NovelToon NovelToon
Kontrak Kerja Dengan Mantan

Kontrak Kerja Dengan Mantan

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Kehidupan di Kantor / Pernikahan Kilat / CEO / Nikah Kontrak / Playboy
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Rita Sri Rosita

Ririn tidak menyangka, nasibnya akan seperti ini. Setelah kedua orang tuanya meninggal, Seluruh kekayaan Orang tuanya di curi Akuntan keluarganya, dan Akuntan itu kabur keluar negri.
Rumahnya di sita karena harus membayar hutang, dan sekarang Ririn harus tinggal di rumah Sahabat Anggie.
Anggie menawarkan pekerjaan kepada Ririn sebagai Disagner di perusahan IT ternama, tanpa Ririn tau ternyata perusahan IT itu milik mantan pacarnya Baskara, yang punya dendam kesumat sama Ririn.
Apa yang akan terjadi dengan Ririn akan kah dia bertahan dengan pekerjaannya karena kebutuhan, Atau kah dia akan menemukan cinta yang lama yang sempat terputus karena salah paham

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rita Sri Rosita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Baskara Yang Lumpuh

Ririn kembali ke ruang perawatannya dengan langkah berat. Wajahnya masih pucat, matanya sembab setelah melihat kondisi Baskara yang belum sadar sepenuhnya. Anggie berjalan di sampingnya, sesekali melirik sahabatnya itu dengan cemas.

“Rin,” ucap Anggie pelan sambil menahan langkah Ririn.

“Baskara pasti sedih banget kalau nanti bangun dan lihat kamu malah jatuh sakit.”

Ririn berhenti. Matanya menatap lantai, jemarinya gemetar.

“Aku cuma pengin di dekat dia, Gie,” suaranya lirih. “Aku takut, takut kehilangan dia.”

Anggie menggenggam tangan Ririn erat.

“Justru karena itu kamu harus kuat,” katanya lembut tapi tegas.

“Kamu sehat dulu kalau kamu sehat, kamu bisa sepuasnya nemenin suami kamu."

"Tapi kalau kamu tumbang, siapa yang bakal jaga dia?” Kata Anggie lagi.

Ririn mengangkat wajahnya perlahan, menatap Anggie, ada air mata yang menggantung di pelupuk matanya.

“Iya,” ucap Ririn akhirnya mengangguk pelan memuruti kata-kata sahabatnya itu

“Makasih ya, Gi.” Anggie tersenyum kecil.

“Udah, sekarang balik ke kamar istirahat.”

Ririn pun menurut, dia kembali ke kamar perawatan, merebahkan tubuhnya, meski pikirannya tetap tertinggal di ruang tempat Baskara dirawat.

Beberapa jam kemudian, di ruang perawatan intensif, Baskara akhirnya siuman.

Kelopak matanya bergerak perlahan. Pandangannya buram, kepalanya terasa berat. Sosok pertama yang ia lihat adalah ibunya.

“Mah,” suaranya lirih, nyaris tak terdengar.

“Bas!” Riani langsung bangkit dari kursinya. Tangannya gemetar saat menekan bel pemanggil perawat.

“Dokter! Perawat! Anak saya sadar!”

Tak lama, perawat dan dokter datang menghampiri. Mereka memeriksa tekanan darah, detak jantung, serta respons Baskara.

“Bagaimana kondisi anak saya, Dok?” tanya Riani dengan suara bergetar, jelas menahan kecemasan, dokter tersenyum tipis, menenangkan.

“Kondisinya stabil, Bu. Operasinya berhasil sekarang tinggal banyak istirahat dan pemulihan.”

Riani menghela napas panjang matanya berkaca-kaca.

“Alhamdulillah… terima kasih, Dok.”

Hari-hari berikutnya, Riani setia merawat Baskara. dia menyuapi putranya dengan sabar, membantunya minum obat, bahkan mengusap keningnya setiap kali Baskara terlihat lelah.

“Kamu jangan banyak mikir dulu ya, Bas,” kata Riani suatu pagi.

“Fokus sembuh.” Baskara mengangguk pelan.

“Iya, Mah… Ririn gimana?”

“Ririn juga sudah membaik,” jawab Riani cepat, tersenyum.

“Nanti kalau kamu sudah cukup kuat, ibu ajak Ririn ke sini.”

Mendengar nama Ririn, wajah Baskara sedikit lebih hidup.

Beberapa hari kemudian, kondisi mereka berdua semakin membaik. Infus di tangan Ririn sudah dilepas. Dengan langkah tergesa, Ririn berjalan menuju kamar Baskara.

Begitu pintu terbuka, matanya langsung menangkap sosok Baskara di atas ranjang.

“Mas,” suaranya bergetar.

Tanpa berpikir panjang, Ririn berlari kecil dan langsung memeluk Baskara erat. Tubuhnya gemetar, seluruh kecemasan yang ia pendam tumpah begitu saja.

“Aku khawatir banget sama kamu, Mas,” ucap Ririn sambil menangis di dada Baskara.

Baskara terkejut sesaat, lalu membalas pelukan itu meski tubuhnya masih lemah.

“Aku juga khawatir sama kamu,” katanya pelan.

“Aku pikir,” suara Ririn terputus. “Aku pikir kamu nggak bakal balik lagi.”

“Hey,” Baskara tersenyum kecil, mengusap pipi Ririn dengan jemarinya.

“Jangan nangis aku di sini, aku baik-baik aja.”

Ririn mengangguk, tapi air matanya terus mengalir.

“Jangan ninggalin aku lagi,” bisiknya.

“Aku janji,” jawab Baskara lirih.

Namun saat Ririn sedikit menjauh dan Baskara mencoba menggeser tubuhnya, wajahnya tiba-tiba berubah. Ia mengernyit.

“Mah,” panggilnya pelan tapi cemas.

“Kaki Bas kenapa?”

Riani yang sejak tadi berdiri di dekat pintu langsung mendekat.

“Kenapa, Nak?”

“Aku, aku nggak bisa ngerasain kaki ku1p,” ucap Baskara panik.

“Aku mau bangun, tapi… nggak bisa.”

Riani membeku sejenak, lalu segera memanggil dokter.

Dokter datang dan mulai memeriksa dia mengetuk kaki Baskara dengan alat khusus.

“Bapak bisa merasakan ini?” tanya dokter, Baskara menggeleng pelan.

“Nggak… sama sekali.”

Dokter menarik napas dalam, lalu menatap Riani dan Ririn dengan wajah serius.

“Pak Baskara mengalami kelumpuhan pada bagian bawah tubuh,” ucapnya hati-hati.

“Namun ini belum final, dengan fisioterapi rutin dan pengobatan, ada kemungkinan kondisi ini membaik.”

“Kemungkinannya berapa persen Dok?” tanya Baskara, suaranya tertahan, dokter terdiam sesaat.

“Sekitar lima puluh persen.”

Di ambang pintu, Ririn berdiri terpaku. Seluruh percakapan itu terdengar jelas di telinganya. Kakinya melemas, tangannya menutup mulutnya sendiri, air mata jatuh tanpa bisa ditahan.

“Mas,” bisiknya hancur.

Ririn membalikkan badan, bersandar ke dinding, menangis dalam diam tak ingin Baskara melihat air matanya, sementara hatinya berteriak menahan rasa sakit yang baru saja dia dengar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!