NovelToon NovelToon
JANJI CINTA SELAMANYA

JANJI CINTA SELAMANYA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Beda Dunia / Teen Angst / Romansa / Slice of Life / Konflik etika
Popularitas:690
Nilai: 5
Nama Author: Mbak Ainun

Vanya adalah putri kesayangan Hendra, seorang pria kaya yang memuja status sosial dan kasta di atas segalanya. Hidup Vanya terjepit dalam aturan emas ayahnya yang kaku, hingga sebuah tabrakan di pasar mengubah dunianya selamanya.

Arlan adalah pemuda liar, mandiri, dan hanya berbakti pada ibunya, Sujati. Sebagai seorang peternak dan penjual susu, Arlan dianggap "sampah" oleh Hendra. Namun, Arlan tidak pernah menundukkan kepala. Ia justru menantang dunia Vanya yang palsu dengan kejujuran dan cinta yang membara.

Saat cinta mulai tumbuh di antara perbedaan kasta, Hendra menyiapkan rencana keji untuk memisahkan mereka. Perpisahan tragis, pengorbanan nyawa, hingga munculnya Rayhan, seorang tentara gagah yang menjadi bagian dari cinta segitiga yang menyakitkan, akan menguji janji mereka.

Ini bukan sekadar cerita cinta biasa. Ini adalah tentang janji yang ditulis dengan air mata. Apakah Arlan dan Vanya bisa memenuhi Janji Cinta Selamanya mereka di tengah badai kasta dan rahasia masa lalu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1: Debu di Atas Gaun Sutra

Bab 1: Debu di Atas Gaun Sutra

Pagi itu, kediaman megah keluarga Hendra sudah tampak sibuk. Di sebuah rumah yang lebih mirip istana di pusat kota, aturan bukan sekadar imbauan, melainkan hukum mutlak. Vanya berdiri di depan cermin besar kamarnya, menatap pantulan dirinya yang mengenakan gaun sutra berwarna biru langit. Rambutnya disisir rapi, tanpa ada satu helai pun yang keluar dari tempatnya.

"Vanya, apakah kau sudah siap?" suara berat itu menggema dari balik pintu.

Vanya sedikit tersentak. Ia segera memoles bibirnya sedikit, lalu membuka pintu. Di sana berdiri Hendra, ayahnya. Pria itu tampak gagah dengan kemeja mahal yang disetrika licin. Hendra adalah sosok yang disegani, pria yang percaya bahwa martabat seseorang ditentukan oleh garis keturunan dan saldo bank.

"Sudah, Ayah," jawab Vanya lembut, hampir berupa bisikan.

Hendra memperhatikan putrinya dari ujung kepala hingga ujung kaki. Ia mengeluarkan sapu tangan putih bersih dari sakunya, lalu mengusap sedikit debu yang ia bayangkan ada di bahu Vanya. "Hari ini ada pertemuan keluarga penting. Jaga sikapmu. Jangan biarkan orang-orang melihat celah dalam keluarga kita. Ingat, kau adalah cerminan namaku."

Vanya hanya mengangguk patuh. Di bawah atap ini, suaranya seolah terkunci. Ia adalah putri kesayangan, namun ia juga merasa seperti pajangan berharga yang tidak boleh retak.

Di bagian lain kota yang lebih gersang, matahari pagi terasa lebih menyengat. Suara lenguhan sapi dan aroma jerami memenuhi udara. Di sebuah rumah sederhana namun asri, seorang pemuda bertelanjang dada tengah memikul dua ember besar berisi susu segar.

Otot-otot lengannya menegang, namun wajahnya tampak santai, seolah beban berat itu hanyalah mainan. Dialah Arlan.

"Arlan! Berapa kali Ibu bilang, gunakan bajumu kalau sedang di luar!" seru Sujati, ibunya, dari teras rumah.

Arlan tertawa, memperlihatkan barisan giginya yang rapi. "Ibu, matahari ini sehat untuk kulit. Lagipula, sapi-sapi ini tidak akan protes melihat ototku, bukan?"

Sujati menggeleng sambil tersenyum tipis. Arlan adalah segalanya baginya. Sejak suaminya pergi entah ke mana bertahun-tahun lalu, Arlan adalah satu-satunya pelindung dan tulang punggung. Arlan tumbuh menjadi pemuda yang mandiri, liar, dan tidak mengenal rasa takut. Ia tidak peduli pada kasta atau jabatan; baginya, semua manusia sama di mata kerja keras.

"Cepat mandi dan antarkan susu ini ke pasar. Kita sudah terlambat," pinta Sujati.

"Siap, Bos!" Arlan memberikan hormat main-main, lalu segera bersiap. Dengan motor tua yang suaranya meraung seperti singa kelaparan, Arlan melesat membelah jalanan kota. Bagi Arlan, motor itu bukan sekadar kendaraan, itu adalah simbol kebebasannya.

Pasar pagi sedang berada di puncak keramaiannya. Vanya terpaksa turun dari mobil mewahnya karena jalanan tertutup oleh iring-iringan upacara adat. Hendra memerintahkannya untuk berjalan terlebih dahulu ke toko perhiasan sementara ia mengurus mobil.

Vanya berjalan dengan ragu. Sepatunya yang mahal terasa asing menyentuh aspal yang berdebu. Ia merasa semua mata menatapnya, dan itu membuatnya tidak nyaman.

VROOOM!

Sebuah raungan mesin mendadak muncul dari belokan sempit. Arlan, yang sedang terburu-buru mengejar waktu pengiriman, tidak menyangka akan ada seorang gadis yang berdiri mematung di tengah jalur motornya.

"Hei! Minggir!" teriak Arlan.

Vanya yang kaget justru mematung. Arlan membanting stangnya ke kanan, menginjak rem sekuat tenaga hingga ban motornya berdecit keras, meninggalkan jejak hitam di jalan. Motor itu berhenti miring, nyaris menghantam tubuh Vanya.

Namun, kejutan itu membuat Vanya kehilangan keseimbangan. Ia jatuh terduduk di atas tanah yang kotor. Tas kecilnya terlempar, dan noda tanah kecokelatan kini menghiasi gaun sutra birunya yang mahal.

"Apa yang kau lakukan?!" jerit Vanya, suaranya bergetar antara takut dan marah.

Arlan turun dari motornya. Ia tidak langsung menolong Vanya. Mata tajamnya justru memeriksa jeriken susu di boncengan motornya. Setelah memastikan tidak ada yang tumpah, barulah ia menoleh pada Vanya.

"Kau yang apa-apaan? Ini jalan raya, bukan ruang tamu rumahmu. Kenapa berdiri di tengah jalan seperti patung?" tanya Arlan tanpa rasa bersalah.

Vanya bangkit berdiri dengan susah payah, wajahnya memerah. "Kau... kau hampir mencelakaiku! Lihat gaunku! Ini harganya lebih mahal dari motormu yang berisik itu!"

Arlan menyipitkan mata. Ia memperhatikan Vanya dari atas ke bawah. Cantik, tapi manja, pikirnya. "Gaun bisa dicuci, Nona. Tapi waktu tidak bisa diputar balik. Aku punya pelanggan yang menunggu susu ini. Jika aku terlambat, mereka tidak akan peduli berapa harga gaunmu."

"Kau benar-benar kasar! Kau tidak tahu siapa aku? Ayahku bisa membuatmu menyesal karena bicara seperti ini!" ancam Vanya, membawa-bawa nama Hendra seperti yang biasa ia lakukan jika merasa terdesak.

Arlan justru tertawa kecil. Tawa yang terdengar sangat menyebalkan bagi Vanya. Arlan melangkah maju, memperpendek jarak di antara mereka hingga Vanya bisa mencium aroma sabun dan matahari dari tubuh pemuda itu.

"Aku tidak peduli siapa ayahmu. Di sini, di bawah matahari ini, kau hanya seorang gadis yang tidak tahu cara berjalan di pasar. Dan aku? Aku hanya seorang pria yang mencoba mencari nafkah." Arlan memungut tas Vanya dari tanah, lalu menyodorkannya dengan kasar ke dada gadis itu. "Ini tasmu. Lain kali, gunakan matamu untuk melihat jalan, bukan hanya untuk pamer kecantikan."

Vanya terdiam. Kata-kata Arlan seperti tamparan baginya. Belum pernah ada pria yang berani bicara sekasar itu padanya. Biasanya, semua pria akan tunduk atau mencoba merayunya. Tapi pria di depannya ini menatapnya dengan pandangan meremehkan.

Arlan kembali naik ke motornya, menyalakan mesin dengan sekali sentak, dan melaju pergi meninggalkan kepulan debu yang mengenai wajah Vanya.

"Namanya..." Vanya bergumam, matanya menangkap sebuah bordiran nama di tas selempang yang dikenakan Arlan saat ia berlalu: ARLAN S.

"Pemuda kurang ajar," umpat Vanya, tapi entah kenapa, jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya. Ada sesuatu pada tatapan mata Arlan yang terasa... berbeda. Tajam, jujur, dan tidak terjangkau.

1
falea sezi
mending bawa pergi jauh deh arlan
falea sezi
ksian bgt arlan knp semua novel mu isinya sedih teros kapan bahagia nya q baca semua nya tp isinya menderita trs jd g mood baca pdhl mau ksih hadiah jd males
falea sezi
menyimakkk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!