NovelToon NovelToon
The Price Of Fate

The Price Of Fate

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengganti / Action / Romansa
Popularitas:579
Nilai: 5
Nama Author: Bunga Neraka

​"Benarkah keberuntungan selalu berbanding lurus dengan kebahagiaan? Dan apakah nasib buruk adalah sinonim mutlak bagi kesengsaraan?
​Pertanyaan-pertanyaan itu terdengar sederhana, namun memiliki daya hancur yang cukup untuk membuat manusia memalingkan wajah dalam penyangkalan. Secara insting, kita telah terprogram untuk memuja hal-hal baik sebagai satu-satunya sumber kepuasan. Sebaliknya, saat nasib buruk mengetuk pintu, manusia cenderung mendustakannya—bahkan dengan keras mendoktrin diri bahwa itu adalah 'kesialan' yang tidak seharusnya ada.

​Namun, apakah persepsi umum tersebut adalah sebuah kebenaran universal?
​Mungkin bagi sebagian besar orang, jawabannya adalah iya. Namun bagi mereka yang memahami cara kerja semesta, pandangan itu sungguh disayangkan.

Sebab di balik setiap keberuntungan yang kita rayakan, selalu ada harga yang tersembunyi. Dan di balik setiap kesialan yang kita benci, mungkin tersimpan satu-satunya jalan menuju sesuatu yang tidak kita bayangkan."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunga Neraka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

penyelesaian

Andersen menatap pria itu dengan saksama, ia bukan sekadar tamu pesta biasa. Ada ketenangan berbahaya di matanya, jenis ketenangan yang hanya dimiliki oleh orang-orang yang sudah terbiasa dengan konflik atau kekuasaan besar.

Seila membeku seketika. Ia mengenali suara itu dengan sangat baik, namun ia sama sekali tidak menyangka bahwa kakaknya akan muncul tepat di sampingnya saat ia sedang asyik berkeluh kesah.

"Lalu... siapa kamu?" tanyanya dengan nada yang menyelidik.

"Hej, trevligt att träffas," jawab Andersen dengan tenang, menggunakan sapaan formal Swedia-bahasa yang cukup jarang didengar oleh warga negara Firlandia... Tetapi, masih cukup akrab ditelinga mereka. "Nama saya Andersen."

Alis pria itu terangkat, sedikit terkejut namun terkesan. "Oh? Ternyata kau bisa berbahasa kampung halamanku," sahutnya dengan nada yang lebih bersahabat.

"Perkenalkan, namaku Reinhard. Kau bisa memanggilku Rein saja."

Reinhard kemudian mencondongkan tubuhnya ke arah Seila, mengabaikan keramaian kafe di sekitar mereka. Ekspresinya berubah menjadi sangat serius.

"Sebenarnya aku sedang mencari seseorang, tapi karena aku menemukan adik kesayanganku di sini... kurasa waktumu sudah habis. Kita harus segera pergi, Seila."

Seila tampak ingin membantah, namun Reinhard memotongnya dengan suara yang sangat rendah, berbisik tepat di samping telinganya, namun masih bisa didengar oleh indra pendengaran Andersen yang tajam.

"Bangsawan dari Inggris itu, sudah kami amankan. Semua massa yang merangsek di depan pintu masuk sudah kami 'sosialisasikan'. Sebelum tempat ini benar-benar memanas dan menjadi zona merah, sebaiknya kita pulang sekarang."

Seila tersentak, matanya membelalak menatap kakaknya. "Apakah... apakah yang Kakak katakan itu kebenaran? Apa yang sebenarnya terjadi di luar sana?"...

BOOM!

Suara ledakan dahsyat mengguncang fondasi bangunan, membuat kaca-kaca kafe bergetar hebat. Andersen langsung berdiri tegak, insting berteriak waspada.

Tanpa membuang waktu, Reinhard menyambar tangan Seila dan memberikan isyarat kepada Andersen untuk mengikutinya.

"Apakah itu ledakan dari massa di depan pintu?" tanya Seila dengan suara gemetar saat mereka bergegas menuju lift.

Reinhard menggeleng, wajahnya mengeras. "Tentu tidak. Ledakan itu berasal dari sesuatu yang sama sekali tidak ingin kulihat terjadi di sini," jawabnya singkat.

Pintu lift tertutup. Di dalam ruang sempit yang bergerak turun itu, Reinhard menatap Andersen dan Seila. "Tenang saja. Kakakmu ini akan memastikan kalian berdua keluar hidup-hidup."

Namun, begitu pintu lift terbuka di area basement, kenyataan pahit menghantam mereka. Saat mereka bertiga berlari melintasi beton parkiran menuju mobil, udara mendadak robek oleh suara tembakan.

Andersen kembali merasakan sensasi panas yang membakar saat sebutir peluru menembus punggungnya dari arah belakang.

Pasukan yang telah membunuhnya sebanyak tiga kali itu masih ada di sana. Mereka belum bergerak naik.

"Lagi...?" gumam Andersen parau. Ia jatuh tersungkur, merasakan darah hangat mulai membasahi pakaiannya. Ia belum juga terbiasa dengan nasib buruk yang selalu mengintainya di tempat yang sama, tidak peduli seberapa besar ia mencoba mengubah jalurnya.

Pandangan Andersen mengabur, detak jantungnya melemah, dan tepat sebelum kegelapan total merenggutnya, suara dingin itu kembali bergema di sudut pikirannya:

[ KEBERUNTUNGAN... ]

Kesadaran Andersen tersentak kembali di dalam ruang sempit lift yang sedang bergerak turun. Kali ini, tidak ada lagi keraguan atau rasa sakit yang tersisa; tubuhnya mendingin. Sebelum lampu indikator menyentuh lantai Basement, Andersen sudah merogoh saku jaketnya dan menarik keluar senjatanya dengan gerakan yang sangat efisien.

Reinhard, melebarkan matanya saat melihat refleks pemuda di sampingnya. Tanpa banyak bicara, Reinhard melakukan hal yang sama. Dari balik jas hitamnya, ia menarik sebuah Glock 18 yang telah dimodifikasi lengkap dengan kompresor peredam suara (suppressor) yang panjang.

"Nanti akan kutanyakan dari mana remaja sepertimu bisa memiliki benda itu," bisik Reinhard dengan suara rendah, namun matanya tetap fokus pada pintu lift yang mulai bergeser terbuka.

Ting!

Andersen dan Reinhard segera merangsek keluar dari lift, menyebar untuk memindai setiap sudut gelap parkiran. Suasana terasa sangat sunyi, namun Andersen tahu kesunyian ini adalah perangkap.

Saat ia hendak maju dan mendorong pintu kaca besar yang menghubungkan lobi mal dengan area basement, sebuah tangan menarik pundaknya dengan kasar.

"Tunggu!" Seila menahan Andersen, menjalankan instruksi bisu dari kakaknya.

Reinhard memberikan kode agar mereka menepi dari garis lurus pintu. Tanpa peringatan, Reinhard mengarahkan Glock 18-nya dan memecahkan deretan dinding kaca tersebut dengan rentetan tembakan presisi. Prang! Serpihan kaca jatuh berserakan seperti kristal.

Hujaman peluru balasan langsung menyambar dari arah kegelapan parkiran, menghancurkan sisa-sisa kaca dan menghujam dinding tepat di posisi Andersen berdiri sebelumnya. Jika ia tidak dihentikan, tubuhnya pasti sudah hancur tercabik timah panas.

Andersen segera mengambil posisi berlindung di pilar beton depan lift. Napasnya terkontrol, matanya menyipit tajam mengamati kilatan moncong senjata (muzzle flash) lawan.

Saat beberapa pasukan musuh mulai bergerak maju sambil terus menghujani posisi mereka dengan peluru untuk melakukan tekanan, Andersen melihat celah kecil di antara pelindung tubuh mereka.

Dengan ketenangan seseorang yang sudah mati berkali-kali, Andersen menyembul dari balik pilar. DAR! DAR!

Dua peluru dari Beretta-nya melesat akurat, menghantam celah sempit di bawah helm taktis lawan—tepat di bagian leher yang tak terlindungi. Para pasukan itu tumbang seketika, darah menyembur ke lantai beton yang dingin.

Intensitas serangan musuh meningkat drastis. Hujan peluru menghantam pilar beton mereka tanpa henti, menciptakan debu semen yang menyesakkan dan menutup celah untuk membalas. Mereka terjepit sepenuhnya.

Melihat situasi yang kian buntu, Reinhard mengambil keputusan nekat. Dengan raungan penuh, ia berlari menerjang keluar dari perlindungan, menyelinap di balik reruntuhan dinding beton yang kacanya telah ia hancurkan tadi.

Namun, sebelum Reinhard sempat melepaskan tembakan balasan, matanya menangkap pemandangan mengerikan: salah satu pasukan musuh telah mencabut pin granat dengan giginya dan bersiap melemparkannya ke arah mereka.

Jaraknya terlalu dekat. Jika granat itu mendarat, mereka semua akan hancur berkeping-keping.

Andersen, melihat ancaman itu lebih cepat dari siapa pun. Mengabaikan keselamatan dirinya, ia menyembul keluar dari pilar dan mengunci sasarannya.

DAR!

Satu peluru Beretta-nya tepat menghantam leher sang pelempar granat sebelum benda maut itu terlepas dari tangannya.

Namun, bayaran untuk keberhasilan itu sangat mahal. Di saat yang bersamaan, tiga peluru musuh menembus bahu Andersen, mengoyak daging dan sarafnya.

"Arghhh—!" Andersen merintih kesakitan, tubuhnya terhempas kembali ke balik pilar sementara senjatanya terlepas dari genggaman.

Ledakan dahsyat seketika mengguncang basement, memicu gelombang kejut yang menciptakan kericuhan sesaat di barisan musuh.

Reinhard tidak menyia-nyiakan kesempatan dari ledakan itu. Memanfaatkan kekacauan dan asap yang mengepul, ia bergerak layaknya malaikat maut, menghujani sisa-sisa pasukan musuh dengan Glock 18-nya hingga tak ada satu pun yang tersisa berdiri.

Begitu kesunyian kembali mencekam, Reinhard segera menyimpan senjatanya dan berlari menghampiri Andersen. Di sana, Seila sudah mendekap Andersen dengan tangan gemetar, berusaha menekan luka tembak di bahu pemuda itu dan jaket yang dikenakannya, sudah mulai basah oleh darah.

"Andersen! Bertahanlah!" isak Seila, wajahnya pucat melihat luka...

Mobil Civic milik Andersen melesat membelah kegelapan, memacu mesinnya hingga batas maksimal. Reinhard mengambil alih kemudi dengan sigap, mengarahkan kendaraan keluar melalui pintu utara yang kini telah dijaga ketat oleh unit keamanan bersenjata lengkap.

Di spion tengah, terlihat kepulan asap membubung dari arah pintu selatan... tempat massa mulai tercerai-berai akibat tekanan taktis dari kepolisian.

Keadaan di dalam kabin sangat tegang. Seila terus mendekap bahu Andersen yang bersimbah darah, membisikkan doa dan kata-kata penyemangat agar pemuda itu tidak kehilangan kesadaran.

Reinhard mengarahkan kendaraan langsung menuju RSPAD Gatot Subroto, tempat di mana keamanan dan fasilitas medis terbaik bisa menjamin keselamatan Andersen tanpa gangguan dari pihak musuh.

1
BoimZ ButoN
anak SMA main pistol ga ada kronologis nya dlu
Ahmad Fauzan: kecuali, ada backspace yang lumayan dan sangat mempengaruhinya.
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!