang ke dalam kabut pagi dengan langkah yang berat. Elara berdiri mematung, mendengarkan denting zirahnya yang perlahan menjauh hingga sunyi kembali berkuasa. Ia merasa jiwanya baru saja dicabik-cabik oleh kesetiaan pria itu.
"Nyonya... Anda tidak apa-apa?" Rina mendekat dengan ragu.
"Bersiaplah, Rina," Elara berbisik, matanya menatap langit yang kini mulai terang. "Kita harus segera kembali ke paviliun. Malam nanti, aku harus menghadapi Valerius di kamarnya. Dan itu akan membutuhkan seluruh kepalsuan yang tersisa dalam diriku."