Di kota Lentera Hitam yang dingin, Arlan hidup sebagai kurir spesialis pencari barang hilang. Namun, sebuah distorsi visual di dapur rumahnya menghancurkan segalanya: ibunya yang sedang memasak memiliki tahi lalat di sisi wajah yang salah. Wanita itu tampak sempurna, kecuali satu hal—ia bernapas secara manual, sebuah gerakan dada kaku yang hanya dilakukan untuk meniru manusia.
Arlan menyadari dunianya sedang diinvasi secara halus oleh "Para Peniru", entitas yang mencuri identitas fisik namun gagal menduplikasi emosi. Setiap kali seseorang asli "terhapus", sebuah Koin Perak misterius tertinggal sebagai fragmen memori yang hilang. Misteri memuncak saat Arlan menemukan arsip rahasia: apartemennya seharusnya sudah hangus terbakar sejak 2012. Jika semua orang telah mati belasan tahun lalu, siapa sebenarnya yang selama ini hidup bersamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Jadwal yang Hilang
Langkah kaki Arlan menggema hampa di atas ubin pualam Stasiun Kota yang dinginnya merambat hingga ke sumsum tulang. Suhu udara di sini terasa jauh lebih rendah daripada di koridor apartemennya tadi, sebuah indikasi endotermik yang menandakan bahwa tempat ini telah menjadi sarang bagi entitas yang menyerap panas demi menjaga replikasi seluler mereka. Cahaya hijau-kebiruan dari lampu merkuri di langit-langit stasiun menciptakan bayangan yang tajam dan tidak alami, membuat Arlan merasa seolah-olah sedang berjalan di dalam sebuah akuarium raksasa yang berisi air keruh.
Ia merapatkan jaket kurirnya, merasakan gesekan koin perak di dalam saku rahasianya. Koin itu terasa sedingin es, seolah-olah sedang bereaksi terhadap distorsi realitas yang semakin parah di pusat transportasi ini. Di beberapa sudut peron, Arlan melihat tangga beton yang tampak memudar; teksturnya hilang, menyisakan blok abu-abu polos tanpa pori, seperti objek yang gagal dimuat dalam sebuah simulasi komputer yang rusak.
Arlan berhenti di depan sebuah bangku kayu panjang yang dipenuhi tumpukan koran bekas dan manifes perjalanan yang sudah menguning. Bau debu kertas yang asam dan lembap menusuk hidungnya. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri, memastikan tidak ada mata yang mengawasinya, lalu tangannya mulai membolak-balik lembaran kertas yang rapuh itu dengan hati-hati. Mata analitisnya mencari satu data forensik yang ia temukan di apartemennya: catatan tahun 2012.
Jarinya berhenti di sebuah halaman manifes keberangkatan kereta api. Napasnya tertahan. Di sana, pada daftar penumpang kereta terakhir sebelum insiden kebakaran besar melanda Sektor 7, namanya tertera dengan sangat jelas.
Arlan (24). Status: Korban Jiwa. Lokasi Penemuan: Reruntuhan Unit 402.
"Dua belas tahun yang lalu," bisik Arlan. Suaranya terdengar asing di telinganya sendiri, seolah-olah suara itu bukan miliknya. "Jika aku mati di sana, lalu siapa yang sedang berdiri di sini sekarang?"
Ia merasakan guncangan batin yang hebat. Krisis eksistensi mulai menggerogoti logika Underdog-nya yang biasanya tajam. Arlan segera merobek kerah bajunya sedikit, menyentuh kulit di bahu kirinya. Di sana, ia merasakan tekstur kasar dari sebuah bekas luka bakar lama. Luka itu tidak simetris, berkerut, dan memberikan rasa perih yang nyata saat ditekan.
"Peniru tidak bisa menduplikasi detail rasa sakit yang acak," gumamnya, mencoba menguatkan diri. "Daftar itu salah. Catatan itu yang palsu, bukan aku."
"Anda mencari jadwal keberangkatan yang sudah dihapus, Tuan?"
Suara itu datang dari arah belakang. Arlan tersentak, namun ia berhasil menutupi manifes tersebut dengan tumpukan koran lain sebelum berbalik. Seorang penjaga tiket berdiri di balik loket kaca yang tebal. Pria itu mengenakan seragam biru tua yang terlalu rapi, tanpa kerutan sedikit pun. Arlan memperhatikan mata penjaga itu; ia tidak berkedip sama sekali selama hampir dua menit penuh.
"Saya hanya ingin memastikan apakah masih ada kereta menuju pinggiran kota malam ini," jawab Arlan, menggunakan protokol formal yang menjaga jarak.
"Tidak ada kereta untuk mereka yang tidak terdaftar dalam sistem," penjaga tiket itu menjawab dengan nada monoton yang dingin. "Sistem mengatakan bahwa seluruh rute menuju Sektor 7 telah ditutup secara permanen sejak tahun 2012. Mengapa Anda membawa manifes kurir dari tahun yang sudah dianggap mati?"
Arlan menyadari bahaya. Penjaga ini sedang melakukan audit biometrik secara verbal. Ia melihat ke arah tangan penjaga tiket yang menempel di kaca loket. Tidak ada sidik jari. Permukaan kaca itu tetap bening tanpa bekas minyak atau tekstur kulit manusia sedikit pun.
"Saya hanya seorang kurir yang tersesat oleh navigasi yang salah," Arlan mencoba bersikap tenang, meski ia tahu penjaga itu sedang mendeteksi ketidaksesuaian frekuensi pada bayangannya yang tampak sedikit bergetar di ubin stasiun.
"Kesalahan navigasi adalah anomali. Anomali harus dilaporkan ke pusat sinkronisasi. Tolong letakkan tangan Anda di atas pemindai ini agar kami bisa memverifikasi apakah Anda masih memiliki integritas fisik," perintah penjaga tiket itu, suaranya mulai terdengar seperti desis logam yang bergesekan.
Arlan melirik ke arah pemindai laser merah di loket. Ia tahu jika ia menempelkan tangannya, sistem akan langsung mengenali darah murninya sebagai ancaman bagi para peniru. Ia harus menciptakan solusi ketiga—sebuah pengalihan yang menggunakan kelemahan sistematis mereka terhadap data yang tidak terduga.
"Tentu, tapi saya punya resi pengiriman prioritas yang ditandatangani oleh Walikota untuk jadwal keberangkatan pukul 25:60 malam ini," ucap Arlan sambil merogoh tas kurirnya.
"Pukul 25:60?" Penjaga tiket itu terdiam. Matanya mulai bergetar hebat. "Waktu tidak memiliki angka tersebut. Data sedang diakses... Kesalahan sinkronisasi... Jadwal keberangkatan 25:60 tidak ditemukan dalam protokol..."
Arlan menyodorkan sebuah resi fiktif yang telah ia modifikasi dengan angka-angka acak yang mustahil secara matematis. Penjaga tiket itu menerima kertas tersebut, dan seketika itu juga, gerakannya membeku. Lehernya berkedut ritmis, mencoba memproses informasi yang secara logika sistem tidak mungkin ada.
"Silakan periksa manifes digital Anda sekali lagi, Pak. Saya akan menunggu di sini," ucap Arlan dengan nada provokatif yang terkontrol.
Memanfaatkan loop logika yang dialami penjaga tersebut, Arlan segera berbalik dan berlari menuju pintu akses samping yang menuju ke ruang arsip rahasia di belakang loket. Ia tahu uap napasnya yang memburu bisa meninggalkan jejak di udara dingin ini, namun ia tidak punya pilihan. Ia harus menemukan kebenaran di balik catatan kematiannya sendiri sebelum sistem stasiun melakukan reset dan menguncinya di dalam peron hantu selamanya.
Arlan menerobos pintu baja berat yang menghubungkan lobi dengan ruang arsip sekunder. Di dalam, hampa akustik terasa jauh lebih menekan; setiap suara langkahnya seperti diserap oleh ribuan tumpukan dokumen yang berjajar di rak-rak besi berkarat. Suhu udara di ruangan ini turun drastis, jauh di bawah titik beku yang wajar, menciptakan lapisan tipis kristal es pada sampul-sampul manifes yang tersusun rapi. Ia segera menyalakan senter kecil miliknya, menyapu kegelapan dengan berkas cahaya pucat.
"Jika namaku ada di daftar kematian, maka pasti ada berkas forensik lengkap di sini," gumam Arlan, mencoba menekan gemetar di tangannya.
Ia menelusuri rak berlabel "Insiden Sektor 7 – 2012". Jarinya berhenti pada sebuah map cokelat tebal yang tersegel dengan lambang Pemerintah Kota Lentera Hitam yang tampak pudar. Saat ia membukanya, bau kimia formalin yang tajam menyeruak, membuat matanya perih. Di dalamnya terdapat foto-foto hitam putih yang mengerikan dari sisa-sisa kebakaran. Namun, fokusnya tertuju pada sebuah kantong plastik kecil yang terklip di halaman terakhir. Di dalam plastik itu ada sebuah gigi susu.
"Gigi susu?" Arlan mengernyit, memorinya terlempar pada ingatan samar tentang masa kecilnya saat ayahnya berkata bahwa giginya yang tanggal harus disimpan untuk keberuntungan.
Tiba-tiba, suara langkah kaki yang terseret terdengar dari balik deretan rak. Arlan segera mematikan senternya dan berjongkok di balik peti besi. Napasnya ia atur secara manual, mencoba menyinkronkan gerakan dadanya dengan keheningan yang tidak alami di ruangan itu.
"Arlan... data tidak boleh berpindah tangan. Data adalah integritas," suara Penjaga Tiket tadi terdengar dari kejauhan, namun kini suaranya lebih berat, seolah-olah pita suaranya terbuat dari kuningan yang berkarat.
"Anda tidak seharusnya meninggalkan loket, Pak," Arlan menyahut dari kegelapan, mencoba memancing posisi lawan tanpa memperlihatkan dirinya.
"Loket tidak lagi relevan ketika ada subjek yang sudah dihapus mencoba menulis ulang sejarahnya sendiri," suara itu mendekat. "Berikan berkas itu. Anda hanyalah residu frekuensi yang terlambat menghilang. Martabat Anda hanya ada jika Anda menerima penghapusan ini."
"Martabat saya tidak ditentukan oleh sistem yang bahkan tidak bisa membedakan antara uap kopi dan sabotase," Arlan membalas dengan nada tajam, protokol konfrontatifnya mulai bangkit. "Dunia ini mungkin sedang menyalin dirinya sendiri, tapi rasa sakit di bahuku ini tidak ada di dalam berkasmu. Itu berarti aku bukan salinan."
"Rasa sakit adalah kesalahan transmisi data emosional," penjaga itu muncul di ujung rak, wajahnya kini tampak retak di bawah cahaya lampu darurat yang berkedip. "Kami akan memperbaikinya sekarang."
Penjaga itu menerjang dengan kecepatan yang tidak manusiawi, namun Arlan sudah menyiapkan strategi. Ia tidak lari menuju pintu keluar utama yang pasti sudah terkunci. Ia justru berlari menuju panel kontrol uap panas yang digunakan untuk membersihkan pipa-pipa stasiun. Dengan sekali sentakan, ia memutar katup utama hingga maksimal.
Seketika, uap panas menyembur keluar dari pipa-pipa bocor di langit-langit, memenuhi ruangan arsip yang dingin itu. Pertemuan antara uap panas dan udara endotermik menciptakan kabut putih yang sangat pekat dalam hitungan detik.
"Sensor visualmu tidak akan bisa menembus kondensasi ini, bukan?" Arlan berteriak di tengah desisan uap.
Di dalam kabut itu, Penjaga Tiket tampak kebingungan. Gerakannya menjadi acak karena kehilangan referensi visual dan panas tubuh target yang tersamar oleh uap. Arlan memanfaatkan momen itu untuk menyelinap ke pintu darurat yang menuju langsung ke peron bawah tanah.
Ia keluar ke peron tepat saat sebuah kereta tua tanpa lampu mesin meluncur masuk secara perlahan. Kereta itu tidak mengeluarkan suara mesin, hanya gema statik yang merayap di sepanjang rel yang membeku. Arlan melompat masuk ke dalam gerbong terakhir sesaat sebelum pintu tertutup secara otomatis.
Di dalam gerbong yang kosong, Arlan duduk bersandar pada kursi plastik yang dingin. Ia membuka kembali plastik berisi gigi susu tadi dan membandingkannya dengan bekas luka di bahunya. Ia menyadari satu hal: gigi itu, berkas itu, dan manifes kematian itu adalah umpan agar ia menyerah pada eksistensinya.
Ia melihat ke arah jendela kereta. Di pantulan kaca, ia melihat kursi di seberangnya yang kosong, namun di dalam refleksi kaca, tampak sosok ayahnya sedang duduk di sana, menatapnya dengan kesedihan yang mendalam sebelum akhirnya memudar saat kereta memasuki terowongan gelap.
"Aku akan mencari tahu siapa yang mengirim paket-paket memori ini," janji Arlan pada kegelapan.
Kereta itu membawanya pergi dari stasiun menuju distrik yang lebih jauh, meninggalkan stasiun kota yang kini mulai memudar di balik kabut perak yang turun dari langit.